
Merasa tak terima, Zilgwin pun langsung mengajak Lee gelut. Ia melingkarkan tangan kekarnya ke leher Lee dan menjitak-jitak kepala sahabatnya itu. Tak mau kalah, Lee pun juga memberikan perlawanan hingga tanpa mereka sadari, pintu lift pun terbuka dan ada beberapa karyawan yang menyaksikan kelakuan mereka berdua.
***
"Hmmmmm," ucap salah satu karyawan seketika membuat Zilgwin dan Lee yang sedang berpelukan itu kaget dan segera melepas pelukan perkelahian mereka.
"Huhhhhh, kalian liat apa?" bentak Zilgwin dengan tatapan dinginnya sembari berjalan keluar dari lift tersebut dengan santainya.
Sementara di belakang ada Lee yang juga menatap para staf dengan tatapan tajamnya juga.
Zilgwin dan juga Lee terkenal dengan laki-laki dingin saat di hadapan para staf-staf kantor lainnya. Maka dari itu, tak heran jika staf-staf itu langsung tertunduk saat mendapat tatapan tajam dari kedua sahabat tersebut.
"Puas lo, pasti kita di katain gay tuh sama staf-staf kantor lainnya," umpat Zilgwin kepada Lee saat mereka sudah berada di dalam ruangannya Zilgwin.
"Biarin aja. Lagian, lo duluan kan yang mulai? Kenapa lo malah nyalahin gue," balas Lee tak terima jika ia menjadi sasaran atas perbuatan mereka.
"Nuolot lagi lo. Udah, Gue mau pulang. Capek gue liat muka jelek lo mulu," ujar Zilgwin kembali berdiri dan meninggalkan ruangannya.
"Hey, mau kemana lo? Baru aja nyampe. Kerjaan lo nih banyak banget hari ini," teriak Lee berusaha mencegah Zilgwin untuk meninggalkan kantor.
"Ya lo yang urus lah. Lo kan gue gaji buat itu. Lagian gue mau istirahat, bukannya besok pagi-pagi gue harus udah berangkat ke Sidney," balas Zilgwin lalu menutup kembali pintu ruangannya.
"Sialan, awas aja tuh anak. Nanti gue kerjain lo," umpat Lee mempunyai ide jail untuk sahabatnya yang mengesalkan itu.
Sementara itu, di rumah, Kanaya sedang menyiapkan pakaiannya beserta pakaian Kenzie dan juga Zilgwin. Pakaian itu akan ia masukkan ke dalam koper guna akan di bawa ke Sidney keesokan paginya.
__ADS_1
Saking asiknya, Kanaya tak sadar jika seseorang tengah memperhatikannya dari balik pintu walk in closet yang ada di kamarnya.
Orang itu tak lain tak bukan adalah Zilgwin, laki-laki yang telah mempersuntingnya semenjak dua tahun lalu.
Kebetulan, saat itu, Kanaya mengenakan daster bunga-bunga tidak berlengan. Sedangkan panjangnya hanya di bawah paha sedikit dan bagian depannya terdapat tiga buah kancing busui. Pakaian itu adalah hadiah dari Talita, mertua yang mencakup sebagai mama angkatnya juga. Namun, karena sikap Zilgwin kepadanya yang acuh tak acuh, Kanaya pun tidak pernah memakainya di hadapan suaminya itu. Ia menggunakannya hanya ketika Zilgwin sedang tidak berada di rumah saja.
Melihat Kanaya begitu seksi dan menggoda, fantasi liar mulai menari-nari di dalam pikirannya, sedangkan juniornya sudah berdiri tegak dan siap untuk diajak tempur.
Nafas Zilgwin berjalan secara tidak teratur. Ingin sekali rasanya Zilgwin maju dan langsung memeluk tubuh mungil sang istri. Namun, kakinya seakan tertancap di dasar bumi dan tak bisa ia gerakkan sama sekali.
Kanaya yang tadinya sibuk, akhirnya selesai juga. Namun, betapa terkejutnya Kanaya saat mendapati Zilgwin yang sudah berdiri tegak di ambang pintu dengan posisi diam membatu yang entah sejak kapan menatap dirinya tengah bersiap-siap.
"Aaaa, astaga, sejak kapan kakak berdiri di situ?" tanya Kanaya terlihat gugup sekali.
