
"Walaikum salam Tidak usah di tutup, di buka saja," jawab Ustadz Gibran memerintahkan Rahma kembali membuka pintunya.
"Baik Ustadz," balas Rahma kembali membuka pintu ruangan tersebut.
"Rahma, silahkan duduk," perintah Ustadz Gibran dengan ekspresi datar dan dinginnya.
***
Dengan langkah gemetaran, Rahma berjalan memasuki ruangan Ustadz Gibran.
Untuk beberapa saat, keadaan menjadi hening dan senyap. Baik Ustadz Gibran dan Rahma tampak larut dalam pikiran mereka masing-masing, hingga Ustadz Gibran mulai membuka suaranya.
"Rahma, kamu tau kan, kenapa kamu saya suruh menemui saya kemari?" tanya Ustadz Gibran sembari memain-mainkan pulpen yang ada di tangannya.
"Ta.. Ta.. Tau Ustadz. Sa.. saya..Saya minta maaf," jawab Rahma terbata-bata.
"Kenapa kamu melakukan itu kepada Kamelia?" tanya Ustadz Gibran lagi. Seketika, Rahma yang tadinya takut, kini mulai mengangkat kepalanya dan berkata...
"Karena.. Karena saya.. Saya cemburu Ustadz," jawab Kanaya masih gelagapan. Mendengar jawaban Rahma, seketika mata Ustadz Gibran terbelalak. Bagaimana bisa muridnya menyampaikan hal tersebut kepadanya. Ia juga teringat akan kata istrinya, Kamelia. Kamelia mengatakan jika Rahma menaruh hati padanya.
"Cem.. Cemburu. Memangnya kamu siapa saya?" tanya Ustadz Gibran membuat Rahma merasakan sakit hati yang teramat sangat.
"Ma.. Maafkan saya Ustadz. Tapi.. Tapi saya.....," ucap Rahma mencoba mengungkapkan perasaannya.
"Sudah, jangan di teruskan lagi. Yang berhak cemburu itu adalah Kamelia, karena dia istri saya. Rahma kamu dengar, jangan sesekali mencoba untuk mencelakai Kamelia, karena dia istri saya. Kamu ingat, saya tidak akan tinggal diam jika ada yang menyentuh istri dan anak saya," ancam Ustadz Gibran menatap Rahma dengan tatapan dingin.
"Ta.. Tapi Ustadz, saya juga mencintai Ustadz. Harusnya Ustadz Gibran memilih saya. Bukan Kamelia. Saya bersedia menjadi istri ke dua Ustadz Gibran, asalkan saya bisa menjadi bagian dari hidup Ustadz Gibran," ucap Rahma membuat Ustadz Gibran benar-benar marah.
"Hhhhh, kamu bilang apa? Istri ke dua? Jangan harap Rahma. Bagi saya yang namanya poligami itu gak ada. Mulai hari ini, kami saya skors selama satu Minggu. Dan ingat, jika kamu masih mengulangi kelakuan mu itu, maka saya tidak akan segan-segan untuk mengeluarkan kamu dari sekolah ini. Sekarang, silahkan keluar," ucap Ustadz Gibran benar-benar emosi mendengar pengakuan Rahma.
__ADS_1
"Ta... Ta.. Tapi Ustadz?" ucap Rahma masih berusaha memperjuangkan cintanya.
"Keluar atau saya tambah hukuman mu?" tanya Ustadz Gibran memberikan pilihan untuk Rahma.
Dengan sangat terpaksa, Rahma pun akhirnya berjalan meninggalkan ruangan Ustadz Gibran.
'Sialan Kamelia. Kenapa harus dia sih yang menjadi istrinya Ustadz Gibran?' umpat Rahma dalam hatinya sembari berjalan menuju asramanya.
Tak lama setelah pergi, Ustadz Gibran pun langsung pulang untuk menemui istri dan juga anaknya.
"Sayang maaf ya aku lama. Kamu mau makan? Biar aku ambilkan," ucap Ustadz Gibran saat ia baru saja tiba di dalam kamar mereka.
"Tidak usah Aby, aku tadi sudah makan. Oh ya, bagaimana dengan Rahma? Apa kalian sudah bertemu?" tanya Kamelia penasaran.
