Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara

Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara
Bab 140


__ADS_3

Setibanya di depan pintu kamar, Gara terkejut saat melihat baby sitter dan asisten rumah tangganya dalam keadaan terikat. Sementara itu, tiga orang pria bertopeng tengah mencoba untuk menggendong si kembar dan hendak membawanya pergi.


"Sedikit saja kalian menyentuh si kembar, maka jangan salahkan aku jika tubuh kalian itu terpisah-pisah dari tempatnya berada," ucap Gara mengejutkan gerombolan maling itu.


"Haha. Waw, kami takut sekali," ledek salah satu maling tersebut.


"Sialan, lepaskan anak-anakku," ucap Gara yang sudah sangat emosi.


Sementara tau ada bahaya di kamar bayi kembarnya, Airin segera berlari ke kamar tamu dan segera menelpon polisi. Ia tak berani untuk menyusul Gara karena suaminya itu telah melarang sebelumnya.


Sedangkan di lantai atas, Gara tengah bertarung dengan komplotan maling tersebut. Gara memang bukanlah laki-laki yang handal dalam bidang bela diri, namun ia tidak bisa merelakan anak-anaknya di bawa oleh maling-maling tesebut.


Meski berhasil memukul dan mematahkan lawannya, namun, bagaimana pun juga mereka bertiga dan Gara hanya seorang diri. Berkali-kali Gara jatuh terhuyung ke lantai, namun ia tak mau patah dan kalah, Gara terus bangkit meski bibir nya telah mengeluarkan darah.


Karena polisi tak kunjung datang, Airin pun merasa tidak tenang, ia memutuskan untuk menyusul Gara ke kamar anak-anaknya.


"Mas," pekik Airin yang shock saat melihat suaminya itu tengah di pegangi oleh dua orang maling tersebut, sedangkan yang satunya lagi bertugas untuk menghajar suaminya yang telah banyak mengeluarkan darah.


Mendengar suara Airin, seketika para maling tersebut berhenti dan menoleh ke arah Airin.


"Waw, cantik sekali. Ini pasti istri dari laki-laki ini. Bagaimana kalau kita cicipi dia di depan suaminya," ucap salah satu maling tersebut berjalan ke arah Airin.


"Tidak, jangan lakukan itu pada istriku. Apa mau kalian, katakan. Berapa uang yang kalian butuhkan? Satu milyar? Dua milyar? Cepat katakan, asal kalian pergi dan jangan sentuh istriku," ucap Gara yang merasa panik saat para maling itu semakin mendekat ke arah Airin.


"Jangan, jangan lakukan itu. Aku mohon," ucap Airin semakin mundur ke belakang.


"Haha, siapa suruh kamu datang kesini. Sekarang mending santai saja, nikmati saja pelayanan spesial dari kami," ucap maling tersebut semakin mendekat ke arah Airin.

__ADS_1


Gara yang lemas berusaha bangkit dengan sekuat tenaganya. Ia tak rela, jika Airin di sentuh oleh laki-laki lain selain dirinya, apalagi ini di depan mata kepalanya sendiri.


Dengan tertatih-tatih, Gara langsung berdiri dan mencoba menghajar kembali maling-maling tersebut. Namun saat Gara hampir mendekatinya, salah satu dari maling tersebut mengeluarkan pisau lipatnya dan tanpa rasa belas kasihan, ia langsung menghunuskan nya ke perut ayah tiga anak itu. Seketika Gara terdiam dan perlahan ambruk ke lantai. Seketika Airin, baby sitter, dan si mbok langsung terpekik saat melihat banyaknya darah yang mengalir dari perut Gara.


"Mas," teriak Airin segera berhambur ke arah suaminya yang jatuh tak sadarkan diri. Sementara, para maling tersebut langsung mengambil si kembar dan hendak keluar pergi dari rumah tersebut.


"Jangan bergerak," ucap salah satu polisi yang tiba-tiba saja sudah berada di depan kamar si kembar.


Seketika para maling itu terkejut dan tidak dapat melanjutkan langkahnya karena beberapa polisi telah menodongkan pistol tepat di kepala mereka.


