Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara

Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara
Bab 67


__ADS_3

Sementara itu, di rumah sakit, dokter Dimas yang sedari tadi sudah pulang, kini ia sengaja balik untuk menemui Lyra. Ia tau jika Lyra hanya sendirian di rumah sakit, karena tadi Lyra mengatakan jika asisten yang biasa mengurusnya, kini tengang izin pulang kampung karena anaknya yang lagi sakit.


Tak hanya itu, dokter Dimas juga datang untuk memberikan obat dari paman Boby untuk penyembuhan kakinya.


***


"Dokter Dimas," sapa Lyra saat dokter Dimas telah masuk ke dalam ruang rawat Lyra.


"Lyra, bagaimana keadaanmu? Apakah sudah jauh lebih baik?" tanya dokter Dimas duduk di kursi sebelah ranjang Lyra.


"Baik, setelah meminum obat itu rasanya kakiku jadi lebih ringan, tapi masih saja belum bisa di gerakkan," jawab Lyra sedikit sedih. Tampaknya Lyra sangat berharap sekali kepada pengobatan yang diberikan oleh Boby, pamannya Dimas.


"Tetaplah semangat dan jangan putus berdoa, saya yakin kamu pasti bisa melewati semua ini," jawab doker Dimas memberi semangat kepada Lyra.


"Semoga saja dokter," jawab Lyra tersenyum.


'Meskipun dia tampak pucat, tapi kecantikannya masih saja teepancar alami,' batin dokter Dimas menatap Lyra.


"Oh ya Lyra, apa kamu sudah memberi bayimu susu?" tanya dokter Dimas teringat akan bayi Lyra.


"Sudah, tadi aku sudah memberikan asi ku kepada suster untuk diberikan kepada putraku," jawab Lyra lagi.


"Apa kamu sudah memiliki nama untuk bayi laki-lakimu?" tanya dokter Dimas lagi.


"Sudah, tapi buat apa? Aku bahkan tidak diberi izin oleh adikku untuk memberikan sebuah nama untuk putra kandungku sendiri," jawab Lyra sedih.


"Kamu tenang saja. Aku akan membantumu untuk mendapatkan hak atas anakmu sendiri," ucap dokter Dimas berniat akan membantu Lyra untuk mendapatkan hak asuh atas putranya.


"Terima kasih dokter. Dokter telah banyak membantuku," jawab Lyra tersenyum tipis.


Sementara itu, Gara dan juga Airin kini sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.


Saat diperjalanan, tiba-tiba saja Airin ingin memakan alpukat kocok yang ia sendiri tidak pernah memakannya. Tak hanya itu, bahkan Airin sama sekali tidak tau dimana harus membelinya.


"Alpukat kocok? Makanan atau minuman jenis apa itu? Baru kali ini aku mendengarnya," jawab Gara menaikkan satu alisnya.

__ADS_1


"Pokoknya aku tidak mau tau, aku mau alpukat kocok. Terserah kamu mau mencarinya dimana. Aku mau setelah keluar dari ruangan doker, makanan itu harus ada didepan ku," ucap Airin membuat Gara dan juga Leon seketika menjadi panik.


"Leon, ini tugasmu, aku mau kau mencarinya sampai ketemu. Dan ingat, sebelum Airin keluar dari ruang pemeriksaanya, makanan itu harus ada di hadapannya," perintah Gara membuat Leon menepuk jidatnya.


"Oh tidak, cepatlah lahir nak. Aku pusing harus memenuhi semua keinginanmu," ucap Leon membuat Gara dongkol.


"Kau bilang apa? Kau mau menyuruh anakku cepat lahir? Apa kau mau mati ha?" ucap Gara membuat Leon bingung.


"Kenapa? Aku tidak salah bicarakan," jawab Leon membalikkan badannya ke bangku belakang mobil.


"Kau tau, dokter bilang jika anakku lahir sebelum sembilan bulan, akan tidak baik bagi dirinya dan juga perkembangannya, dan aku tidak mau itu terjadi kepada anakku," jawab Gara menatap Leon tajam.


"Tapi aku tidak menyuruhmu anakmu lahir sebelum sembilan bulan," jawab Leon membela diri.


"Apaan, barusan kau menginginkan anakku lahir cepat," jawab Gara kesal.


"Maksudku bukan begitu Gara," balas Leon frustasi.


