Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara

Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara
Bab 150


__ADS_3

'Sembari menunggu Airin, ada baiknya aku minum obat kuat ini dulu. Semoga saja obat ini manjur," gumam Gara membuka plastik yang membungkus obat kuat yang baru saja ia beli secara online.


Tak beberapa lama kemudian, Gara merasakan sensasi yang berbeda pada tubuhnya. Ia merasakan tubuhnya terasa panas, dan P miliknya mulai mengeras.


'Sepertinya obat ini bagus. Semoga saja hasilnya juga bagus,' batin Gara yang sedang rebahan di tempat tidurnya.


***


Tak lama kemudian, Airin pun masuk ke dalam kamarnya. Ia melihat, Gara tengah tiduran di atas ranjang mereka.


"Mas, kepalamu masih sakit?" tanya Airin sembari mengusap kepala Gara dengan lembut.


Bukannya mendapat jawaban, Gara yang sedari tadi sudah merasa panas langsung menikam tubuh sang istri dan menciuminya dengan membabi buta.


Seketika, Airin pun terkejut, namun sayang, ia tak bisa berbuat apa-apa saat ini.


"Mas kamu kenapa? Tiba-tiba pulang langsung seperti ini," tanya Airin merasa penasaran dengan tingkah laku suaminya itu.


"Airin aku mau kita memiliki anak lagi. Aku mau kamu hamil dalam bulan ini," jawab Gara membuat mata Airin terbelalak.


"A.. Apa? Hamil lag?" tanya Airin mendorong tubuh suaminya itu.


"Iya sayang. Aku baru saja meminum suplemen agar punyaku lebih tahan lama dan hasilnya akan lebih bagus,' jawab Gara kembali mengungkung Airin.


"Apaan sih mas? Kita kan sudah punya si kembar sayang, emang gak cukup dengan memiliki tiga anak?" tanya Airin yang benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran suaminya itu.


Gara tidak mengatakan jika dirinya dan juga Leon sedang bertaruh saat ini. Ia tak bisa terima jika Leon muncul menjadi pemenang nantinya.


Entah apa yang di katakan para pegawainya jika Gara, CEO dari perusahaan tersebut datang ke kantor menggunakan lipstik yang merah merona.


"Tapi aku mau memiliki anak lagi. Kamu tau, saat ini istri Leon sedang hamil. Aku kepikiran juga akan memiliki bayi lagi, siapa tau, kita memiliki anak kembar lagi," ucap Gara membuat Airin merasa curiga pada suaminya itu.

__ADS_1


"Hmmmm, jangan bilang kamu dan Leon mengadakan taruhan," feeling Airin tak pernah salah. Ia yakin sekali jika Leon dan juga Gara sedang membuat suatu taruhan.


"Ngggg, enggak, siapa yang bertaruh, aku.. Aku hanyaaa...," jawab Gara terbata-bata


"Jika kamu berbohong dan aku taunya dari orang lain, awas saja, aku akan puasa kan kamu selama satu bulan penuh," potong Airin seketika membuat Gara tak dapat lagi menyembunyikan kebohongannya..


"Sayang, ma.. Maafkan aku, aku dan Leon memang bertaruh. Habis Leon yang memulainya duluan, dia mengatakan jika punyaku tidak bisa lagi menghasilkan bayi," jawab Gara berharap Airin tak marah padanya.


"Astaga, lalu, apa yang kalian taruhkan?" tanya Airin penasaran.


"Hmmmmm itu, siapa yang kalah di antara kami, maka kami akan datang ke kantor memakai lipstik yang merah merona selama tiga hari," jawab Gara malu-malu.


"Ppffftthhhh, jadi itu taruhannya?," tanya Airin yang berusaha menahan tawanya.


"I.. Iya. Maka dari itu, boleh ya, kita bikin adik buat si kembar," jawab Gara setengah memohon.


"Haha.. Aku yakin kamu akan kalah," ujar Airin tertawa terbahak-bahak.


"Karena aku menggunakan KB, kamu lupa, waktu itu mama mu meminta aku untuk tidak memiliki anak dalam waktu dekat dulu," jawab Airin mengingatkan suaminya itu.


