Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara

Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara
Bab 109


__ADS_3

"Iya sayang, ini Mommy. Mommy sayang kamu Clara. Mommy sayang kamu," jawab Gauri tersedu-sedu sambil mengusap pipi gembul putrinya itu. Tak lupa ia memberikan senyuman terbaiknya untuk sang putri tercinta, dan tak lama setelahnya mata Gauri mulai tertutup, diiringi dengan tangannya yang mulai melemah lepas dari pipi gembul sang putri.


***


"Gauri," panggil Leon dengan suara bergetar.


Laki-laki tampan itu benar-benar takut jika Gauri tak bangun-bangun lagi untuk selamanya.


"Kak.. Kak bangun kak. Kakak," panggil Selin dengan suara bergetar juga.


Wanita dua puluh satu tahun yang sudah resmi menjadi istri Leon itu mulai lemah, untung saja Gara segara mengambil alih Clara dari tangannya, jika tidak, bisa dipastikan Clara akan jatuh ke lantai.


"Mommy," panggil Clara menunjuk-nunjuk Mommy nya yang sudah diam tak berdaya.


"Dokter," panggil Leon di sela-sela tangisannya.


Tim dokter pun bergegas menghampiri Gauri dan sibuk memeriksa tubuh wanita yang sudah diam tak bergerak itu.


"Dia telah pergi," jawab sang dokter dengan terpaksa. Para tim medis lainnya sibuk mencatat waktu kematian dan sebagian melepas semua alat bantu pada tubuh Gauri.


Seketika itu juga Leon langsung jatuh lemas ke lantai. Ia tak dapat berkata apa-apa untuk beberapa saat lamanya.


Berbeda dengan Selin, wanita yang baru saja menikah itu langsung menangis sejadi-jadinya di hadapan sang kakak tercinta. Ia tak menyangka jika hari ini benar-benar akan tiba.


"Kak bangun kak. Jangan tinggalin Selin. Selin udah gak punya siapa-siapa lagi kak. Kak bangun, kasihan Clara kak. Bangun kak, Selin mohon," ucap Selin di sela-sela tangisannya. Ia terus mengguncang tubuh sang kakak dan memeluknya berkali-kali.


Sedangkan Clara, bocah satu tahun itu terus menunjuk ke arah Mommy nya dan memanggil Mommy berkali-kali. Sesekali Clara mencondongkan tubuhnya ke arah Gauri yang telah diam terbujur kaku.


Gara tak tahan melihat momen pilu di depan matanya itu.


Air matanya menetes tanpa bisa ia sadari.

__ADS_1


"Leon ayo berdiri. Ikhlaskan Gauri. Setidaknya saat ini ia tak merasakan sakit lagi," ucap Gara menghampiri sahabatnya itu.


"Tapi kenapa begitu cepat Gara? Kenapa? Kenapa aku tak bisa bahagia seperti kamu dan juga Airin?" jawab Leon bertanya-tanya.


"Leon sabarlah. Semua sudah ada jalannya masing-masing. Sekarang ayo lihat Gauri untuk yabg terakhir kali," balas Gara membantu Leon berdiri dengan satu tangannya dan satunya lagi menggendong Clara.


Leon pun akhirnya bangkit dan menatap lama wajah wanita yang mengisi hari-harinya beberapa bulan terakhir ini.


Untuk beberapa saat Leon larut dalam lamunannya sembari mengusap kepala Gauri dengan air mata yang tak henti menetes.


Leon kemudian mengecup kening Gauri cukup lama sambil menangis terisak-isak.


"Aku sudah merelakan mu pergi sayang. Tenanglah di sana dan jangan pernah lupakan aku. Aku tau saat ini kamu pasti sudah tidak merasakan sakit lagi. Selamat beristirahat sayang," ucap Leon mencium kening Gauri untuk yang terakhir kalinya lalu menutup kepalanya dengan kain yang sudah di siapkan oleh pihak rumah sakit.


Leon kemudian mengambil Clara dari gendongan Gara lalu memeluknya dengan sangat erat. Hanya Clara lah satu-satunya tumpuan untuk Leon saat ini.


Meskipun saat ini ia telah resmi menjadi suami Selin, namun sama sekali tak ada rasa cinta sedikitpun di hati Leon untuk mantan adik iparnya itu.


Setibanya di luar, Gara segera menghubungi istrinya untuk memberi tahukan kabar duka ini.


