Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara

Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara
Bab 76


__ADS_3

"Maaf pak. Untuk sekarang belum. Tunggulah beberapa saat lagi, setelah kami memindahkannya ke ruangan rawat inap," jawab dokter tersebut kemudian berlalu meninggalkan Gara dan yang lainnya.


***


Bersusah payah Gara untuk sabar menunggu Airin di pindahkan ke ruang rawat inapnya, hingga akhirnya kesabarannya itu berbuah manis.


Saat Gara hampir tertidur di bangku rumah sakit tersebut, para tim medis keluar untuk memindahkan Airin ke ruangannya.


"Airin sayang," ucap Gara saat melihat sang istri yang tengah di dorong menggunakan brankar tersebut.


Airin yang sudah sadarkan diri, namun masih dalam keadaan lemah, hanya menatap sang suami dengan tatapan sayu dan sedikit senyum di bibir pucat nya.


Gara dan yang lainnya terus mengiringi Airin hingga dia tiba di ruangan VVIP yang telah di persiapkan sebelumnya.


"Hmmm pak, saat ini Ibu Airin masih dalam pengaruh obat bius. Untuk sementara, biarkan beliau istirahat dulu. Nanti jika Ibu Airin sudah sadar sepenuhnya, pihak keluarga boleh menemuinya, namun tidak boleh banyak-banyak," jelas dokter kepada Gara dan yang lainnya.


"Baik dokter, kalau begitu, apa saya boleh menemani istri saya di ruangan ini?" tanya Gara berharap.


"Boleh saja. Tapi jangan sampai mengganggu istirahatnya. Kalau begitu saya permisi dulu," jawab dokter kemudian pergi meninggalkan Gara dan yang lainnya.


Demi kenyamanan Airin, semua anggota keluarga lainnya, kecuali Gara, mulai meninggalkan ruang rawat itu satu persatu.


Gara kemudian mulai duduk di kursi sebelah ranjang Airin dan menatap lama wanitanya itu.


Pikirannya melayang ke sana ke mari saat mengingat detik-detik Airin melahirkan anak-anakknya hingga ia istrinya itu dinyatakan meninggal oleh sang dokter yang menanganinya.


Tak terasa air matanya kembali menetes mengenai lengan sang istri. Mantan cassanova itu benar-benar takut untuk kehilangan wanita yang sangat ia cintai itu.


Lama bermain dengan pikirannya, Gara pun terlelap sembari duduk di sebelah sang istri.


.


.

__ADS_1


Sementara itu, Paman Sam dan Liona yang mendapatkan kabar jika Airin telah melahirkan. Tak hanya itu, Emanuel juga memberi tahukan nyawa Airin tidak bisa di selamatkan. Sontak pasangan suami istri itu langsung menuju rumah sakit khusus bersalin tersebut untuk menemui keluarganya yang sedang berduka.


Liona begitu senang sekali saat mengetahui Airin tak dapat di selamatkan lagi.


Dengan menggunakan pakaian serba hitam sebagai bentuk belasungkawa, ia dengan semangat menemani sang suami untuk pergi ke rumah sakit.


'Syukurlah kalau wanita sialan itu telah mati. Dengan begitu, aku bisa merebut kembali cinta Gara yang sudah di rampas dariku,' batin Liona tersenyum licik.


Tidak beberapa lama kemudian, Paman Sam dan Liona tiba di rumah sakit dimana Airin dan yang lainnya berada.


Dengan air mata palsu, ia sengaja menangis bombai untuk menarik simpati semua orang.


"Mba, saya turut berduka cita atas berpulangnya Airin menantu mba. Saya benar-benar tidak menyangka jika ia akan pergi meninggalkan kita secepat ini. Jika mba gak keberatan, saya dan mas Samuel siap untuk merawat si kembar. Kami akan menjadikan dia sebagai anak kandung kami sendiri," ucap Liona dengan wajah yang berpura-pura sedih.


"Kamu bicara apa Liona. Airin masih hidup dan dia belum meninggal," jawab Lena tidak suka.


"Saya tau mba sangat menyayangi menantu mba itu, tapi ini sudah takdir yang maha kuasa. Mba harus menerimanya dengan lapang dada jika Airin sudah tiada," balas Liona masih melanjutkan aktingnya.


"Liona kamu bicara apa. Tadinya dokter memang menyatakan jika Airin telah meninggal, namun beberapa saat kemudian, Airin hidup kembali dan sekarang dia sudah di pindahkan ke ruangan rawat inap," ujar Lena membuat Liona kaget bukan main.


