Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara

Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara
Bab 106


__ADS_3

"Huhhh, kenapa jantungku berdetak begitu cepat ya saat melihat gadis yang ada di dekat Kiyai Sodikin tadi? Dia siapa? Kenapa aku baru melihatnya?" ucap Ustad Gibran memegangi dadanya.


Hal itu juga di rasakan oleh Kamelia. Setibanya di kamarnya, Kamelia terus saja terpikirkan Ustad yang tadi bertemu dengannya di depan ruangan Kiyai Sodikin.


'Huhhh, perasaan apa ini?' tanya Kamelia dalam hatinya.


***


Hari berlalu begitu cepat. Sudah hampir satu Minggu Kamelia berada di pondok pesantren tersebut.


Ia juga sudah mengurus surat pindah sekolahnya ke sekolah yang disediakan oleh pihak pondok.


Dirinya juga sudah memiliki teman dan beradaptasi dengan baik.


Semenjak Ustad Gibran cuti, baru ini kali pertamanya Ustad tampan itu mengajar di kelas Kamelia.


"Assalamualaikum selamat pagi anak-anak," sapa Ustad Gibran sembari meletakkan tasnya di atas meja guru di depan kelas.


"Walaikum salam Ustad," jawab santri-santri wanita dengan semangat. Ustad Gibran merupakan Ustad idola semua santri wanita yang bersekolah dan tinggal di pondok pesantren tersebut.


Tak sedikit banyak dari santri, bahkan orang tua santri-santri tersebut yang meminta Ustad Gibran menjadi menjadi menantunya kelak jika anak-anaknya telah lulus dari sekolah mereka. Namun dengan lembut, Ustad Gibran menolak semuanya dengan alasan ia masih belum memikirkan hidup berumah tangga.


"Baik, saya lihat disini terdapat santri baru. Bisa tolong perkenalkan dirinya ke depan?" ucap Ustad Gibran membuat Kamelia yang sedang termenung itu langsung kaget.


"Baik Ustad," jawab Kamelia segera berdiri menuju depan kelas.


"Perkenalkan, nama saya Kamelia Putri. Panggil saja Kamelia. Saya adalah murid pindahan dari SMA Negri xx," ucap Kamelia memperkenalkan dirinya


"Baik, Kamelia, silahkan duduk," jawab Ustad Gibran sedari tadi memperhatikan Kamelia.


Kamelia pun kembali duduk di bangkunya dan mengikuti pelajaran.


Kamelia masih saja suka melamun. Ia masih belum bisa move on dari masa lalunya yang sangat buruk.


Hal itu tak luput dari pandangan Ustad Gibran yang sedari tadi selalu mencuri-curi pandang kepada Kamelia.

__ADS_1


'Kenapa dia selalu melamun? Apa sebelumnya dia ada masalah dan pindah ke pondok ini? Sebaiknya aku akan bertanya langsung kepada Kiyai Sodikin,' batin Ustad Gibran memperhatikan Kamelia.


"Kamelia," panggil Ustad Gibran, namun Kamelia masih saja termenung dan tidak fokus.


"Kamelia," panggil Ustad Gibran sekali lagi dengan nada sedikit keras.


"Ah.. Iya.. Maaf Ustad ada apa?" jawab Kamelia gelagapan.


"Apa yang sedang kamu pikirkan? Kenapa dari tadi saya perhatikan kamu selalu saja melamun? Apa kamu ada masalah?" tanya Ustad Gibran menghampiri meja Kamelia.


"Maaf Ustad. Saya hanya sedikit melamun. Sekali lagi maafkan saya," jawab Kamelia menundukkan kepalanya.


"Baiklah. Kali ini saya akan memaafkan mu. Namun lain kali jika saya mendapati kamu masih melamun di jam pelajaran saya, maka saya akan segan-segan memberimu hukuman," ucap Ustad Gibran kembali ke mejanya.


"Baik, kita mulai lagi pelajarannya," ucap Ustad Gibran.


.


.


Sudah satu Minggu Paman Sam mendekam di balik jeruji besi.


Hari ini Paman Sam berencana akan menghubungi pengacaranya. Namun jawaban dari sang pengacara yang selama ini setia mendampingi Paman Sam sungguh membuat laki-laki pecinta wanita itu terkejut bukan main.


"Tidak. Ini tidak mungkin. Bagaimana mungkin seluruh aset dan kekayaanku berpindah tangan kepada Lyra? Kapan aku memberikannya kepada wanita itu? Aku hanya membuat perjanjian dengan nya, bukan memberikan seluruh harta kekayaanku. Tidak.. Ini pasti salah. Ini pasti salah," ucap Paman Sam mengacak-acak rambutnya sendiri.


Dihari itu juga, Lyra pun datang ke penjara untuk menemui Paman Sam. Ia datang dan berjalan dengan kakinya sendiri.


