
Gara hanya pasrah saat Airin meremas lengannya di setiap kali rasa sakit itu kembali ia rasakan. Baginya, rasa itu tak sebanding dengan apa yang Airin rasakan saat ini.
***
"Aaaaaaa" teriakan terakhir Airin membuat bayi pertamanya lahir ke dunia.
Dokter pun segera memberikan bayi pertama Airin yang berjenis kelamin perempuan itu kepada perawat untuk di bersihkan. Selang beberapa detik kemudian, Airin kembali melahirkan seorang bayi laki-laki dan di susul dengan menit berikutnya, wanita itu juga melahirkan satu bayi laki-laki kembali. Total Airin melahirkan satu bayi perempuan dan dua bayi laki-laki.
"Terima kasih sayang.. Terima kasih.. Kamu telah mempertaruhkan nyawamu untuk melahirkan anak-anakku. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih," ucap Gara menciumi istrinya itu berkali-kali.
Karena Airin telah kelelahan, wanita itupun akhirnya terkulai lemas tidak sadarkan diri. Seketika, Gara di buat kaget dan cemas karena sang istri yang pingsan seketika.
"Airin.. Airin.. Airin bangun sayang. Kamu jangan membuatku takut dan cemas.
Airin?" panggil Gara berusaha membangunkan sang istri tercinta.
"Dokter Airin kenapa? Kenapa dia tidak sadarkan diri? Airin baik-baik saja kan dokter?" tanya Gara panik kepada dokter tersebut.
"Bapak tenang dulu ya. Kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Silahkan tunggu di luar dulu," jawab dokter tersebut juga kelihatan panik. Namun ia berusaha tenang agar Gara sebagai keluarga pasien tidak merasakan cemas sama sekali.
"Baik, kalau begitu tolong lakukan yang terbaik untuk istri saya," ucap Gara sesaat sebelum ia akan keluar dari ruang bersalin tersebut.
"Nak.. Bagaimana bayimu? Apakah sudah lahir dengan selamat? Kenapa wajahmu cemas sekali?" tanya Lena sangat-sangat tidak sabar mengetahui keadaan cucunya itu.
"Bayi-bayiku baik-baik saja Ma. Tapi... Tapi...," jawab Gara tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Laki-laki tampan yang baru menjadi seorang Ayah itu jatuh dan ambruk ke lantai saat kembali mengingat wajah istri tercintanya yang terbaring tidak sadarkan diri sesaat setelah ia berjuang melahirkan anak-anaknya.
__ADS_1
"Astaga Gara. Bangun dulu nak. Kamu duduk dulu disini. Sekarang tenang dirimu dulu," ucap Emanuel segera membantu putranya untuk bangkit dan duduk di kursi tunggu rumah sakit tersebut.
Setelah di rasa cukup tenang, Gara pun diminta untuk menceritakan apa yang terjadi di dalam sana.
"Airin ma.. pa.. Airin tiba-tiba saja tidak sadarkan diri. Gara takut jika Airin pergi meninggalkan Gara dan juga si kembar," jelas Gara dengan suara yang tersedu-sedu.
"Astaga.. Gara sabar ya sayang. Kita sama-sama berdoa supaya Airin tidak kenapa-napa. Kamu tenang ya nak. Kamu harus kuat demi anak-anakmu," jawab Lena menenangkan putranya.
"Iya nak. Kamu harus tenang. Jangan panik. Mari kita sama-sama berdoa supaya Airin tidak kenapa-kenapa," sambung Emanuel menenangkan putranya.
Sedangkan Zaki dan juga Ibunya yang sedari tadi sudah tiba juga ikut berdoa demi keselamatan Airin. Wanita yang telah membawa hidupnya menjadi lebih layak.
Tak beberapa lama kemudian, Ibunya Airin dan Ayahnya datang dengan setengah berlari ke arah Gara dan keluarganya.
"Bu, Airin sudah selesai melahirkan bayi kembar kami dengan selamat. Tapi, beberapa saat setelah Airin melahirkan, tiba-tiba saja ia tidak sadarkan diri, dan sekarang dokter lagi memeriksanya di dalam," jawab Gara menjelaskan dengan buliran air matanya.
"Astaga.. Airin.. Nak... Semoga kamu baik-baik saja," ucap Ibu Lita shock dan juga kaget. Tak hanya Ibunya Airin,sang Ayah juga tak kalah shock dan cemas jika terjadi sesuatu kepada anak semata wayangnya itu.
