Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara

Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara
Bab 41


__ADS_3

Akhirnya dengan sangat terpaksa Gara pun menuruti permintaan Airin.


Ia mulai membuka maskernya dan memakan buah muda itu dengan sangat-sangat terpaksa.


Para pengawal dan asisten rumah tangga itu hanya bisa berbisik satu sama lainnya melihat Gara yang menurut mereka sangat mencintai dan bucin terhadap Airin.


***


"Airin sudah ya.. Aku sudah tidak sanggup lagi," ucap Gara menyerah.


Saat Airin akan menjawab perkataan Gara, tiba-tiba Leon datang dengan membawa seorang bayi kecil yang sangat cantik dan gembul.


"Tuan Leon?" ucap Airin yang menyapa Leon yang berjalan ke arahnya.


Seketika Gara melihat ke arah Leon, dan Leon pun terheran melihat Gara yang masih memegangi biji durian muda di tangannya.


"Apa kau sekarang lagi mengidam makan durian muda?" tanya Leon mengangkat satu alisnya.


"Diam kau. Ngomong-ngomong anak siapa ini yang kau culik?" tanya Gara berjalan ke wastafel untuk mencuci tangannya.


"Iya.. Itu anak siapa?" tanya Airin penasaran. Ia beranjak sari duduknya dan mendekati bayi gembul yang ada di dalam pangkuan Leon.


"Ini anakku. Namanya Clara," jawab Leon memperkenalkan putri kecilnya.


"Anak tuan? Kapan tuan menikah? Dan mana Ibunya?" tanya Airin penasaran.


"Ibunya sedang pergi ke luar negri. Mulai sekarang dia akan tunggal bersamaku," jawab Leon menutupi keburukannya.


"Oh ya.. Tapi apa tuan bisa mengurus bayi gembul ini?" tanya Airin menaikkan satu alisnya.


"Bi.. Bisa dong. Kenapa tidak. Aku ini kan Dady nya," jawab Leon sombong.


"Ohh ya sudah. Kalau begitu apakah tuan sudah membawa diapernya?" tanya Airin tersenyum.


"Apa itu?" tanya Leon benar-benar tidak tau.


"Itu loh, popoknya. Kelihatannya anak tuan buang air besar deh," jawab Airin membuat Leon terkejut.


"A.. Apa? Buang air besar?" tanya Leon kemudian melihat isi dalam popok anaknya.


"Bagaimana Leon? Apa anakmu benar-benar buang air besar? Kalau memang iya, silahkan ganti dulu," tanya Gara tersenyum.

__ADS_1


"Astaga.. Pantas dari tadi aku mencium bau yang tidak enak. Lalu, apa yang harus aku lakukan?" tanya Leon panik.


"Haha.. Tuan.. Tuan.. Sini bawa anak itu padaku. Tuan bisa membeli popoknya ke supermaket yang ada di unung jalan ini," ucap Airin mengambil Clara dari gendongan Leon.


Sementara Leon pergi membelikan popok untuk anaknya, Airin yang sedang mengasuh Clara, terlihat terhibur dengan adanya bayi gembul itu. Gara kemudian berencana akan menyuruh Leon dan anaknya untuk tinggal bersama Airin hingga bayi Airin dan Gara lahir beberapa bulan lagi.


"Apa kamu menyukai anak ini?" tanya Gara memperhatikan Airin.


"Ya.. Aku suka sekali. Apalagi dia sangat gembul seperti ini," jawab Airin gemas.


"Apa kau merasa terhibur?" tanya Gara lagi.


"Ya.. Kau tau, aku suka sekali anak-anak," jawab Airin tanpa menoleh ke arah Gara.


"Baiklah, kalau begitu aku akan menyuruh Gara dan bayinya tinggal disini agar kau bisa bermain dengan Clara," ucap Gara membuat Airin seketika langsung menoleh ke arahnya.


"Kau serius?" tanya Airin tak percaya.


"Ya.. Tapi kau tak boleh sampai kecapean," jawab Leon memberi syarat.


"Aaaaa.. Makasih. Aku janji tak akan capek-capek," jawab Airin kegirangan.


"Airin?" panggil Gara serius.


"Ya," jawab Airin tanpa melihat ke arah Gara.


"Aku juga mau di cium seperti itu," jawab Gara membuat Airin lagi-lagi menatapnya tajam.


