Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara

Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara
Bab 110


__ADS_3

Saat jenazah Gauri di masukkan ke tempat peristirahatan terakhirnya, Leon dan juga Selin kembali jatuh tak berdaya. Mereka benar-benar merasakan kehilangan sosok orang yang mereka cintai.


"Sabar Leon. Sabar. Kamu harus kuat demi Clara dan juga Selin," ucap Gara membatu Leon berdiri.


Sedangkan Airin yang menggendong Clara membantu Selin untuk berdiri kembali menyaksikan proses pemakaman Gauri.


***


Beberapa saat kemudian, saat proses pemakaman selesai dan para pengantar jenazah sudah pergi meninggalkan kuburan, kini tinggal Leon, Selin, dan juga Clara. Selain mereka juga ada Gara dan juga Airin.


Leon menatap lama makam yang telah ditaburi bunga mawar tersebut. Ia larut dalam lamunannya dengan mata yang tak henti meneteskan airnya.


Lama menatap batu nisan yang bertuliskan nama istri yang ia cintai, Leon tiba-tiba pingsan tak sadarkan diri dan jatuh ke atas kuburan yang masih merah tersebut.


"Kak Leon," teriak Selin yang saat ini sudah resmi menjadi istrinya Leon.


"Leon," teriak Gara dan juga Airin secara bersamaan.


Dengan cepat Gara segera mengangkat tubuh Leon masuk ke dalam mobilnya dan segera membawa Leon ke rumah miliknya.


"Leon bangunlah," ucap Gara memberikan minyak kayu putih di hidung Leon.


Tak lama kemudian, Leon pun sadarkan diri, dan memanggil nama Gauri berkali-kali.


"Leon minumlah ini dulu," ucap Gara memberikan segelas teh hangat untuk sahabatnya itu.


"Terima kasih Gara," jawab Leon kemudian meletakkan gelas teh tersebut setelah meminumnya sedikit.


"Sama-sama. Leon, kamu tidak bisa seperti ini terus. Kamu masih mempunyai Clara dan juga Selin. Aku tau kamu sangat mencintai Gauri. Tapi kamu harus bisa menerima kenyataan jika saat ini Gauri telah pergi meninggalkan kita semua," ucap Gara memberi semangat kepada sahabatnya itu.

__ADS_1


"Aku tau Gara. Tapi dada ini masih terasa sesak saat aku kembali mengingat masa-masa singkat ku dengan Gauri," jawab Leon kembali menitikkan air matanya.


"Itu artinya kamu sangat mencintai Gauri. Tapi Gauri gak akan suka jika kamu larut dalam kesedihan seperti ini. Dia juga akan merasa sedih di alam sana. Sekarang kamu ikhlaskan saja. Fokus saja pada kebahagiaan Clara dan istrimu Selin. Belajarlah untuk mencintainya. Dia berhak atas cinta dan sayang darimu Leon," balas Gara menepuk pelan bahu sahabatnya itu.


"Baiklah, aku akan mencoba sebisaku. Terima kasih sudah ada untukku," jawab Leon berusaha ikhlas.


"Nah, gitu dong. Aku kangen Leon yang dulu. Oh ya, untuk beberapa malam ini, kamu, Selin dan juga Clara tidur saja di rumahku. Kami akan mengadakan tahlilan untuk Gauri besoknya," ucap Gara lalu pergi meninggalkan Leon.


"Hmmm maaf kak Airin? Aku mau tanya, kamarku dan juga Clara dimana ya? Aku akan menidurkan Clara di kasur," tanya Selin saat bertemu dengan Airin.


"Clara sudah tidur ya, ya sudah, ayo ikut aku," jawab Airin membawa Selin dan juga Clara ke kamar lama Leon.


Setibanya di depan pintu kamar, Airin bertemu dengan Gara yang baru saja keluar dari kamar Leon.


"Mas, Leon mana? Ini Selin dan juga Clara mau tidur," tanya Airin kepada suaminya itu.


"Leon ada dikamar, ayo masuk," jawab Gara kembali membuka pintu kamar Leon.


"Ya, kenapa? Apa ada tertinggal?" tanya Leon tanpa menoleh kepada sahabatnya itu.


"Ini, Clara dan juga Selin mau tidur. Aku dan Airin hanya mau mengantarkannya," jawab Gara membawa Selin dan juga Clara yang sudah tertidur.


