
Sudah hampir delapan tahun semenjak kejadian Airin menjual kesuciannya itu berlalu dengan begitu cepat. Kini tak terasa, mereka telah hidup bahagia dengan anak-anak kembar tiga jenius yang di anugerahkan tuhan kepadanya.
Hari ini adalah hari pertama untuk si kembar masuk sekolah dasar. Gara dan Airin memutuskan memasukkan mereka di sekolah yang sama dengan Clara, anak pertama Leon dan mendiang istri tercintanya, yaitu Gauri.
"Daddy, Daddy lihat saja nanti, nanti disekolah, aku akan jadi laki-laki tampan seperti Daddy. Aku akan di sukai banyak wanita yang cantik dan juga manis seperti permen yang sering Daddy belikan untukku," celoteh Anggara yang tengah bersiap untuk pergi ke sekolah di hari pertamanya ini.
'Aduh, si Anggara pakai acara ngomong seperti itu segala lagi. Nih anak nggak tau apa kalau mak nya lagi PMS,' batin Gara yang wajahnya seketika berubah saat mendapatkan tatapan tajam dari Airin.
"Ooo, jadi kamu sering memberikan Anggara permen tanpa sepengetahuanku yaaaa?" tanya Airin membuat Gara seketika menatap putranya itu untuk meminta pertanggung jawaban atas perkataannya itu.
"Hmmmm, itu.. Apa.. Bukan.. Cuma sekali aja kok sayang. Kamu kan tau sendiri kalau Anggara itu mulutnya lemes banget, jadi nggak usah di dengerin ya sayang," jawab Gara berbohong. Ia tak mau jika Airin marah karena ia sering sekali memberi Anggara permen.
"Jangan bohong mas. Kalau kamu bohong, aku sumpahin itu mu nggak bisa hidup selama sebulan," ancam Airin benar-benar membuat Gara takut.
Bagaimana tidak takut, bagi Gara, juniornya adalah harta paling berharga yang ada di tubuhnya, dan ia tidak mau jika sampai hartanya itu harus istirahat selama itu.
"Eh, jangan gitu dong sayang. Ita deh, aku jujur. Aku memang sering ngasih Anggara permen. Itu semua aku lakukan agar Anggara bisa patuh kepadanya di saat Gara kebagian tugas menjaga putra-putri kembarnya itu.
"Tuh kan," ucap Airin menatap Gara tajam.
"Maafkan aku Airin, aku janji tidak akan mengulanginya lagi," mohon Gara memasang wajah bersalahnya.
"Baiklah, kali ini aku akan memaafkan mu, tapi sekali kamu melakukannya, maka aku tak akan memberikan maaf untuk mu mas," ucap Airin yang malas jika harus ribut dengan suaminya itu.
"Baiklah. Aku janji. Aku janji nggak akan mengulanginya lagi," balas Gara mengangkat dua jarinya.
Setelah si kembar selesai dengan pakaian dan keperluannya, mereka pun langsung menuju meja makan karena hari sudah menunjukkan hampir pukul setengah tujuh.
"Wah.. Wah.. Cucu-cucu kesayangan Oma sudah besar ya. Oma nggak nyangka jika kalian sudah SD sekarang," ucap Oma Lena tampak senang sekali kembali bertemu dengan cucu-cucu mereka.
Sudah hampir dua tahun lamanya, Mamanya Gara yaitu Oma Lena tinggal dan menetap di Amerika. Dan kini, setelah urusannya di dana telah selesai, ia dan suaminya Emanuel baru bisa kembali ke Indonesia.
__ADS_1
Selama itu juga, Lena dan juga suaminya hanya bisa berkomunikasi lewat panggilan suara dan juga video call.
Tak hanya si kembar, Gara dan Airin juga menyalami, lalu memeluk Lena dan juga Emanuel.
"Oma, Opa. Oma dan Opa kapan pulang?" tanya Anggi girang dan diikuti oleh kedua saudara kembarnya.
"Semalam sayang. Kami baru saja tiba semalam. Sini, peluk Oma dulu dong. Oma kangen sekali sama cucu-cucu kesayangan Oma ini," jawab Oma Lena membentangkan tangannya dengan lebar.
Si kembar itu pun kemudian bergegas memeluk Oma dan Opa yang telah lama mereka tidak jumpai itu.
