Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara

Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara
Bab 49


__ADS_3

"Kurang ngajar kau Zaki. Berani-beraninya kau menghancurkan semua persiapanku. Kau lihat saja, aku akan membuat Ibumu semakin tak bisa berbuat apa-apa lagi," ancam nenek Purwadi dengan suara yang sudah mulai bergetar.


Saat kakek Purwadi akan bangkit berdiri untuk menusukkan kerisnya ke arah Zaki, dengan sigap Airin melindungi Zaki dengan punggungnya sehingga keris itupun langsung menancap di punggung Cella..


***


Namun saat keris sakti itu mengenai tubuh Airin, saat itu juga kakek dan nenek Purwadi kehilangan kesadarannya dan dinyatakan wafat oleh menantunya setelah beberapa saat diperiksa.


Tanpa menunggu dan memperdulikan orang tua tersebut, Airin yang mengalami luka di punggungnya itu langsung berlari menghamburi Gara yang tengah terbaring tak sadarkan diri.


Airin terus saja memanggil nama Gara berkali-kali. Namun laki-laki tampan itu tak kunjung juga sadar. Begitu juga Leon, mereka masih tampak pucat meskipun luka di tubuhnya sudah mulai mengering.


Berbekal ponsel yang ia bawa, Airin mencoba menghubungi Lena, namun sayang sekali di sana sama sekali tidak ada sinyal.


Tak kehabisan akal, Airin kemudian mengambil kayu dan benda yang dapat dibakar lainnya. Ia kemudian membakar dan membuat asap yang sangat banyak guna untuk memberi kode kepada pihak polisi dan juga keluarganya untuk segera mengirim bantuan.


Masih di lokasi tempat kecelakaan tersebut, Lena yang tak henti-hentinya berdoa sedari tadi melihat kepulan asap yang sangat banyak di kejauhan tersebut.


'Apa jangan-jangan itu sebuah tanda ya?" gumam Lena sambil mengamati asap tersebut.


"Kenapa Ma?" tanya Emanuel kepada sang istri yang terlihat memperhatikan satu arah saja.


"Itu loh Pa, coba papa lihat, asapnya semakin lama semakin tebal. Mama jadi merasa kalau itu sebuah sinyal deh pa," jawab Lena sambil terus memperhatikan kepulan asap tersebut.


"Iya ya ma. Tapi lumayan jauh dari sini ma," balas Emanuel yang juga memperhatikan kepulan asap tersebut.

__ADS_1


"Papa coba deh suruh orang papa buat meriksa sampe ke sana. Siapa tau itu Gara dan juga Leon, atau bisa jadi itu Airin pa," perintah Lena yang langsung di sambut baik oleh suaminya itu.


"Baik ma. Kalau mama memang berfikiran seperti itu, papa akan suruh orang papa untuk masuk menuju sumber asap itu," jawab Emanuel segera mengumpulkan orang-orangnya.


Beberapa saat kemudian, setelah semua persiapan selesai, orang yang di perintahkan oleh Emanuel mulai masuk jauh ke dalam hutan menuju sumber asap tersebut. Tak hanya mereka saja, beberapa tim dari polisi dan regu penyelamat juga ada yang turun tangan menemani para pekerja Emanuel tersebut masuk ke dalam hutan.


Sementara Lena dan Emanuel menunggu pos seraya berdoa semoga saja mereka semua dalam keadaan sehat dan selamat.


Hampir lima jam lebih mereka telah masuk jauh ke dalam hutan. Emanuel dan juga Lena kini masih setia menunggu dengan perasaan yang sangat berkecamuk.


Tak henti-hentinya pasangan suami istri itu menguatkan satu sama lainnya, meskipun mereka berdua sama-sama ketakutan dan merasa rapuh.


Sekitar satu jam kemudian, orang-orang yang masuk ke dalam hutan tersebut mulai keluar satu persatu. Namun yang membuat Lena dan Emanuel heran dan cemas adalah, hampir semua dari mereka keluar dengan tangan kosong.


Namun beberapa saat kemudian, saat Emanuel akan menanyakan hasilnya, beberapa orang keluar dari dalam hutan dengan membawa tiga buah tandu dan seorang Ibu paruh baya dengan anak laki-lakinya.


