
"Bagaimana Gibran? Apa kamu sudah memeriksakan Kamelia ke rumah sakit? Dia sakit apa?" tanya Kiyai Sodikin terlihat cemas sedari tadi.
"Alhamdulillah sudah Bah. Bah, Gibran mau mengatakan sesuatu sama Abah. Gibran yakin, Abah pasti akan senang mendengarnya," ucap Ustadz Gibran dengan wajah yang berseri-seri.
"Mengatakan apa nak?" tanya Kiyai Sodikin menautkan kedua alisnya.
"Kamelia.. Kamelia hamil Bah," jawab Ustadz Gibran seketika membuat Kiyai Sodikin yang langsung memeluk putra angkatnya itu.
"Alhamdulillah. Selamat ya Gibran. Kamu sebentar lagi akan menjadi seorang Ayah nak. Jaga istrimu baik-baik. Jangan biarkan dia kelelahan," ucap Kiyai Sodikin masih memeluk Ustadz Gibran.
"Baik Bah. Gibran pasti akan menjaganya. Oh ya Bah, semua santri dan santriwati disini taunya Kamelia adalah adik sepupuku. Kalau Abah tidak keberatan, dengan asumsi seperti itu, seharusnya Kamelia bisa tinggal di rumah ini. Bagaimana menurut Abah?" tanya Ustadz Gibran saat ini tengah berhadap-hadapan langsung dengan Abah nya.
"Abah sih tidak keberatan. Tapi bagaimana dengan Kamelia. Apa dia tidak keberatan untuk tinggal di rumah ini?" tanya Kiyai Sodikin lalu meminum air putih yang ada di hadapannya.
"Nanti Gibran akan membicarakannya kepada Kamelia Bah. Bukannya apa, dengan Kamelia tinggal disini, Gibran akan lebih mudah untuk menjaganya," tambah Ustadz Gibran lagi.
"Baiklah nak, Abah setuju-setuju saja. Yang terpenting, kandungan Kamelia sehat dan juga Kamelia nya juga sehat, serta kalian bisa bersama dalam membesarkan anak-anak kalian nantinya," jawab Kiyai Sodikin.
"Terima kasih Abah. Kalau begitu, Gibran permisi dulu," pamit Ustadz Gibran dengan wajah berseri-seri.
Sementara itu, Leon saat ini sedang mengerjakan beberapa tugas kantornya. Akhir-akhir ini Leon terlihat sangat kusut sekali. Ia seperti tidak memiliki semangat untuk hidup.
"Leon," panggil Gara yang sedari tadi memperhatikan sahabatnya itu.
"Ya, kenapa?" jawab Leon yang tetap fokus pada laptopnya.
"Aku lihat, sedari tadi kamu seperti tidak memiliki semangat apa-apa. Kamu dan Selin sedang ada masalah kah?" tanya Gara menautkan kedua alisnya.
"Tidak. Kami tidak ada masalah apa-apa," jawab Leon singkat.
"Lalu, kenapa matamu tidak enak di pandang seperti itu?" tanya Gara penasaran.
"Hhhhhh, entahlah Gar. Pundak ku ini rasanya berat sekali. Kamu tau, hampir satu Minggu Selin kedatangan tamu bulanannya. Aku jadi stres dan frustasi," jawab Leon mencoba curhat pada sahabatnya itu.
__ADS_1
"Hahaha.. Kamu stres? Lalu bagaimana dengan awal-awal pernikahan kamu dan juga Selin dulu. Dulu kamu cukup lama berpuasa," jawab Gara tertawa terbahak-bahak.
"Itu beda. Kali ini aku hampir setiap hari melakukannya. Jadi jika tidak melakukannya lagi, rasanya agak berat gimana gitu," ucap Leon menghela nafas kasar.
"Haha.. Ya udah, kamu jajan aja di tempat si Yuta," jawab Gara enteng.
"Enak saja. Aku gak mau. Mending aku menunggu Selin sampai bersih," balas Leon lalu meninggalkan ruangan Gara.
Pada malam harinya, saat Leon yang baru pulang dari kerja lemburnya tiba di apartemen miliknya, ia kaget melihat seluruh ruangan terlihat sangat gelap dan sunyi.
"Selin," panggil Leon sembari menghidupkan lampu senter dengan ponselnya, namun Selin tidak menjawab sama sekali. Saat Leon mengarahkan ponselnya ke arah kamar mereka, ia melihat sosok wanita yang tengah berjalan ke arahnya menggunakan pakaian minim bahan. Seketika Leon terdiam saat mengetahui siapa sosok wanita tersebut.
