Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara

Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara
Penyesalan Setelah Kehilangan Bab 3


__ADS_3

"Hhhhh, entahlah kak. Aku tidak tau apakah aku akan bertahan atau menyerah. Aku ini hanya manusia biasa. Aku punya batas kesabaran dan juga lelah kak. Maafkan aku kak. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan kakak barusan," ucap Kanaya lalu meninggalkan Zilgwin yang masing mematung di setelah mendengar jawaban dari istrinya itu.


***


'Kanaya tidak bisa menjawab pertanyaan ku barusan. Itu artinya, Kanaya sudah memiliki niat untuk meninggalkan ku suatu saat nanti. Tidak.. Ini tidak boleh terjadi. Kanaya tidak boleh meninggalkan ku dan juga Kenzie. Apalagi jika ia sampai menikah dan memiliki anak dari laki-laki lain nantinya,' batin Zilgwin membayangkan jika suatu hari nanti, Kanaya tengah hamil dan di manja oleh laki-laki lain.


Zilgwin lalu menghampiri Kanaya ke atas ranjang. Ia melihat jika Kanaya sudah tertidur lelap.


'Tidak, aku tidak akan melakukannya sekarang, kasihan sekali jika aku harus membangunkannya tidur. Dia pasti lelah sekali mengurus Kenzie seharian,' batin Zilgwin lalu beranjak ke sofa untuk tidur.


Selama Zilgwin menikah dengan Kanaya. Ia belum pernah menyentuh istrinya itu, bahkan Zilgwin tidak mau untuk satu ranjang dengan Kanaya. Bagi Zilgwin, lebih baik dia tidur di sofa di bandingkan jika harus tidur bersama dengan Kanaya.


Keesokan harinya, seperti biasa, Kanaya pun terbangun tepat saat azan subuh berkumandang. Gadis cantik yang sudah biasa bangun pagi itu pun langsung melaksanakan solat subuh dan membantu si mbok memasak di dapur. Kanaya memang senang sekali memasak.


"Kanaya,!" panggil Zilgwin yang masih tiduran di sofa kamarnya.


"Ya kak, kenapa?" tanya Kanaya yang tampak heran karena Zilgwin sudah bangun sepagi ini.


"Kesini sebentar," perintah Zilgwin membuat Kanaya semakin heran.


"A.. Ada apa kak?" tanya Kanaya lagi di saat dirinya telah berada dekat dengan Zilgwin yang sudah beranjak duduk.


"Kanaya, kamu tau kan jika Kenzie menginginkan seorang adik karena ulah mu?" tanya Zilgwin menatap Kanaya dingin.


"Ulah ku? Kenapa aku?" tanya Kanaya tampak heran.

__ADS_1


"Ya, karena kamu memajang fotonya sewaktu kecil di ponsel mu, jadi aku mau kamu bertanggung jawab atas perbuatan mu itu," jawab Zilgwin membuat Kanaya semakin tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh suami dinginnya itu.


"Ta.. Tang.. Tanggung jawab?" tanya Kanaya menautkan kedua alisnya.


"Ya, tanggung jawab. Kamu harus membuatkan Kenzie seorang adik sesuai dengan keinginannya. Aku tidak mau mendengar kata penolakan dari mu Kanaya," jawab Zilgwin membuat Kanaya membelalakkan mata indahnya itu.


"A.. Apa? Mem..Membuatkan Kenzie adik? La.. Lalu dengan siapa aku akan membuatnya? Apa.. Apa aku harus menikah lagi seperti yang mama katakan?" celetuk Kanaya seketika membuat wajah Zilgwin tampak masam dan semakin dingin.


"Apa kamu bilang? Siapa yang menyuruhmu membuat seorang adik untuk Kenzie dengan melibatkan laki-laki lain? Apa kamu sudah bosan hidup?" protes Zilgwin merasa kesal dengan ucapan istrinya itu.


"Ma..Maafkan aku kak. Ta.. Tapi jika tidak menikah lagi, bagaimana aku akan bisa memberikan adik untuk Kenzie?" tanya Kanaya dengan polosnya.


"Sudah diam. Apa kamu benar-benar akan menikahi pria lain untuk bisa memberikan Kenzie seorang adik?" pertanyaan konyol itu semakin membuat Zilgwin terlihat bodoh di depan Kanaya.


Kanaya yang sadar akan kecemburuan Zilgwin sengaja memperbodoh dirinya demi mengetahui bagaimana perasaan Zilgwin yang sebenarnya.