"Ya, Airin hidup kembali. Ini semua adalah mukjizat," jawab Lena dengan aura bahagia yang terpancar.


"Syukurlah Mba kalau begitu. Aku juga senang mendengarnya. Terus si kembar mana? Aku sudah tidak sabar melihat cucuku itu," ucap Paman Sam ikut bahagia.


'Apa? Wanita itu tidak jadi mati? Kenapa dia bisa seberuntung ini sih?' umpat Liona kesal. Pupus sudah harapannya untuk merebut Gara kembali.


"Mereka masih di ruang perinatologi, doakan saja menantuku itu cepat pulih kembali, sehingga kita bisa bertemu dengan si kembar secepatnya," jawab Lena antusias.


"Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untuknya," jawab Paman Sam membuat Liona muak.


"Gara mana mba? Kenapa aku tidak melihatnya sedari tadi?" tanya Liona mengalihkan pembicaraan mereka.


"Gara ada di dalam bersama istrinya

__ADS_1


Ya sudah, kalau begitu, mba mau ke kantin dulu. Lapar soalnya," pamit Lena kepada Sam dan juga Liona.


Di belahan dunia lainnya, saat ini Leon tengah tegang menunggu dokter yang sedang melakukan pemeriksaan terhadap Gauri. Pasalnya, saat Gauri tengah menikmati sarapan paginya bersama Leon dan juga Clara, tiba-tiba saja, wanita itu diam tak sadarkan diri. Seketika Leon langsung panik dan segera memanggil dokter.


Beberapa saat kemudian, dokter pun keluar dan Leon segera menghampiri dokter tersebut untuk meminta penjelasan.


"Bagaimana keadaannya dokter? Apa yang terjadi?" tanya Leon panik.


"Keadaannya saat ini tidaklah baik. Besok adalah jadwal kemoterapi nya. Saya sarankan untuk menjaga suasana hati pasien agar tidak merasa terbebani," jelas dokter tersebut lalu pergi meninggalkan Leon yang masih berdiri mematung di depan ruangan Gauri.


Setelah kepergian dokter tersebut, Leon kemudian masuk dan melihat istrinya itu tengah terbaring lemah.


Ia kemudian menghampiri dan mencium sekilas kening sang istri.


"Clara mana?" tanya Gauri dengan suara pelan dan lemah.


"Clara ada di taman bersama adikmu. Kamu jangan memikirkan apa-apa dulu. Fokuslah untuk kesembuhan mu. Dokter mengatakan, jika besok adalah jadwal kemoterapi mu. Ingat, kamu harus semangat demi aku dan juga Clara. Aku mencintaimu," jawab Leon mencium kening Gauri.


Tiba-tiba saja, wanita itu menitikkan air matanya. Air mata yang membuat Leon merasakan sakit yang teramat sangat di hatinya.


"Jangan menangis. Aku tidak sanggup melihatnya. Kita jalani saja semua ini sesuai alurnya. Aku yakin kamu pasti kuat," ucap Leon yang sudah tidak bisa menahan tangisnya.


Baru kali ini Gauri melihat Leon menangis tersedu-sedu seperti itu. Leon yang biasanya suka bercanda dan periang itu, ternyata punya sisi lain yang semua orang tidak mengetahuinya.


"Aku hanya takut Leon. Aku takut, jika aku tidak sadarkan diri untuk selamanya," ucap Gauri menangis tersedu-sedu.


"Aku mohon jangan katakan itu. Aku terlalu lemah untuk mendengarkannya. Aku belum siap jika harus kehilanganmu lagi Gauri. Kamu harus yakin untuk kesembuhan mu. Aku janji, jika kamu sembuh nanti, kita akan buat adik yang banyak untuk Clara," ucap Leon seketika membuat Gauri tertawa di dalam tangisannya.


"Haha.. Leon, bagaimana caranya kamu masih bisa memikirkan untuk membuat adik yang banyak untuk Clara," tanya Gauri tertawa sambil menangis.


"Mudah saja. Aku selalu mengingat saat kita melakukannya pertama kali waktu itu. Waktu dimana kamu masih sehat dan ceria. Aku ingin kamu sembuh dan kita akan melakukannya berkali-kali dalam sehari," jawab Leon tersenyum.


"Ihhh Leon.. Jangan katakan itu. Aku malu," balas Gauri menutupi wajahnya.

__ADS_1


'Aku senang melihatmu tertawa seperti ini lagi Gauri. Aku hanya bisa berharap kamu di beri umur yang panjang oleh yang maha kuasa,' batin Leon menatap istrinya itu.


__ADS_2