
"Bagus. Tidak masalah. Berarti kita sepakat namanya adalah Malik Zafran Pratama, yang berarti, pemilik kemenangan pertama. Bagaimana?" tanya Kiyai Sodikin kepada Kamelia dan Ustadz Gibran.
"Alhamdulillah. Kami setuju Bah," jawab Kamelia dan Ustadz Gibran bersamaan.
***
Keesokan harinya Kamelia sudah di perbolehkan pulang oleh dokter.
Namun Kamelia tampak khawatir mengenai kepulangannya saat ini. Apa yang akan di katakan santri dan juga santriwati lainnya jika mereka mengetahui Kamelia pulang dengan membawa seorang bayi mungil hasil buah hatinya dengan Ustadz Gibran.
"Kamu memikirkan apa sayang?" tanya Ustadz Gibran yang sedari tadi hanya diam melamun.
"Aku.. Aku memikirkan tentang kepulangan ku dari rumah sakit ini By. Apa yang akan di katakan para santri dan santriwati lainnya jika mereka tau aku telah melahirkan seorang anak?" jawab Kamelia yang ternyata juga sama dengan apa yang di pikirkan nya saat ini.
Sebenarnya Aby juga kepikiran seperti itu sayang. Apa kita perlu membicarakan masalah ini kepada Abah?" tanya Ustadz Gibran meminta pendapat istrinya itu.
"Boleh saja By, apa menurut Aby, Abah mempunyai solusinya?" tanya Kamelia sedikit ragu.
"Aby yakin Abah pasti mempunyai solusi yang terbaik untuk kita. Kalau begitu, Aby akan telpon Abah dulu," jawab Ustadz Gibran mengeluarkan ponselnya dan segera menghubungi Kiyai Sodikin.
"Assalamualaikum Abah, apa Abah sudah tidur?" tanya Ustadz Gibran takut akan mengganggu tidur Abah nya itu.
__ADS_1
"Belum. Abah baru saja selesai solat. Ada apa Gibran?" tanya Kiyai Sodikin kepada putra angkatnya itu.
"Begini Bah, besok Kamelia dan bayinya sudah di perbolehkan untuk pulang ke rumah. Kami khawatir, bagaimana jika santri dan santriwati lainnya tau jika Kamelia ternyata sudah menikah dan memiliki anak Bah?" tanya Ustadz Gibran menyampaikan maksud dan tujuannya menelpon Kiyai Sodikin.
"Hhhhhhh, kalian tenang saja. Abah sudah mengatur semua itu dengan baik. Para santri dan santriwati lainnya sudah Abah beri tau jika kamu dan Kamelia sudah menikah, bahkan kalian telah memiliki seorang anak," jawab Kiyai Sodikin tampak tenang.
"Apa? Abah sudah memberi tahukan masalah ini kepada semua santri dan santriwati lainnya.?" tanya Ustadz Gibran tampak kaget sekali. Begitu juga dengan Kamelia yang mendengar percakapan antara suaminya itu dengan Kiyai Sodikin karena Ustadz Gibran sengaja memakai pengeras suara.
"Ya, Abah sudah memberi tahukannya kepada mereka dan mereka tidak keberatan dengan pernikahan kalian, meskipun ada sebagian dari mereka yang patah hati karena kamu diam-diam telah memiliki istri dan istri kamu itu adalah santriwati yang baru saja kamu kenal," jawab Kiyai Sodikin yang masih terdengar jelas oleh Kamelia. Seketika raut wajah Kamelia berubah. Ustadz Gibran sadar, jika istrinya itu pasti akan merajuk karena cemburu.
"Baiklah Bah. Lalu, bagaimana dengan sekolah Kamelia?" tanya Ustadz Gibran melirik Kamelia yang tampak cemberut kepadanya.
"Sekolahnya akan tetap di lanjutkan, namun, akan ada guru yang mengajarnya ke rumah karena Kamelia tidak bisa masuk kelas lagi," jawab Kiyai Sodikin membuat Ustadz Gibran merasa tenang.
"Sayang kamu sudah dengarkan kata-kata Abah. Jadi kami tidak perlu khawatir lagi. Kamu cukup fokus untuk merawat dan membesarkan anak kita saja. Masalah sekolah mu, nanti masing-masing guru dari mata pelajaran akan datang ke rumah untuk memberikan kamu tugas sekolah," ucap Ustadz Gibran sembari mengusap kepala Kamelia.
