
"Ada apa Airin? Kenapa malam-malam kamu memanggil mama dengan sangat cemas seperti itu?" tanya Lena cemas melihat keadaan Airin.
"Gara dan Leon Bu.. Dia.. Dia..." ucap Airin dengan tangis yang sudah pecah..
"Dia kenapa?" tanya Lena juga cemas.
"Dia.. Dia kecelakaan Bu," ucap Airin dengan tangisan yang pecah.
***
"A.. Apa? Gara sama Leon kecelakaan? Kecelakaan dimana Airin? Kamu tau dari mana?" tanya Lena kaget saat mendengar perkataan calon menantunya itu.
"Baru saja Airin di hubungi sama polisi menggunakan ponsel Leon Bu. Airin harus suruh orang buat membantu pencarian Gara dan juga Leon Bu. Airin.. Airin harus ke sana sekarang," jawab Airin dengan wajah yang sudah pucat.
"Baiklah, kita ke sana sama-sama, tapi, bagaimana keadaannya sekarang? Apakah Gara dan Leon baik-baik saja?" tanya Mama Lena khawatir.
"Mereka belum di ketemukan. Polisi bilang mobilnya habis terbakar, dan di sana ada bekas jejak kaki hewan buas. Tak hanya itu Bu, polisi juga mengatakan jika ada bekas seretan di tempat kejadian itu. Airin benar-benar takut Bu," jawab Airin kembali menangis.
"Airin tenang. Ingat kamu lagi hamil. Jika kamu seperti ini, akan berpengaruh banyak kepada si kembar," jawab Lena menenangkan calon menantunya itu. Ia harus terlihat tegar, meskipun hatinya kini berkecamuk hebat.
"Iya Bu, tapi Gara?" tanya Airin terhenti.
"Sudah.. Sudah.. Biar Ibu telfon papanya Gara dulu," jawab Lena yang kembali masuk ke kamarnya lalu menghubungi Emanuel.
"Halo ma? Kenapa?" tanya Emanuel saat panggilan itu telah terhubung.
"Pa.. Gara pa," jawab Lena terlihat cemas.
"Gara anak kita kenapa ma?" tanya Emanuel juga ikutan cemas.
__ADS_1
"Gara sama Leon kecelakaan pa. Papa kesini sekarang ya," jawab Lena tangisnya mulai pecah.
"Apa? Gara sama Leon kecelakaan? Bagaimana ini bisa terjadi ma? Lalu, bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Emanuel panik.
"Mama juga belum tahu pa. Polisi bilang jika mereka berdua belum di ketemukan, sedangkan mobilnya habis terbakar. Di sana juga di temukan bekas kaki hewan buas. Mama benar-benar takut pa," jawab Lena kini sudah menangis.
"Astaga.. Ya sudah, sekarang mama tunggu di sana, papa akan segera menyusul mama ke rumah Airin. Kita akan berangkat sama-sama ke lokasi kejadiannya. Mama ingat, jangan cemas oke. Kasihan Airin kalo mama ikutan cemas," jawab Emanuel yang masih memikirkan kondisi Airin saat ini.
"Iya pa. Mama tunggu," jawab Lena kemudian mematikan panggilan teleponnya.
Beberapa saat kemudian akhirnya keluarga Emanuel itu berangkat dengan membawa banyak anak buah untuk membantu pencarian Gara dan juga Leon.
Hampir dua jam lebih, akhirnya mereka sampai di tempat dimana mobil Gara dan juga Leon masuk ke dalam lubang. Saat mereka sampai, di sana sudah banyak petugas dan beberapa warga yang membantu mencari dan mengvakuasi mobil Gara yang kini apinya telah padam.
Airin begitu histeris saat ia melihat bangkai mobil itu hancur berantakan. Berkali-kali Lena dan juga Emanuel berusaha menenangkannya, namun ia seperti ada rasa kehilangan yang teramat sangat menusuk relung hatinya.
Tak sabar menunggu pencarian Gara dan juga Leon, Airin pun nekat masuk ke dalam hutan dengan diterangi oleh lampu senter dari ponselnya. Sialnya tak ada yang mengetahui kejadian ini karena Airin beralasan akan beristirahat di dalam mobil sejenak. Dan di saat itulah wanita hamil itu memasuki hutan rimba yang entah apa saja isi dalamnya.
"Astaga pa.. Airin pa," ucap Lena panik saat ia menemukan sepucuk surat dari dalam mobil itu.
"Kenapa ma?" tanya Emanuel penasaran.
"Baca ini pa," jawab Lena memberikan kertas putih kecil itu kepada suaminya.
