
"Apa Airin di vonis leukimia?" tanya Leon memekakkan kuping Gara.
"Tidak usah keras-keras begitu, aku tidak tuli," protes Gara kesal.
"Maaf, tapi aku benar-benar kaget. Kalau begitu, aku akan urus semua pekerjaanmu untuk besok. Kamu jangan cemas, aku yakin Airin pasti sembuh," ucap Leon menunjukkan rasa perhatiannya sebagai sahabat.
***
"Terima kasih Leon. Kamu memang sahabatku yang paling pengertian. Bulan depan, aku akan memberikan bonus untuk mu," jawab Gara membuat Leon melupakan amarahnya.
"Ah jangan sampai Gara. Aku sama sekali tidak mempermasalahkannya," jawab Leon membuat Gara menautkan alisnya.
"Tumben-tumbenan kamu tidak mau aku beri bonus? Apa uang mu sudah sangat banyak?" tanya Gara menaikkan satu alisnya.
"Bukan.. Bukan begitu.. Maksudku, jangan sampai bonus nya tidak jadi masuk rekeningku.. Haha," jawab Leon bercanda.
"Sialan, aku sudah menduganya. Baiklah, kalau begitu lanjutkan saja aktifitas mu yang tertunda dengan istrimu, aku juga akan meminta jatahku pada Airin," ucap Gara lalu memutuskan panggilan teleponnya.
Saat Gara hendak berbalik ke arah istrinya, ia hanya bisa mengurut dada saat melihat Airin telah tertidur dengan lelapnya.
"Ya ampun, bagaimana cara memintanya? Belum apa-apa, Airin sudah tertidur seperti ini," ucap Gara menggelengkan kepalanya lalu mencium kening sang istri sekilas, hingga kemudian ia melangkah ke kamar mandi.
Sementara Airin hanya bisa mengulum senyumannya karena berhasil mengelabui mantan cassanova tersebut.
Begitu juga dengan Leon, saat ia akan memulai kembali, ia telah mendapati Selin tertidur dengan nyenyak nya.
"Sial, ini semua gara-gara si Gara. Tidurkan Selin nya," umpat Leon kesal lalu menyusul sang istri ke alam mimpinya.
Keesokan paginya, Gara dan Airin tengah bersiap untuk mencari rumah sakit lainnya.
"Bagaimana keadaan mu Airin? Apa masih mimisan?" tanya Gara kepada sang istri.
"Tidak," jawab Airin sembari mengoleskan selai kacang ke roti Gara.
__ADS_1
"Lalu, apa kamu masih merasakan pusing?" tanya Gara lagi.
"Tidak juga," jawab Airin singkat.
"Sakit macam apa ini? Apa semua penderita leukimia seperti ini?" tanya Gara melingkarkan tangannya di pinggang Airin.
"Entahlah mas. Aku belum pernah merasakannya. Tapi tubuhku rasanya baik-baik saja. Apa kita akan tetap ke rumah sakit?" tanya Airin merasa dirinya baik-baik saja.
"Ya jelas dong. Kita harus memastikan kesehatan mu. Aku tidak mau menyesal di kemudian harinya karena aku lalai menjagamu," jawab Gara mendudukkan Airin ke pangkuannya.
"Kamu ini bisa saja mas," jawab Airin malu.
"Ya sudah, sekarang ayo kita berangkat, kasihan si kembar di tinggal lama-lama," ucap Gara berdiri dari tempat duduknya bersamaan dengan Airin.
Hampir satu jam lebih, Gara dan Airin akhirnya tiba di rumah sakit tempat dimana mereka akan mencari second opinion. Setelah mendaftar, Gara dan Airin pun langsung antri menunggu nama sang istri terpanggil.
Sementara di penjara, Liona terus mencoba menghubungi Lyra. Meskipun berkali-kali Lyra tidak menjawabnya, namun Liona pantang menyerah. Setiap hari Liona selalu mencoba menghubungi Lyra hingga hari ini panggilannya di angkat oleh kakak kandungnya itu.
"Memang kenapa? Kenapa kakak harus mengangkat telpon dari mu? Apa mau mu Liona?" jawab Lyra yang saat ini sedang beristirahat di kamarnya.
"Kenapa kakak bicara seperti itu? Aku ini adik kandung mu kak. Kakak tidak bisa seperti ini padaku," protes Liona kepada kakaknya itu.
"Haha.. Liona.. Liona.. Sekarang saja kamu bicara seperti itu. Kemarin-kemarin ini kamu kemana? Mana ada adik yang mengambil suami kakaknya," jawab Lyra seketika membuat telinga Liona panas.
