
Setelah berbincang dengan Ibu Zaki, Gara pun langsung masuk ke kamarnya setelah melewati beberapa anak tangga.
Saat ia baru saja masuk, imannya kembali tergoda oleh Airin yang baru saja selesai mandi dan hanya menggunakan ****** ***** dan juga bra. Ia tampak membelakangi Gara karena sibuk memilih baju dari dalam lemari.
"Aduh, junior sabar ya. Ini ujian," ucap Gara pelan menghembuskan nafasnya kasar lalu berjalan masuk menghampiri Airin.
***
Gara hanya diam berdiri tanpa mengeluarkan sepatah katapun hingga Airin berbalik dan Airin sangat-sangat kaget.
"Aaaaaaaa," pekik Airin kaget yang tangannya otomatis langsung menampar pipi Gara dan langsung setengah berlari menutupi tubuhnya menggunakan selimut yang ada di atas ranjangnya.
"Aaaaawwww sssakiitt," ucap Gara memegangi pipinya yang terasa panas karena tamparan dari Airin.
"Kamu ngegangetin aku saja mas. Ngapain sih berdiri di belakang tapi gak bilang-bilang?" tanya Airin kesal masih menutupi seluruh tubuhnya menggunakan selimut.
"Aku... Aku tadinya mau meluk kamu sayang, tapi aku takut dan juga ragu," jawab Gara menggaruk kepalanya yang tak gatal tersebut.
"Memelukku? Buat apa?" tanya Airin masih belum paham.
"Buat.. Buat meminta jatahku," jawab Gara gugup.
"Jatah? Maksudmu jatah itu?" tanya Airin sambil menunjuk junior Gara yang sudah berdiri tegak.
"I.. Iya.. Semalam kan kita tidak jadi melakukannya," jawab Gara dengan malu-malu di dekat lemari kamarnya itu.
Airin pun terdiam untuk beberapa saat. Ia mencoba menimang-nimang hatinya dan juga permintaan Gara.
'Cepat atau lambat, aku pasti akan melayaninya. Lagian, alangkah berdosa nya aku karena telah mangkir dari tugasku sebagai istri. Tapi.. Tapi aku sama sekali belum mencintainya? Bagaimana ini?" batin Airin berkecamuk.
"Airin, jika kamu belum siapa tidak apa kok. Kita bisa melakukannya lain kali saja," ucap Gara terpaksa mengalah. Ia takut jika Airin akan kembali marah kepadanya.
__ADS_1
"Tidak.. Tidak.. Kamu boleh mengambil hak mu itu sekarang juga mas. Aku siap melayani mu sebagai seorang istri," jawab Airin cepat, sehingga membuat Gara membelalakkan matanya tak percaya.
"Ka..Kamu yakin sayang," jawab Gara sembari berjalan mendekati Airin.
"I.. Iya aku yakin. Tapi pelan-pelan saja," jawab Airin menundukkan kepalanya karena saat ini pipinya sudah merah merona karena malu.
Tak bisa di pungkiri, detak jantung kedua pasangan suami istri ini berdetak sangat cepat. Nafas nya sesak saling memburu satu sama lain. Ada perasaan gugup dan canggung yang membuat mereka candu.
Karena sudah tidak sabar lagi, tanpa embel-embel tatap-tatapan satu sama lainnya, Gara pun mulai mencumbui bibir Airin dengan lahap. Ia lupa jika Airin itu adalah manusia yang butuh bernafas juga.
Entah karena nafsu yang sudah lama tidak tersalurkan, atau karena Gara nya saja yang sangat bersemangat, Airin jadi sesak dan susah untuk bernafas.
Berkali-kali Airin mencoba melepaskan ciuman itu, namun Gara terus saja menciumnya dan **********.
Airin pun akhirnya mencubit pinggang Gara dam seketika itu juga Gara berhenti dan melepas ciumannya.
"Apa kamu mau membuatku dan anakku mati karena kehabisan nafas mas?" tanya Airin menatap Gara tajam, sedangkan saat ini selimut yang menutupi tubuhnya sudah mulai terlepas dari tubuh Airin, dan hanya menyisakan b*a merah dengan renda putih beserta CD yang senada dengan b*a tersebut.
"Maaf sayang. Maklum, aku sudah lama tidak melakukannya. Jadi aku sangat semangat sekali, apalagi melakukannya bersamamu," jawab Gara dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Iya sayang," ucap Gara yang langsung menciumi bibir Airin dengan lembut. Saat ini Gara lebih bisa mengontrol emosi dan hawa nafsunya.
