
"Samuel, kakak telah pergi menemui Lyra. Besok dia akan kesini menemui mu. Dan besok, kakak juga akan berangkat ke kota B untuk menemui Kamelia dan juga Ibunya. Semoga saja, mereka bersedia untuk menemui mu disini," ucap Emanuel membuat Paman Sam sedikit lega karena Lyra dan juga Lio bersedia menemuinya besok.
Ia hanya bisa berharap, jika Kamelia dan juga Ibunya bersedia untuk menemuinya untuk kali ini. Entah mengapa, feeling Paman Sam mengatakan jika ia tak akan hidup lebih lama lagi. Maka dari itu ia ingin bertemu dengan orang-orang yang telah ia sakiti untuk meminta maaf atas segala kesalahan yang pernah ia perbuat semasa dulunya.
"Baiklah kak. Terima kasih kakak telah membantuku. Semoga saja mereka mau menemui ku," jawab Paman Sam penuh harap.
Keesokan harinya, Lyra pun benar-benar datang bersama Lio dan juga Dimas suaminya.
Ia berjalan menyusuri lorong rumah sakit dan pada akhirnya tiba di sebuah ruangan yang diluarnya di jaga oleh beberapa orang polisi.
"Ini pasti ruangannya," ucap dokter Dimas mendekati polisi tersebut.
"Maaf pak, kami mau bertanya, apa bemar ini ruangannya pak Samuel?" tanya dokter Dimas kepada polisi-polisi tersebut.
"Benar. Kalian siapa ya?" tanya salah satu polisi tersebut.
"Hmmmm, saya Dimas, dan ini istri saya Lyra beserta anak kami Lio. Sebelumnya kami telah berjanji untuk membesuk pak Samuel hari ini atas permintaan beliau pak," jawab dokter Dimas kepada polisi tersebut.
"Oh iya, kalian memang sudah di tunggu. Silahkan masuk," ucap polisi tesebut membukakan pintu rumah ruangan Samuel.
Setibanya di dalam, mantan istri Paman Sam itu benar-benar terkejut saat melihat perubahan yang ada pada tubuh Paman Sam.
Seluruh tubuhnya yang semula tampan dan penuh wibawa itu kini telah berubah menjadi tubuh yang kurus kering dan kulit yang mulai kelihatan berkeriput.
"Samuel," panggil Lyra yang sudah ada di sebelah ranjang rumah sakit tesebut.
__ADS_1
"Ly.. Lyra," ucap Paman Sam sesaat setelah membuka matanya secara perlahan
"Iya, ini aku Lyra, dan kenalkan, ini suamiku Dimas," jawab Lyra sembari memperkenalkan dokter Dimas kepada Paman Sam.
"Ka.. Kamu sudah menikah?" tanya Paman Sam dengan nada pilu.
"Sudah, dan saat ini aku tengah hamil anak Dimas," jawab Lyra membuat Paman Sam tersenyum getir.
"Lyra ini.. Ini kalau gak salah dokter yang melatih kamu berjalan waktu itu?" tanya Paman Sam saat melihat wajah dokter Dimas.
"Ya, kamu benar. Dia memang seorang dokter, dokter yang mampu menyembuhkan penyakit ku dan juga menyembuhkan hatiku yang patah," jawab Lyra tersenyum sembari memeluk pinggang dokter Dimas yang tengah menggendong Lio.
"Ya, syukurlah. Aku senang mendengarnya," balas Paman Sam merasa iri pada kebahagiaan Lyra saat ini.
'Roda benar-benar berputar Lyra. Aku tidak menyangka jika kamu yang dulu aku kucil kan dengan Liona, kini telah menemukan jodoh yang baik untukmu. Aku bisa melihat kebahagiaan yang nyata pada dirimu Lyra. Betapa bodohnya aku telah menyia-nyiakan mu waktu itu. Andai aku tak terbuai dengan Liona, aku yakin, aku hidupku sama bahagianya dengan kak Emanuel dan mba Lena,' batin Paman Sam merasa menyesali semua perbuatannya.
