Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara

Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara
Bab 69


__ADS_3

"Baik, aku akan menunggumu di sini. Tapi, jangan lupa bawa Clara. Aku yakin kakakku pasti akan sangat senang jika bertemu dengan Clara," ucap Selin mengingatkan Leon.


"Baik, dengan senang hati," jawab Leon yang merasa lega karena sudah mulai ada titik terangnya.


"Ternyata Maminya Clara bekerja di rumah sakit Singapore. Hebat juga dia," gumam Leon pada dirinya sendiri.


***


Dikamar, Airin tengah bersiap untuk tidur. Begitu juga Gara yang telah dulu tiduran di sebelah Airin.


"Sayang" panggil Gara dengan lembut dan memutar tubuhnya menghadap Airin.


"Ya, kenapa?" tanya Airin gak kalah lembut.


"Berapa lama lagi kamu akan melahirkan si kembar?" tanya Gara sembari mengusap-usap kepala istrinya itu.


"Hmmm, kurang lebih satu bulanan lagi. Kenapa?" jawab Airin balik bertanya.


"Apakah sudah ada nama untuk anak kita?" tanya Gara mencium kening Airin sekilas.


"Belum. Aku belum mencarinya. Apa kamu sudah memilih nama untuk mereka?" jawab Airin kembali bertanya. Ia mulai tertarik dengan percakapan itu.


"Sudah. Apa kamu mau tau?" tanya Gara lebih mendekat ke Airin dan mengusap-usap perut sang istri.


"Mau.. Mau.. Siapa nama mereka?" tanya Airin antusias.


"Hmmm, yang cewek aku kasih nama Chesta. Chesta Putri Emanuel, kalau yang cowok aku kasih nama Agra putra Emanuel dan yang satunya lagi Anggara putra Emanuel. Apa kamu setuju?" ucap Gara lalu meminta persetujuan kepada Airin.


"Setuju, itu nama yang sangat bagus. Kapan kamu mencari nama itu mas?" tanya Airin penasaran.


"Sudah lama sih. Semenjak mama mengantarkan mu ke rumah sakit untuk yang pertama kalinya. Waktu itu mama bilang jika kamu hamil anak kembar tiga. Semenjak saat itu, aku mulai mencari nama untuk anak-anakku," jawab Gara membuat Airin sedikit terkejut. Pasalnya pada saat itu, Airin dan Gara belum pernah bertemu sama sekali setelah kejadian itu.


"Makasih ya mas, kamu sudah mau bertanggung jawab pada anak-anak ini," ucap Airin terharu.


"Ssssttt.. Ini sudah menjadi tugasku Airin," jawab Gara menutup mulut istrinya itu dengan jari telunjuknya. Mereka berdua kemudian saling tatap-tatapan untuk mencari kesungguhan di masing-masing pasangan itu.

__ADS_1


Perlahan tapi pasti, Gara mulai melabuhkan ciumannya di bibir sang istri tercinta. Kali ini tak ada penolakan dari Airin lagi. Wanita itu dengan senang hati memberikan seluruh jiwa raganya kepada suami yang telah membeli kesuciannya itu.


'Kenapa hatiku begitu bahagia setiap kali dia menyentuhku? Apa aku sudah mencintainya?' batin Airin menatap Gara dengan mata sayu di sela-sela ciuman mereka.


"Mas?" panggil Airin di saat ciuman mereka telah berhenti.


"Ya, kenapa sayang?" tanya Gara dengan suara parau dan nafas yang berat.


"Apa aku boleh bertanya?" tanya Airin masih menatap Gara.


"Boleh. Kamu mau bertanya apa?" jawab Gara mengelus kepala istrinya itu.


"Apa mas mencintaiku?" tanya Airin membuat Gara terdiam dan menatapnya lekat.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Gara masih menatap Airin.


"Aku tiba-tiba kepikiran mas. Entah kenapa, aku merasa senang sekali jika kamu menyentuhku akhir-akhir ini," jawab Airin jujur dengan perasaannya.


Mendengar pengakuan Airin, Gara pun tersenyum dan mencium kening sang istri.


"Itu artinya kamu sudah mulai mencintaiku. Teruslah seperti itu hingga kita menua nanti dan melihat si kembar tumbuh besar," jawab Gara mengelus perut Airin.


