Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara

Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara
Bab 113


__ADS_3

"Aku akan mencari tau siapa anak Samuel itu. Dia juga berhak atas harta milik Samuel ini, karena bagaimanapun juga, dia adalah darah daging laki-laki bajingan itu," ucap Lyra pada dirinya sendiri saat wanita cantik itu tengah duduk di kursi CEO yang sebelumnya di duduki oleh Samuel.


***


Lyra kemudian menghubungi supir pribadi yang selalu setia menemani Paman Sam kemanapun ia pergi untuk menanyakan kemana saja dan bersama siapa saja mantan majikannya itu bertemu.


"Baik Bu Lyra, saya akan datang ke kantor Ibu satu jam lagi," ucap supir yang ternyata bernama Parman itu.


Satu jam lagi, Parman benar-benar datang menemui Lyra ke kantor yang sebelumnya menjadi milik Paman Sam itu.


Setibanya di sana, ia langsung di antar oleh sekretaris Lyra masuk ke ruangan CEO untuk bertemu dengan Lyra.


"Selamat siang Bu, apa ada yang bisa saya bantu," ucap Parman saat baru saja tiba di ruangan Lyra.


"Selamat siang juga pak Parman. Senang bisa bertemu dengan bapak lagi. Ayo pak, mari silahkan duduk dulu," ucap Lyra tersenyum ramah.


"Baik, terima kasih Bu," balas Parman langsung duduk di depan meja Lyra.


"Hmmm, begini pak. Saya mau menanyakan sesuatu pada bapak. Saya harap, bapak mau menjawabnya dengan sejujur-jujurnya," ucap Lyra menutup laptop yang ada di hadapannya.


"Tanyakan apa Bu? Saya akan menjawabnya dengan jujur dan apa adanya," jawab Parman. Parman sudah lama bekerja dengan Paman Sam, bahkan saat Lyra dan Paman Sam masih berpacaran, Parman sudah menjadi supir setia Paman Sam.


"Begini pak, bapak kan sudah lama sekali bekerja dengan Samuel, bahkan jauh sebelum saya mengenalnya," ucap Lyra menghentikan kata-katanya.


"Iya, benar Bu," jawab Parman menganggukkan kepalanya.


"Yang ingin saya tanyakan, apakah sebelum bersama saya, Samuel pernah dekat dengan seorang wanita? Atau dia pernah menikah dengan seorang wanita, lalu memiliki anak dengan wanita itu?" tanya Lyra membuat Parman sedikit mengernyitkan keningnya.


"Hmmm setau saya tuan pernah dekat dengan beberapa wanita Bu, tapi, ada satu wanita yang ia benar-benar cintai saat itu. Waktu itu, hubungannya dengan wanita itu tidak mendapat restu dari kedua orang tua tuan sendiri, mertua Ibu.

__ADS_1


Yang saya dengar dari tuan, wanita yang bernama Yuni itu sempat hamil anak tuan Samuel, tapi saat itu tuan dikirim ke luar negeri oleh kedua orang tuanya dan pulang beberapa tahun kemudiannya. Tak lama tuan pulang ke tanah air, ia langsung bertemu dengan Ibu dan menjalin hubungan dengan Ibu hingga menikah. Hanya itu yang saya tau Bu," jawab Parman menjelaskan kisah masa lalu Paman Sam sebelum mengenal Lyra.


"Baik, lalu bagaimana dengan nasib bayi yang ada di kandungan Yuni?" tanya Lyra kembali.


"Bayinya.. Bayinya adalah Kamelia Bu," jawab Parman gugup. Parman sudah tau dengan masalah apa yang menimpa pada majikannya itu. Ia benar-benar kaget saat mengetahui jika tuannya itu menikahi wanita yang ternyata adalah putri kandungnya sendiri.


"Kamelia? Maksud bapak, Kamelia wanita yang dinikahinya itu?" tanya Lyra membelalakkan matanya.


"I.. Iya Bu," jawab Parman menganggukkan kepalanya.


"Lalu, dimana Kamelia dan Ibunya sekarang?" tanya Lyra semakin penasaran.


"Saya tidak tau Bu. Terakhir saya bertemu dengannya waktu kami ke rumah Yuni, pasalnya, Yuni berjanji akan menemukan tuan dengan anak kandungnya yang sudah semenjak dalam kandungan ia tinggalkan. Saat tuan sudah berada di rumah Yuni, ia sangat kaget, jika anak yang di maksud Yuni adalah Kamelia, istri tuan yang tengah hamil waktu itu," jelas Parman menceritakan kronologinya.


