Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara

Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara
Bab 94


__ADS_3

"Kamu bisa diam gak?" ucap narapidana yang paling senior.


"Saya nggak akan diam. Mau apa kamu ha? Mau pukul saya? Ayo pukul," teriak Liona dengan suara yang lebih keras.


Sontak tahanan senior itu langsung memukul Liona hingga dia kembali babak belur.


***


Beberapa hari berlalu begitu cepat. Semenjak Liona di tangkap polisi, tak sekali pun Paman Sam datang untuk menemui istrinya itu.


Tepat hari ini, Paman Sam ingin membalas sakit hati yang di tinggalkan Liona kepadanya.


Ia sengaja datang menemui Liona dan ingin melihat bagaimana reaksi wanita itu secara langsung.


"Saudari Liona, ada yang ingin bertemu dengan anda," ucap polisi tersebut sembari membukakan gembok sel tersebut.


"Kalau orang kemaren aku tak mau menemuinya," jawab Liona yang meringkuk di sudut ruangan.


"Bukan mereka, yang ingin menemui anda kali ini adalah suami anda sendiri," jawab polisi tersebut membuat Liona langsung berdiri.


"Mas Sam. Aku mau menemuinya, ayo pak," ucap Liona dengan semangat.


"Sayang," panggil Liona saat sudah berada di ruang besuk.


Saat Liona akan memeluk suaminya itu, Paman Sam langsung menepisnya dengan angkuh.


"Mas, kamu marah sama aku? Mas maafkan aku," ucap Liona dengan mata yang berkaca-kaca.


"Duduk," perintah Paman Sam dengan dingin.


Liona pun langsung duduk di hadapan suaminya itu.


"Sayang kamu kemana aja? Kenapa baru sekarang menemui ku? Apa kamu sedang sibuk mencari pengacara untuk membebaskan aku dari sini?" tanya Liona masih berpikiran positif.


"Aku memang sibuk mencari pengacara Liona," jawab Paman Sam membuat Liona menampakkan senyuman yang dalam Minggu-minggu ini tidak pernah ia keluarkan.


"Aku tau kamu pasti melakukan itu untukku. Terima kasih sayang. Aku memang tidak salah mencintaimu," ucap Liona girang.


"Kamu jangan senang dulu Liona. Aku mencari pengacara bukan untuk membebaskan mu, melainkan untuk mengurus semua masalah perceraian kita. Akan aku pastikan, kamu tidak mendapat sepersen pun harta gono-gini dariku," jawab Paman Sam sambil meletakkan sebuah amplop berwarna kuning di atas meja di hadapan Liona.

__ADS_1


"A... Apa? Ce.. Cerai?" tanya Liona shock.


"Ya, cerai," jawab Paman Sam menatap Liona dingin.


"Nggak.. Aku nggak mau cerai sama kamu mas. Aku mencintaimu mas. Aku janji gak akan mencelakai Gara dan keluarganya lagi. Aku mohon mas, jangan ceraikan aku," ucap Liona memohon.


"Ini semua bukan karena Gara dan keluarganya. Aku menceraikan mu karena perselingkuhan yang kamu lakukan dengan laki-laki yang bernama Yuta.


Jangan kamu pikir aku tidak tau Liona. Kamu membawa laki-laki itu ke rumah dan ranjang kita. Kamu juga sering menemuinya dan memberikan tubuhmu itu kepada laki-laki itu di bar miliknya. Kamu benar-benar wanita murahan. Beruntung keponakanku itu tidak jadi menikah denganmu waktu itu," jawab Paman Sam berusaha mengontrol emosinya.


"Nggak, itu semua bohong mas. Aku di jebak. Itu semua tidak benar," teriak Liona dengan linangan air mata.


"Haha.. Di jebak? Mana ada orang di jebak, tapi menikmati permainan ranjang itu. Aku punya semua bukti videonya Liona. Apa kamu mau melihatnya?" bentak Paman Sam menatap Liona dengan tatapan benci.


"Mas aku mohon maafkan aku. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Aku mohon mas. Jangan ceraikan aku. Kemana aku akan pergi setelah ini?" ucap Liona memohon. Kali ini ia sudah bersimpuh di hadapan suaminya itu.


"Pak," panggil Paman Sam kepada dua orang polisi yang sedari tadi berdiri di dekat mereka.


Polisi itu kemudian mendekat lalu memegang kedua tangan Liona.


"Lepaskan aku. Minggir kalian," amuk Liona meronta-ronta.


"Baik pak. Kami sudah menjadi saksinya," jawab polisi-polisi tersebut.


