
Seketika Liona berteriak histeris dan ia mengakui jika dirinya tidak gila berkali-kali.
Sontak polisi dan yang lainnya mengambil kesimpulan jika Liona hanya berpura-pura gila.
***
"Selamat Ibu Liona, anda telah berhasil membuktikan jika anda hanya berpura-pura gila. Dengan begitu, kami akan membawa anda kembali ke kantor polisi untuk melanjutkan proses hukum hang berlaku," ucap polisi tersebut sembari memborgol tangan Liona.
"Tidak.. Aku tidak mau lagi kembali ke tahanan. Aku ini gila pak. Aku ini gila. Haha.. Aku gila pak. Jangan bawa aku ke kantor polisi," ucap Liona berteriak-teriak histeris.
Setelah tiba di kantor polisi, Liona kembali di masukkan ke sel lamanya. Dimana di dalam sel tersebut terdapat napi-napi yang sering memukul dan mengeroyoknya waktu itu.
"Kamu kembali lagi? Apa kamu sudah sembuh dari penyakit gila mu atau akting mu yang berpura-pura gila itu sudah ketahuan. Haha," ejek napi lainnya.
"Diam kamu. Jangan ikut campur," jawab Liona yang belum kapok di keroyok oleh napi-napi itu.
Karena Liona terus saja menjawab, lagi-lagi ia kembali di keroyok oleh napi-napi tersebut.
Aku benar-benar bisa gila jika terus berada di dalam sel ini. Lebih baik aku mati saja. Tak ada gunanya lagi aku hidup," gumam Liona yang meringkuk di sudut sel dengan wajah yang sudah babak belur.
.
.
Beberapa hari kemudian, Lyra masih terus berlatih dengan dokter Dimas. Hingga suatu pagi, Paman Sam sudah mendapati Lyra sudah bisa kembali berjalan seperti biasa.
"Lyra sayang, aku lihat kamu sudah bisa berjalan lagi seperti biasanya. Apa kakimu benar-benar sudah sembuh?" tanya Paman Sam saat melihat Lyra berjalan dengan dua kakinya.
"Sudah. Dokter itu benar-benar hebat, buktinya sekarang aku sudah bisa berjalan seperti biasa lagi," jawab Lyra tersenyum.
Ibu satu anak itu berusaha bersikap sebaik mungkin kepada Paman Sam agar tak ada kecurigaan sama sekali.
"Baguslah. Lalu, apa kamu sudah membaca dan menanda tangani surat perjanjian yang aku buat waktu itu?" tanya Paman Sam sembari mengusap-usap kepala Lyra.
"Aku sudah membaca dan juga menanda tanganinya. Sekarang kamu boleh menanda tangani surat itu dan aku akan menyimpannya untuk jaga-jaga," jawab Lyra memberikan selembar kertas perjanjian kepada Paman Sam.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang, Paman Sam langsung menanda tangani surat perjanjian tersebut dan memberikannya kepada Lyra.
"Simpanlah kertas ini baik-baik. Aku akan menyiapkan pernikahan kita. Aku sudah tidak sabar untuk bermain lagi denganmu seperti dulu sayang," ucap Paman Sam akan mencium Lyra, namun langsung di hindari oleh wanita cantik itu.
Saat Paman Sam akan pergi, tiba-tiba saja pengawalnya masuk dan memberi tahukan jika ada polisi yang mencari dirinya.
"Untuk apa polisi datang menemui ku? Apa karena masalah Liona?" ucap Paman Sam bertanya-tanya.
"Sebaiknya kamu temui saja dulu," jawab Lyra merasakan sesuatu akan terjadi pada laki-laki tampan itu.
"Selamat siang pak Samuel," ucap salah satu polisi tersebut.
"Ya, selamat siang. Silahkan masuk, kita bicara di dalam saja," jawab Paman Sam mempersilahkan polisi itu masuk.
Setibanya di ruang tamu....
"Ada apa ya pak? Apa ini masih berhubungan dengan mantan istri saya Liona?" tanya Paman Sam tak curiga sama sekali.
"Sama sekali bukan pak. Ini tak ada hubungannya sama sekali dengan Ibu Liona. Kami kesini mau membawa bapak ke kantor polisi karena adanya laporan jika bapak menikahi dan menyetubuhi anak kandung bapak sendiri sampai hamil dan masih berada di bawah umur, serta masih berstatus sebagai pelajar. Maka dari itu kami memohon agar bapak bisa ikut kami ke kantor polisi dan bersikap kooperatif," jawab polisi tersebut menjelaskan maksud kedatangannya kepada Paman Sam.