"Kau mau dicium juga?" tanya Airin menatap Gara dingin.


"I... Iya.. Kalau kau tak keberatan," jawab Gara takut.


"Baiklah. Aku akan mencium mu jika kita resmi menikah," jawab Airin membuat Gara membelalakkan matanya.


"Me..menikah?" tanya Gara memastikan pendengarannya.


"Ya. Kenapa? Kau tak mau? Aku sama sekali tidak keberatan jika kau tidak mau. Biar kucari saja laki-laki lain yang mau menikah denganku" jawab Airin santai.


"Eh.. Siapa bilang aku tidak mau. Aku mau kok. Bahkan sangat mau. Kau tidak boleh mencari laki-laki lain," jawab Gara yang ketakutan jika Airin menikah dengan laki-laki lain.


"Oh. Kirain kau tidak mau," balas Airin kembali menciumi Clara.

__ADS_1


"Kapan kita akan menikah?" tanya Gara serius.


"Lebih cepat lebih baik," jawab Airin yang masih fokus dengan Clara.


"Kau.. Kau tidak bercanda?" tanya Gara memastikan apa yang Airin katakan padanya barusan.


"Iya tuan Gara Emanuel," jawab Airin dengan menaikkan sedikit suaranya.


"Yes.. Yes.. Yes.. Baik, kalau begitu besok aku akan menikahi mu," ucap Gara melompat kegirangan.


"A.. Apa.. Besok?" tanya Airin kaget.


"Ya.. Bukannya kau mengatakan lebih cepat lebih baik?" jawab Gara balik bertanya.


"Ya gak harus besok juga tuan. Aku harus memberi tahukan kepada kedua orang tuaku dulu," jawab Airin membuat Gara Gara berpikir sejenak.


"Baik kalau begitu besok aku akan menemui keluargamu dan membawanya kesini," ucap Gara membuat mata Airin berkaca-kaca.


"Tapi, apa mereka mau datang ke acara pernikahanku?" ucap Airin mengingat kedua orang tuanya yang kecewa atas kelakuannya.


"Kau tenang saja. Aku yakin mereka akan mau memaafkan mu," ucap Gara menatap Airin.


Beberapa saat mereka saling diam dan larut dalam pikiran mereka masing-masing.


Tiba-tiba saja Gara menayakan hal yang membuat Airin benar-benar meneteskan air matanya.


"Kalau boleh aku tau, kenapa kau menjual keperawananmu waktu itu?" tanya Gara di saat semua pelayan dan pengawal telah pergi dari dapur rumah tersebut.


"Jika aku mengatakannya, apa kau akan memperayaiku?" jawab Airin yang sempat diam beberapa saat.


"Airin, aku ini calon suamimu. Apapun yang kau katakan, aku akan mempercayaimu. Kau tau, aku mau menikahimu bukan karena tanggung jawabku kepada si kembar yang masih kau kandung, tapi karena rasa cinta yang sudah mulai tumbuh di dalam hatiku," jawab Gara menatap Airin dalam.


Mendengar pengakuan Gara, Airin kembali meneteskan air matanya. Ia kemudian menatap Gara dalam seperti mencati sebuah kejujuran dari diri laki-laki tampan yang bersedia membeli kesuciannya waktu itu.


"Aku sama sekali tudak berniat untuk menjual kesucianku waktu itu. Tapi waktu itu aku benar-benar kesulitan dalam keuangan. Ayahku sakit dan harus di operasi, dan saat itu Pak Yuta memanggilku ke ruangannya dan menyuruhku untuk menemanimu satu malam penuh agar aku bisa mendapatka uang untuk biaya operasi Ayahku. Karena aku benar-benar membutuhkannya, akupun menyetujui tawaran Pak Yuta waktu itu," jelas Airin dengan suara tersedu-sedu sesekali menciumi Clara, putri kandung Leon.


"A.. Apa? Jadi kau menjual kesucianmu untuk biaya operasi Ayahmu? Lalu kenapa kau bisa di usir dari kampung halamanmu?" tanya Gara membuat Airin kaget.


"Kau tau dari mana aku di usir dari kampung halamanku?" tanya Airin penasaran.


"Aku tau, karena waktu itu aku mencarimu ke kampung halamanmu dihari kau di usir oleh warga sana," jawab Gara membuat Airin tak percaya.

__ADS_1


__ADS_2