Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara

Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara
Bab 91


__ADS_3

Sementara itu, polisi langsung menghubungi Gara perihal penangkapan Liona yang akan mereka lakukan keesokan harinya.


"Lakukan saja pak. Lebih cepat lebih baik. Wanita ular itu memang harus segera di masukkan ke dalam penjara," jawab Gara dalam panggilan teleponnya.


***


Masih di hari yang sama...


"Sayang, Abang pulang dulu ya," pamit Paman Sam kepada istrinya Kamelia.


"Iya bang, hati-hati di jalan," jawab Kamelia melepas kepergian suaminya kembali ke Jakarta.


Saat sedang di perjalanan pulang, tepatnya di depan pasar, Paman Sam melihat seorang wanita yang tak asing di pikirannya.


"Berhenti pak," perintah Paman Sam kepada supirnya.


"Baik pak," si supir pun akhirnya menepikan mobilnya dan berhenti di sekitaran pasar tersebut.


Paman Sam segera turun mengejar wanita masa lalunya itu yang berjalan kaki sambil menenteng kantong plastik berisi sayuran.


"Yuni," panggil Paman Sam membuat langkah wanita cantik itu terhenti.


Paman Sam kemudian mempercepat langkahnya hingga ia berhasil berada di hadapan Yuni yang masih terpaku melihat kehadirannya setelah menghilang selama belasan tahun.


"Yuni, ini kamu?" ucap Paman Sam tak percaya.


Ia langsung memeluk wanita masa lalunya itu dengan sangat erat.


Karena masih belum sadar dengan keadaan, Yuni masih saja diam membatu saat di peluk oleh Paman Sam.


Bayangan-bayangan indah saat bersama dulu kembali menari-nari di dalam pikirannya. Sadarnya Yuni saat teringat pertemuannya terkahir nya dengan Paman Sam. Saat itu, Paman Sam mengatakan jika ia tidak bisa meneruskan lagi hubungan mereka karena tidak mendapat restu dari orang tua Paman Sam.


"Mau apa kamu disini?" tanya Yuni mendorong tubuh kekar Paman Sam.


Karena laki-laki itu dalam keadaan tidak siap, ia kemudian langsung terhuyung ke belakang dan hampir saja terjatuh.


"Yuni ini aku, Samuel. Apa kamu melupakan aku?" tanya Paman Sam mencoba menyentuh bahu Yuni.


"Jangan sentuh aku. Aku tidak akan pernah lupa dengan laki-laki pengecut seperti kamu. Pergi dari sini dan jangan pernah ganggu hidup aku lagi," jawab Yuni dengan tatapan tajamnya lalu berbalik meninggalkan Paman Sam.


"Yuni jangan pergi dulu. Ada yang aku tanyakan padamu. Aku mohon sebentar saja," ucap Paman Sam mencegat tangan Yuni.

__ADS_1


"Lepaskan aku," bentak Yuni berbalik arah.


"Aku akan melepaskan mu jika kamu menjawab pertanyaan ku dulu," ucap Paman Sam membuat Yuni kesal.


"Katakan, apa yang mau kamu katakan?" balas Yuni kesal.


"Waktu itu kamu sedang hamil anakku. Dimana anak itu sekarang? Alu yakin anakku itu pasti sudah besar. Aku mau kamu mempertemukan aku dengannya," ucap Paman Sam membuat Yuni semakin emosi.


Dengan sekuat tenaga, Yuni melayangkan tamparannya ke wajah Paman Sam, sehingga meninggalkan bekas merah di kulit putihnya itu.


"Anak kamu? Cih.. Enteng ya kamu bilang anak kamu. Kapan kamu membesarkannya ha? Kapan kamu memberinya nafkah sehingga dengan entengnya kamu mengatakan jika itu anakmu? Kemana kamu selama tujuh belas tahun ini? Kemana Samuel? Jangan harap kamu akan bertemu dengannya," jawab Yuni emosi lalu pergi meninggalkan Paman Sam yang masih diam terpaku akibat perkataan Yuni yang benar adanya.


Saat Paman Sam akan memanggil Yuni, sayangnya wanita itu telah pergi menaiki angkot.


Dengan sangat terpaksa, Paman Sam kembali ke mobilnya.


"Jalan pak," perintah Paman Sam.


Wajahnya begitu lemas dan lesu.


Sepanjang perjalanan Paman Sam kembali mengingat-ingat masa di mana ia dan Yuni bersama dulu. Begitu indah dan menyenangkan rasanya.


