
"Apa ini karma karena aku telah menyakiti dan menyia-nyiakan kamu Lyra. Kamu wanita baik-baik. Sebenarnya aku beruntung mendapatkan wanita sepertimu. Hanya saja, adikmu ular betina itu datang dan menghancurkan segalanya.
Aku berjanji akan merebut hatimu kembali dan memperbaiki kesalahanku padamu," gumam Paman Sam lalu berlalu masuk ke dalam kamarnya.
***
"Ada apa dengan Samuel? Kenapa wajahnya begitu kusut sekali?" tanya Lyra pada dirinya sendiri.
Sedangakan di dalam kamar, Paman Sam langsung menghempaskan tubuhnya di ranjang yang memiliki ukuran king size tersebut.
"Apa yang telah aku lakukan? Kenapa bisa aku menikahi dan menghamili darah dagingku sendiri? Maafkan Ayah Kamelia. Maafkan Ayah. Bagaimana caranya agar Ayah bisa mendapatkan maaf dari dirimu dan juga Ibumu?" gumam Paman Sam sebelum ia tertidur lelap.
Beberapa hari telah berlalu. Sampai hari ini, Paman Sam belum masuk ke kantornya hingga saat ini. Laki-laki itu lebih banyak menghabiskan harinya dengan mengurung diri di dalam kamarnya.
Hari ini, tepatnya di pagi yang cerah, Lyra tengah bermain dengan bayi mungilnya. Samuel yang turun untuk sarapan pagi teralihkan perhatiannya oleh suara tawa Lyra yang sudah lama tidak ia dengan.
Saat ini, Lyra tengah tertawa lepas bermain dan bercanda dengan putranya Lio.
Karena penasaran, Paman Sam pun datang dan menghampiri kedua Ibu dana anak itu.
"Lyra," panggil Paman Sam setelah sekian lama mereka tidak saling bicara meskipun tinggal di satu rumah yang sama.
Tanpa menjawab, Lyra pun langsung melihat ke arah Paman Sam.
"Hmmmm Lyra.. Apa kamu sudah tau mengenai adikmu yang saat ini mendekam di jeruji besi?" tanya Paman Sak membuat Lyra tercengang.
"Sudah," jawab Lyra singkat.
"Lalu, apa tanggapan mu?" tanya Paman Sam berusaha mendapatkan hati Lyra kembali.
"Menurutmu aku harus memberikan tanggapan apa? jawab Lyra balik bertanya.
"Aku.. Aku tidak tau. Apa kamu tidak merasa iba dengan adikmu itu?" tanya Paman Sam kehabisan kata-kata.
__ADS_1
"Haha.. Lalu bagaimana denganku? Apa dia tidak merasa iba denganku? Dengan enaknya dia merebut suamiku, sedangkan saat itu aku tengah hamil anaknya," jawab Lyra membuat Paman Sam tersindir.
"Lyra, kalau boleh jujur, aku menyesali perbuatan ku waktu itu. Aku menyesal karena telah menyia-nyiakanmu untuk Liona," ujar Paman Sam kini tengah duduk bersimpuh di hadapan Lyra.
"Haha.. Kamu baru menyesalinya sekarang karena Liona baru saja masuk penjara? Bagaimana kalau dia bebas nanti?" jawab Lyra dengan tawa mencemooh.
"Aku tidak peduli jika dia keluar nanti. Andai kamu tau, aku sudah menalak tiganya waktu di kantor polisi," balas Paman Sam membuat Lyra tercengang.
"Apa? Kamu menalak tiga Liona? Kenapa? Bukankah kalian saling mencintai?" tanya Lyra sedikit kaget.
"Dia telah menyelingkuhi ku dengan laki-laki lain. Tak hanya itu, dia bahkan membawa laki-laki itu ke rumah ini dan mereka bermain panas di ranjang ku," jelas Paman Sam menggucek-ngucek sebelah matanya.
"Haha... Tukang selingkuh di selingkuhi? Betapa bodohnya dirimu. Kalau begitu, aku dan anakku akan pergi dari rumah ini.
Untuk apalagi aku dan Lio tinggal di rumah ini sedangkan sudah tidak ada hubungan yang mengikat di antara kita ataupun anggota keluarga lainnya," jawab Lyra memainkan sandiwaranya.
"Kalian berdua tidak boleh pergi dari sini. Tidak ada yang boleh pergi tanpa seizin ku di rumah ini. Aku akan menikahi mu kembali Lyra. Aku janji akan memperbaiki semua kesalahan yang membuat hidupku menjadi sial," ucap Paman Sam membuat Lyra menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kamu harus mau. Aku memaksamu. Jika kamu tidak mau menikah denganku, maka aku akan membawa Lio pergi jauh dari hidupmu untuk selamanya," ancam Paman Sam.
