
"Haha.. Biarkan saja. Abang sudah tidak punya lagi urat malu jika itu menyangkut dengan masalah ranjang," jawab Paman Sam membuat wajah Kamelia semakin memerah.
***
"Ih Abang apaan sih. Gak lucu tau.. Ayo bang, kita pulang," ucap Kamelia memalingkan wajahnya.
"Haha.. Baiklah. Abang ambil obatmu dulu," jawab Paman Sam mencium kening istrinya sebelum pergi ke apotik.
Sementara itu, Ayah dan Ibu beserta kedua orang tua Gara dan juga Airin telah pergi ke rumah mereka masing-masing.
Begitu juga dengan Zaki dan Ibunya. Ibu dan anak itu telah pindah ke toko bunga Airin yang dulu. Gara memberikan ruko yang sudah dibelinya itu untuk Ibu Zaki dan anaknya.
Sedangkan Zaki sendiri telah di daftarkan oleh Gara dan juga Airin di sekolah terbaik yang ada di kota tersebut.
Tak hanya itu, Zaki juga diberi fasilitas sebuah mobil lengkap beserta supir pribadi untuk mengantar jemput Gara ke sekolah.
"Mas, tolong bantu aku bukain pakaian si kembar ya. Aku akan memandikannya satu persatu," ucap Airin kepada Gara yang sedang bermain dengan dua bayi kembar lainnya.
"Siap bos," jawab Gara membuka pakaian bayinya satu persatu.
Sementara itu Airin sedan memandikan salah satu bayi laki-lakinya yang bernama Anggara. Perbedaan Anggara dan Angga dari segi rambutnya. Anggara sebagai kakak sekaligus anak pertama mempunyai rambut hitam lebat, sedangkan Anggia anak yang lahir setelah Anggara berjenis kelamin perempuan. Rambutnya juga hitam lebat dan juga bergelombang seperti rambut mommy nya. Dan yang terakhir si bungsu, Angga, bayi laki-laki itu lahir dengan rambut tipis nyaris botak.
"Anggaaaaa," teriak Gara.
Mendengar teriakan Gara, Airin segera berlari keluar dan menggendong Anggara.
"Kenapa mas? Angga kenapa?" tanya Airin panik.
"Angga tidak apa-apa. Tapi aku yang kenapa-napa. Anakmu ini lagi-lagi mengencingi wajah tampanku ini. Apa dia tidak sadar kencingnya itu asin seperti air laut," ucap Gara membuat Airin kesal.
"Kamu ini membuatku kaget saja. Aku pikir ada apa," jawab Airin kembali memandikan Anggara.
"Kamu tidak kasihan padaku?" tanya Gara merengek.
"Tidak," jawab Airin cuek.
"Kenapa? Aku ini suamimu. Apa kamu tidak mencintaiku lagi?" tanya Gara merengek.
"Apakah aku pernah bilang jika kau mencintaimu sebelumnya?" tanya Airin membuat Gara tercekat.
'Iya ya, perasaan Airin tidak pernah mengatakan jika dia mencintaiku. Apa dia tidak mencintaiku ya.' batin Gara bertanya-tanya.
"Airin," panggil Gara sesaat kemudian.
"Hmmmm.. Kenapa?" jawab Airin bertanya.
__ADS_1
"Aku mencintaimu. Apa kamu juga mencintaiku?" tanya Gara seperti bocah SMA.
"Hmmmm gimana ya?" jawab Airin ambigu.
"Kok gimana ya? Buka jawaban itu yang aku inginkan," protes Gara.
"Lalu jawaban apa yang kamu inginkan dariku?" Airin balik balik bertanya.
"Aku mau jawaban yang sama dengan pertanyaan ku," jawab Gara benar-benar berharap.
"Oke, karena kamu mau jawaban itu, maka kamu akan mendapatkannya," jawab Airin membuat jantung Gara kembali pargoy.
"Maksudnya? Aku tidak paham," ucap Gara mulai lemot.
"Maksud aku ya itu. Aku juga mencintaimu. I love you Gara Emanuel," jawab Airin membuat Gara seketika lompat kegirangan.
"Ye.. Ye.. Ye.. Ye.," ucap Gara melompat-lompat ke sana kemari.
"Mas sudah. Nanti kamu jatuh," ucap Airin memperingatkan suaminya itu, tapi karena Gara terlalu senang, ia tidak mau mendengarkannya, hingga akhirnya Gara pun jatuh terpeleset.
