Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara

Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara
Bab 153


__ADS_3

"Sayang? Kamu lelah gak?" tanya Ustadz Gibran mulai bermanja kepada Kamelia.


"Tidak, memang kenapa By? Aby mau pijitin aku?" tanya Kamelia menggeser posisi nya.


"Bukan. Aby mau meminta hak Aby," jawab Ustadz Gibran mengedipkan sebelah matanya.


***


"Dasar Ustadz mesum," gumam Kamelia dengan wajah yang bersemu merah.


"Haha.. Tapi kamu suka kan?" balas Ustadz Gibran langsung menghujani Kamelia dengan ciuman yang bertubi-tubi.


Kamelia yang berniat untuk protes pun mengurungkan niatnya karena ulah suaminya yang langsung menyentuh area sensitif miliknya.


Puas bermain dengan tubuh sang istri, Ustadz Gibran pun langsung membuka pakaian yang menutupi tubuh indah sang istri, tak hanya itu, ia juga membuka pakaiannya lalu langsung menancapkan P miliknya ke dalam V Kamelia, yang seketika berhasil membuat Kamelia mengerang kenikmatan.


Tak ada lagi tampang seorang Ustadz di wajah Ustadz Gibran saat ia tengah melakukan tugas batinnya itu. Ustadz Gibran benar-benar terlena akan surga dunia yang ada di hadapannya saat ini.


"Ahh, Aby, aku.. Aku sudah tidak tahan lagi," desah Kamelia di sela-sela deru nafasnya.


Setelah Kamelia mengatakan hal tersebut, Ustadz Gibran pun semakin mengencangkan goyangannya sehingga Kamelia pun menjambak sprei dengan kuat, dan dalam hitungan dengan detik, tubuhnya pun mengejang, menandakan dirinya telah sampai di puncak permainan.


Karena Ustadz Gibran belum juga selesai, Ia pun kembali menggoyang istrinya itu, namun sayang, permainannya kali ini terasa hampa, karena ia mendapati Kamelia sudah tertidur seperti biasa.


"Hhhhh, lagi-lagi aku bermain sendirian. Kamu jadi mudah tidur semenjak hamil ini sayang," gumam Ustadz Gibran mempercepat permainannya agar ia juga bisa cepat sampai di tujuannya.


"Agghhh, akhirnya," gumam Ustadz Gibran sesaat setelah miliknya mengeluarkan cairannya di dalam V Kamelia.


Sementara itu, keesokan paginya, di saat semua umat manusia tengah sibuk dengan aktifitasnya masing-masing.


Begitu juga dengan Leon. Pagi ini, entah kenapa, ia ingin sekali memakan bubur kacang hijau di campur dengan saos terasi. Entah apa yang ada di benaknya, ia menyuruh office boy untuk memesankan bubur kacang hijau di campur dengan sambal terasi ulek.


"Ahhh, rasanya pasti enak," gumam Leon sesaat setelah menyuruh office boy tersebut pergi untuk membeli. Ia tengah membayangkan memakan bubur kacang hijau yang di campur dengan sambal terasi ulek.


Saat office boy tersebut hendak keluar dari lobby, Gara yang sedang buru-buru tidak sengaja menabrak office boy yang di perintahkan oleh Leon tadi.

__ADS_1


"Ma.. Maafkan saya pak," ucap office boy tersebut menundukkan kepalanya. Dia takut sekali jika Gara akan marah dan memecat dirinya.


Pada dasarnya, selama berada di lingkungan kantor, Gara merupakan atasan yang sangat dingin dan berwibawa. Ia hanya bercanda dengan sahabatnya Leon sewaktu tidak ada orang lain di sekitarnya.


"Tidak.. Tidak.. Saya lah yang salah,saya terburu-buru dan saya meminta maaf," jawab Gara membuat pegawai kantor yang melihatnya langsung tercengang, termasuk si office boy tadi.


"Ba.. Baik pak. Kalau begitu saya permisi dulu," undur office boy tersebut dengan sopan dan ramah, kemudian dia meninggalkan atasannya tersebut.


"Hmmm tunggu," panggil Gara lagi sehingga membuat langkah office boy tersebut langsung terhenti.


"Ya, ada apa ya pak?" jawab office boy tadi menjawab dengan gugup dan kepala yang tertunduk. Ia takut jika Gara akan berubah pikiran dan marah padanya.


"Kamu mau kemana?" tanya Gara dengan tatapan dinginnya.


