Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara

Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara
Bab 145


__ADS_3

"Kak, kakak kenapa? Kakak menangis?" tanya Selin yang tiba-tiba saja sudah berada di hadapan suaminya itu.


"Ah, tidak sayang, aku hanya teringat kepada Gauri. Aku bersyukur sekali mengenalnya dan memiliki anak dari dirinya. Dia wanita yang begitu sempurna, bahkan di saat-saat nafas terakhirnya di dunia ini, dia masih memikirkan kebahagiaan kita semua," jawab Leon tak menutupi rasa kagum dan rindunya kepada Gauri.


***


"Kakak benar, aku juga merasa beruntung sekali karena memiliki kakak seperti kak Gauri. Dia begitu sayang dan perhatian padaku. Mengingatnya, membuatku kembali merindukan semua tentang dirinya," jawab Selin dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Sudah, jangan menangis. Sekarang ada aku yang selalu ada untuk mu. Selin, sepertinya aku sudah mulai mencintaimu. Aku harap, kamu juga mencintaiku, sama seperti aku mencintai mu," ucap Leon membuat jantung Selin berdetak kencang.


"Ka.. Kakak bercanda?" tanya Selin tak percaya.


"Bercanda? Untuk apa hmmm? Aku serius Selin. Aku mencintai mu. Leon Wang ini benar-benar mencintai mu Selin. Kamu telah berhasil menggantikan posisi Gauri di hati ku. Maksudku, kamu berhasil membuat tempat baru yang lebih mendominasi di hatiku. Cintaku padamu, sama seperti cintaku kepada kakak mu Gauri. Kalian, kakak beradik adalah orang yang paling istimewa dalam hidupku," ucap Leon menatap mata istrinya itu.


"Ma.. Makasih kak. Aku juga mencintai mu kak. Meskipun aku sedang belajar, tapi aku akan terus berusaha memupuk rasa itu sedikit demi sedikit," jawab Selin membalas tatapan Leon.


"Makasih sayang. Terima kasih," jawab Leon menciumi lalu memeluk Selin dengan sangat erat.


"Sama-sama kak. Kakak mandi dulu ya. Aku akan siapkan makan untuk kakak," ucap Selin melepas pelukan suaminya itu.


"Nanti dulu sayang. Ikut aku," ujar Leon menarik tangan Selin menuju sofa yang ada di depan tv apartemennya.


Leon merebahkan tubuh Selin lalu menciuminya dan memainkan jemarinya di sekitaran tubuh sang istri.


Sementara Selin yang ternyata juga menginginkannya hanya bisa pasrah menikmati pelayanan dari Leon. Sesekali Selin mendesah sembari mengusap-usap punggung Leon.


Tak butuh lama untuk Leon membuat tubuh Selin terekspos tanpa busana.


Ia kemudian bermain sejenak dengan PYD Selin hingga akhirnya Leon memutuskan untuk memulai permainannya.


Kali ini Selin lebih berani untuk memimpin permainannya. Entah karena nafsu atau karena rasa cinta yang baru di ungkapkan Leon untuknya sehingga Selin lebih berani dan lebih semangat dalam menjalani tugasnya sebagai seorang istri.


Saat Leon hendak keluar, ponselnya tiba-tiba saja berdering.

__ADS_1


Awalnya Leon berusaha untuk pura-pura tidak mendengarnya. Namun sayang, Selin yang tidak mau ada pengganggu dalam waktunya bersama memerintahkan Leon untuk mengangkatnya.


"Dasar Gara, selalu saja merepotkan dan mengganggu hidupku," umpat Leon mengangkat panggilan dari Gara.


"Ada apa?" jawab Leon kesal.


"Leon kamu di mana? Kamu tau, aku di rumah sakit sendirian," jawab Gara berusaha menahan tawanya.


"Aku di rumah, dan aku sudah tau kamu sekarang di rumah sakit. Kamu lupa, bukan kah alu dari sana tadi sore?" jawab Leon kesal.


"Haha... Iya. Iya.. Aku lupa. Maafkan aku. Bagaimana kabar mu Leon? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Gara masih berusaha menahan tawanya.


Ia sengaja mengganggu sahabatnya itu.


"Aku tadinya baik-baik saja, namun setelah kamu menelponnya, aku jadi tidak baik-baik saja," jawab Leon benar-benar kesal.


