
'Ternyata ini dia Ustadz Gibran yang melamar Kamelia. Tampan sekali,' batin Yuni menatap Ustadz Gibran.
"Begini Ustadz, sebelumnya kenalkan dulu, ini Ibu Yuni, Ibunya Kamelia. Dan Ibu Yuni, ini Ustadz Gibran, beliaulah yang akan menjadikan Kamelia sebagai istrinya.
***
"Kenalkan, saya Ustadz Gibran," ucap Ustadz Gibran memperkenalkan dirinya kepada Yuni.
"Oh iya, saya Yuni, Ibunya Kamelia," balas Yuni juga memperkenalkan dirinya kepada Ustadz Gibran.
"Ibu Yuni, jadi gimana menurut Ibu atas niat baik Ustadz Gibran untuk menjadikan Kamelia sebagai istrinya?" tanya Kiyai Sodikin kepada Yuni.
"Hmmmm begini Ustadz, saya sendiri sebagai Ibu nya Yuni merasa sangat terhormat saat anak saya yang banyak memiliki kekurangan, tiba-tiba saja di lamar oleh Ustadz Gibran yang bisa dikatakan sempurna.
Saya setuju saja, namun semuanya saya kembalikan lagi kepada Kamelia, karena dialah yang akan menjalaninya nanti. Jika Kiyai dan Ustadz Gibran tidak keberatan, bisakah Ustadz menanyakannya langsung kepada Kamelia di hadapan saya?" ucap Ibu Yuni menantang ustad Gibran.
"Baik Bu, saya tidak keberatan. Kalau begitu saya akan pergi memanggil Kamelia sebentar," jawab Ustadz Gibran hendak berdiri.
"Hmmmm tidak usah Ustadz, biar saya telpon saja penjaga kamarnya," sela Kiyai Ansor menelpon penjaga kamar asrama tempat Kamelia.
"Kamelia, kamu di panggil oleh Kiyai Sodikin untuk ke ruangannya sekarang," ucap penjaga asrama di saat Kamelia sedang mengerjakan tugasnya.
"Ah, baik Ustadzah," jawab Kamelia merapikan buku-bukunya.
"Kamelia, kamu kenapa di panggil? Apa ada masalah?" tanya Siti teman Kamelia.
"Tidak kenapa-kenapa. Kebetulan Ibuku ada di sini, mungkin Kiyai Sodikin ingin membahas masalah aku yang sering melamun di kelas," jawab Kamelia berbohong. Kamelia yakin, jika semua ini pasti ada hubungannya dengan lamaran Ustadz Gibran padanya beberapa hari yang lalu.
"Oh, ya sudah, sana pergi, kasihan Ibumu menunggu kelamaan," ucap Siti kepada Kamelia.
Lima menit kemudian, Kamelia akhirnya tiba di depan ruangan Kiyai Sodikin. Ia kemudian mengetuk pintu ruangan pemilik pondok pesantren tesebut.
__ADS_1
"Assalamualaikum Kiyai," ucap Kamelia saat sudah di persilahkan masuk.
"Walaikum salam," jawab Kiyai Sodikin, Ustadz Gibran dan Ibu Yuni bersamaan.
"Ayo Kamelia, silahkan duduk disini," ucap Kiyai Sodikin kepada salah satu santriwatinya itu.
Dengan gugup, Kamelia berjalan melewati Ustadz Gibran dan duduk di sebelah Ibunya.
"Begini Kamelia, mungkin kamu sudah tau sebelumnya jika Ustadz Gibran berniat menjadikanmu sebagai istrinya. Saya sudah berbicara pada Ibu mu, namun beliau menyerahkan semua keputusannya kepadamu. Jadi bagaimana menurutmu?" jelas Kiyai Sodikin kepada Kamelia yang duduk sambil menundukkan kepalanya.
"Hmmmm, bagaimana ya Kiyai. Kiyai tau sendiri saya ini bukan wanita yang baik-baik. Saya takut jika Ustadz Gibran akan menyesal setelah menikah dengan saya nantinya," jawab Kamelia gugup.
"InsyaAllah saya tidak akan menyesal Kamelia. Saya sudah yakin dengan keputusan saya ini. Saya akan menerima semua kekuranganmu dan akan menjadikanmu makmum sampai ke janah nantinya. InsyaAllah," jawab Ustadz Gibran mantap.
"Nah, kamu sudah dengar sendiri kan Kamelia. Bagaimana menurutmu,?" tanya Kiyai Sodikin lagi.
"Hhhhhhhh, Bismillah. Baiklah Kiyai, Ustadz, saya terima lamaran Ustadz Gibran untuk menjadikan saya sebagai istrinya," jawab Kamelia sembari menatap Ibunya.
Mereka semua lega dan juga bahagia mendengar jawaban Kamelia. Terlebih Ustadz Gibran yang dari awal sudah mencintai Kamelia.