"Kalau begitu, antar kan saya ke rumahnya sekarang. Saya ingin bertemu dengan Kamelia dan juga Yuni," perintah Lyra kepada Parman yang kini bekerja untuk dirinya.


"Terus, di kota mana mereka tinggal?" tanya Lyra menaikkan satu alisnya.


"Di kota B Bu," jawab Parman singkat.


"Baiklah, kalau begitu, besok kita akan berangkat pagi-pagi sekali," ucap Lyra menyenderkan punggungnya di kursi tempat ia duduk.


"Hmmm maaf Bu, kalau saya boleh tau, kenapa Ibu ingin menemui Yuni dan juga Kamelia?" tanya Parman ingin tau.


"Begini pak, bapak kan tau jika seluruh aset milik Samuel kini telah jatuh ke tangan saya. Saya merasa, jika di dalam aset ini, tak hanya saya saja yang berhak memilikinya. Meskipun Samuel tidak jadi menikah dengan wanita yang bernama Yuni itu, tapi dia memiliki anak dengan wanita itu. Sudah menjadi kewajiban saya untuk membagi harta ini untuk Kamelia, selaku anak pertama dari Samuel. Bagaimana menurut bapak?" tanya Lyra meminta pendapat dari supir pribadinya itu.


"Hmmmm, kalau menurut saya, apa yang Ibu lakukan itu sudah benar. Meskipun setau saya tak ada kewajiban untuk menafkahi anak tersebut karena dia lahir di saat kedua orang tuanya belum menikah. Ibu memang orang yang baik. Betapa ruginya tuan mengkhianati Ibu dengan Ibu Liona waktu itu," jawab Parman memberikan pendapatnya.


"Terima kasih pendapat bapak. Meskipun mungkin yang bapak katakan itu ada benarnya, tapi saya merasa tidak enak hati untuk menikmati harta ini sendirian bersama dengan anak saya. Kalau masalah rugi atau tidaknya, itu mungkin sudah menjadi jalan takdir untuk Samuel. Apa yang dia tanam, itulah yang dia tabur," ucap Lyra mengingat kembali kisah percintaannya dengan Samuel.

__ADS_1


"Ibu benar. Kalau begitu, saya permisi dulu Bu," ucap Parman pamit undur diri dari ruangan Lyra.


"Baik pak. Terima kasih, jangan lupa besok pagi," jawab Lyra menganggukkan kepalanya.


"Miris sekali nasib kamu Samuel. Maafkan aku. Jika aku tidak mengambil hartamu, maka kamu tak akan pernah tobat dan sadar akan kesalahanmu," gumam Lyra teringat kepada mantan suaminya itu.


Keesokan harinya, Lyra dan Parman sudah berangkat untuk menemui Yuni dan juga Kamelia.


Beberapa jam kemudian, Lyra dan juga Parman akhirnya tiba di rumah kontrakan Yuni.


"Ini Bu rumahnya," ucap Parman saat mobilnya sudah berada di depan pekarangan rumah Yuni.


"Kamu yakin ini rumahnya. Tapi kok sepi sekali ya?" jawab Lyra yang sudah turun dari mobilnya.


"Yakin Bu. Sebentar Bu, coba saya cek dulu," ucap Parman berjalan dan mengetuk pintu rumah tersebut.


Namun setelah mengetuk hampir lima menit, pintu rumah tersebut tetap masih tertutup rapat. Tak ada tanda-tanda jika pintu tersebut akan terbuka.


"Hmmmm Bu maaf mau tanya, Ibu Yuni nya kemana ya? Kenapa saya ketuk-ketuk tidak ada yang bukain pintu?" tanya Parman pada Ibu-ibu yang sedang berbelanja sayuran.


"Oh, ibu Yuni sudah pindah mas. Dia pindah di jalan xx.. Saya pernah menemaninya ke sana waktu itu. Rumahnya sekarang bagus, katanya di belikan oleh mantan suaminya untuk anak mereka Kamelia," jawab salah satu Ibu-ibu tersebut.


"Oh begitu. Baiklah Bu, kalau begitu terima kasih. Saya permisi dulu," pamit Parman kembali ke mobilnya.


"Bagaimana pak?" tanya Lyra sembari menyusui putranya Lio.


"Ibu-ibu itu bilang, Yuni sudah pindah ke jalan Xx Bu," jawab Parman menyampaikan informasi tersebut kepada Lyra.


"Ya sudah, kalau begitu kita langsung saja ke sana sekarang," perintah Lyra yang langsung di turuti oleh Parman.

__ADS_1


__ADS_2