Mendengar penjelasan dari polisi, sontak Paman Sam sangat shock dan terkejut. Ia tak menyangka jika Yuni akan melaporkannya ke pihak yang berwajib.
"Maaf pak. Tapi saya tidak tau jika itu adalah putri kandung saya. Dan kami melakukannya atas dasar suka sama suka," jawab Paman Sam berusaha mengelak.
"Meskipun kalian melakukannya atas dasar suka sama suka, bapak tetap akan kami bawa ke kantor polisi lantaran putri kandung bapak ini masih berada di bawah umur. Untuk selanjutnya, bapak bisa jelaskan nanti di kantor polisi," jawab polisi itu lagi berdiri dan membawa Paman Sam ke dalam mobilnya.
"Samuel menikahi putri kandungnya sendiri? Bagaimana bisa aku di tipu olehnya selama ini?" gumam Lyra shock.
Karena tak dapat lagi mengelak, akhirnya Paman Sam hanya pasrah saat dirinya di jemput oleh pihak polisi. Saat akan meninggalkan rumah itu, dia sempat pamit kepada Lyra terlebih dahulu.
Sementara di kota B, Kamelia yang masih saja belum bisa melupakan Paman Sam, memilih untuk tidak masuk ke sekolah terlebih dahulu. Ia lebih banyak mengurung diri di kamarnya
Tok
Tok
__ADS_1
Tok
"Masuk saja Bu," jawab Kamelia dari dalam kamarnya.
Yuni pun membuka pintu dan duduk di tepi ranjang sebelah putrinya.
"Kamelia Ibu mau bicara padamu," ucap Yuni mengusap pucuk kepala putrinya.
"Bicara apa Bu?" tanya Kamelia mengangkat kepalanya.
"Begini nak. Rumah yang di berikan Samuel itu sudah yang berniat untuk membelinya.
Jika kamu setuju, kita akan jual rumah itu dan membeli rumah baru lagi. Jika uangnya masih bersisa, Ibu akan menggunakan uang itu untuk membuka modal usaha," jelas Yuni kepada Kamelia.
"Baik Bu. Kamelia setuju," jawab Kamelia masih saja murung dan tak seperti biasanya.
"Terima kasih nak," ucap Yuni memeluk putrinya.
"Kamelia," panggil Yuni lagi saat ia masih memeluk putrinya itu.
"Ya Bu," jawab Kamelia singkat.
"Kamu kenapa? Apa masih memikirkan Samuel?" tanya Yuni mengusap kepala putrinya.
"Engga kok Bu. Kamelia hanya kangen ke sekolah. Tapi perut Kamelia masih tidak enak Bu rasanya," ucap Kamelia berbohong.
"Kamelia sayang, Ibu ini adalah orang tua yang melahirkan kamu nak, jadi Ibu tau kapan kamu berbohong dan tidak berbohong. Sekarang ceritakan, ada apa nak? Hmmmm?" tanya Yuni mempererat pelukannya kepada Kamelia.
"Maafkan Kamelia Bu. Tapi Kamelia masih terpikirkan dia. Apa yang harus Kamelia lakukan Bu?" jawab Kamelia menangis.
"Huhhh.. Sayang, bagaimana kalau kamu menenangkan dirimu dulu. Kamu mau gak masuk ke pesantren gitu, biar kamu lebih fokus sama diri kamu sendiri dan sama agama kamu. Di sana kamu bisa fokus, minta ampun dan menjadi Kamelia yang lebih baik lagi," ucap Yuni memberi saran kepada putrinya.
"Pesantren?" tanya Kamelia tertarik.
"Iya, pesantren, gimana? Kamu mau?" tanya Yuni memegang kedua pipi anaknya.
__ADS_1
"Hmmmm, mau. Kamelia mau Bu. Semoga saja Kamelia bisa melupakannya dan menjadi Kamelia yang lebih baik lagi," jawab Kamelia tersenyum.
"Baik, kalau begitu besok Ibu akan mendaftarkan kamu di pesantren. Semoga betah ya nak," ucap Yuni memeluk putrinya lagi.