Ia kembali menciumi Airin dengan lembut dan tenang. Puas bermain dengan bibir sang istri, Gara kemudian berpindah ke leher jenjang milik istrinya. Laki-laki itu mulai mengeluarkan kepiawaiannya sebagai seorang cassanova. Ia benar-benar membawa Airin terbang ke atas awan dan merasakan nikmatnya surga dunia, meskipun junior Gara belum masuk ke dalam tempat dimana seharusnya ia berada.
Tangannya mulai bermain di bagian dada Airin, hang ukurannya kini kian bertambah besar seiring usia kehamilannya.
Puas memberikan pelayanan kepada Airin, Gara yang hendak membuka pakaian miliknya, tiba-tiba saja pintu kamarnya diketuk oleh seseorang dari luar.
Sontak Gara sangat kesal dan juga dongkol dengan gangguan yang membuat ia terpaksa harus mengakhiri permainan panas yang selama ini sudah ia tunggu-tunggu.
"Mas itu di luar ada orang. Bukain dulu gih," ucap Airin menyuruh Gara.
__ADS_1
"Biarkan saja sayang," ucap Gara kembali mencium dan meremas daging Airin dan menghiraukan ketukan pintu yang semakin lama semakin keras tersebut.
"Gara.. Airin..," ucap suara dari balik pintu kamar Gara diiringi ketukan yang semakin keras.
"Sial, itu si Leon ngapain lagi sih. Gak tau apa orang lagi sibuk apa," umpat Gara yang mulai terganggu dengan ketukan dan suara tersebut.
"Sudah, bukakan saja pintunya. Siapa tau itu penting," ujar Airin mulai beranjak meninggalkan kamar mandi.
"Tapi sayang," jawab Gara terputus dan mengusap kasar wajahnya.
"Kita bisa mengulanginya nanti malam kan?" balas Airin berhenti sesaat menatap Gara, lalu masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya.
Sedangkan Gara dengan kesal, kembali memungut celana dan bajunya, lalu memasangnya kembali, dan berjalan membukakan pintu untuk Leon tang sedari tadi mengetuk pintu kamarnya.
"Kau.. Ada apa sih Leon?" tanya Gara dengan wajah yang kusut dan mata berapi-api menatap Leon.
"Kenapa kau marah dan menatapku seperti itu sih? Memang aku salah apa?" tanya Leon tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Kau masih bertanya apa salah mu haa?" tanya Gara kesal.
"Ya jelaslah aku bertanya. Memang aku salah apa? kenapa kau bisa marah seperti ini?" jawab Leon kembali bertanya.
"Arrggghh, Leon kau tau, setelah penantian panjang ku, aku baru saja akan memulainya dengan Airin, aku bahagia sekali, tapi kau... Kau tiba-tiba datang menggedor-gedor pintu kamarku dan akhirnya berantakan seperti ini," jawab Gara kesal.
"Oo ow.. Maafkan aku Gara, aku.. Aku benar-benar tidak tau. Lagian kenapa kau melakukannya di siang bolong seperti ini? Jadi ini bukan salahku," ucap Leon kini mengerti kenapa Gara bisa sekesal itu padanya.
"Hai, kenapa kau malah balik menyalahkan ku? Suka-suka ku dong mau melakukannya kapan saja. Ini rumahku dan ini kamarku. Kau nya saja yang tidak ada otaknya," jawab Gara kesal.
"Haha.. Ya sudah.. Kalau begitu aku minta maaf. Jangan marah dong. Kau kan bisa melakukannya kapanpun kau mau," jawab Leon enteng.
"Apa? Kau bilang kapanpun aku mau? Kau tau, susah sekali untuk merayu istri kecilku itu. Dia itu berbeda dengan wanita-wanita di luaran sana," balas Gara masih dengan raut muka yang masam dan kesal.
__ADS_1
"Lalu apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus memutar waktu kembali, atau aku yang harus menggantikan mu di dalam sana?" jawab Leon membuat Gara membelalakkan matanya.
"Apa maksudmu? Kau mau menggantikan aku? Hmmm? Enak sekali kau bicaranya," jawab Gara kembali berapi-api. Ia paling tidak suka jika ada laki-laki yang menurutnya akan merebut Airin dari dirinya.