
Ia segera menarik Kanaya dan membawanya ikut berlari menuju pesawat yang akan membawanya terbang ke Sidney. Begitu juga dengan Bagas yang juga setengah berlari menuju pesawat yang ternyata sama dengan pesawat yang di tumpangi Kanaya dan juga Zilgwin.
***
"Nay, kamu naik pesawat ini juga?" tanya Bagas saat mereka sudah tiba di dalam kabin pesawat.
"Iya, kamu juga?" balas Kanaya balik bertanya.
"Iya, kebetulan aku ada kunjungan kerja ke salah satu kantor cabang yang ada di Sidney," jawab Bagas menatap Kanaya dengan penuh rasa cinta.
Sadar istrinya disukai seseorang, Zilgwin pun langsung meminta Kanaya untuk segera duduk dan beristirahat. Zilgwin nampak cemburu sekali. Hatinya sakit saat Kanaya bicara dengan Bagas, karena ia tau jika Bagas sudah lama mencintai Kanaya.
"Nay," panggil Zilgwin saat mereka sudah duduk di tempatnya masing-masing.
"Ya, ada apa kak?" tanya Kanaya sembari memasang sabuk pengamannya.
"Kelihatannya kamu senang sekali bertemu dengan Bagas. Apa itu benar?" tanya Zilgwin dengan tatapan matanya menatap lurus ke depan.
"Kok kakak tau sih? Emang kelihatan ya?" jawab Kanaya polos. Ia tak sadar jika saat ini Zilgwin tengah cemburu buta.
"Ya sudah, kenapa tidak duduk dengan dia saja?" ucap Zilgwin yang saat ini darahnya tengah mendidih karena cemburu.
"Kenapa harus duduk dengan dia sih kak? Aku kan perginya sama kakak, bukan sama Bagas," jawab Kanaya santai.
"Nay, kamu tau kan, jika Bagas itu sudah lama mencintaimu?" tanya Zilgwin yang benar-benar merasa jengkel kepada istrinya itu.
"Tau. Aku sudah lama tau tentang masalah itu. Bahkan, Bagas sudah sering mengatakannya berkali-kali padaku," jawab Kanaya menjawab apa adanya.
'Sial, kenapa hati gue sakit begini sih?' batin Zilgwin meremas bantal kecil yang ia pegang.
"Lalu kamu menjawab apa?" tanya Zilgwin lagi. Sebenarnya Zilgwin sudah tidak sanggup lagi untuk melanjutkan pembicaraannya, namun Zilgwin juga penasaran mengenai hubungan dan perasaan Kanaya terhadapnya.
"Aku menjawab apa adanya saja," balas Kanaya semakin membuat Zilgwin penasaran.
"Apa adanya?" Zilgwin balik bertanya. Ia berharap Kanaya tidak memiliki perasaan yang sama kepada Bagas.
"Ya, apa adanya. Aku menolak cintanya, karena aku tidak pernah mencintainya," jawab Kanaya membuat perasaan Zilgwin seketika merasa lega.
__ADS_1
"Benarkah? Benarkah kamu tidak mencintai si Bagas itu?" tanya Zilgwin sumringah. Ia senang sekali saat Kanaya mengatakan jika ia tidak pernah mencintai Bagas.
"Ya, untuk apa aku berbohong. Memang kenapa sih kak? Tumben..," ucap Kanaya sembari memejamkan matanya.
"Baiklah, aku percaya sama kamu. Ya sudah, sekarang kamu tidur saja. Nanti, setelah tiba di Sidney, aku akan membangunkan mu lagi," ujar Zilgwin membawa Kanaya ke dalam pelukannya. Tak lama setelah itu, Zilgwin juga ikut tertidur di sebelah istrinya itu.
Beberapa jam kemudian, pesawat yang di tumpangi Kanaya dan Zilgwin pun akhirnya berhasil mendarat di bandara sana. Ia kemudian membangunkan Kanaya untuk segera turun dari pesawat tersebut.
Sedari tadi, Zilgwin dibuat kesal oleh Bagas yang selalu mengekori dirinya dan juga Kanaya.
'Dasar laki-laki gak ada otak. Gak liat apa, Kanaya udah risih kayak gitu,' batin Zilgwin kesal.
"Hmmmm, Kanaya, kita pisah disini ya. Kapan-kapan aku akan main ke rumah mu.
Oh ya, sekali lagi selamat ya atas pernikahan kalian," ucap Bagas yang baru mengetahui jika Kanaya dan Zilgwin adalah sepasang suami istri.