"Hmmmm, i.. Itu pak.. Sa.. Saya mau membeli pesanan bapak Leon," jawab office boy tersebut dengan wajah yang masih di tundukkan.


"Pesanan Leon? Pesanan apa?" tanya Gara yang mulai memiliki niatan usil kepada sahabatnya itu.


"Hmmm itu.. Pak Leon meminta saya untuk membelikan beliau bubur kacang hijau lalu di campur dengan sambal terasi," jelas office boy tersebut.


"Ppfftthhhh, bu


Melihat Gara yang tertawa lepas tersebut, seketika ia menjadi pusat perhatian pegawai Gara's grup tersebut, terutama pegawai wanita.


Pasalnya, Gara begitu tampan dan manis sekali.


"Lihat, pak Gara sedang tertawa. Baru kali ini aku melihatnya," bisik salah satu pegawai wanita tersebut.


"Iya, kamu benar, dia begitu tampan sekali," jawab pegawai lainnya.


"Tidak pak, saya tidak mungkin salah dengar karena bapak Leon juga memberikan kertas catatan agar saya tidak lupa," jawab office boy tersebut sembari melihatkan kertas tersebut kepada Gara.


"Haha.. Kamu benar, ya sudah, kalau begitu, tolong di dalam bubur kacang hijau ini kamu banyak kan terasinya, tak hanya itu, tolong juga garam nya di banyak kan sekali. Kasih garam nya lima sendok makan. Awas, jika kamu lupa, maka kamu akan saya pecat," perintah Gara membuat office boy tersebut menuruti permintaan Gara.


"Ba.. Baik pak. Ta.. Tapi bagaimana jika pak Leon memarahi saya?" tanya office boy tersebut memberanikan diri.

__ADS_1


"Tenang, saya akan melindungi mu," jawab Gara lalu memberikan uang pecahan seratus ribuan sebanyak delapan lembar.


"I.. Ini uang apa pak?" tanya office boy tersebut.


"Itu uang tutup mulutmu, sekarang silahkan laksanakan tugas mu, saya mau ke atas dulu," jawab Gara lalu meninggalkan office boy tersebut.


'Si Leon ngidamnya aneh-aneh saja,' batin Gara lalu masuk ke dalam lift khusus CEO.


"Beberapa saat kemudian, office boy tadi pun mengetuk pintu ruangan Leon. Pintu ruangan yang sama dengan pintu masuk ke dalam ruangan CEO, karena mereka satu ruangan.


"Nah ini dia pesanan ku. Gimana? Dapat gak pesanan ku?" tanya Leon dengan wajah sumringah.


"Hmmmm, da.. Da.. Dapat pak," jawab office boy tersebut sembari melirik ke arah Gara yang juga menatap ke arah office boy tersebut.


'Mereka saling tatap-tatapan begitu, pasti ada apa-apanya ini dengan pesanan ku,"


' batin Leon tersenyum smirk.


"Makasih ya, oh ya, ini ada sedikit uang tips buat kamu," jawab Leon memberikan uang lima puluh ribu kepada office boy tersebut.


"Ma.. makasih pak. Saya permisi dulu," balas office boy tersebut lalu meninggalkan ruangan CEO tersebut.


"Itu apaan Leon?" tanya Gara pura-pura tidak tau.


"Ini, bubur kacang hijau di mix dengan sambal terasi," jawab Leon santai.


"Apa? Bubur kacang hijau di mix dengan sambal terasi? Kamu gila ya? Mana nyambung itu rasanya?" tanya Gara berakting di depan sahabatnya itu.


"Gak tau. Aku baru mencobanya sekarang. Entah kenapa aku ingin sekali memakannya. Apa kamu mau mencicipinya juga?" tawar Leon kepada sahabatnya itu.


"Oh, enggak-enggak. Kamu makan sendirian saja. melihat kuahnya saja aku sudah tidak berminat," jawab Gara menolak sembari berjalan dan duduk di hadapan Leon.


"Ok, baiklah, aku tidak memaksa mu," jawan Leon mencoba bersikap santai.


Leon pun langsung menyalin bubur tersebut ke dalam mangkok yang sudah ia bawa. Ia kemudian mulai mengamati dan mencicipinya sedikit sekali.

__ADS_1


'Sial, pasti si Gara sengaja nih nyuruh office boy tadi untuk menambahkan banyak garam ke dalam ini. Mana asin banget lagi,' batin Leon mencoba bersikap setenang mungkin.


"Gimana? Enak?" tanya Gara penasaran dengan ekspresi tidak menyangka nya.


__ADS_2