"Hhhhhh, sudah. Dia benar-benar membuat Aby emosi dengan perkataanya," jawab Ustadz Gibran menghela nafasnya.
"Hhh, dia mau Aby menjadikannya sebagai istri ke dua," jawab Ustadz Gibran menghela nafas kasar.
"Lalu, apa tanggapan Aby?" tanya Kamelia yang terkejut mendengar penuturan suaminya itu.
"Ya jelas lah Aby gak mau, mana mungkin Aby menikahi Rahma sedangkan Aby sudah mempunyai istri secantik dan sesoleha kamu ini," jawab Ustadz Gibran membuat Kamelia tersipu malu.
Sementara itu, Airin yang tengah mengasuh si kembar tiba-tiba saja merasakan mual dan juga pusing di kepalanya. Sebenarnya, sudah beberapa hari ini Airin merasa tidak enak badan, namun ia tak mau memberitahukannya kepada Gara.
Saat ini, kebetulan Gara belum pulang bekerja. Saat Airin hendak ke kamarnya, tiba-tiba saja ia oleng dan hampir jatuh.
"Ibu kenapa?" tanya salah satu baby sitter si kembar.
"Tidak, saya hanya kurang enak badan. Tolong jaga si kembar dulu ya. Saya mau istirahat sebentar," jawab Airin berusaha jalan lagi, namun ia hampir jatuh.
__ADS_1
Meskipun Gara berada di kantor, namun ia tak pernah lalai untuk menjaga dan memantau keadaan anak dan istrinya. Gara tampak cemas saat melihat Airin yang pusing seperti itu melalui cctv yang ia koneksikan ke ponsel miliknya.
"Ya tuhan, Airin kenapa? Apa dia sakit? Aku harus segera pulang," ucap Gara segera menghubungi sekretarisnya yang bertugas menggantikan Leon untuk sementara waktu, karena Leon izin cuti lantaran Selin akan melahirkan sebentar lagi.
Setelah melimpahkan seluruh pekerjaan kantor kepada sekretarisnya, Gara pun memacu mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi agar ia cepat sampai di rumah dan membawa Airin ke rumah sakit.
Hampir satu jam kemudian, Gara pun tiba di rumah. Dengan cepat ia masuk dan langsung mencari istri tercintanya itu ke dalam kamar si kembar, namun Airin sudah tidak ada lagi di sana.
"Airin mana?" tanya Gara cemas kepada para baby sitter yang mengasuh si kembar.
"Hmmmn, ibu Airin ada di kamarnya tuan, tadi beliau pusing dan pamit ke kamarnya untuk istirahat," jawab salah satu baby sitter tersebut.
Tak menunggu waktu lama, Gara pun segera berlari ke kamarnya menuju lantai dua.
"Sayang kamu kenapa? Apa yang sakit hmmm?" tanya Gara cemas saat mendapati Airin tengah beristirahat di dalam kamar mereka.
"Mas, kamu sudah pulang? Aku tidak kenapa-napa. Hanya saja perutku rasanya tidak enak sekali, selain itu, kepalaku juga pusing," jawab Airin dengan suara sedikit lemah.
Tanpa menunggu aba-aba, Gara pun langsung mengangkat Airin sehingga membuat istrinya itu terkejut.
"Eh mas, kamu mau ngapain? Kita mau kemana?" tanya Airin tampak panik.
"Kita akan ke rumah sakit sekarang. Aku gak mau kamu kenapa-napa," jawab Gara tetap melanjutkan langkahnya.
"Enggak usah mas. Buat apa, palingan aku hanya kecapean saja. Istirahat sebentar paling sembuh lagi kok," jawab Airin menolak di bawa ke rumah sakit. Namun bukan Gara namanya jika bukan keras kepala, bagi bapak tiga anak itu, kesehatan anak dan istrinya adalah prioritas utama. Ia tak mau jika Airin kenapa-napa.
"Sudah, kamu diam saja. Nurut saja apa kata suami," jawab Gara memasukkan Airin ke dalam mobilnya.
Tak lama kemudian, Gara dan Airin pun akhirnya tiba di rumah sakit, kali ini, Gara langsung membawa Airin ke UGD agar ia tidak ikut antrian. Dan benar saja, dokter pun langsung menangani Airin meskipun sempat meminta Gara dan Airin untuk ikut antri di bagian poli.
__ADS_1