Mendengar nama Selin, seketika Leon menjadi gugup. Ia masih tak percaya, jika dirinya dan juga Selin benar-benar telah menikah.


"Ahh, iya silahkan saja. Ayo masuk. Taruh saja Clara di ranjang itu," ucap Leon gugup.


"Ya sudah, kalau begitu kami pergi dulu," Pamit Airin membawa suaminya meninggalkan kamar tersebut.


Saat Gara dan juga Airin telah pergi, Leon dan juga Selin hanya saling diam satu sama lain.

__ADS_1


'Bagaimana ini? Apa yang harus aku katakan padanya? Kenapa aku bisa gugup seperti ini,' batin Leon duduk di tepi ranjang sebelah kanan.


'Apa yang harus aku lakukan? Kenapa situasinya jadi seperti ini?' batin Selin berada di sisi kiri ranjang. Ia merasa canggung saat berada satu kamar dengan Leon.


"Hmmm Selin," panggil Leon memutar kepalanya ke arah Selin.


"I.. Iya kak, ada apa?" tanya Selin gugup.


"Tak dapat di pungkiri, saat ini kita sudah menikah dan resmi menjadi pasangan suami istri atas permintaan Gauri. Kamu kan tau sendiri seperti apa perasaanku kepada kakakmu. Rasa cinta dan sayangku begitu besar terhadapnya. Jadi aku minta maaf jika aku belum bisa memberikan rasa cinta dan sayangku kepadamu untuk saat ini. Tapi aku janji akan memenuhi kewajiban ku sebagai suami yang baik untukmu dalam hal materi. Tapi untuk nafkah batin, maafkan aku, aku belum bisa memberikannya kepadamu," ucap Leon apa adanya.


"Baik, tidak apa-apa kak. Jujur aku juga tidak mencintai dan menyayangi kakak. Aku hanya menganggap kakak sebagai kakak ipar ku selama ini. Karena kita saat ini sudah menikah, aku juga akan melakukan tanggung jawabku sebagai seorang istri. Aku akan mengurus semua keperluan kakak dan juga mengurus dan merawat Clara seperti anakku sendiri," balas Selin jujur apa adanya.


"Baiklah, sekarang semuanya sudah jelas. Kalau begitu, ayo kita tidur," ucap Leon membuat Selin sedikit ragu.


"Ti.. Tidur? Aa.. Baiklah, tapi aku tidur dimana kak?" tanya Selin sedikit canggung.


"Kamu dan aku akan tidur di ranjang ini. Aku sebelah kanan dan kamu sebelah kiri. Biarkan Clara tidur di tengah-tengah kita," jawab Leon mulai merebahkan badannya.


"Kamu kenapa belum tidur?" tanya Leon saat mendapati Selin masih duduk terdiam di tempatnya.


"Ah, tidak, ini aku akan tidur," jawab Selin gelagapan. Gadis cantik itu akhirnya merebahkan tubuhnya di ranjang yang sama dengan Leon, namun dengan posisi yang membelakangi suaminya itu.


Saat tengah malam, Leon yang terbangun dari tidurnya mendapati Selin tidak ada di tempat tidurnya.


Leon pun hendak bangun dan mencari keberadaan istrinya itu. Namun saat Leon akan berdiri, ia mendapati Selin sedang menangis tersedu-sedu di lantai sebelah ranjangnya.


"Selin, kamu kenapa menangis disitu?" tanya Leon menghampiri istrinya itu.


"Tidak kak. Aku hanya merindukan kakakku. Baru saja aku bermimpi dengannya. Aku melihat dia tersenyum bahagia ke arah ku. Saat aku akan mengejar dan memeluknya, dia malah hilang dan seketika itu juga aku terbangun dsn tidak bisa tidur lagi," jawab Selin menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


Mendengar perkataan Selin, spontan Leon langsung membawa Selin ke dalam pelukannya dan berkali-kali mencium pucuk kepala adik ipar yang kini sudah menjadi istrinya itu.


"Sudah, jangan menangis. Aku yakin Gauri pasti sudah bahagia di sana. Buktinya saja, dia tersenyum padamu kan," ucap Leon yang belum masih sadar jika saat ini ia memeluk Selin dengan sangat erat dan mereka sama-sama tertidur dalam posisi duduk sampai waktu pagi tiba.


__ADS_2