
"Aku mau membuatkan Airin susu hamil, tapi sedari tadi aku tidak menemukan susu nya," jawab Gara sembari terus mencarinya.
"Haha, Gara-Gara, mau saja kau di tipu oleh Airin," jawab Leon menertawakan Gara.
"Maksudmu apa?" jawab Gara kembali bertanya.
***
"Gara, Airin itu belum membeli susu hamil lagi, susu yang kemaren sudah habis," jawab Leon dengan santai sambil membuatkan susu untuk Clara.
"Tau dari mana kau?" tanya Gara tak percaya.
"Ya tau lah, kemaren Airin pernah bilang padaku, jika susu nya habis," jawab Leon membuat Gara mengusap kasar wajahnya lalu berlalu meninggalkan Leon.
"Gara," panggil Leon sembari berjalan ke arah Gara.
"Apa lagi?" tanya Gara kesal.
"Apa kau sudah melakukannya dengan Airin. Aku dengar, wanita hamil itu rasanya lebih hot," bisik Leon di telinga Gara.
"Gimana aku mau melakukannya,? Susu hamilnya saja tidak ada. Airin bilang, dia akan memberikannya jika aku selesai membuatkannya susu," jawab Gara dengan wajah frustasi.
"Hahaha sudah kuduga kau gagal. Aku yakin Airin akan mengerjai mu," jawab Leon mengejek Gara.
"Ejek terus sampai kau puas. Ini semua salahmu," jawab Gara kesal.
"Lah? Kenapa aku?" tanya Leon tak habis pikir.
"Kenapa kau tidak mengatakan kepadaku jika susu Airin habis? Bulan ini gaji mu ku potong sembilan puluh persen," jawab Gara kesal lalu meninggalkan Leon dan kembali ke kamarnya.
"Apa? Sembilan puluh persen gaji ku dipotong untuk kesalahan yang sama sekali aku tidak lakukan? Apa-apaan ini. Aku tidak terima, pokoknya besok aku mau demo," ucap Leon merasa terzalimi oleh Gara.
Sedangkan Gara kini telah sampai di kamarnya dan Airin. Setelah menutup pintu kamar dan menguncinya, ia berbalik melihat keranjang dimana Airin telah tidur terlelap.
"Sabar ya junior. Mungkin malam ini belum rejeki mu," ucap Gara berbicara kepada juniornya sembari mengusap-usap sang junior yang telah lama berpuasa tersebut.
"Jika kisah ini di jadikan film, maka akan ku kasih judul juniorku gagal terbang gara-gara susu hamil. Pasti banyak tuh yang nonton," ucap Gara sudah rada gila karena hasratnya belum tersalurkan.
__ADS_1
Kemudian ia memilih untuk menyusul Airin ke alam mimpi. Ia berharap jika Airin datang dan menari-nari seksi di dalam mimpinya dengan menggunakan lingerie mini.
Karena rasa kantuknya, tak lama setelah terbaring di samping Airin, Gara pun akhirnya tertidur dengan lelap dengan posisi memeluk Airin dari belakang.
Keesokan harinya, seperti biasa, Airin bangun lebih pagi untuk menyiapkan menu sarapan. Meskipun di rumah itu ada asisten rumah tangga, tapi jika untuk sarapan, Airin sengaja turun tangan untuk memasaknya sendiri.
Saat ia membuka mata, Airin yang posisi tidurnya menghadap Gara, begitu kaget saat melihat laki-laki tampan itu tengah tidur lelap disampingnya. Sontak Airin terpekik dan seketika itu juga Gara terbangun karena mendengar teriakan Airin.
"Airin kamu kenapa? Apa bayinya lahir?" tanya Gara masih separuh sadar.
"Kamu.. Ngapain kamu tidur di kamarku? Kamu jangan kurang ajar ya," ucap Airin menunjuk Gara.
"Hey, kamu lupa? Kita ini sudah menikah kemaren. Kamu istriku, dan aku suamimu. Jadi wajar kan kita tidurnya bersama?" tanya Gara mengingatkan istri kecilnya itu.
"Oh iya aku lupa," jawab Airin menggaruk kepalanya.
"Ya sudah, ini masih gelap, ayo tidur lagi," ucap Gara menarik tangan Airin pelan.
"Kamu saja mas yang tidur. Aku mau memasak sarapan pagi dulu," jawab Airin menepis tangan Gara.
"Itu tugas asisten rumah tangga sayang. Ayo sini," ucap Gara menepuk ranjangnya.
Beberapa jam kemudian, Gara, Leon dan Zaki beserta ibunya sudah duduk di meja makan untuk sarapan pagi. Tak lupa juga dengan Aidil, ayahnya Airin. Sedangkan ibu Airin sudah sedari bangun dan membantu Airin menyiapkan sarapan pagi.
