Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara

Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara
Bab 154


__ADS_3

'Sial, pasti si Gara sengaja nih nyuruh office boy tadi untuk menambahkan banyak garam ke dalam ini. Mana asin banget lagi,' batin Leon mencoba bersikap setenang mungkin.


"Gimana? Enak?" tanya Gara penasaran dengan ekspresi tidak menyangka nya.


***


"Anak.. Kamu mau coba?" tawar Leon berusaha menahan rasa asin yang teramat sangat di dalam mulutnya.


'Tahan Leon.. Tahan,' batin Leon berakting setenang mungkin.


"Ah, enggak, kamu aja," tolak Gara masih menatap wajah Leon yang tidak berubah sama sekali.


'Kenapa Leon gak ke asinan ya? Apa jangan-jangan, office boy tadi gak nurutin perintahku? Sialan, gagal deh buat ngerjain si Leon,' batin Gara terus menatap sahabatnya itu.


"Kamu kenapa menatap aku begitu? Mau?" tawar Leon lagi sembari menyuap bubur kacang hijau dengan terasi dan garam yang sangat banyak sekali.


"Hmmm, boleh, tapi dikit aja," jawab Gara yang penasaran dengan rasa bubur kacang hijau tersebut.


'Rasain,' batin Leon bersorak senang.


Dengan sedikit ragu-ragu, Gara pun mulai menyuap bubur tersebut ke mulutnya dan........


"Fffttthhhh apa ini? Kenapa asin sekali?" umpat Gara menyemburkan apa yang ia makan ke hadapan Leon.


"Sialan, kenapa harus ke wajahku." protes Leon otomatis berdiri dan mengelap wajahnya yang terasa panas.


"Maaf..Maaf. Kamu tau, bubur mu ini sangat asin sekali. Bagaimana kamu bisa memakannya dengan setenang ini?" tanya Gara kesal.


"Aku tau, sejak awal tadi kamu kamu pasti menyuruh office boy tadi untuk memberikan banyak garam ke dalam bubur ku kan?" tanya Leon sembari mengelap wajahnya dengan tisu.


"Kalau kamu sudah tau, kenapa masih kamu masih memakan bubur itu dengan tenang?" tanya Gara kesal.

__ADS_1


"Itu karena aku juga ingin kamu juga merasakannya, aku sedari tadi sebenarnya juga keasinan sekali," jawab Leon menatap Gara kesal.


cukup lama mereka saling tatap, dan tak lama suara tawa pun pecah di antara ke dua sahabat tersebut.


Sementara itu, Yuni dan juga Liona baru saja tiba di gerbang pondok pesantren milik Kiyai Sodikin.


Liona tampak cantik dengan balutan kerudung yang menutupi kepalanya, dan pakaian syar'i yang membuat ia tambah anggun.


"Assalamualaikum," ucap Yuni mengetok pintu rumah Kiyai Sodikin.


"Walaikumsalam, eh ibu Yuni, mari, silahkan masuk," jawab seseorang dari dalam yang ternyata adalah Kiyai Sodikin sendiri. Kebetulan saat ini ia tidak pergi ke pengajian karena kurang enak badan.


"Selamat siang Kiyai, maaf mengganggu waktunya," ucap Yuni sembari mengikuti Kiyai Sodikin masuk ke dalam rumahnya.


"Sama sekali tidak mengganggu Bu, sebentar saya panggilkan Kamelia dan Gibran dulu," ucap Kyai Sodikin setelah tamu-tamunya itu sudah duduk.


"Anak mba tinggal di sini?" tanya Aluna berbisik ke telinga Yuni.


"Ibu," sapa Kamelia yang senang sekali melihat kedatangan orang tua kandungnya itu.


"Kamelia, apa kabar nak,?" tanya Yuni sembari memeluk anak nya itu.


"Alhamdulillah Kamelia baik Bu. Ibu apa kabar?" tanya jawab Kamelia balik bertanya.


"Alhamdulillah ibu juga baik nak. Oh ya, Kamelia, Gibran dan Kiyai, kenalkan ini namanya Aluna. Aluna bermaksud untuk belajar ilmu agama di pondok ini. Apakah Kiyai mengizinkannya?" tanya Yuni memperkenalkan Liona yang menyamar menjadi Aluna.


"Alhamdulillah kalau begitu. Saya sama sekali tidak keberatan. Kebetulan, di pondok ada sebuah asrama yang kosong jika saudari Aluna ingin menetap di sini," jawab Kiyai Sodikin menyambut baik niat Aluna.