"Kak maafkan aku. Itu masa lalu. Kali ini aku benar-benar sudah sadar dengan semua kesalahan ku. Kak aku tidak punya siapa-siapa lagi selain kakak. Kakak ingat apa katak Ibu dan Ayah dulu? Kita harus saling menjaga satu sama lainnya," ucap Liona membuat Lyra teringat akan janjinya kepada kedua orang tuanya sebelum mereka berpulang dulu.
"Baik, kakak memang pernah berjanji kepada Ibu dan juga Ayah. Katakan, sekarang apa mau mu." tanya Lyra kepada Liona.
"Aku gak banyak mau kok kak. Yang ku mau, jika aku sudah pulang dari penjara nanti, tolong siapkan tempat tinggal dan pekerjaan untukku. Aku juga tidak mau menyusahkan kakak lagi," jawab Liona menaikkan satu alisnya.
"Hhhhhh, baiklah. Kakak akan turuti itu. Tapi kamu harus ingat, kakak hanya membantumu satu kali saja. Jadi, tolong pergunakan kesempatan ini baik-baik," jawab Lyra menga menyanggupi permintaan sang adik.
"Baik kak. Terima kasih. Itu namanya baru kakak yang baik," ucap Liona kemudian mematikan panggilannya.
__ADS_1
.
.
"Ibu Airin," panggil perawat tersebut sembari memerintahkan Airin untuk masuk ke dalam ruangan dokter.
"Selamat siang, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter tersebut ramah.
"Ada dokter. Jadi begini, beberapa hari yang lalu saya mimisan dan memutuskan untuk berkonsultasi ke dokter di rumah sakit lain. Setelah melakukan beberapa pemeriksaan, keesokannya saya di beri hasilnya, dan hasilnya adalah saya mengidap penyakit leukimia. Tapi anehnya saya tidak merasakan sakit atau gejala-gejala lainnya," jawab Airin menjelaskan apa yang ia rasakan kepada dokter tersebut.
"Baiklah, kalau begitu kita akan lakukan pemeriksaan lab dan beberapa pemeriksaan lainnya.
Silahkan ikut saya," ucap dokter tersebut kepada Airin.
Setelah melakukan pemeriksaan, yang hampir sama dengan pemeriksaan yang ia lakukan di rumah sakit sebelumnya, Airin dan Gara pun kembali duduk di meja konsultasi bersama dengan Gara, suami yang selalu setia menemaninya.
"Baik pak, Bu, hasilnya telah kami lakukan dan bisa di ambil sore ini ya. Jika memang Ibu menderita leukimia, maka kita akan lakukan kemoterapi secara bertahap," ucap dokter tersebut ramah.
"Baik dokter, terima kasih. Kalau begitu kami permisi dulu," jawab Airin lalu pergi meninggalkan ruangan dokter tersebut.
"Airin, hasilnya akan keluar sore ini, bagaimana kalau kita pulang dulu untuk menemui si kembar. Entah kenapa, tiba-tiba saja aku merasa kangen sekali dengan anak-anak itu," ucap Gara merasakan sesuatu yang tak dapat ia jelaskan dengan kata-kata.
"Haha. Baiklah. Kalau begitu ayo kita pulang dan menemui si kembar. Aku juga merindukannya," jawab Airin dan mereka akhirnya memutuskan untuk pulang.
Beberapa saat kemudian, saat Gara dan juga Airin telah tiba di pekarangan rumahnya, ia tak mendapati satpam yang biasanya bertugas di tempat biasanya. Gara masih berpikiran positif, ia dan Airin pun berjalan memasuki rumah dan melihat rumah dalam keadaan berantakan.
"Kenapa seperti ini?" tanya Airin heran. Bantal sofa berserakan di mana-mana, dan beberapa pecahan kaca memenuhi lantai tersebut.
Dari bawah ia melihat kamar si kembar terbuka lebar. Seketika Airin menjadi cemas, begitu juga Gara yang berlari ke lantai dua rumahnya menuju kamar si kembar.
Setibanya di depan pintu kamar, Gara terkejut saat melihat baby sitter dan asisten rumah tangganya dalam keadaan terikat. Sementara itu, tiga orang pria bertopeng tengah mencoba untuk menggendong si kembar dan hendak membawanya pergi.
"Sedikit saja kalian menyentuh si kembar, maka jangan salahkan aku jika tubuh kalian itu terpisah-pisah dari tempatnya berada," ucap Gara mengejutkan gerombolan maling itu.
__ADS_1