Beberapa saat kemudian, di saat suasana sedang tegang-tegangnya. Dokter yang tadi menangani Airin keluar dengan raut wajah yang tidak enak di lihat.
Segera, Gara dan juga keluarga lainnya menyusul dan menggerubungi dokter tersebut untuk meminta penjelasan tentang bagaimana keadaan Ibu dari bayi-bayi kembar tersebut.
"Dokter, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Gara tidak sabaran. Laki-laki tampan itu terlihat kusut dan dan matanya sudah sangat sembab karena menangis sedari tadi. Bisa di lihat jelas, betapa besarnya rasa cinta dan rasa takut kehilangan Gara terhadap wanita yang di belinya di bar pada malam itu.
"Maafkan kami pak. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk istri bapak. Namun..," jawab dokter tersebut terputus
__ADS_1
"Namun apa dokter? Airin baik-baik saja kan?" sela Gara yang sudah tidak sabar mengetahui keadaan istri kecilnya itu.
"Maaf pak. Nyawa Ibu Airin tidak bisa di selamatkan. Ada penggumpalan darah yang pecah di kakinya yang pecah dan darah tersebut mengalir ke paru-parunya sehingga menyebabkan kurangnya suplai oksigen ke organ tubuh lainnya," jelas dokter tersebut seketika membuat dunia Gara runtuh dan hancur seketika.
"Tidak.. Ini tidak mungkin terjadi dokter. Jangan becanda sama kami. Airin tidak mungkin pergi meninggalkan kami semua," ucap Lita, ibu kandung Airin.
Sementara itu, Gara tidak dapat lagi berkata apa-apa. Lidahnya terasa kelu, dan suaranya tercekat. Ia benar-benar merasakan apa itu arti kehilangan yang sesungguhnya. Seketika Gara jatuh lemah ke lantai, tanpa bisa berkata apa-apa lagi. Hatinya begitu nyeri dan perih.
"Rasa apa ini? Kenapa.. Kenapa sakit dan menyiksa sekali," ucap Gara memegangi dadanya. Nafasnya begitu sesak dan air matanya keluar menetes begitu saja.
Lena dan Emanuel yang juga shock seketika sadar dan berusaha menenangkan putranya yang merasa paling kehilangan disini. Hatinya sebagai seorang Ibu juga hancur melihat putra semata wayangnya mendapatkan ujian yang seberat ini. Menantu kesayangannya pergi dengan meninggalkan tiga bayi kembar yang telah lama mereka nanti-nantikan.
"Gara.. Sadar nak. Kamu harus kuat demi si kembar. Sekarang ayo berdiri, kita masuk dan lihat jenazah istrimu," ucap Lena mencoba membujuk sang putra yang masih terdiam dan terpaku. Ia seolah-olah belum bisa percaya jika ini terjadi kepada dirinya.
"Je.. Jenazah? Jenazah siapa ma? Bukankah Airin baik-baik saja?" tanya Gara pilu membuat semua orang hang ada di ruangan itu turut merasakan sakit kehilangan.
Bahkan tak hanya keluarga Airin. Dokter yang menyaksikan runtuhnya dunia seseorang itu juga tak kuasa menahan tangisnya kala melihat Gara yang lemah tak berdaya seperti itu.
"Gara istighfar sayang.. Airin sudah pergi. Dia sudah bahagia karena telah melahirkan anak-anakmu dengan selamat," ucap Emanuel berusaha tegar, meskipun ia juga hancur saat ini.
"Gak.. Airin belum meninggal pa. Dia hanya tidur dan istirahat sesaat," jawab Gara yang yakin jika sang istri tercinta belum meninggal. Entah kenapa, feeling Gara mengatakan jika Airin akan bangun kembali dari tidurnya.
"Aduhhh bagaimana ini?? Apakah Airin benar-benar meninggal? Lalu bagaimana nasib si kembar jika Airin benar-benar pergi meninggalkan dunia ini? jangan lupa simak terus ya kisah Airin dan Gara.. Dan Author minta maaf jika dalam penulisannya masih banyak typo dan kata-kata yang sulit di pahami. Maklum saja, Author menulis kisah ini di sela-sela kesibukan sebagai Ibu tiga anakπππ
Jangan lupa tinggalkan like komen dan vote nya ya.. Terima Kasih reader kesayangan Author. Salam sayang Author Nyonya_Doremiππ"
__ADS_1