"Siapa mereka? Dan siapa yang kalian tandu itu? putraku dan sahabatnya mana? Lalu mana calon menantuku? Kenapa kalian membawa orang lain?" tanya Emanuel yang tak dapat lagi menutupi rasa takutnya.


"Sabar Pak. Ini yang kami tandu adalah saudara Gara, Leon, dam juga saudari Airin. Mereka kami temukan di kawasan hutan terlarang. Ibu Airin membuat sinyal dengan membakar sampah dan juga ranting kayu agar kami dapat segera menyusulnya. Dan yang ini adalah Ibu Rodiah dan anaknya Zaki. Merekalah yang membantu menyelamatkan putra bapak dan beserta sahabatnya dari korban tumbal sepasang kakek dan nenek tua di dalam hutan terlarang sana," jelas polisi tersebut dengan rinci.


"Lalu? Lalu bagaimana keadaan mereka," tanya Lena yang sedari tadi tidak dapat berkata apa-apa.


"Mereka semua masih hidup, hanya saja mereka perlu penanganan lebih lanjut oleh pihak medis untuk menghindari kejadian buruk di kemudian hari," jawab polisi tersebut.


"Baik Pak, terima kasih.. Terima kasih banyak karena sudah membantu dan mengabari kami. Kalau begitu mari kita bawa mereka ke rumah sakit terdekat saja Pak," ucap Emanuel sangat bahagia karena Gara dan yang lainnya telah bertemu.

__ADS_1


"Iya Pak. Lebih cepat lebih baik. Calon menantu saya itu sedang hamil. Saya gak mau dia dan bayinya kenapa-napa pak," tambah Lena dengan perasaan yang tak dapat di artikan saat ini.


"Ya sudah mari ikut kami," ucap polisi tersebut menyusul Gara dan yang lainnya sudah masuk ke dalam ambulan.


"Aaa.. Kami pergi menggunakan mobil kami saja Pak. Dan kalau bapak mengizinkan saya akan membawa ibu dan anak ini untuk ikut serta bersama saya. Saya mesti memberi ucapan terima kasih karena telah menjaga anak-anak saya," jawab Emanuel melihat ke ibu dan anak itu sesaat.


"Baik pak silahkan," jawab polisi itu singkat.


"Beberapa saat kemudian, mereka pun akhirnya sampai di rumah sakit. Para petugas medis bergegas membawa Gara dan yang lainnya turun dari ambulan yang berbeda menuju unit gawat darurat rumah sakit tersebut.


Begitu juga dengan Emanuel dan juga Lena, mereka juga turun dan mengajak serta Ibu Rodiah dan putranya Zaki masuk ke dalam rumah sakit tersebut.


Hampir setengah jam mereka menunggu hasil pemeriksaan di luar pintu UGD tersebut, hingga akhirnya seorang dokter dan beberapa perawat keluar lalu menghampiri Emanuel dan juga Lena.


"Bagaimana keadaan mereka bertiga dok?" tanya Lena sudah tidak sabar mengetahui hasilnya.


"Pasien yang sedang hamil itu baik-baik saja. Hanya saja beliau mengalami kelelahan dan harus istirahat total selama beberapa hari ini. Sedangkan yang laki-laki berdua tersebut, lukanya lumayan parah, tapi kalian tenang saja. Berkat obat herbal yang di terimanya, kini lukanya sudah mengering dan membaik. Hanya saja mereka berdua juga harus istirahat total selama beberapa hari ke depan," jelas dokter yang menangani Gara, Leon, dan juga Airin.


"Makasih dok. Makasih banyak," jawab Lena sangat bahagia.


"Lalu apa kami boleh melihatnya dok?" tanya Emanuel saat dokter itu pamit undur diri.


"Boleh, tapi pasien jangan terlalu banyak di ajak bicara. Biarkan mereka tenang dulu untuk sesaat," jawab dokter tersebut tersenyum lalu pergi berlalu dengan rekan-rekan perawatnya.


"Haiiii... Buat Reader yang bertanya-tanya kenapa jadi ada unsur horornya, Author jelasin ya say.. Unsur Horor hanya sebagai pemanis buat menyambung alur ceritanya yaa.. Jadi yang buat takut akan mistis-mistisnya, tenang saja.. Ini sudah berakhir kokπŸ˜€πŸ˜‚πŸ˜‚" Salam sayang Author Nyonya Doremi😘

__ADS_1


__ADS_2