"Baik. Kalau gitu hati-hati di jalan," balas Kanaya melambaikan tangannya.
"Kanaya sudah, ayo masuk ke mobil," perintah Zilgwin kesal.
"Kakak kenapa?" tanya Kanaya yang sedari tadi melihat wajah Zilgwin tidak bersahabat.
"Kakak marah?" tanya Kanaya lagi.
"Tidak," singkat Zilgwin seperti anak kecil.
"Lalu?" tanya Kanaya menaikkan satu alisnya.
"Lalu apa? Aku hanya ilfil melihat teman mu si Bagas itu," jawab Zilgwin merajuk seperti anak kecil.
"Haha.. Kakak cemburu?" tanya Kanaya kelepasan. Tawanya seketika pecah dikala melihat Zilgwin memperlihatkan kecemburuannya.
Karena tawa renyah Kanaya, Zilgwin pun langsung menatap Kanaya dengan tatapan tajam dan juga dinginnya. Seketika, Kanaya di buat langsung terdiam dan tertunduk.
"Maaf," ucap Kanaya pelan.
Sepanjang perjalanan ke hotel, mereka hanya diam tak bergeming. Kanaya dan Zilgwin larut dalam pikirannya masing-masing.
__ADS_1
Satu setengah jam kemudian, mobil jemputan yang mereka tumpangi pun tiba di sebuah hotel. Hotel yang tidak terlalu jauh dari kota.
Lee sengaja memilih hotel tersebut karena ia tau jika Zilgwin sudah bosan dengan gedung-gedung tinggi dan juga keramaian kota.
Kanaya langsung menghempaskan tubuhnya di kasur empuk kamar hotel tersebut.
Ia begitu lelah setelah hampir seharian terbang karena ada beberapa kendala pada jadwal penerbangannya.
"Nay, kamu mandi dulu, baru tidur," perintah Zilgwin sembari membuka pakaiannya dan bersiap-siap untuk mandi.
"Nay?" panggil Zilgwin, namun tak ada jawaban dari wanita cantik itu.
"Kanaya kamu budeg kah?" ucap Zilgwin lagi sembari menoleh ke arah Kanaya rebahan.
"Yah, dia tidur. Kasihan sekali kamu Nay, pasti kamu lelah sekali," ucap Zilgwin merapikan posisi tidur Kanaya lalu beranjak ke kamar mandi.
Keesokan paginya, seperti biasa, Kanaya sudah bangun terlebih dahulu. Ia kemudian mandi, lalu menyiapkan pakaian Zilgwin. Hari ini, Zilgwin akan mengadakan pertemuan dengan kliennya.
"Kak buruan bangun. Bukankah hari ini akan ada pertemuan penting?" ucap Kanaya mengguncang tubuh Zilgwin.
"Baiklah, aku sudah bangun. Apa kamu sudah menyiapkan semua keperluanku?" tanya Zilgwin masih dengan mata tertutup.
"Sudah, semuanya sudah selesai dari tadi," jawab Kanaya masih mengguncang tubuh Zilgwin.
Tak beberapa lama kemudian, Zilgwin pun akhirnya bangun dan bergegas ke kamar mandi.
"Kamu sudah siap?" tanya Zilgwin saat ia baru saja keluar dari kamar mandi.
"Siap? Memangnya aku mau kemana?" Kanaya yang heran kemudian bertanya lagi.
"Kamu akan ikut denganku. Kalau kamu disini, kamu pasti akan kesepian," jawab Zilgwin mengganti pakaiannya di hadapan Kanaya, sehingga membuat Kanaya sedikit merasa risih dan juga malu.
"Ti. tidak usah kak. Aku disini saja. Suasananya indah dan juga lumayan asri.
"Tapi bagaimana jika kamu hilang?" tanya Zilgwin seperti anak kecil.
"Haha, aku ini susah besar kak. Siapa yang mau menculik ku. Kakak pergi saja, aku janji gak akan keluar dan pergi kemana-manapun sebelum kakak pulang," jawab Kanaya mengangkat dua jarinya.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu tepati janjimu. Aku akan langsung pulang secepatnya setelah pekerjaan ku selesai," ucap Zilgwin akhirnya mengalah.
"Baiklah. Aku akan menunggu. Kalau begitu berangkatlah, di dalam tas kakak, sudah aku siapkan bekal makanannya," ujar Kanaya lalu mengambil handuk basah yang dibiarkan begitu saja di atas ranjang mereka .