"Ya aku ingat, tapi aku pikir itu hanya sekedar bercanda saja. Lalu bagaimana caranya? Kapan kamu bisa hamil lagi?" tanya Gara mulai frustasi.


"Ya, gak lama, palingan lima tahun lagi aku bisa hamil lagi," jawab Airin lalu bangkit dari kungkungan Gara.


"Apa, lima tahun lagi? Masak aku harus memakai lipstik ke kantor?" teriak Gara benar-benar frustasi.


Melihat Airin yang berjalan meninggalkan kamar mereka, Gara pun segera bangkit dan mengejar istrinya itu. Sedari tadi, Gara berusaha menahan rasa panas akibat pengaruh obat kuat yang ia minum.


"Airin tunggu," panggil Gara memeluk istrinya dari belakang.


"Ada apa lagi sih mas?" tanya Airin berusaha melepaskan pelukan Gara.

__ADS_1


"Sedari tadi punyaku sudah berdiri tegak dan tidak mau tidur lagi, saat ini aku benar-benar menginginkan mu sayang," jawab Gara mulai menciumi tubuh Airin dan menyandarkan istrinya itu ke pintu.


Melihat suaminya yang sudah sangat bernafsu tersebut, Airin menjadi tidak tega dan mau tak mau, ia pun membiarkan Gara mulai menjamah tubuhnya.


Gara menuntun Airin ke ranjang mereka, ia pun langsung membuka seluruh pakaiannya dan juga pakaian sang istri dengan membabi buta.


"Pelan-pelan mas," protes Airin yang yang sedikit takut dengan kelakuan sang suami.


Tak mau menunggu lama lagi, Gara pun langsung melakukan penyatuannya dengan Airin. Meskipun Gara tau jika istrinya itu menggunakan kontrasepsi, tapi ia tetap berharap jika Airin bisa hamil.


"Oh mas, pelan-pelan," desah Airin yang kewalahan saat menghadapi suaminya saat ini.


"Maafkan aku Airin, aku benar-benar tidak bisa menahannya, ini semua disebabkan oleh obat kuat yang tadi aku minum," jawab Gara masih dengan aktifitas ranjangnya.


Di penjara, saat ini Liona tengah terkulai lemah, badannya panas dan wajahnya pucat. Untung saja saat ini Lyra membesuknya, dengan begitu, Liona dapat di larikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.


Namun, bukan Liona namanya jika tidak bisa memanfaatkan keadaan. Sadar jika dirinya tidak di borgol, Liona pun mengatur rencana untuk kabur dari rumah sakit tempat ia di rawat.


Dengan menyamar sebagai perawat, Liona pun berhasil keluar melalui pintu depan, ia berhasil keluar dengan menutup mulutnya dengan masker dan pakaian perawat yang tengah memeriksa dirinya.


"Syukurlah, akhirnya aku bisa kabur juga. Untuk sementara ini, aku akan sembunyi hingga keadaan mulai aman. Setelah itu, aku akan menyusun rencana untuk mengambil seluruh harta mas Sam yang saat ini menjadi milik kak Lyra.


Jika semuanya selesai, aku akan cari cara untuk menghancurkan Airin dan merebut Gara kembali ke pelukan ku," gumam Airin yang saat ini tengah menuju sebuah konter untuk menjual ponsel milik perawat yang ia curi.


Setelah ponsel tersebut di jual dengan harga murah, Liona pun menggunakan uangnya untuk menaiki bus menuju sebuah desa yang jauh dari kota tempat ia berada saat ini.


Sementara itu, di rumah sakit, Lyra tampak stres saat mengetahui jika yang terbaring di ranjang rumah sakit tersebut bukan Lyra, melainkan milik perawat yang di buat pingsan oleh Liona.


"Bagaimana ini pak? Adik saya sedang sakit, bagaimana jika dia kenapa-napa pak?" tanya Lyra cemas.


"Sabar Bu, sebagain tim kami telah mencoba mencari keberadaannya, dan sebagian lagi sedang mengecek cctv rumah sakit ini," jawab polisi tersebut kepada Lyra.

__ADS_1


__ADS_2