Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara

Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara
Penyesalan Setelah Kehilangan Bab 9


__ADS_3

Setelah perkataan Zilgwin barusan, Kanaya pun tidak bisa lagi mencari alasan untuk mengelak dari kungkungan. Ia hanya pasrah saat Zilgwin mulai meraba-raba seluruh bagian anggota tubuhnya dengan lembut.


"Oh," desah Kanaya saat Zilgwin mulai bermain dengan organ inti istrinya itu.


***


Beberapa jam telah berlalu. Kanaya dan Zilgwin pun kini masih terbaring di atas ranjang karena kelelahan satu sama lainnya.


"Kamu mau kemana Nay?" tanya Zilgwin kepada Kanaya yang beranjak dari tempat tidurnya.


"Aku mau mandi kak. Hari ini mama akan pulang. Aku mau memasak sesuatu untuknya," jawab Kanaya sembari memasang pakaiannya kembali.


'Ini lah bedanya Kanaya dengan mendiang Laura. Selama aku menikah dengan Laura, ia tidak pernah mau turun ke dapur untuk menyiapkan makanan. Kanaya memang sempurna. Tak ada yang kurang pada dirinya. Dia cantik, baik, penyayang, penyabar dan juga perhatian. Betapa bodohnya aku baru menyadari semua ini,' batin Zilgwin menatap istrinya yang berjalan ke kamar mandi.


Beberapa saat kemudian, Kanaya pun selesai dan keluar menggunakan handuk kimono dan rambut yang terurai basah.


Selama menikah dengan Kanaya, baru kali ini ia melihat Kanaya seperti itu. Ia sungguh cantik polos tanpa riasan make up. Mata elang Zilgwin tak henti-hentinya menatap istrinya itu. Pikirannya melayang-layang membayangkan betapa nikmatnya tubuh sang istri.


"Kak.. Halo?? Kakak melamun?" tanya Kanaya membuat Zilgwin kaget.


"Hhhh, ti.. Tidak.. Siapa yang melamun. Ya sudah, aku mau mandi dulu," jawab Zilgwin lalu bergegas ke kamar mandi.


.


.


"Jadi kalian akan berangkat ke Sidney besok?" tanya Talita yang baru saja pulang dari luar kota.


Wanita cantik paruh baya itu kini tengah duduk di ruang keluarga dan ditemani dengan segelas jus orange.


"Iya ma. Tak hanya itu, kami juga akan membawa Kenzie dan juga baby sitter nya untuk ikut ke Sidney," jawab Zilgwin sembari mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya.

__ADS_1


"Loh, buat apa? Kalian pergi saja berdua. Biar Kenzie sama mama saja di rumah. Lagian, Kenzie kan juga udah biasa di tinggal sama mama. Anggap saja ini bulan madu kalian yang tertunda selama ini," usul Talita tampak senang saat melihat anak dan mantunya itu mulai dekat.


***


"Tapi itu akan merepotkan mama nantinya," ucap Zilgwin dan Kanaya serentak.


"Kalian ini ada-ada saja. Kenzie itu cucu mama, mana mungkin dia membuat mama repot?" ucap Talita geleng-geleng kepala sembari tersenyum karena melihat kekompakan anak dan menantunya itu.


"Baiklah ma, kalau begitu Kenzie akan tinggal dengan mama. Kita gak akan akan lama kok perginya," balas Zilgwin akhirnya mempercayai Kenzie tinggal dengan Omanya.


Dikamar Kanaya yang tengah sibuk mempersiapkan pakaian dan perlengkapan untuk ke Sidney pun dibuat tidak nyaman oleh Zilgwin yang sedari tadi selalu mengganggunya.


"Nay," panggil Zilgwin yang merasa di acuhkan oleh Kanaya, meskipun ia sudah mengganggu sang istri sedari tadi.


"Hmmmmm," jawab Kanaya yang masih sibuk memasukkan beberapa pakaian kedalam koper.


"Sudah, sini tidur. Aku mengantuk sekali. Pakaiannya biarkan saja. Nanti kita beli saja pakaian di sana," ucap Zilgwin mengajak Kanaya untuk segera tidur dengannya.


"Aku tidurnya mau di temani sama kamu," ucap Zilgwin yang mulai membuka hatinya kepada Kanaya.


"Iya.. Iya.. ini sudah selesai kok," ucap Kanaya menutup koper-kopernya.