"Sama-sama sayang. Ihhhh ini si kembar baru saja bergerak. Mereka baru saja menendang tanganku. Apa kamu merasakannya juga?" ucap Gara yang senang sekali dengan pergerakan yang terjadi di perut Airin.


"Haha.. Iya mas. Aku merasakannya. Apa kamu senang?" jawab Airin mengusap kepala suaminya itu.


"Jelas aku senang. Aku sudah tidak sabar menunggu si kembar ini lahir sayang," jawab Gara kini mulai pindah menatap Airin.


"Sabar, satu bulan lagi," jawab Airin tersenyum.


Sepasang suami istri itu kembali tatap-tatapan satu sama lainnya, hingga bibir mereka kembali bertaut.


Gara yang hendak memulai tugasnya sebagai seorang suami pun meminta izin kepada calon bayi kembarnya dengan cara mengajak mengusap dan mengajaknya berbicara sebentar. Setelah itu Gara langsung menjamah tubuh istrinya itu dengan cinta dan juga nafsu yang bercampur menjadi satu.


Beberapa jam mereka bergulat, Gara yang memang kuat dan tahan lama itu berhasil membuat Airin kelelahan dan langsung tertidur saat permainan mereka telah selesai.

__ADS_1


Melihat sang istri yang begitu tidur dengan lelap, Gara kemudian bangkit dan mengambil tisu untuk membersihkan sisa-sisa cairan miliknya yang masih berserakan di sekitaran milik pribadi Airin. Laki-laki tampan mantan cassanova itu kemudian memasangkan kembali semua pakaian sang istri dan menyusul Airin ke alam mimpi.


Keesokan paginya, saat semua anggota keluarga telah duduk di ruangan makan untuk menikmati menu sarapan pagi, Leon tiba-tiba muncul dari kamarnya dengan satu tangannya menggendong Clara dan satunya lagi menyeret koper berukuran sedang.


"Leon? Mau kemana kau?" tanya Gara penasaran.


"Aku mau pergi ke Singapore untuk menemui Ibunya Clara. Aku izin ya, semua jadwal mu untuk beberapa hari ini sudah aku kirim ke email mu,' jawab Leon mendudukkan Clara di bangku khusus untuknya.


"Singapore? Kau tau darimana jika Ibunya Clara berada di Singapore?" tanya Gara penasaran.


"Adik dari ibunya yang memberitahukannya kepadaku. Dia bilang, jika aku ingin tau siapa ibunya Clara, aku bisa melihatnya di salah satu rumah sakit yang ada di sana," jelas Leon sembari memasukkan nasi goreng sea food ke dalam piringnya.


"Dia bekerja di rumah sakit?" tanya Gara menaikkan satu alisnya.


"Sepertinya begitu," jawab Leon singkat.


"Oke.. Kalau begitu pergilah. Aku akan menyuruh Yudi untuk menggantikan tugasmu untuk sementara," jawab Gara memberi izin.


"Om, apa Singapore itu jauh?" tanya Zaki tiba-tiba.


"Gak juga Zaki. Hanya beberapa jam dari sini," jawab Leon tersenyum.


"Naik angkotnya dimana Om, Zaki mau ajak Ibu ke Singapore," jawab Zaki membuat semua yang ada di tertawa.


"Haha.. Zaki, kalau ke Singapore itu naik pesawat, gak bisa naik angkot sayang," jawab Airin mengusap kepala Zaki.


"Pesawat? Oh yang terbang seperti burung itu?" tanya Zaki kembali.


"Ya, kau pintar sekali," jawab Gara menambahkan.


"Kalau gitu aku mau ke naik pesawat ke Singapore. Ibu cepatlah makan, setelah itu kita juga akan naik pesawat ke sana," ucap Zaki polos.


"Zaki sayang. Nanti kalau Tante sudah lahiran baru kita naik pesawatnya ya. Sekarang, Zaki fokus saja buat persiapan masuk sekolahnya dulu," ucap Airin mengusap kepala Zaki kembali.


"Apa Tante akan menemani Zaki?" tanya Zaki mengangkat kepalanya.

__ADS_1


"Ya, Tante akan temani Zaki," jawab Airin tersenyum.


"Baiklah Tante. Kalau begitu Zaki akan menunggu adik lahir nantinya," jawab Zaki girang.


__ADS_2