"Kalian, tolong ambil anak-anak yang ada pada mereka bertiga," perintah komandan polisi tersebut kepada polisi-polisi yang stand by di sekitaran lantai dua.


Mau tak mau, maling-maling tersebut terpaksa merelakan si kembar kembali di ambil oleh polisi-polisi tersebut. Mereka juga harus rela jika hidupnya akan berakhir di penjara.


"Borgol mereka," perintah komandan polisi itu lagi dan langsung di laksanakan oleh bawahannya.


Sedangkan polisi lainnya tengah memberikan pertolongan pertama kepada Gara, dan yang lainnya melepaskan ikatan asisten rumah tangga lalu menelpon ambulance.


Airin yang shock langsung menghampiri bayi kembarnya, di susul oleh para baby sitter yang langsung menenangkan si kembar yang menangis.


"Kalian tolong jaga si kembar dengan baik ya, saya akan membantu suami saya dulu," ucap Airin dengan suara bergetar.


Tak lama kemudian, Ambulance pun datang seiring dengan dibawanya para maling tersebut ke kantor polisi.


Airin yang cemas selalu menangis dan memegang tangan suaminya erat, ia tak memperdulikan bajunya yang sudah terkena noda darah Gara yang dari tadi tak hentinya mengalir.


"Mas bangun mas. Jangan tinggalkan aku. Aku mencintaimu," ucap Airin dalam tangisnya.

__ADS_1


Karena Gara tak menjawab, tangis Airin semakin menajadi-jadi di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit terdekat.


"Mas jangan pergi. Aku mencintaimu mas. Benar-benar mencintaimu. Aku mohon jangan tinggalkan aku dan si kembar. Aku tak tau lagi harus berbuat apa jika kamu pergi meninggalkan kami," ucap Airin menatap wajah suaminya yang sudah pucat tersebut.


Tak lama kemudian, mobil ambulance yang membawa Gara akhirnya tiba di rumah sakit. Dengan cepat para petugas kesehatan langsung membawa Gara ke ruangan UGD untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.


Sementara Airin yang sedari tadi tidak mau melepaskan tangan suaminya, terpaksa harus merelakan berpisah untuk sementara karena Airin tidak diizinkan untuk masuk ke dalam ruangan.


"Ya Allah tolong selamatkan suami saya. Saya mohon," ucap Airin cemas.


Saat Airin tengah panik, ia kemudian terpikirkan untuk meminta bantuan mertuanya untuk menjaga si kembar.


"Ham. halo ma," ucap Airin dengan suara bergetar saat panggilan teleponnya sudah terhubung dengan mertuanya Lena.


"Halo sayang. Ada apa nak? Kenapa kamu seperti orang yang sedang cemas begitu?" tanya Lena merasakan keanehan dengan suara menantunya itu.


"Ma.. Mas Gara ma....," jawab Airin tak mampu melanjutkan ucapannya.


"Gara kenapa nak? Cepat katakan sama mama, Gara kenapa?" tanya Lena mulai panik saat tangis Airin pecah.


"Mas Gara di tusuk oleh maling yang akan menculik si kembar," jawan Airin membuat Lena shock.


"A.. Apa? La.. Lalu.. Lalu bagaimana keadaannya sekarang? Dan bagaimana dengan cucu-cucu mama Airin?" tanya Lena dengan suara bergetar dan juga gugup.


"Mas Gara masih di ruangan UGD ma. Mereka tadi hampir berhasil membawa si kembar, namun saat mereka hendak pergi, untung saja polisi datang meringkusnya. Ma, Airin mau minta tolong sama mama, tolong jagain si kembar ma. Airin takut mereka kenapa-napa. Lagi pula, kasihan so mbok dan juga baby sitter nya, mereka pasti shock karena diikat tadi," ucap Airin kepada mertuanya itu.


"Baiklah sayang, tapi jangan lupa beri mama kabar terbaru tentang Gara secepatnya," jawab Lena mencemaskan putra semata wayangnya.

__ADS_1


"Pasti ma. Airin pasti akan kabari mama secepatnya," balas Airin laku mematikan panggilan teleponnya.


__ADS_2