Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara

Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara
Bab 85


__ADS_3

"Karena saya sudah memiliki satu anak Bu, selain itu saya juga lumpuh. Alangkah tidak pantas jika dokter Dimas bersama saya. Lebih banyak wanita di luaran sana yang lebih pantas dari saya," ucap Lyra merendah.


***


"Inilah yang membuat saya yakin jika kamu wanita baik-baik. Semua saya serahkan padamu. Saya tidak akan ikut campur masalah kamu dengan anak saya. Tapi satu yang harus kamu tau Lyra, saya sangat mendukung sekali jika kamu berhubungan dengan anak saya," ucap Ibu Aisyah tersenyum lalu pergi meninggalkan ruangan Lyra.


.


.


"Sayang bagaiman keadaanmu setelah kemo?" tanya Leon yang selalu setia mendampingi istrinya.


"Aku merasa lebih baik. Mana Clara? Aku ingin bertemu dengannya Leon," ucap Gauri menanyai keberadaan putrinya.


"Dia ada di luar bersama Selin, sebentar aku panggil dulu ya," jawab Leon beranjak dari duduknya.


Tak lama kemudian, Leon kembali masuk dengan menggendong putri kecil mereka dan diiringi oleh Selin, adiknya Gauri. Selama di Singapura, Leon tidak terlalu dekat dengan Selin, hanya sesekali saja mereka berbicara satu sama lain.


"Clara sayang. Sini nak, Mommy kangen sekali sama kamu," ucap Gauri terlihat lebih segar.


Clara pun langsung mendekat ke arah Mommy nya dan duduk di pangkuan sang Ibu.


"Kak.. Kakak terlihat lebih segar sekarang. Apa kakak sudah merasa baik?" tanya Selin senang melihat raut bahagia sang kakak.


"Iya Selin, kakak sudah merasa baikan sekarang. Lusa kita akan kembali ke Indonesia. Iya kan Leon?" ucap Gauri menatap suaminya itu.


"Ya, kamu benar, lusa, kita semua akan kembali lagi ke Indonesia," jawab Leon tak kalah senangnya.


"Ya sudah, kalau begitu, aku dan Clara mau pulang ke penginapan untuk membereskan barang-barang kita. Sekalian aku juga mau menidurkan Clara. Kasihan, sedari tadi Clara belum tidur," ucap Selin mengambil Clara dari pangkuan Gauri.


"Baiklah, kalau begitu hati-hatilah. Kakakmu aman disini," jawab Leon memberi izin.


"Aku sudah tidak sabar untuk pulang ke Indonesia," ucap Gauri senang.


Wajah Ibu satu anak itu tampak lebih segar dan hidup dari yang sebelumnya. Ia sama sekali tidak seperti orang sakit parah pada umumnya.


"Aku juga sudah tidak sabar sayang. Aku juga sudah tidak sabar untuuukkk," ucap Leon terputus.


"Untuk apa?" tanya Gauri penasaran.

__ADS_1


"Untuk... Hmmmn.. Untuuuk memberi Clara seorang adik," jawab Leon malu-malu.


"Haha.. Leon.. Leon.. Maafkan aku ya jika belum bisa menjadi yang istri yang baik untukmu," balas Gauri berkaca-kaca.


"Sudahlah, jangan menangis. Kamu jelek tau kalo nangis gini," ujar Leon membujuk istrinya.


"Siapa yabg nangis. Aku cuma merasa kurang menjadi seorang istri," jawab Gauri sedih.


"Siapa bilang. Kamu itu sudah sempurna. Kamu sudah menjalankan tugasmu sebagai istri yang baik. Menjaga Clara sendirian itu sudah hebat sekali," balas Leon menatap Gauri lama.


Karena tidak tau apa yang harus dibicarakan lagi, akhirnya Gauri dan Leon terlibat dalam tatapan mata antara keduanya.


Semakin lama, tatapan itu semakin intens, hingga tanpa Gauri sadari, kini wajah Leon sudah sangat dekat sekali dengan wajahnya.


Leon yang sudah lama menahan hasratnya itu, tanpa pikir panjang lagi, langsung ******* bibir sang istri.


Begitu juga dengan Gauri, wanita yang sudah pernah merasakan surga dunia bersama Leon kini juga tengah menikmati permaianan panas mereka.


Masih belum mereka sadari, kini keduanya masih saja berciuman. Mereka larut dalam pikiran masing-masih. Tangan Leon yang semula diam, kini mulai m3rem4s PYD Gauri. Dan disitulah Gauri langsung sadar lalu menghentikan aktifitasnya.


"Leon. Apa yang kamu lakukan. Ini rumah sakit," tanya Gauri dengan wajah yang bersemu merah.