"Sudah.. Sudah, apa kalian akan terus seperti ini hingga dokternya pulang nanti? Aku kesini mau memeriksakan kandunganku, bukan untuk menonton kalian berdebat. Jika kalian masih ingin seperti ini, silahkan," ucap Airin merasa kesal dengan kedua sahabat itu, lalu keluar dan membanting pintu mobilnya kuat.


"Kau lihat, Airin marah. Aku tidak mau tau, pokoknya kau harus menemukan apa yang istriku minta tadi," ucap Gara lalu pergi menyusul Airin.


Setelah menyelesaikan lagu sedihnya, Leon pun melajukan mobilnya untuk mencari alpukat kocok pesanan Airin.


.


.


"Ibu Airin Putri Aidil?" panggil perawat yang sedang bertugas di bagian praktek kandungan tersebut.


"Mas ayo, itu namaku sudah dipanggil," ucap Airin menarik tangan Gara untuk berdiri dan mengikutinya masuk kedalam ruangan dokter.


"Ah iya, maaf aku melamun sayang," jawab Gara nyengir kuda.


Setibanya didalam, dokter yang pernah memeriksa Airin pun menyapanya dengan ramah.

__ADS_1


"Ibu Airin, silahkan duduk. Bagaimana kabar anda?" tanya dokter tersebut ramah.


"Saya baik dokter. Saya kesini mau memeriksakan kehamilan saya sekaligus meminta vitamin untuk bayi kembar saya," jawab Airin menyampaikan maksudnya kepada dokter itu.


"Baiklah, kalau begitu silahkan ikuti saya dan berbaring di ranjang itu," ucap dokter tersebut berdiri.


Setelah menyelimuti Airin, doker pun berniat akan menaikkan sedikit gaun Airin agar ia bisa meletakkan alat USG nya di perut Airin.


"Dokter tunggu. Dokter ngapain buka-buka perut istri saya," protes Gara menghentikan dokter tersebut.


"Maaf pak, saya sengaja menaikkan bajunya ke atas, agar alat saya ini bisa melihat janin Ibu Airin di layar monitor ini," jelas dokter tersebut.


"Apa alat itu akan menyakiti anak dan istri say" tanya Gara kembali.


"Tidak sama sekali pak. Ini tidak akan membahayakan anak dan istri anda," jelas dokter tersebut dengan sabar.


"Oh begitu ya. Maafkan saya dokter," ucap Gara meminta maaf.


"Baik, tidak masalah, kalau begitu kita lanjutkan ya pak pemeriksaannya," ucap dokter tersebut lalu mulai menggerak-gerakkan alat tersebut di permukaan perut buncit Airin.


Tak lama kemudian, muncullah sebuah gambar berwarna kuning di layar monitor.


"Pak, silahkan dilihat monitor itu, itu adalah penampakan ketiga bayi kembar anda di dalam rahim Ibu Airin.


Ini, ini, dan ini adalah kepala mereka. Dan ini, ini, beserta ini adalah tangan dan ini jari jemarinya. Sedangkan ini adalah kakinya," ucap dokter tersebut menjelaskan kepada Gara yang sedari tadi sibuk melihat layar monitor tanpa berkedip.


"Ini.. Ini benar-benar anakku?" ucap Gara tak percaya.


"Iya pak. Itu ketiga anak anda," ucap dokter tersebut lalu mendengarkan bunyi detak jantung bayi hang ada di dalam kandungan Airin.


Deg.. Deg.. Deg, bunyi detak jantung bayi mereka secara sahut-sahutan.


"Dan ini adalah bunyi detak jantung bayi anda," jelas dokter tersebut membuat Gara langsung mencium kening istrinya itu.


"Halo baby, kenalkan ini aku daddy kalian. Kalian pasti bangga punya daddy yang tampan dan mapan seperti daddy ini. Kalian baik-baik ya di dalam sana. Ingat, jangan lahir sebelum sembilan bulan. Dokter bilang itu tidak baik untuk kesehatan kalian. Apa kalian mengerti?" ucap Gara berbicara pada layar monitor yang menampilkan penampakan putra dan putrinya.

__ADS_1


Dokter dan perawat yang melihat Gara berbicara pada layar monitor itupun hanya tersenyum geleng-geleng kepala sembari menatap Airin.


"Mas ngapain? Mereka ada di perutku, bukan di dalam layar itu," ucap Airin menegur Gara yang masih saja berbicara dengan calon bayi kembarnya itu.


__ADS_2