"Kamu jangan salah paham Lyra, aku tidak ada niat untuk mengungkit harta tersebut. Dan lagi pula? Kenapa kamu mesti membagi nya dengan Kamelia?" jawab Paman Sam kembali bertanya.
"Itu karena rasa kemanusiaan ku. Aku merasa Kamelia berhak atas harta-harta mu itu, karena dia adalah darah daging mu sendiri," jawab Lyra membuat Paman Sam semakin menyesal telah meninggalkan wanita yang pernah menjadi istrinya itu.
"Kamu memang baik sekali Lyra. Hati mu itu benar-benar bersih," puji Paman Sam merasa bangga karena pernah menjadi bagian dari hidup Lyra.
"Terima kasih pujiannya. Kalau aku boleh tau, apa tujuan mu memanggil kami ke rumah sakit ini?" tanya Lyra pada mantan suaminya itu
"Begini, aku merasa umurku tak akan lama lagi, maka dari itu, aku memintamu dan juga Lio kemari untuk yang terakhir kalinya untuk meminta maaf atas semua kesalahan ku dan perlakuan ku selama ini," jawab Paman Sam menyampaikan keinginannya.
__ADS_1
"Aku sudah memaafkan mu jauh sebelum kamu berniat untuk meminta maaf pada ku. Anggap saja ini sebuah pembelajaran dan sebuah karma untuk mu," jawab Lyra membuat Paman Sam merasa lega.
"Terima kasih Lyra. Terima kasih. Kalau begitu, apa aku boleh mencium Lio sebentar saja?" pinta Paman Sam penuh harap. Sedangkan dokter Dimas hanya menatap diam ke arah Paman Sam. Ia tak menyangka jika pengusaha kaya dan sombong itu, kini tengah terbaring lemah menanti malaikat mencabut nyawanya.
"Boleh, silahkan saja," ucap Lyra memberikan Lio kepada Paman Sam.
Dengan tangan bergetar, Paman Sam pun meraih Lio yang sebelumnya berada di dalam gendongan dokter Dimas.
Dengan air mata yang mulai menetes, Paman Sam memandangi dan menciumi putranya itu. ini adalah kalo pertama Paman Sam menggendong putra satu-satunya itu.
"Lio sayang, ini papa nak. Lio kenal papa kan? Lio, maafkan papa ya nak. Mungkin sebentar lagi kita akan berpisah, tapi Lio harus patuh ya sama mama," ucap Paman Sam dengan haru.
Sementara itu, Emanuel baru saja tiba di rumah Yuni. Ia berangkat pagi-pagi sekali dengan bersama mantan supir pribadi Paman Sam dulu.
"Ini tuan rumahnya," ucap si supir tersebut memberhentikan laju mobilnya.
"Ya sudah, kalau begitu terima kasih, ayo kita turun dan temui mereka," ucap Emanuel kepada supir yang Author lupa siapa namanya. (Anggap saja namanya Udin ya say,) 😄😄🙏🙏
Setelah turun pak Udin langsung mengetuk pintu rumah Yuni, dan tak butuh waktu lama, pintu tersebut telah di oleh Yuni sebagai pemilik rumah tersebut.
"Pak Udin, ada apa?" tanya Yuni merasa kaget dengan kedatangan tamu tak di undang tersebut.
"Hmmmm, begini Bu, ada yang mau di sampaikan tuan Emanuel selaku kakak kandung dari Paman Sam kepada Ibu dan Kamelia," jelas pak Ujang tersebut.
"Kakak Samuel? Baiklah, ada apa?" tanya Yuni sedikit canggung.
__ADS_1
"Hmmm begini, sebelumnya saya selaku kakak kandung dari Samuel ingin meminta maaf dengan apa yang telah di perbuat adik saya kepada anda dan juga anak anda. Saya kesini mau menyampaikan pesan Samuel yang saat ini tengah di rawat di rumah sakit. Ia merasa jika usianya sudah tak akan lama lagi. Maka dari itu, bersediakah anda dan anak anda untuk menemui Samuel ke Jakarta?" tanya Emanuel menjabarkan maksud dan tujuannya datang menemui Kamelia dan juga ibunya.