"Tidak.. Ini tidak boleh.. Tarik kembali ucapan mu mas. Jangan ceraikan aku. Aku tidak punya siapa-siapa lagi mas. Aku mohon, jangan ceraikan aku," teriak Liona meronta-ronta.


"Selamat tinggal Liona," ucap Paman Sam kemudian pergi meninggalkan Liona yang masih berteriak histeris karena tidak mau di ceraikan oleh Paman Sam.


Polisi-polisi itu kemudian kembali membawa Liona ke dalam sel tahanannya.


Setibanya di sel, Liona masih saja berteriak-teriak histeris. Ia masih belum terima jika di ceraikan oleh suaminya Paman Sam.


"Sikapmu saja seperti orang gila seperti ini, pantas saja kamu di ceraikan oleh suamimu.. Hahahha," cemooh penghuni sel lainnya.


"Diam kalian," teriak Liona yang langsung di keroyok kembali oleh penghuni tahanan yang lebih senior.


Sementara itu, Lyra kini sudah jauh lebih baik. Ia sudah bisa berjalan seperti semula.


"Selamat ya Lyra, kamu sudah bisa berjalan seperti semula. Aku akan segera menelpon keluargamu untuk menjemputmu pulang ke rumah," ucap dokter Dimas ikut senang melihat kesembuhan Lyra.

__ADS_1


"Tapi, aku tidak mau mereka tau jika aku sudah bisa berjalan kembali dokter," jawab Lyra menatap dokter Dimas.


"Kamu tenang saja. Aku akan menyembunyikan semuanya dari keluargamu. Hanya kita berdua yang mengetahui kesembuhan mu ini," jawab dokter Dimas tersenyum.


"Terima kasih dokter. Jangan lupa sampaikan juga ribuan terima kasihku kepada kakek Boby. Aku janji akan mengunjunginya suatu hari nanti," jawab Lyra tersenyum.


"Aku akan menyampaikannya. Baik, kalau begitu aku permisi dulu ya. Aku akan urus semua kepulangan mu," pamit dokter Dimas.


"Bunda sudah tidak sabar bertemu dengan kamu sayang," gumam Lyra merindukan anaknya.


.


.


"Halo," jawab Paman Sam saat menerima panggilan telepon dari rumah sakit. Saat ini ia sedang di atas mobil menuju kota B untuk menemui istri keduanya Kamelia.


"Halo pak, kami dari rumah sakit memberi tahukan jika Ibu Lyra sudah diizinkan untuk keluar dari rumah sakit," ucap petugas rumah sakit tersebut melalui panggilan telepon.


"Baik, nanti saya akan suruh orang untuk menjemput dan mengurus semuanya," jawab Paman Sam lalu mematikan panggilannya.


Paman Sam pun menelpon anak buahnya untuk menjemput Lyra ke rumah sakit. Ia sama sekali tidak peduli dengan wanita yang sudah melahirkan seorang anak laki-laki untuknya itu.


Sementara itu, Leon dan juga Gauri akan melakukan pemeriksaan ke rumah sakit khusus kanker yang ada do kota mereka.


"Semoga hasilnya memuaskan ya sayang," ucap Leon penuh harap.


"Amin," jawab Gauri yang kondisinya kini kurang baik.


Saat tiba giliran Gauri di periksa, Leon tak henti-hentinya berdoa untuk kesembuhan sang istri. Berharap ada keajaiban yang datang menghampiri mereka berdua.


"Bagaimana dokter?" tanya Leon saat Gauri telah selesai di periksa.


Dokter yang memeriksa Gauri itupun menatap Leon dan Gauri secara bergantian. Tatapannya membuat siapa saja yang melihat berpikir jika hasil pemeriksaannya tidaklah seperti yang diharapkan.


"Ayo dokter, katakan saja. Saya sudah siap mendengarnya," ucap Gauri berusaha tegar.


"Huhhhh.. Begini, hasil pemeriksaannya mengatakan, sel kanker yang ada pada diri anda sudah sangat ganas sekali. Kecil kemungkinan untuk bisa di sembuhkan. Meskipun kita melakukan operasi, tapi saya takut resikonya akan sangat besar sekali," jelas dokter membuat lutut Leon lemas seketika.


"A.. Apa resikonya dokter?" tanya Leon penasaran.

__ADS_1


"Beberapa resikonya adalah kebutaan permanen, kelumpuhan total, hilangnya ingatan, atau amnesia, dan lebih parahnya lagi itu kematian di meja operasi," jawab dokter tersebut membuat Leon bergidik ngeri.


__ADS_2