"Kamu jangan macam-macam ya Kanaya. Tidak ada yang akan menikah lagi. Kamu akan melakukannya bersamaku malam ini. Ya, malam ini kita akan membuatkan adik untuk Kenzie, jadi bersiap-siaplah untuk itu. Siang nanti, akan ada supir yang akan menjemputmu dan mengantarmu ke salon dan ke perawatan lainnya. Kamu tidak perlu memikirkan Kenzie, karena mulai hari ini, akan ada baby sitter yang akan mengasuhnya," jawab Zilgwin mendekatkan wajahnya ke wajah cantik Kanaya.


Tak bisa di pungkiri, saat mendengar ucapan Zilgwin, jantung Kanaya berdetak begitu cepat dan badannya menjadi panas dingin. Begitu juga dengan Zilgwin, detak jantungnya berdetak semakin cepat dan nafasnya saling memburu satu sama lain.


"Ja.. Jadi, maksud kakak, malam ini kita... Kita... Kita akan......" ucap Kanaya yang tak sanggup lagi meneruskan kata-katanya.


"Ya, kamu benar sayang, malam ini kita akan melakukan malam pertama setelah dua tahun pernikahan kita. Mulai malam ini dan malam-malam selanjutnya, kamu harus bersiap-siap untuk memproses calon adik Kenzie. Kamu mengerti?" ucap Zilgwin membuat tubuh Kanaya seketika menjadi merinding.


"Ta.. Ta.. Tapi kak, aku... Aku... Aku sama sekali belum siap dan tidak tau bagaimana caranya," tanya Kanaya tampak ketakutan sekali.

__ADS_1


"Haha.. Tenang saja. Kamu lupa jika aku ini sudah berpengalaman. Maka dari itu, kamu tenang sana, aku yang akan bekerja sepenuhnya. Kamu cukup tiduran di atas kasur tanpa mengenakan pakian sehelai benang pun. Jangan cemas. Aku sudah berpengalaman tentang masalah itu," jawab Zilgwin menyeringai.


Mendengar ucapan Zilgwin, seketika buku kuduk Kanaya menjadi merinding. Menatap Zilgwin, sama halnya menatap penampakan dengan wajah yang sangat mengerikan.


Kanaya yang tidak berani menatap wajah Zilgwin lagi, hanya bisa berlalu meninggalkan kamar mereka dengan wajah yang tertunduk lusuh.


"Haha.. Ternyata Kanaya lucu juga kalau lagi ketakutan seperti itu," gumam Zilgwin tersenyum.


'Maafkan aku Laura. Aku bukannya mengkhianati mu. Hanya saja aku sengaja melakukannya demi kebaikan Kenzie, putra kita berdua,' batin Zilgwin menatap wajah Laura melalui foto pernikahan mereka yang terpajang di kamar mewah tersebut.


Sementara itu, Kanaya yang sudah berada di dapur tampak tidak fokus dalam melakukan tugas dapurnya.


'Apa aku tidak sedang bermimpi kan?' batin Kanaya memegang dadanya yang masih jedag jedug.


'Nanti malam.. Nanti malam saat itu akan tiba. Aku seperti tidak percaya itu,' batin Kanaya lagi hingga seseorang datang mengejutkannya.


"Kanaya kamu kenapa melamun?" tanya seseorang yang ternyata adalah Talita, mama mertuanya.


"Ma.. Mama.. Tidak.. Kanaya tidak melamun kok ma. Mama mau kemana? Kenapa mama bangunnya pagi sekali?" tanya Kanaya yang tak biasa melihat mertuanya itu bangun sepagi ini.


"Ini, mama mau ke Bandung pagi ini. Kakak papa tengah sakit dan di rawat di rumah sakit saat ini. Tidak enak rasnya jika mama dan papa tidak membesuknya," jawab Talita pamit kepada menantunya itu.


"Oh gitu. Baiklah ma. Mama sama papa hati-hati di jalan ya," ucap Kananya memeluk mertua ya itu.


"Makasih sayang atas perhatian mu. Kalau begitu mama berangkat dulu ya," jawab Talita berbalik arah.

__ADS_1


"Hmmmm ma. Apa Kak Zilgwin sudah mengetahuinya?" tanya Kanaya sebelum mertuanya itu benar-benar pergi.


"Nah itu dia. Mama lupa untuk pamit pada anak itu. Bagaimana jika kamu saja yang mengatakannya kepada Zilgwin?" tanya Talita yang langsung pergi begitu saja.


__ADS_2