Setelah Kanaya naik ke ranjang dan hendak tidur, tiba-tiba saja Zilgwin langsung menindih tubuh istrinya itu dan memberikan ciuman yang bertubi-tubi.


"Ahh kak, kakak ngapain? Katanya ngantuk," tanya Kanaya di sela-sela ciuman Zilgwin.


"Iya, tapi junior ku sedang menginginkan mu Nay," jawab Zilgwin dengan suara yang sudah berat dan mata yang mulai sayu.


"Tapi besok pagi-pagi, kita akan berangkat kak. Kalau ketinggalan pesawat gimana?" tanya Kanaya mencoba mengingatkan suaminya itu lagi. Namun Zilgwin tidak mendengarkannya lagi.


Karena terus di hadiahi Zilgwin dengan banyak serangan asmara, Kanaya akhirnya menyerah juga. Ia yang kodratnya sudah di takdir kan sebagai istri akhirnya mau tak mau harus melayani Zilgwin meskipun ia sedikit lelah.

__ADS_1


Cukup lama bermain ranjang, Kanaya dan Zilgwin pun akhirnya terlelap sembari berpelukan satu sama lain. Beberapa jam kemudian, di saat mentari masih larut dengan kesibukannya di belahan dunia lainnya, Kanaya pun bangun, lalu membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa permainan mereka semalam. Ia kemudian menyiapkan sarapan bersama dengan si mbok seperti biasanya.


Hari ini ia akan berangkat ke Sidney bersama sang suami. Setelah menyiapkan sarapan pagi, Kanaya pun langsung membangunkan Zilgwin untuk segera bersiap-siap.


"Kalian akan berangkat pagi ini?" tanya Talita disaat mereka tengah menyantap sarapan pagi buatan Kanaya dan juga si mbok.


"Iya ma. Apa mama yakin akan menjaga Kenzie selama kita tidak ada?" tanya Zilgwin sembari menyuap makanan ke mulutnya.


"Ya yakinlah sayang. Kenzie itukan cucu mama. Kalian pergi saja. Anggap saja ini bukan madu buat kalian. Mama senang sekali melihat kalian seperti ini," jawab Talita menatap Zilgwin dan Kanaya bergantian.


"Ya sudah ma. Kalau begitu aku dan Kanaya berangkat dulu ya. Titip Kenzie. Aku dan Kanaya akan berpamitan kepadanya sebentar," balas Zilgwin lalu menarik tangan istrinya itu ke kamar sang putra.


Setelah berpamitan, Zilgwin dan Kanaya pun akhirnya pergi.


"Kak, aku kok perasaannya tidak enak begini ya?" tanya Kanaya yang merasakan akan ada sesuatu yang akan terjadi pada dirinya.


"Sudahlah Nay. Mungkin itu hanya perasaan mu saja. Mungkin kamu nervous karena sudah lama tidak kemana-mana, ditambah lagi, rasanya kamu seperti berat untuk berpisah dengan Kenzie. Iya kan?" ucap Zilgwin menggenggam tangan Kanaya erat lalu menciuminya sekilas.


"Apa iya ya kak. Semoga saja Kenzie nggak rewel ya kak. Kasihan mama jika harus kewalahan mengurus Kenzie," balas Kanaya menyenderkan kepalanya ke bahu sang suami.


Tak berapa lama kemudian, Kanaya dan Zilgwin pun tiba di bandara. Karena sudah hampir ketinggalan pesawat, mereka segera berlari untuk melakukan check in dan kembali bergegas menuju pesawat yang telah di sediakan.


Karena buru-buru, Kanaya tak sengaja menabrak seorang laki-laki yang juga tengah terburu-buru. Rupanya dia adalah Bagas, teman masa SMA Kanaya dulu.


"Kanaya," ucap Bagas yang tidak menyangka akan bertemu kembali dengan cinta pertamanya.


"Bagas," ucap Kanaya yang juga tidak menyangka bisa bertemu dengan Bagas di bandara.


Melihat Kanaya dan Bagas yang saling kenal, rasa cemburu akut mulai menyeruaki hati dan pikiran Zilgwin.


Ia segera menarik Kanaya dan membawanya ikut berlari menuju pesawat yang akan membawanya terbang ke Sidney. Begitu juga dengan Bagas yang juga setengah berlari menuju pesawat yang ternyata sama dengan pesawat yang di tumpangi Kanaya dan juga Zilgwin.

__ADS_1


__ADS_2