Mendengar jawaban Zilgwin, Kanaya pun seketika terdiam tak habis pikir.
"M.. m.. ma.. maaf kak. Aku benar-benar tidak tau. Ka.. Kakak tidak ke kantor?" tanya Kanaya sangat gugup dan malu sekali.
"Tidak. Aku sudah pulang. Kanaya, siapkan pakaian rumah ku dan temani aku tidur. Mataku mengantuk sekali," perintah Zilgwin mencari-cari alasan agar ia bisa bersama-sama dengan Kanaya dan melakukan hal lebih dari hanya sekedar menemaninya tidur saja.
"Ba.. Baik kak. Aku akan menyiapkannya dulu," balas Kanaya langsung berlari ke walk in closet untuk menyiapkan pakaian ganti untuk Zilgwin. Tak hanya pakaian untuk suaminya itu, Kanaya juga mengganti pakaiannya dengan yang lebih tertutup. Beberapa saat kemudian, Kanaya kembali ke ranjangnya dengan menenteng baju rumah untuk suaminya itu.
"Nay, kenapa kamu juga mengganti pakaian mu?" tanya Zilgwin memperhatikan Kanaya dari ujung rambut hingga ujung kakinya.
"Hmmmm, itu.. Baju.. Bajuku yang tadi terlalu terbuka kak. Aku... Aku malu," jawab Kanaya gelagapan.
__ADS_1
"Haha.. Nay.. Nay.. Kamu ini istriku, kamu lupa, aku sudah melihat semua yang ada pada tubuh mu, bahkan aku juga sudah pernah menyicipinya. Kamu tidak perlu malu. Kita ini suami istri. Sekarang pergi dan ganti kembali pakaian mu. Aku akan menunggunya disini," ucap Zilgwin menggeleng-gelengkan kepalanya.
Karena takut, Kanaya pun akhirnya menuruti permintaan Zilgwin. Setelah memberikan pakaian untuk Zilgwin, Kanaya pun kembali ke walk in closet untuk mengganti pakaiannya menggunakan pakaian yang ia kenakan sebelumnya. Sementara Kanaya berganti pakaian, Zilgwin juga melakukan hal yang sama. Zilgwin mengganti pakaiannya sembari senyam senyum seperti bocah ABG yang sedang jatuh cinta.
Tak berselang lama kemudian, Kanaya pun kembali dengan pakaian daster mininya. Ia melangkahkan kakinya dengan ragu-ragu berjalan ke arah suaminya itu.
"Sss.. s... sudah kak," lapor Kanaya membuat Zilgwin sedikit terkejut.
"Nah gitu dong. Sini, temani aku tidur. Aku mau istirahat hari ini," ucap Zilgwin modus.
Dengan langkah ragu-ragu, Kanaya pun kembali melangkahkan kakinya dan beringsut menaiki tempat tidurnya.
Tanpa memberi aba-aba, Zilgwin yang sedari tadi menahan hawa nafsunya pun langsung membawa Kanaya ke dalam pelukannya dengan menarik tangan Kanaya sehingga membuat istrinya kaget.
"Kakak mau apa?" tanya Kanaya berusaha melepaskan pelukan Zilgwin.
"Aku mau menyicil hutangku pada mu Nay," jawab Zilgwin mencumbu leher putih Kanaya.
"Hu..Hutang? Hutang apa? Kakak tidak pernah berhutang padaku selama ini," ucap Kanaya dengan nafsunya yang mulai naik akibat ulah suaminya itu.
"Benarkah? Mungkin kamu lupa, jika aku memiliki banyak hutang padamu. Sudah dua tahun lebih aku tidak memberimu nafkah batin Nay, dan baru satu kali aku mulai menyicilnya. Aku janji, mulai hari ini aku akan membayarnya sedikit demi sedikit," bisik Zilgwin di telinga Kanaya seketika membuat dara cantik itu bergidik.
Setelah perkataan Zilgwin barusan, Kanaya pun tidak bisa lagi mencari alasan untuk mengelak dari kungkungan. Ia hanya pasrah saat Zilgwin mulai meraba-raba seluruh bagian anggota tubuhnya dengan lembut.
"Oh," desah Kanaya saat Zilgwin mulai bermain dengan organ inti istrinya itu.
__ADS_1