"Ya, aku dengar. Tidak perlu Aby katakan aku pun sudah dengar. Bahkan aku juga mendengar jika banyak dari fans Aby yang patah hati karena tau Aby sudah menikah," jawab Kamelia judes.
"Loh, kenapa malah membahas itu sih sayang." ucap Ustadz Gibran merasa gemas dengan tingkah laku istrinya itu.
"Memang kenapa? Aby tidak suka? Atau, Aby takut jika sebenarnya Aby juga suka kan di sukai banyak wanita?" balas Kamelia dibakar cemburu.
__ADS_1
"Haha. Kamelia sayang, istri Aby yang paling cantik. Jika mereka menyukai Aby, itu hak mereka, yang terpenting, Aby tidak menyukai mereka, bahkan Aby tidak merespon sama sekali kan kelakuan-kelakuan mereka yang tidak wajar kepada Aby. Bagi Aby, hanya kamu wanita yang mampu meluluhkan hati Aby. Buktinya saja, kamu berhasil membuat Aby untuk berinvestasi di dalam rahim mu hingga menghadirkan Malik, putra kita," ucap Ustadz Gibran membuat pipi Kamelia merah merona.
"Ih, Aby apaan sih. Jangan bicara gitu dong, malu tau," ujar Kamelia malu.
"Ya sudah, jangan di pikirkan lagi ya ucapan Abah tadi. Abah itu tidak memiliki maksud lain, ia hanya menyampaikan apa yang ia ketahui saja. Yang terpenting, saat ini Aby kan sudah menjadi suami mu, dan tak akan ada yang bisa merebut Aby maupun kamu lagi," ucap Ustadz Gibran memberikan segelas air untuk Kamelia.
Keesokan paginya, Kamelia tengah bersiap untuk pulang ke pondok pesantren. Di sana sudah ada Yuni dan Aluna. Kemarin, Yuni tidak bisa menemani Kamelia di rumah sakit karena ada hal yang harus ia segera urus.
Tak hanya Yuni dan Aluna, Kiyai Sodikin pun juga sudah berada di rumah sakit untuk membawa cucu dan menantunya itu kembali pulang ke rumah.
"Bagaimana,? Apa semuanya sudah siap?" tanya Kiyai Sodikin kepada Ustadz Gibran yang sedari tadi sibuk mengurus administrasi kepulangan Kamelia.
"Sudah Bah. Sekarang Kamelia boleh dan Malik sudah boleh meninggalkan rumah sakit ini," jawab Ustadz Gibran sembari memindahkan Kamelia ke atas kursi roda dan mendorongnya menuju loby rumah sakit.
Beberapa saat kemudian, mobil yang membawa mereka pun tiba di pondok pesantren. Kamelia tampak deg-degan saat memasuki pelataran pondok pesantren tersebut.
"Kenapa sepi Bah?" tanya Ustadz Gibran tampak heran.
"Entahlah lah, tadi sewaktu Abah pergi, semua tampak seperti biasa-biasa saja. Tidak ada hal yang mencurigakan," jawab Kiyai Sodikin juga merasa keheranan.
"Kemana para guru dan santri-santri lainnya? Apa mereka tidak menerima jika Aby telah menikah." tanya Kamelia tampak khawatir. Ia takut para santri dan guru akan mengadakan demo karena Ustadz Gibran menikahi Kamelia yang merupakan muridnya sendiri, sedangkan di dalam peraturan sekolah jelas di tuliskan jika seluruh santri mau pun santriwati tidak ada yang boleh menikah selama mereka masih menempuh pendidikan di pondok pesantren milik Kiyai Sodikin.
__ADS_1
"Tidak mungkin lah sayang. Memangnya Aby ini siapa? Sampai-sampai mereka akan melakukan demo dan hal yang serupa lainnya.
"Sudah, jangan di pikirkan, lebih baik sekarang kita terus saja ke rumah. Kasihan Malik yang sudah kehausan," ucap Yuni menyuruh Ustadz Gibran terus melajukan mobilnya menuju rumah Kiyai Sodikin.