Lyra terlihat begitu segar dan sangat cantik. Bahkan ia jauh lebih cantik di bandingkan dengan Liona, adik kandungnya.


"Lyra.. Lyra katakan dengan jujur. Apa maksud dari semua ini?" tanya Paman Sam dengan pergelangan tangan yang di borgol.


"Maksud..? Maksud dari apa?" tanya Lyra tersenyum manis.


"Hartaku. Apa benar hartaku sekarang sudah menjadi milikmu? Bagaimana bisa kamu melakukan itu?" tanya Paman Sam sudah tidak sabar menunggu jawaban dari Lyra.

__ADS_1


"Haha.. Kamu bertanya bagaimana mungkin? Lalu bagaimana mungkin selama ini kamu mengkhianati ku dengan selingkuh dan menikahi adik kandungku sendiri. Tak hanya itu, kalian bahkan sengaja membuat aku lumpuh selama sekian tahun lamanya dalam keadaan hamil? Lalu bagaimana bisa kamu menelantarkan darah daging mu sendiri dan menikah dengan wanita yang ternyata adalah anak kandungmu sendiri? Bagaimana bisa Samuel?" jawab Lyra dengan tenang dan juga dingin.


"Jadi.. Jadi benar kamu menjebak ku dan mengambil tanda tanganku untuk mengalihkan semua harta-harta milikku?" tanya Paman Sam kembali.


"Ya, itu benar. Kamu memang pintar Samuel," jawab Lyra membuat dunia Paman Sam hancur seketika.


"Tapi kenapa? Bukankah kita akan menikah?" tanya Paman Sam dengan mata yang berkaca-kaca karena kehilangan seluruh hartanya.


"Karena hanya itu yang pantas untuk membayar semua kekejaman mu selama ini Samuel. Kamu memang pantas mendapatkannya. Sekarang membusuk lah di penjara. Aku kesini hanya ingin memberikan ini padamu," ucap Lyra memberikan sebuah undangan pernikahan.


"Undangan siapa ini? Jangan bilang ini undangan pernikahanmu Lyra," ucap Paman Sam membuka undangan yang diberikan Lyra kepadanya.


"Undangan ku. Aku memang akan menikah, tapi tidak denganmu. Jangan pernah bermimpi Samuel," jawab Lyra membuat Paman Sam seketika jatuh pingsan.


Polisi yang sedari tadi berada di sana langsung membawa Paman Sam ke fasilitas kesehatan. Sedangkan Lyra pergi menemui adiknya Liona yang juga di kurung di kantor yang sama, namun berbeda sel dengan Paman Sam.


"Kak.. Kak Lyra?" ucap Liona kaget saat melihat Lyra menemuinya.


"Ya, ini kakak. Apa kabarmu dek? Lama tak bertemu," jawab Lyra tersenyum dan berjalan menghampiri adiknya.


"Kakak.. Kakak sudah bisa berjalan?" tanya Liona kaget.


"Seperti yang kamu lihat. Oh ya, apa kamu tau, Samuel suamimu itu juga di tahan di kantor ini?" ucap Lyra membuat Liona sangat terkejut.


"Apa? Mas Sam di penjara? Tapi kenapa?" tanya Liona kaget.


"Masak suami sendiri tidak tau. Dia di penjara karena menikahi gadis bawah umur yang masih berstatus pelajar hingga hamil. Dan parahnya lagi, gadis itu ternyata anak kandungnya sendiri," jelas Lyra membuat Lyra merasa sakit hati karena ia merasa telah di khianati oleh Paman Sam.


"A.. Apa? Anak kandungnya? Bagaimana bisa kak? Jadi selama ini Mas Samuel selingkuh di belakangku. Giliran aku ketahuan selingkuh, dia menceraikan aku dan membuang begitu saja," ujar Liona mengepalkan tangannya.


"Kalian telah bercerai?" tanya Lyra pura-pura tidak tau.


"Ya, dia telah memberiku talak tiga. Aku tak akan membiarkan ini. Aku akan menceraikannya secara resmi dan meminta harta gono-gini sebanyak mungkin," ucap Liona membuat Lyra menggelengkan kepalanya.


"Haha.. Harta gono-gini? Harta gono-gini apa? Darimana Samuel mendapatkan uang untuk memberimu harta Gono-gini sedangkan ia saja tak mampu menyewa pengacara untuk meringankan hukumannya," ucap Lyra membuat Liona tak mengerti.

__ADS_1


"Apa maksud kakak. Mas Sam itu sangat kaya. Kenapa dia harus pusing memikirkan masalah uang?" tanya Liona mengerutkan keningnya.


"Haha.. Kamu tau, seluruh harta kekayaan Samuel telah berpindah tangan atas nama kakak. Laki-laki bajingan itu kini telah jatuh miskin dan sebentar lagi akan mati membusuk di penjara," ucap Lyra tertawa puas.


__ADS_2