"Assalamualaikum, selamat pagi semuanya," ucap kedua orang tua Airin yang baru saja tiba di Jakarta.
"Ayah, ibu," ucap Airin menghampiri kedua orang tuanya itu lalu menyalami dan memeluknya erat sekali.
Disusul dengan Gara yang juga melakukan hal yang sama dengan yang di lakukan oleh Airin.
Selanjutnya, giliran si kembar yang juga menyalami lalu memeluk Kakek dan Neneknya itu.
"Ya sudah, sekarang kita makan bersama yuk. Habis itu, baru kita anterin si kembar ke sekolah bersama-sama," ujar Lita mempersilahkan besannya itu untuk ikut bergabung di meja makan.
Sementara itu, di sebuah rumah yang masih tergolong mewah, Leon, sang asisten pribadi yang masih setia menemani Gara kemanapun ia pergi, juga tampak sibuk membantu Selin, sang istri tercinta menyiapkan perlengkapan sekolah untuk anak ke duanya yang akan masuk sekolah TK tahun ini.
Sementara Clara, anak Leon bersama Gauri, sudah tumbuh menjadi gadis yang tengah beranjak remaja. Clara begitu cantik. Mirip sekali dengan Leon dan juga almarhum Gauri.
Hari ini, Clara juga akan masuk ke salah satu sekolah menengah pertama yang juga merupakan sekolah favorit di kota itu.
"Daddy, Mommy aku berangkat sekolah dulu ya," pamit Clara menciumi tangan Leon dan juga Selin.
"Loh, kamu nggak sarapan dulu?" jawab Leon balik bertanya.
"Hmmmm, nggak deh Dad. Aku sarapannya di sekolah saja. Aku udah nggak sabar mau melihat sekolah baruku," ucap Clara yang sangat antusias sekali.
__ADS_1
"Ya sudah. Kalau begitu hati-hati ya sayang," balas Selin yang sudah menganggap Clara sebagai anak kandungnya sendiri.
"Iya Mom. Dah," balas Clara lalu setengah berlari ke luar dari rumah tersebut dan masuk ke dalam mobilnya.
Beberapa saat kemudian, Clara yang datang di antar supir pribadinya itupun akhirnya tiba di sekolah barunya.
Ia kemudian turun dan melangkahkan kaki menuju sekolah barunya itu.
'Hhhhh apa aku bisa ya memiliki teman di sekolah ini?' batin Clara bertanya-tanya.
Karena bel belum berbunyi, Clara pun mencari kantin untuk mengisi perut yang sudah lapar sedari tadi.
Tanpa pikir panjang lagi, Clara yang sudah berada di kantin sekolah itupun langsung memesan makanan untuk mengisi perutnya itu.
Beberapa saat kemudian, saat Clara tengah menikmati sarapan paginya, seorang murid laki-laki datang menghampiri meja Clara dan duduk berhadapan-hadapan dengan gadis cantik itu.
Tanpa berkata sepatah katapun, laki-laki tampan itu mulai memakan makanannya tanpa memperdulikan Clara yang sedang duduk di di depannya.
'Ini ngapain sih nih anak ikut makan disini? Kayak nggak ada meja yang lain saja. Mana dingin banget lagi tampangnya,' batin Clara menatap laki-laki yang belum ia ketahui namanya itu.
Beberapa menit kemudian, setelah murid laki-laki itu selesai makan, ia lalu pergi begitu saja.
Sebelum pergi, murid laki-laki itu menghampiri ibu kantin, lalu membisikkan sesuatu kepadanya.
"Berapa Bu?" tanya Clara saat akan membayar makanannya.
"Semuanya jadi empat puluh ribu," jawab Ibu kantin membuat Clara terkejut.
"Apa? Empat puluh ribu? Kenapa mahal sekali Bu? Bukannya tadi saya lihat di menu harga sepiring nasi goreng cuma lima belas ribu, dan tehnya cuma lima ribu ya Bu?" protes Clara mengerutkan kedua alisnya.
"Iya, tapi tadi temen mu si Galang juga memesan makanan dan minuman yang sama dengan mu. Dia bilang sama Ibu jika kamu yang akan membayarnya," jawab Ibu kantin tersebut membuat Clara benar-benar kesal.
__ADS_1