"Haha.. Maafkan aku Leon. Maafkan aku, mungkin karena perutku di tusuk, jadi aku suka amnesia dadakan," ucap Gara sengaja mengganggu sahabatnya itu.


"Hmmmmm, apa ya? Aku sendiri tidak tau apa tujuan ku menelpon dirimu. Apa mungkin aku amnesia lagi ya?" jawab Gara pura-pura bodoh.


"Aarrgghhh, kamu ini sengaja kan mengganggu ku," teriak Leon frustasi.


"Haha. Aku rasa begitu deh. Ya sudah, maafkan aku. Bagaimana kalau kita melakukan panggilan video biar kamu gak repot-repot memegangi ponsel mu," ucap Gara asal.


"Kamu gila ya. Ini sudah malam Gara, aku mau istirahat. Sudah, aku matikan saja panggilannya," jawab Leon benar-benar kesal kepada sahabatnya itu.


"Dia pasti sengaja menggangguku, dasar laki-laki gak ada akhlak," umpat Leon menaruh ponselnya dan kembali ke pangkuan Selin.


"Ada apa kak?" tanya Selin sembari mengusap kepala Leon.


"Gak ada apa-apa sayang, aku hanya kesal, Gara sengaja menggangguku dengan mengatakan hal yang tidak penting," jawab Leon lalu mencumbui Selin kembali.


Alhasil, Leon kembali memberikan nafkah batin untuk Selin hingga beberapa jam kemudian.

__ADS_1


"Kenapa mas?" tanya Airin yang baru saja tiba di ruangan Gara.


"Ah, gak kenapa-kenapa kok sayang. Kamu kenapa baru datang?" tanya Gara meraih tangan istrinya itu.


"Iya, maaf ya mas, tadi si kembar lumayan rewel, jadinya aku harus menenangkan mereka dulu," jawab Airin mengusap kepala suaminya itu.


"Baiklah, tidak masalah. Airin, besok katakan pada dokternya, aku mau pulang. Aku sudah tidak betah jika harus berlama-lama lagi disini, aku sudah sangat merindukan si kembar. Selain itu, aku jga akan menemui pelaku yang telah membuatku seperti ini," ucap Gara mendesak Airin.


Sementara itu, di kota B, Kamelia sudah selesai dengan ujian kenaikan kelasnya. Hampir seluruh santri dan santriwati telah pulang ke kampung halaman mereka masing-masing karena libur sekolah.


Berbeda dengan Kamelia, karena kehamilannya yang masih terbilang muda, Kamelia pun tidak di izinkan oleh Ustadz Gibran untuk meninggalkan pondok pesantren.


"Halo Bu?" jawab Kamelia melalui panggilan telepon.


"Halo, Kamelia sayang, bukankah kamu sudah libur? Kenapa belum pulang juga ke rumah." tanya Yuni kepada putri semata wayangnya itu.


"Hmmmm kayaknya Kamelia gak pulang Bu, Ibu kan tau sendiri kalau Kamelia lagi hamil muda. Aby gak izinin Bu," jawab Kamelia apa adanya.


"Ya sudah, kalau begitu, biar Ibu saja yang mengulangi mu ke sana. Kamu jaga diri baik-baik ya nak. Jaga kesehatan kamu. Ingat ada nyawa lain yang tengah mengantungkan hidupnya pada dirimu nak," ucap Yuni kepada putrinya itu.


"Baik Bu. Terima kasih," jawab Kamelia lalu menutup panggilan teleponnya.


"Siapa sayang?" tanya Ustadz Gibran yang baru saja masuk ke dalam kamarnya.


"Ibu by. Aby sudah pulang?" jawab Kamelia kembali bertanya.


"Sudah. Oh ya, kamu sudah makan?" tanya Ustadz Gibran membuka pakaiannya dan menggantinya dengan pakaian tidur.


"Sudah by, tapi entah kenapa aku ingin sekali makan sate Padang ampela," jawab Kamelia membayangkan betapa nikmatnya sate tersebut.


"Baiklah, Aby akan mencarikannya untuk mu. Aby yakin, pasti itu kemauan anak kita," jawab Ustadz Gibran mengganti pakaiannya kembali.


"Gak usah by, ini sudah malam. Lebih baik, Aby tidur saja. Kita cari satenya besok saja," jawab Kamelia mencoba mencegah Ustadz Gibran.

__ADS_1


__ADS_2