'Ini semua salahku Yuni. Aku memang laki-laki pengecut,' batin Paman Sam kembali teringat kata-kaya Yuni baru saja.


Yuni kemudian memilih merantau di kota B seorang diri hingga dia melahirkan anak Paman Sam dan membesarkannya seorang diri.


"Kiri bang," ucap Yuni saat ia sudah tiba di simpang jalan ke rumahnya.


Setelah membayar, Yuni pun berjalan dengan langkah gontai menuju rumahnya. Ia begitu shock karena bertemu dengan laki-laki masa lalunya dulu.


"Ibu.. Ibu dari mana aja?" ucap Kamelia anak semata wayangnya Yuni.


"Sayang, kamu sudah pulang? Maaf menunggu, Ibu tadi habis membeli sayuran untuk besok," jawab Yuni dengan raut wajah yang tak bisa di artikan.


"Ibu kenapa? Ibu ada masalah?" tanya Kamelia yang melihat perubahan pada Ibunya.


"Ibu tidak apa-apa kok sayang. Ibu hanya sedikit lelah. Ayo masuk, Ibu mau istirahat dulu," jawab Yuni berbohong.


'Maafkan Ibu Kamelia. Ibu tidak bisa mempertemukan kamu dengan Ayah kandungmu. Ibu takut dia nanti akan pergi membawamu jauh dari Ibu,' batin Yuni menatap putrinya itu.


"Ibu.. Ibu benar-benar tidak kenapa-napa kan? Apa Ibu sakit?" tanya Kamelia masih merasa jika ada yang aneh dari sikap Ibunya.

__ADS_1


"Ibu tidak kenapa-napa kok nak. Kamu tenang saja. Ayo masuk," bohong Yuni sekali lagi.


Setibanya di dalam rumah, Yuni langsung menyuruh Kamelia meletakkan sayuran yang baru ia beli, kemudian ia langsung masuk dan mengunci pintu kamarnya.


"Ibu kenapa ya? Tidak biasa-biasanya Ibu seperti itu," tanya Kamelia pada dirinya sendiri.


Tak jauh berbeda dengan Yuni, Paman Sam juga terlihat lebih murung saat ini. Sepanjang perjalanan ia hanya melamun memikirkan Yuni.


'Apa sekarang Yuni juga tinggal di kota itu ya?, batin Paman Sam bertanya-tanya.


Beberapa jam kemudian, Paman Sam pun tiba di rumahnya.


"Maaf tuan, kita sudah sampai," ucap si supir kepada Paman Sam.


Karena Paman Sam masih larut dalam pikirannya, ia tidak ngeh jika supir memberi tahukan bahwa mereka telah sampai di rumah.


"Tuan?" panggil supir sekali lagi, membuyarkan lamunan Paman Sam.


"Ya? Kenapa?" tanya Paman Sam kaget.


"Maaf tuan, kita sudah sampai," jawab supir sekali lagi.


"Sampai? Cepat sekali?" tanya Paman Sam heran.


"Maaf tuan, mungkin tuan melamun, jadi tidak sadar jika kita telah sampai," balas supir dengan sopan.


"Ah, iya, maafkan aku. Ya sudah, kamu istirahatlah, aku juga mau istirahat. Besok kamu boleh libur," ucap Paman Sam membuka pintu mobil lalu masuk ke dalam rumahnya.


"Sayang.. Kamu pulang? Aku kangen sekali," sambut Liona memeluk suaminya.


Namun tak seperti biasanya, Paman Sam yang biasanya terlihat bersemangat saat bertemu dengan Liona, kini wajahnya terlihat murung dan tidak enak di pandang.


"Sayang kamu kenapa? Apa ada masalah?" tanya Liona melihat suaminya tak bersemangat sedikitpun.


"Tidak, tidak ada masalah. Hanya saja aku lelah sekali. Bagaimana kabarmu?" jawab Paman Sam kembali bertanya.


"Aku baik. Mas kamu yakin tidak ada masalah. Kamu kok murung gini sih?" tanya Liona memegang kedua pipi suaminya itu.


"Biasalah Liona, masalah kantor. Hanya saja ini sedikit rumit dan membuatku sakit kepala," jawab Paman Sam berbohong.


"Ya sudah, kalau begitu, kamu mandi lalu makan. Aku akan menyiapkan makan malam untukmu," ucap Liona.

__ADS_1


"Nggak usah sayang, aku kenyang. Aku mandi, lalu istirahat saja ya," balas Paman Sam mencium kening istrinya sekilas lalu meninggalkan Liona yang masih berdiri di tempatnya.


__ADS_2