"Halo mas, kamu dimana? Apa sudah tiba di rumah sakit? Bagaimana keadaan Gauri?" tanya Airin dengan beberapa pertanyaan.


"Airin sayang. Gauri telah tiada. Dia baru saja pergi meninggalkan kita semua, dan sebelum pergi, Gauri meminta Leon menikahi adiknya Selin dengan menceraikan Gauri terlebih dahulu," jawab Gara membuat Airin tak percaya.


"Apa? Gau.. Gauri meninggal dunia? Innalillah.. Lalu kemana jenazahnya akan pulang? Tidak mungkinkan ke apartemen Leon?" tanya Airin yang masih shock.


"Maka dari itu aku menelpon mu untuk meminta izin membawa jenazah Gauri ke rumah kita sebelum di kuburkan. Apa kamu memberi izin sayang?" jawab Gara kembali bertanya.


"Tentu aku mengizinkannya sayang. Sekarang aku akan minta pengawal untuk menyiapkan semuanya. Jika kalian akan pulang, segera kabari aku," ucap Airin mematikan ponselnya.


Beberapa saat kemudian,.Gara telah selesai mengurus semua surat kepulangan Gauri. Ambulan pun sudah disiapkan untuk mengantar jenazah Gauri pulang ke rumah Gara.

__ADS_1


"Leon semuanya sudah selesai. Gauri akan pulang ke rumahku dulu sebelum pergi ke tempat peristirahatan terakhirnya. Sekarang ayo kita tunggu di luar. Kamu naik ambulance saja, biar aku Selin dan juga Clara pulang naik mobil," ucap Gara hanya mendapat anggukan lemah dari Leon.


Satu jam kemudian, jenazah Gauri sudah tiba di rumah duka. Sudah terlihat beberapa pelayat yang hadir untuk turut berbelasungkawa. Di sana juga sudah ada kedua orang Gara, Zaki dan Ibunya beserta sanak saudara lainnya.


Peti jenazah Gauri pun di turunkan dari ambulance dan dibawa masuk ke dalam rumah duka diiringi oleh isak tangis dari Leon selaku mantan suaminya.


Sementara itu, Gara, Selin dan juga Clara turun dari mobil putih polos miliknya.


"Leon, Tante dan Om turut berduka cita ya sayang. Kamu harus ikhlas melepas kepergian Gauri. Tante yakin Gauri sudah bahagia di sana," ucap Tante Lena, mamanya Gara.


"Makasih Om, Tante," jawab Leon lemah.


"Leon aku turut berduka cita ya. Aku yakin tuhan pasti sudah punya rencana terindah untukmu," ucap Airin kepada Leon saat ia telah duduk di hadapan jenazah sang mantan istri.


Disebelah Leon juga ada Selin dan juga Clara. Sedari tadi Selin tak henti-hentinya menangisi kepergian sang kakak, satu-satunya keluarga yang ia miliki.


"Selin kakak turut berduka ya atas kepulangan kakakmu Gauri. Dia orang baik, tuhan pasti sudah menyiapkan tempat terindah untuk Gauri di sana," ucap Airin menghampiri Airin.


"Makasih kak. Maaf sudah merepotkan kakak dan keluarga," jawab Selin di sela-sela tangisannya. Ia kemudian memeluk Airin dan melepaskan tangis kehilangannya di dalam pelukan Airin, sedangkan Clara sedari tadi sibuk memanggil Mommy nya berkali-kali.


Airin begitu terenyuh saat melihat momen tersebut. Ia kemudian mengambil Clara lalu membawanya pergi ke kamar si kembar untuk bermain dan melupakan hari ini.


Sedangkan Gara kini tengah sibuk mengurus proses pemakaman dan pemandian jenazah Gauri yang akan di lakukan sebentar lagi.


Kira-kira dua jam kemudian, jenazah Gauri telah selesai dimandikan dan di kafani. Kini tiba saatnya membawa jenazah itu ke pemakaman terdekat.


Saat jenazah Gauri di masukkan ke tempat peristirahatan terakhirnya, Leon dan juga Selin kembali jatuh tak berdaya. Mereka benar-benar merasakan kehilangan sosok orang yang mereka cintai.


"Sabar Leon. Sabar. Kamu harus kuat demi Clara dan juga Selin," ucap Gara membatu Leon berdiri.


Sedangkan Airin yang menggendong Clara membantu Selin untuk berdiri kembali menyaksikan proses pemakaman Gauri.

__ADS_1


__ADS_2