
"Ya, Tante akan temani Zaki," jawab Airin tersenyum.
"Baiklah Tante. Kalau begitu Zaki akan menunggu adik lahir nantinya," jawab Zaki girang.
***
"Ya sudah, kalau begitu aku pamit dulu ya," ucap Leon kepada semua orang yang ada di sana.
"Baiklah, hati-hati," jawab Airin, Gara dan yang lainnya.
.
.
Beberapa jam kemudian, Leon dan Clara telah tiba di bandara Singapore. Leon segera merogoh sakunya dan menghubungi Selin, adik dari Ibunya Clara.
Ternyata, Selin telah menunggu kedatangan Leon dan juga Clara di luar bandara tersebut.
"Kau.. Kau wanita yang menemui ku di bar malam itu kan?" tanya Leon mengingat wajah Selin.
"Ya, kau benar. Mari ikut aku menemui kakakku," jawab Selin mengajak Leon dan Clara masuk ke dalam mobil yang akan membawanya ke rumah sakit tempat Gauri berada.
Dengan perasaan yang campur aduk dan jantung yang berdetak kencang, Leon berusaha menguasai dirinya dengan mengalihkan perhatiannya kepada Clara, putri semata wayangnya.
Tak butuh waktu lama. Beberapa menit kemudian, Selin, Leon dan juga Clara tiba di sebuah rumah sakit penderita kanker.
'Apa Maminya Clara bekerja di rumah sakit penderita kanker ini? Tapi, sebagai apa?" batin Leon bertanya-tanya.
"Apa kau akan menunggu di mobil?" tanya Selin melihat Leon yang masih melamun.
__ADS_1
"Ah iya, maaf aku melamun," jawab Leon segera turun.
"Sini, Clara biar aku saja yang menggendongnya," ucap Selin mengambil alih Clara dari gendongan Leon.
Setelah berjalan dan menaiki lift, mereka akhirnya tiba di depan ruang rawat Gauri.
"Untuk apa kita memasuki ruangan rawat ini? Apa maminya Clara bekerja disini?" tanya Leon penasaran.
"Masuk saja dulu, nanti kau akan tau semuanya," jawab Selin membuka pintu ruangan tersebut.
Jantung Leon semakin berdebar kencang saat ia melangkahkan kakinya memasuki ruangan rawat inap tersebut.
Langkahnya terhenti tepat di depan seseorang yang sedang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit tersebut.
"Ga.. Gauri? Ini.. Ini Gauri?" ucap Leon tak menyangka jika yang terbaring lemah di hadapannya itu adalah Gauri, mantan kekasihnya dulu.
Mendengar suara ribut-ribut di dalam ruangannya, seketika Gauri membuka matanya perlahan dan melihat ada laki-laki yang sudah lama tidak pernah bertemu dengannya.
"Gauri? Jadi.. Jadi kamu itu adalah Ibu kandungnya Clara?" tanya Leon benar-benar kaget.
"Ngapain kamu disini?" tanya Gauri dengan suara yang lemah.
"Aku.. Aku mau menemui kamu Gauri. Ibu kandungnya Clara. Gauri, kenapa kamu tidak mengatakan jika kamu itu ibu kandungnya Clara?" jawab Leon kembali bertanya.
"Untuk apa? Bukankah kamu dulu mencampakkan ku begitu saja demi wanita itu?" ucap Gauri yang kini meneteskan air matanya.
"Gauri maafkan aku. Kamu salah faham waktu itu Aku.. Aku sama sekali tidak pernah mencampakkan mu demi wanita manapun. Wanita itu adalah kekasihnya Gara yang akan melakukan bunuh diri karena hubungannya dan Gara telah berakhir. Makanya malam itu aku langsung pergi meninggalkanmu di taman itu. Dan asal kamu tau Gauri, setelah semua urusanku selesai, aku kembali lagi menemui mu di taman itu, namun kamu tidak ada lagi di sana. Semenjak itu aku selalu mencari mu," ucap Leon menjelaskan yang sebenarnya terjadi di malam saat Gauri akan memberitahukan kehamilannya kepada Leon.
Gauri tak sengaja mendengar percakapan Leon dengan seseorang yang membuat dirinya beranggapan jika Leon mempunyai selingkuhan yang akan bunuh diri karena putus dengan Leon.