"Aaawwwww sakiiitttt," keluh Gara memegang pinggulnya.
"Haha.. Rasain. Emang enak," ejek Airin tertawa terbahak-bahak melihat tingkah laku suaminya itu.
"Airi sakit, bantuin aku dong," ucap Gara mengulurkan tangannya ke arah Airin.
"Makannya, jadi laki-laki itu jangan pecicilan," ucap Airin sembari membantu suaminya itu.
"Bukan pecicilan sayang, aku hanya senang sekali mendengar jawaban darimu," balas Gara mengusap-usap bokongnya yang sakit.
.
.
Di kota B, Paman Sam kini sudah di jalan pulang ke rumahnya dan juga Kamelia.
Setelah kembali dari klinik, Paman Sam dan Kamelia langsung ke kamarnya untuk istirahat.
"Sayang, kapan kita akan bertemu Ibumu?" tanya Paman Sam membawa Kamelia ke dalam pelukannya.
"Abang maunya kapan?" jawab Kamelia menaikkan kepalanya dan menatap suaminya itu.
"Terserah kamu. Bahkan sekarang pun Abang siap," jawab Paman Sam mencium pucuk kepala istrinya itu, sedangkan tangannya sibuk bermain dengan PYD Kamelia.
"Begini saja, aku akan bicara pada Ibu dulu. Setelahnya, baru aku akan mempertemukan Abang dengan Ibu," jawab Kamelia yang langsung di setujui oleh Paman Sam.
__ADS_1
"Baik, tidak masalah. Kalau begitu ayo kita bermain," ucap Paman Sam langsung mengungkung Kamelia."
"Pelan-pelan bang. Abang ingat, di dalam sini ada dedek bayinya," ucap Kamelia mengingatkan suaminya itu.
"Oh iya. Maafkan Abang. Abang lupa," jawab Paman Sam memperlembut permainannya.
Kini kedua pasangan suami istri itu tengah larut dalam buaian kenikmatan. Ditambah lagi dengan kabar kehamilan Kamelia, Paman Sam semakin bersemangat dalam memberikan nafkah batin untuk istri kecilnya itu.
Meskipun bermain dengan lembut di dalam, namun Paman Sam begitu buas di luar. Tangan dan mulutnya tak henti mengekspos semua bagian tubuh istrinya itu.
Berkali-kali Kamelia dibuat mencapai puncak kenikmatan oleh Paman Sam.
Beberapa jam kemudian, Paman Sam dan Kamelia sudah tertidur karena lelah bermain.
.
.
Saat ini Lyra sudah berada di dalam mobil yang di kendarai oleh anak buah Paman Sam.
Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan putranya.
Beberapa saat kemudian, Lyra pun akhirnya tiba di rumah Paman Sam.
Ia yang saat ini berpura-pura lumpuh langsung dibawa masuk oleh anak buah Paman Sam masuk ke dalam rumahnya.
"Hmmm pak, kamar anak saya dimana ya? Saya ingin bertemu dengannya," tanya Lyra kepada orang yang mendorongnya itu.
"Kamarnya ada disitu. Sebentar, saya akan menelpon tuan Samuel dulu," jawab anak buah Paman Sam tersebut.
Setelah anak buah itu selesai menelpon Paman Sam, dia kemudian mendorong kursi roda menuju kamar putranya. Betapa senangnya hati Lyra saat ini.
Ia sudah sangat rindu sekali akan bayi mungil yang baru dilahirkannya itu.
Saat anak buah Paman Sam membuka pintu kamarnya, kebetulan putranya sedang di gendong oleh baby sitter yang di tugaskan untuk menjaga anaknya itu.
"Hmmmm suster, boleh saya gendong bayinya? Dia anak itu anak saya," ucap Lyra membentangkan tangannya.
Suster tersebut kemudian melihat ke arah anak buah Paman Sam. Setelah anak buah itu mengangguk, suster tersebut kemudian memberikan bayi itu ke tangan Lyra.
"Oh sayang, anak Bunda. Bunda rindu sekali nak," ucap Lyra menciumi putranya itu.
"Suster, apa Samuel atau Liona sudah memberi anak ini nama?" tanya Lyra bertanya kepada baby sitter tersebut.
"Sudah Bu, namanya Lio, tapi nama panjangnya saya kurang tau Bu," jawab baby sitter tersebut.
__ADS_1
"Oh Lio. Baik, nama yang bagus," balas Lyra menciumi bayinya itu.