'Kena kamu Samuel,' batin Lyra.
"Baik, aku akan bersedia menikah denganmu, tapi dengan satu syarat," jawab Lyra pura-pura mengalah.
"Katakan! Syarat apa itu," ucap Paman Sam dingin.
"Pertama kita akan menikah jika kakiku telah kembali sembuh.
Kedua, kamu harus memberiku jaminan jika kamu memang serius untuk kembali lagi membina rumah tangga denganku. Aku tidak mau, jika Liona bebas nanti, kamu akan meninggalkanku dan juga Lio, lalu kembali hidup dengannya," jelas Lyra menaik turunkan alisnya.
"Itu bukan satu, melainkan dua syarat Lyra," jawab Paman Sam menatap memperlihatkan dua jarinya.
"Terserah mu saja. Bagaimana, intinya kamu bersedia atau tidak?" tanya Lyra dengan tatapan serius.
__ADS_1
"Baik, aku bersedia. Aku akan berusaha mencari dokter terbaik untuk kesembuhan kakimu. Dan yang kedua, sebagai jaminannya, aku akan membuat surat pernyataan, jika aku kembali dengan Liona, maka kamu berhak atas seluruh hartaku," jawab Paman Sam mendekatkan wajahnya ke hadapan Lyra.
"Baik, kita deal. Nanti kamu silahkan buat surat pernyataannya dan berikan padaku. Jika isinya sesuai, maka aku setuju untuk menikah kembali denganmu. Dan masalah dokter, aku sudah menemukan dokter terbaik dari rumah sakit sewaktu aku di rawat waktu itu. Dia mengatakan jika selain menjadi dokter kandungan, dia juga bisa mengobati berbagai macam penyakit dengan cara tradisional," jawab lyra tersenyum tipis.
"Baik, kalau begitu kita akan menemui dokter itu. Aku akan menemanimu nanti," jawab Paman Sam tersenyum licik.
'Aku tau kamu itu licik Samuel. Lihat saja, siapa yang akan menang nantinya. Aku akan membalaskan semua derita yang kamu berikan untukku dan juga putraku,' ucap Lyra dalam hatinya.
.
.
'Aku memang tidak akan kembali lagi dengan Liona. Tapi tidak menutup kemungkinan aku akan kembali mencari pengganti Liona dan Kamelia tanpa sepengetahuan mu Lyra. Aku ini Samuel, uangku banyak. Mana mungkin aku hanya menghabiskannya untuk dirimu dan juga Lio? Sia-sia saja aku bekerja keras selama ini,' batin Paman Sam tersenyum licik.
Paman Sam memang manusia licik dan jahat sedari dulu. Berbeda dengan Emanuel sang kakak.
Meskipun saat ini laki-laki paruh baya itu telah menghamili anaknya Kamelia, namun tak ada penyesalan yang berarti bagi dirinya.
Setelah Paman Sam pergi dari kamar Lio, Lyra segera menghubungi dokter Dimas untuk memberi tahukan perihal Paman Sam yang ingin kembali menjadi suaminya.
Awalnya dokter Dimas sedikit kecewa dengan keputusan Lyra, namun setelah mendengar rencana balas dendam Lyra, dokter Dimas senang, karena mereka akan sering bertemu setelah ini.
Di rumah Gara dan juga Airin, saat pasangan suami istri itu tengah menikmati sarapan pagi mereka, tiba-tiba saja Gara mendapatkan telepon dari polisi jika Liona berusaha mengakhiri hidupnya dengan menggunakan pisau yang ia dapat dari ruang makan para tahanan.
Untung saja para polisi berhasil menyelamatkan nyawanya tepat waktu dan segera mengobati luka yang ada dipergelangan tangan Liona.
Gara yang kaget langsung memberitahukan kejadian ini kepada Paman Sam dan mereka akan pergi bersama-sama nantinya ke kantor polisi.
Setibanya di kantor polisi, Liona hanya tertawa-tertawa sendiri melihat Paman Sam dan juga Gara beserta istrinya.
"Kenapa Liona menjadi seperti ini pak?" tanya Paman Sam kepada salah satu polisi tersebut.
"Sepertinya Ibu Liona mengalami gangguan jiwa. Kami telah menyuruh dokter kejiwaan untuk memeriksanya. Jika memang Ibu Liona terkena gangguan jiwa sungguhan, maka ia akan di pindahkan ke rumah sakit jiwa secepatnya," jelas polisi tersebut.
__ADS_1