__ADS_1
Ditambah lagi dengan Leon yang merasa panik dan langsung meninggalkan Gauri sendirian di taman pada malam itu.
Semenjak itu, Gauri memutuskan jika ia akan pergi jauh meninggalkan Leon dan merawat calon anaknya seorang diri.
"Jadi.. Jadi wanita itu bukan kekasihmu?" tanya Gauri memastikan.
"Bukan Gauri. Bagiku hanya kamu wanita satu-satunya yang mampu meluluhkan hatiku," ucap Leon tulus membuat Gauri kembali meneteskan air matanya.
"Tapi sekarang aku sakit keras Leon. Umurku tak akan lama lagi. Maka dari itu aku menyerahkan Clara padamu supaya dia bisa mendapatkan kasih sayang dari seorang Ayah setelah aku tiada nanti," ucap Gauri membuat Leon tercengang.
Karena terlalu sibuk membahas masa lalunya, ia jadi lupa menanyakan kenapa Gauri bisa di rawat di rumah sakit khusus kanker ini.
"Oh iya, itu yang akan aku tanyakan sedari tadi. Kamu sakit apa? Kenapa kamu bisa di rawat disini? Bukannya ini..," tanya Leon langsung di jawab oleh Gauri.
"Aku terkena kanker otak stadium akhir Leon. Aku tak akan bisa hidup lebih lama lagi," jawab Gauri membuat dunia Leon rasanya akan runtuh.
Ia tidak menyangka jika ia harus bertemu dengan Gauri di saat cinta lamanya itu tengah dalam keadaan sakit, dan hidupnya di ambang kematian.
"Tidak.. Ini tidak mungkin Gauri. Dokternya pasti salah. Jika kamu pergi, bagaimana dengan Clara? Apa kamu tega meninggalkan Clara di dunia ini tanpa kehadiran dan kasih sayang darimu Gauri?" ucap Leon yang telah meneteskan air matanya. Hatinya sangat hancur. Ada rasa sakit di dalam relung hatinya yang tak bisa ia ucapkan dengan kata-kata. Bagaimana bisa, seorang Gauri yang dulunya sangat ceria dan periang, ternyata memiliki penyakit yang seganas ini.
"Dokternya tidak salah Leon. Kamu nya saja yang tidak bisa menerima keadaan ini. Maka dari itu, carilah pengganti ku untuk Clara. Carilah wanita yang bisa menerima dan menyayangi Clara seperti anak kandungnya sendiri. Jika kamu melakukan itu, aku akan bisa istirahat dengan tenang," jawab Gauri dengan air mata yang sudah berlinang.
"Kenapa.. Kenapa kita bertemu di saat seperti ini Gauri? Kenapa harus ada Clara jika pada akhirnya kamu akan pergi meninggalkan kami? Kenapa Gauri? Kamu tidak tau bagaimana sakitnya aku saat melihatmu seperti ini," ucap Leon sembari menangis pilu. Ia memeluk Gauri dan melepaskan tangisannya di dalam pelukan wanita pucat pasi itu.
Begitu juga Gauri, ia menumpahkan semua rasa yang ia pendam selama ini di dalam pelukan laki-laki yang ia cintai. Laki-laki yang memberikan seorang putri kecil yang menjadi semangatnya dalam melewati rasa sakit yang menggerogoti tubuhnya.
"Gauri... Aku akan menikahi mu hari ini juga," ucap Leon tiba-tiba. Mendengar ucapan Leon, Gauri yang sedari tadi menangis pilu di dalam pelukan Leon, langsung diam dan mencerna apa yang baru saja laki-laki tampan itu katakan.
"Kamu.. Kamu baru saja bilang apa Leon? Kamu pasti becanda kan?" tanya Gauri tak percaya.
__ADS_1
"Tidak. Aku tidak becanda. Aku serius Gauri. Aku akan menikahi mu hari ini juga. Gauri kamu tau, dari dulu sampai detik ini, rasa cintaku padamu masih sama seperti dulu. Tak pernah berkurang walau sedikitpun. Jadi aku mohon.. Menikahlah dengan ku. Jadilah ratu di hidupku," ucap Leon bersungguh-sungguh. Dengan air mata yang menetes dan rasa pilu di hatinya, Leon melamar Gauri tanpa peduli dengan penyakitnya yang bisa mencabut nyawanya disetiap saat.