Semakin lama, wanita itu semakin dekat hingga ia memeluk Leon masih berdiri mematung.
"Kak, kenapa diam? Ini aku istri kakak," ucap Selin menatap Leon yang masih terdiam membatu.
"Se.. Selin? I.. Ini benar-benar kamu?" tanya Leon terbata-bata.
"Iya, ini aku. Kakak kenapa?" tanya Selin menautkan kedua alisnya.
"Kenapa gak bisa kak? Aku sudah bersih kok. Jika kakak mau, aku bisa kok memberikannya sekarang juga," ucap Selin kembali memeluk Leon erat.
"Apa? Berarti sekarang dan seterusnya bisa dong," tanya Leon girang.
"Bisa kak," jawab Selin tersenyum.
Tanpa aba-aba, Leon langsung menggendong Selin ke kamar mereka dan menidurkan mantan adik iparnya itu di atas ranjang mereka. Untung saja Clara sudah tidur nyenyak dari tadi, ia bisa dengan leluasa bermain dengan sang istri hingga pagi.
"Pelan-pelan kak," ucap Selin memperingati suaminya yang sudah sangat bernafsu tersebut.
Leon yang hampir satu Minggu berpuasa itupun akhirnya berbuka dengan suguhan yang di berikan oleh istrinya.
Ia begitu menikmati setiap suguhan tersebut.
__ADS_1
Hampir dua jam Leon dan juga Selin melakukan peraduan di atas tempat tidur mereka
Untung saja kali ini tidak ada gangguan.
"Makasih ya Selin, kamu memang bisa membahagiakan suami," ucap Leon yang sudah selesai dengan permainannya.
"Sama-sama kak," jawab Selin singkat dan tak lama setah itu mereka sama-sama tertidur hingga pagi datang.
Sementara itu, Gara dan juga Airin sedang menikmati sarapan pagi mereka. Saat sedang makan, tiba-tiba saja hidung Airin mengeluarkan darah. Gara yang pertama kali melihatnya tampak sangat terkejut dan seketika ia menjadi panik.
"Kenapa mas?" tanya Airin yang melihat raut wajah Gara berubah drastis.
"Sayang, hidung mu berdarah. Kamu sakit?" tanya Gara membersihkan hidung istrinya menggunakan tisu.
"Tidak, aku sama sekali tidak sakit, hanya saja beberapa hari terakhir ini kepalaku sering kali terasa pusing," jawab Airin sembari menyantap sarapan paginya.
"Kenapa kamu tidak mengatakannya kepadaku? Sekarang juga ayo kita ke rumah sakit. Aku tidak mau kamu kenapa-kenapa sayang," ucap Gara tampak berkaca-kaca.
"Aku tidak kenapa-kenapa kok mas. Paling ini karena kelelahan saja," jawab Airin yang sebenarnya juga merasakan kecemasan yang sama.
"Ya sudah, untuk lebih jelasnya kita ke rumah sakit saja. Aku akan telpon Leon untuk menunda semua meeting hari ini," ucap Gara menghubungi Leon.
Setelah Gara berhasil menghubungi Leon, ia pun langsung membawa sang istri ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan. Ia berharap, Airin tidak kenapa-kenapa.
Sementara Gara dan Airin sedang di perjalanan, Liona yang masih terobsebsi akan harta mendiang suaminya tengah mencoba menghubungi Lyra. Beberapa hari yang lalu, ia meminta bantuan polisi untuk mencari nomor ponsel sang kakak.
Ia akan mengatur strategi sebaik mungkin agar ia bisa kembali hidup layak setelah bebas dari di penjara.
Satu jam lebih kemudian, Gara dan Airin akhirnya tiba di rumah sakit. Mereka telah mendaftar dan tengah mengantri seperti pasien-pasien lainnya.
Setelah menunggu hampir tiga puluh menit lamanya, kini tiba giliran Airin untuk di periksa oleh dokter yang bersangkutan.
Airin pun masuk dengan di temani oleh Gara sang suami tercinta.
__ADS_1
"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter tersebut kepada Airin dan juga Gara.
"Begini dokter, akhir-akhir ini kepala saya sering pusing, dan tadi pagi pada saat saya sarapan, tiba-tiba hidung saya mengeluarkan darah yang cukup banyak," jawab Airi menjelaskan keluhan yang ia rasakan kepada dokter tersebut.