""Ibu, Bapak, Maafkan Airin jika ini akan membuat kalian berdua cemas. Airin memutuskan akan ikut mencari Gara dan juga Leon ke dalam hutan sana. Airin sama sekali tidak bisa tenang jika hanya disini menunggu kabar seperti orang bodoh. Airin bukan bermaksud cari muka atau apalah. Tapi Airin benar-benar sangat mencemaskan Gara dan juga Leon. Mohon doakan Airin, Gara dan juga Leon. Semoga kami lekas bertemu,"" isi surat Airin yang di bacakan ulang oleh Emanuel.
"Kenapa kamu nekat sekali Airin," gumam Emanuel mengusap kasar wajahnya.
Ia tak menyangka jika Airin akan melakukan hal senekat itu. Di tambah lagi saat ini Airin tengah hamil besar.
__ADS_1
"Apa yang harus kita lakukan pa?" tanya Lena bertambah cemas karena kenekatan calon menantunya itu.
"Mama lebih baik tunggu saja di mobil. Biar papa sama yang lainnya masuk ke dalam untuk mencari mereka bertiga.
Sedangkan Airin kini telah masuk jauh ke dalam hutan rimba dengan cara mengendap-endap.
Airin sama sekali tidak mengetahui jika di hutan tersebut terdapat hutan larangan yang tak ada yang boleh memasukinya.
Airin terus berteriak memanggil nama Gara dan juga Leon. Sambil terus berjalan, berkali-kali Airin mengusap perut besarnya, dan berkali-kali juga Airin berdoa agar di beri keselamatan dan juga di temukan dengan Gara dan juga Leon.
"Gara... Leon.. Kalian dimana?" teriak Airin dengan suara yang mulai parau karena sedari tadi ia menangis dan juga berteriak tanpa henti.
Saat Airin berjalan tak tentu arah, tiba-tiba saja ada seorang anak kecil yang menarik tangannya masuk ke dalam kawasan hutan larangan tersebut. Awalnya Airin menolak, namun entah mengapa, semakin menatap mata anak kecil tersebut, Airin seolah-olah terhipnotis akan apa yang dikatakan oleh anak kecil yang hanya menggunakan celana pendek tanpa baju tersebut.
"Kita mau kemana?" tanya Airin saat memasuki hutan larangan.
"Kita akan ke rumah ku kak. Tolong bantu Ibuku. Dia lagi sakit dan tidak bisa berbuat apa-apa. Tangan dan kakinya terbelenggu dengan tali yang sangat kuat. Aku tidak bisa melepaskannya. Kakak adalah orang baik. Aku yakin, kakak pasti bisa melepaskannya," jawab anak kecil yang berwajah pucat dan dingin tersebut.
"Tapi dek, kakak mau mencari calon suami dan temannya yang kecelakaan. Kemungkinan besar ia menyelamatkan diri masuk ke dalam hutan ini," jawab Airin apa adanya.
"Nanti aku akan kasih tau dimana calon suami dan temannya berada. Tapi tolong selamatkan Ibuku dulu kak," jawab anak kecil itu membuat Airin kaget.
"Kamu.. Kamu tau dimana mereka?" tanya Airin tak percaya.
"Tau. Sekarang mereka sedang di obati oleh kakek dan nenek Purwadi. Setelah itu mereka akan menjadikan calon suami kakak dan juga temannya untuk tumbal kebangkitan anak kandung mereka yang sudah meninggal beberapa bulan yang lalu. Jika kakak berhasil menolong Ibuku, aku janji akan memberi tau bagaimana cara untuk menyelamatkan calon suami dan temannya itu," jawab Anak kecil pucat tersebut.
"Apa? Kamu jangan bercanda sayang. Ini tidak lucu," jawab Airin tak percaya.
"Alu serius kak. Ayo, lebih cepat lebih baik," jawab anak kecil tersebut berlalu meninggalkan Airin. Airin pun segera menyusul anak tersebut masuk jauh ke dalam hutan larangan.
__ADS_1
*** Selamat siang reader kesayangan Author.. Sebelumnya Author minta maaf jika terdapat kesalahan dalam pengetikannya lantaran anak Author yang paling kecil, yang Author bilang sempat demam itu kini tengah di rawat di rumah sakit karena demam yang teramat sangat tinggi. Di tambah lagi dengan diare dan muntah yang tak kunjung henti. Belum lagi dengan batuk dan saat ini sedang rewel-rewelnya. Author mohon di doa kalian semua agar anak Author segera di beri kesembuhan oleh sang pencipta. Makasih juga buat yang sudah setia menunggu dan menunggu kelanjutan karya Author yang satu ini. Jangan lupa tinggalkan komentar dan juga likenya yaaaa.. Tak hanya itu, jika kalian punya vocher vote, jangan lupa kasih ke author ya....- Salam Sayang Author Nyonya Doremi😘