"Airin, Gara, rencananya ayah sama ibu mau balik ke kampung hari ini. Kasihan padu yang ayah sama ibu tanam di biarkan terbengkalai begitu saja," ucap ayah Aidil menatap putri dan menantunya itu.
"Iya nak. Lagian cabe ibu akan segera di panen besok. Sekarangkan cabe lagi mahal, takutnya keduluan sama maling nak," tambah ibunya Airin yang juga pamit untuk pulang ke kampung halamannya.
"Kenapa harus secepat ini Bu, Yah? Airin kan masih kangen sama kalian. Apa ayah sama ibu tidak betah tinggal disini?" jawab Airin merasa sedih.
"Bukan nak. Bukan kami tidak betah tinggal disini denganmu, tapi sawah dan ladang kami memang tidak bisa ditinggalkan lama-lama nak," jawab Ayah Aidil kepada putri semata wayangnya tersebut.
"Ya sudah kalau begitu. Airin akan mengantarkan Ayah sama Ibu pulang," jawab Airin membuat Gara berhenti menyuap sarapannya.
"Tidak, Tidak. Kamu tidak boleh ikut mengantar mereka. Ingat kamu baru saja keluar dari rumah sakit sayang. Biar aku saja yang mengantar Ayah sama Ibu pulang," jawab Gara tidak mengizinkan istrinya itu untuk ikut pulang mengantar kedua orang tuanya.
"Tidak usah Gara, biar kami pulang berdua saja. Kamu cukup mengantarkan Ibu sama Ayah hingga terminal saja," jawab Ibu Lita, ibunya Airin.
__ADS_1
"Jangan-jangan. Begini saja, Ibu sama Ayah pulangnya biar di kawal sama pengawal Gara saja ya. Nanti pulangnya pakai mobil Gara saja," ucap Gara kepada mertuanya tersebut.
"Baiklah kalau begitu nak," jawab Ayah Aidil setuju.
Sebelum pulang ke kampung halamannya, Gara memerintahkan kedua asisten rumah tangganya untuk berbelanja banyak oleh-oleh untuk mertuanya itu. Gara tidak mau jika mertuanya itu pulang dengan tangan kosong ke kampung halamannya.
"Hmmmm, Gara, Ibu dan Zaki juga mau pamit untuk kembali ke hutan. Tidak baik rasanya jika kami terus menerus menumpang tinggal di rumah ini," ucap Ibunya Zaki saat Gara akan menaiki tangga menuju kamarnya.
"Ibu mau pulang ke hutan? Buat apa Bu? Sepertinya Zaki suka tinggal di kota ini," jawab Gara sedikit keberatan.
"Seperti Ibu katakan tadi, Ibu tidak enak," jawab Ibunya Zaki menundukkan kepalanya.
"Hmmm kalau menurut Gara, Ibu sebaiknya tinggal disini saja ya. Atau Ibu Gara belikan rumah. Dan satu lagi, nanti Ibu akan Gara kasih sebuah toko bunga, dengan begitu Ibu bisa memiliki kesibukan dengan berjualan bunga. Kalau Zaki, nanti akan Gara masukkan ke sekolah agar dia tumbuh seperti anak-anak lainnya. Kalau Ibu di hutan, kasihan Zaki Bu. Coba dipikirkan lagi ya," jawab Gara mencoba membujuk Ibunya Zaki agar tidak kembali ke hutan. Ia teringat dengan toko bunga Airin yang saat ini di urus oleh mamanya. Jika Airin melahirkan, sudah pasti Gara tidak akan mengizinkannya lagi untuk bekerja di toko tersebut.
"Tapi, apa ibu tidak merepotkan?" tanya Ibu Zaki sekali lagi.
"Sama sekali tidak Bu. Ibu sudah menyelamatkan aku, Leon, dan juga istri beserta calon anak kembar ku. Ibu anggap saja ini keluarga Ibu sendiri," jawab Gara membuat Ibu Zaki merasa lega.
"Baiklah, kalau begitu Ibu tidak akan pulang ke hutan. Terima kasih ya nak," ucap Ibu Zaki senang.
Setelah berbincang dengan Ibu Zaki, Gara pun langsung masuk ke kamarnya setelah melewati beberapa anak tangga.
Saat ia baru saja masuk, imannya kembali tergoda oleh Airin yang baru saja selesai mandi dan hanya menggunakan ****** ***** dan juga bra. Ia tampak membelakangi Gara karena sibuk memilih baju dari dalam lemari.
"Aduh, junior sabar ya. Ini ujian," ucap Gara pelan menghembuskan nafasnya kasar lalu berjalan masuk menghampiri Airin.
Kira-kira Airin kaget dan marah gak ya karena Gara tiba-tiba saja masuk????
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Apakah Gara akan mendapatkan haknya sebagai suami saat itu juga??
Jangan lupa like dan komen yaaa..
Kalo boleh minta vote nya jugaa..
Semoga kalian suka ya novel Author..
__ADS_1
Salam sayang Author Nyonya Doremi😘