"Baik, sekarang mari kita tentukan haru pernikahan kalian. Untuk sementara, karena status Kamelia masih sebagai pelajar, maka dari itu, pernikahan ini akan kita rahasiakan hingga Kamelia tamat sekolah nantinya," ucap Kiyai Sodikin yang diiringi dengan anggukan kepala oleh Ustadz Gibran."
"Baiklah Kiyai. Kalau saya, bagaimana baiknya saja. Yang terpenting, anak saya Kamelia, bisa move on dari masa lalunya yang buruk," jawab Yuni menyerah.
"Hmmmmm, Kiyai, bagaimana kalau acara pernikahannya kita laksanakan besok malam saja setelah salat Isya? Besok anak-anak pondok kan banyak yang pulang ke rumah mereka masing-masing," ucap Ustadz Gibran memberi usul.
"Baiklah, saya setuju. Besok sehabis Isya, kalian akan melangsungkan pernikahan di rumah saya," jawab Kiyai Sodikin setuju.
Sementara itu, Kamelia hanya diam tertunduk di hadapan Kiyai Sodikin dan Ustadz Gibran.
Keesokan harinya...........
__ADS_1
"Saya terima nikah dan kawinnya, Kamelia Putri dengan mas kawin seperangkat alat solat dibayar tunai," ucap Ustadz Gibran lantang dengan satu kali tarikan nafas.
"Bagaimana para saksi?" tanya Kiyai Sodikin yang bertindak sebagai penghulunya.
"Sah," ucap beberapa orang saksi yang hadir di acara pernikahan mereka.
"Alhamdulillah.. Sekarang kalian berdua telah resmi menjadi pasangan suami istri.
Kamelia pun langsung mencium tangan Ustadz Gibran dan dibalas dengan Ustadz Gibran yang menciumi kening istrinya.
"Selamat ya Kamelia sayang, sekarang kamu telah resmi menjadi istri dari Ustadz Gibran. Lakukan tugasmu sebagai istri yang baik, dan berusahalah untuk melupakan masa lalu mu itu nak," ucap Yuni memeluk putrinya.
"Bu, saya ini menantu Ibu, tidak usah panggil saya dengan sebutan Ustadz lagi," ucap Ustadz kepada Yuni.
Sementara itu, keluarga Ustadz Gibran yang di kampung halamannya, berhalangan hadir, karena tidak mendapatkan tiket untuk ke kota tempat Ustad Gibran bekerja.
Mereka hanya menyaksikan akad melalui panggilan video. Meskipun begitu, keluarga Ustad Gibran sangat bahagia karena laki-laki satu-satunya di dalam keluarga mereka telah melepas masa lajangnya di usia dua puluh delapan tahun.
"Hmmmmm, Gibran, karena kamu sudah menikah dengan Kamelia, alangkah baiknya, kamu dan Kamelia tidak tinggal di pondok pesantren ini lagi. Abah bukannya mengusir kalian berdua, namun akan lebih mudah bagimu untuk membuat Kamelia melupakan masa lalunya dengan cara kalian tinggal dan bertemu setiap harinya," ucap Kiyai Sodikin memberikan usulannya.
"Abah benar, Gibran setuju dengan apa yang Abah katakan. Gibran akan mencari rumah untuk kami tinggali nantinya," jawab Ustadz Gibran setuju dengan usul Abah angkatnya itu.
"Kenapa kalian tidak tinggal di rumah Ibu saja? Ibu sama sekali tidak merasa keberatan," ucap Yuni bersemangat.
"Bagaimana Kamelia?" tanya Ustadz Gibran kepada wanita yang kini telah resmi menjadi istrinya itu.
"Aku.. Aku.. Aku setuju," jawab Kamelia gugup. Ia masih belum menyangka, jika dirinya akan mendapatkan jodoh terbaik seperti Ustadz Gibran.
"Alhamdulillah. Baiklah, kalau begitu, kalian bisa ikut Ibu Yuni pulang untuk malam ini. Lagian besok kan Minggu. Kalian bisa menghabiskan waktu untuk mengenal satu sama lainnya," jawab Kiyai Sodikin merasa bahagia. Ia senang karena Ustadz Gibran telah memutuskan untuk menikah. Dengan begitu, besar harapan jika ia akan memiliki cucu dalam waktu dekat ini. Kiyai Sodikin tidak memiliki anak sama sekali, maka dari itu, ia mengangkat Ustadz Gibran menjadi putranya dan menjadikan Ustadz Gibran sebagai pewaris pondok pesantren yang telah didirikannya bersama almarhumah sang istri yang meninggal di tanah suci saat sedang melakukan ibadah haji.
"Baiklah Abah. Lalu dengan siapa Abah di sini?" tanya Ustadz Gibran mengkhawatirkan Abah nya itu.
__ADS_1
"Tak usah pikirkan Abah. Masih banyak Santri yang tidak ikut pulang pada akhir pekan. Mereka bisa menemani Abah disini," ucap Kiyai Sodikin membuat Ustadz Gibran lega.