"Maafkan aku sayang. Aku tidak menyadarinya," jawab Leon memegang tangan Gauri.


"Memang kenapa kalau ada yang melihatnya? Kita ini suami istri. Kamu lupa?" jawab Leon mengusap kepala Gauri.


"Aku tidak lupa. Tapi jangan disini juga sayang," ujar Gauri malu.


"Ya sudah, jika tidak disini, kita melakukannya saat di Indonesia saja gimana? Apa kamu bersedia?" jawab Leon mengedipkan sebelah matanya.


"Apaan sih Leon. Aku malu tau," ucap Gauri tersenyum malu.


.


.


Di rumah sakit yang berbeda, Airin yang sudah mendapat izin pulang oleh dokter, kini sudah bersiap-siap untuk pulang. Tinggal menunggu bayi kembarnya yang sedang dimandikan oleh perawat, setelah itu, Airin langsung pergi meninggalkan rumah sakit tersebut.


"Kamu mau kemana sayang?" tanya Gara melihat istrinya beranjak dari sofa rumah sakit itu.

__ADS_1


"Mau melihat si kembar dulu. Kenapa lama sih ma" jawab Airin yang sudah tidak sabaran.


"Sabar dong. Sebentar lagi juga selesai. Kan sudah ada Mama sama Ibu juga di sana," ucap Gara sembari mengecek laporan kantornya.


Benar saja, tidak lama kemudian, kedua orang tua Gara dan juga Airin masuk ke dalam ruang rawat Airin. Masing-masing mereka menggendong satu bayi kembar, sedangkan satunya bayi lagi di gendong oleh perawat yang bertugas.


"Nah itu mereka. Kalau begitu ayo kita langsung pulang saja sekarang," ucap Airin tidak sabaran.


"Ya sudah, ayo, tapi hati-hati. Kamu duduk saja di atas kursi roda ini, biar aku yang mendorongnya," jawab Gara mendorong kursi roda ke arah Airin.


"Tapi untuk apa? Aku sudah sembuh kok mas," tolak Airin.


"Sudah, jangan banyak bicara. Duduk saja. Kamu bisa jalan nanti jika sudah tiba di rumah," jawab Gara mendudukkan istrinya.


Mereka akhirnya berjalan menyusuri koridor rumah sakit hingga tiba di loby utama rumah sakit tersebut.


Satu jam kemudian, Airin dan rombongannya pun akhirnya tiba di rumah. Di sana sudah ada Ayah Aidil dan Emanuel yang menunggu kedatangan anggota keluarga baru mereka.


"Selamat datang kembali Airin. Selamat datang cucu kembar kami," ucap Emanuel dan Ayah Aidil dengan memegang balon biru dan juga pink di tangan mereka masing-masing.


"Terima kasih Pa, Ayah," jawab Airin sangat bahagia sekali.


"Kalau gitu ayo kita masuk," ucap Mama Lena mewakilkan seluruh anggota keluarga.


"Maaf, Pak.. Bu, saya mau izin kembali ke rumah sakit dulu. Dan ini oleh-oleh dari kami pihak rumah sakit. Semoga Ibu dan si kembar selalu di beri kebahagiaan," ucap perawat yang diminta mengantarkan si kembar sampai rumah.


"Baik, terima kasih kalau begitu. Mari saya antar, supir saya akan mengantar anda kembali ke rumah sakit," jawab Gara mewakilkan sekaligus mengantar perawat tersebut sampai menaiki mobil.


.


.


"Hmmm sayang, aku pamit mau ke kantor polisi sebentar ya. Semalam mereka bilang, jika kawanan begal itu telah mengakui siapa yang menjadi dalang di balik semua ini. Doakan saja mereka dapat menangkap otak dari aksi begal dan kecelakaan ini," pamit Gara kepada Airin, istri tercintanya yang saat ini sudah berada di dalam kamarnya karena si kembar baru saja tertidur dan di jaga oleh orang tua Gara dan juga orang tuanya.


"Pergilah. Hati-hati di jalan. Aku juga tidak sabar untuk mengetahui siapa pelakunya. Jangan lupa kabari aku saat kamu telah tiba di kantor polisi nantinya," jawab Airin tersenyum.


"Ok bos. Kalau begitu aku pergi ya," pamit Gara ******* bibir istrinya sekilas.


"Aku kangen sekali. Nanti malam boleh ya sayang," ucap Gara membuat Airin membelalakkan matanya.

__ADS_1


"Apa? Nanti malam? Kamu lupa, aku baru saja melahirkan," jawab Airin memegang perutnya yang sudah kempes.


"Memang kenapa? Bagus dong jika sudah lahiran, itu artinya kita bebas dengan berbagai gaya," ucap Gara kembali oon.


__ADS_2