"Terima kasih Kiyai. Namun, apakah tidak merepotkan jika saya tinggal di pondok pesantren ini?" tanya Aluna tampak masih malu-malu.


"Sama sekali tidak," jawab Kiyai Sodikin.

__ADS_1


"Bagaimana Aluna? Apa kamu mau tinggal di sini?" tanya Yuni menanyai Aluna.


'Ada baiknya aku bersembunyi saja di sini untuk sementara waktu hingga keadaannya aman. Jika semuanya baik-baik saja, maka aku akan kembali ke Jakarta dan menjalankan misi ku kembali,' batin Aluna menimang-nimang tawaran Kiyai Sodikin.


"Boleh mba. Dengan begitu, saya akan belajar lebih banyak lagi ilmu agama. Siapa tau saya bisa jadi pribadi yang lebih baik lagi," jawab Aluna dengan wajah sok alim.


"Amin, semoga saja. Baiklah kalau begitu mau mu. Itu berarti, mba akan tinggal sendiri lagi dong," jawab Yuni pura-pura sedih.


"Memang mba Aluna nya tinggal sama Ibu?" tanya Kamelia penasaran.


"Iya nak. Mba Aluna tinggal sama Ibu, kemaren Ibu menemukan mba Aluna pingsan di jalan, Ibu lalu membawanya pulang Mba Aluna ini tidak punya siapa-siapa di kota ini, ia sengaja kabur dari suaminya yang tetap memaksanya bekerja meskipun mba Aluna sedang sakit," jawab Yuni menjelaskan kepada Kamelia.


Kamelia dan yang lainnya sempat terkejut, namun sesaat kemudian, mereka semua menjadi iba dan prihatin kepada Aluna.


"Lalu, bagaimana dengan suami anda selanjutnya?" tanya Kiyai Sodikin sedikit penasaran.


"Begini Kiyai, Mba Yuni, sebenarnya saya dan suami saya itu sudah seringkali seperti ini. Dia juga sudah sering sekali mengucap talak sama saya. Terakhir, dia menalak saya di hadapan teman-teman dan juga selingkuhannya, namun seminggu kemudian, dia kembali pulang dan menyuruh saya bekerja hingga saya tidak sanggup lagi karena saya sedang sakit. Saya bingung, apakah pernikahan saya ini masih sah atau tidak di mata agama," jawab Aluna mengarang cerita.


"Astagfirullah hal'azim. Jika memang seperti itu, pernikahan kalian tidaklah lagi sah menurut agama. Itu berarti status anda saat ini adalah sebagai janda. Apa anda sudah memiliki anak dari pernikahan anda dengan suami?" tanya Kiyai Sodikin lagi.


"Belum Kiyai. Kami belum memiliki anak. Dan jika saat ini status saya janda seperti apa yang Kiyai sampaikan, saya sangat bersyukur sekali. Itu artinya saya bisa lepas dari laki-laki seperti dia, karena saya hanya dinikahinya hanya secara siri," jawab Aluna kembali berbohong.


"Apa? Jadi selama ini kalian hanya menikah secara siri? Kenapa?" tanya Yuni kali ini. Ia benar-benar penasaran dengan kehidupan Aluna.


"Aku nggak tau mba. Entah kenapa, dia tidak mau menikahi ku secara hukum. Awalnya dia bilang jika semua surat-suratnya tertinggal di kampung halamannya, tapi sampai saat ini, belum ada titik jelas, dimana kampung halamannya," jawab Aluna mengarang cerita sebagus mungkin untuk mengelabui Yuni dan yang lainnya agar posisinya semakin aman dan mereka semua semakin iba kepada dirinya.


"Untung saja kamu lepas dari laki-laki seperti itu. Biasanya, laki-laki seperti itu sudah memiliki istri sah. Apalagi kamu juga memergokinya selingkuh dengan wanita lain, dan dia lebih memilih selingkuhannya itu kemudian menalak dirimu begitu saja," jawab Yuni merasa iba kepada Aluna.


"Iya mba. Aku juga berpikirnya begitu. Untung saja aku kenal mba dan bisa mondok di sini," jawab Aluna berpura-pura menangis.


'Kenapa perasaanku tidak enak ya?' batin Kamelia menatap Aluna lekat.

__ADS_1


__ADS_2