
Sekembalinya dari salon, Kanaya pun akhirnya tiba di rumah saat matahari mulai tenggelam. Kanaya yang mencemaskan Kenzie langsung pergi menemui putra sambungnya itu untuk memastikan jika Kenzie baik-baik saja. Dan akhirnya, Kanaya lega karena Kenzie ternyata baik-baik saja dan bari saja di tidurkan oleh baby sitter nya.
Dengan langkah ringan, Kanaya pun langsung menuju kamarnya, dan ia pun terkejut saat melihat kamarnya telah dihias seperti kamar pengantin baru.
***
"Siapa yang melakukan ini?" tanya Kanaya pada dirinya sendiri.
"Aku," jawab suara laki-laki yang berasal dari ruang walk in closet.
"Ka.. Kakak," ucap Kanaya tampak terkejut dan seketika jantungnya deg-degan saat melihat Zilgwin yang bertelanjang dada dan celana bokser.
"Bagaimana? Apa kamu sudah mengerjakan apa yang aku perintahkan?" tanya Zilgwin yang terus berjalan ke arah Kanaya.
"Su.. Su.. Sudah kak," jawab Kanaya semakin mundur untuk menghindari Zilgwin.
"Bagus," ucap Zilgwin menarik tangan Kanaya sehingga gadis tersebut langsung berpindah ke pelukannya.
"Aaaaaaa," teriak Kanaya kaget. Selama dua tahun menikah, baru kali ini Zilgwin ia merasakan bagaimana pelukan dari seorang suami. Jantung Kanaya berdetak dengan begitu cepat.
Jujur saat ini, Kanaya sangat gugup sekali.
Begitu juga dengan Zilgwin, meskipun ini bukan pengalaman pertama untuk Zilgwin, namun harus di akuinya, ia juga sedikit gugup pada saat ini.
"Kamu gugup Kanaya?" tanya Zilgwin berbisik di telinga Kanaya.
"I.. I.. Iya kak," jawab Kanaya gelagapan dengan nafas yang memburu.
"Oke, sekarang mari kita mulai permainan ini di atas ranjang yang telah aku persiapkan khusus untuk mu," bisik Zilgwin di telinga Kanaya, seketika, mendengar kata-kata Zilgwin, bulu kuduk Kanaya pun berdiri.
Tak banyak tanya, Zilgwin pun mencoba menghilangkan rasa canggungnya lalu menggendong Kanaya ke atas ranjang mereka.
__ADS_1
Sementara itu, Kanaya hanya dapat diam sambil memejamkan matanya dikala Zilgwin mulai menyentuhnya.
'Semoga saja ini awal yang baik untukku memperbaiki dan mempertahankan rumah tangga ku dengan kak Zilgwin,' batin Kanaya di saat tubuhnya mulai di cicipi suaminya itu.
Sementara itu.....
'Semoga saja dengan cara ini, kamu tidak berpikiran lagi untuk meninggalkan ku Kanaya,' batin Zilgwin terus menjelajahi setiap inci bagian tubuh Kanaya.
"Mmmmhhhhh," ******* Kanaya akhirnya keluar begitu saja dari mulut mungilnya itu. Zilgwin yang mendengarnya pun seketika semakin bergairah dan bersemangat untuk menyetubuhi istrinya itu.
Semakin lama, permainan Zilgwin semakin panas dan terang-terangan. Kanaya yang tadinya berpakaian utuh, kini berangsur-angsur telanjang. Sementara Zilgwin, yang tadinya sudah bertelanjang dada kini telah membuka pakaian lain yang menempel di tubuh atletisnya.
Kedua insan tersebut kini tengah larut dalam urusan ranjang mereka. Belum saja apa-apa, peluh sudah mulai membasahi kedua tubuh mereka, sehingga permainan ranjangnya semakin panas dan bergairah.
Tangan Zilgwin yang dulunya anti menyentuh Kanaya, kini tengah sibuk bergerilya menjelajahi setiap inci tubuh istri yang tak di anggapnya itu.
Begitu juga dengan bibirnya yang sedari tadi sibuk melakukan penautan dengan bibir mungil sang istri.
"Ohh Kanaya," desah Zilgwin untuk pertama kalinya, sehingga membuat bulu kuduk Kanaya meremang.
Puas bermain dengan bibir Kanaya, kini Zilgwin berpindah ke leher jenjang sang istri. Setelah membuat tanda bekas kepemilikan di sana, barulah Zilgwin berpindah ke bagian PYD Kanaya, sehingga Kanaya pun lagi-lagi di buat mendesah kenikmatan akibat ulah suaminya itu.
Zilgwin yang sejatinya masih mencintai dan menyayangi Laura, berusaha mengingat wajah sang mantan istri di saat ia tengah bermain ranjang dengan Kanaya. Namun hasilnya nihil. Bahkan tidak sedikitpun wajah Laura yang melintas di dalam ingatannya.
'Kenapa gue tidak bisa mengingat lagi wajah Laura? Bukankah gue sudah sangat mencintainya selama ini?' batin Zilgwin bertanya-tanya.
Zilgwin pun akhirnya mencoba membuka matanya, dan menghentikan permainannya untuk sesaat. Ia fokus menatap wajah cantik Kanaya yang tengah terengah-engah akibat ulahnya.
"Ka.. Kakak kenapa menatap ku?" tanya Kanaya malu.
"Nay, kamu cantik sekali malam ini. Aku bodoh, selama ini aku tidak tau sisi lain dari dirimu," jawab Zilgwin lalu memulai kembali permainannya.
__ADS_1
Kali ini, Zilgwin benar-benar memberikan nafkah batin Kanaya dengan tulus tanpa iming-iming seorang anak.
Saat ini Zilgwin tidak lagi mengingat Laura. Yang ada dalam pikirannya adalah Kanaya, istri yang sudah dua tahun ia nikahi, namun tak pernah ia sentuh sedikitpun.
'Selain baik, ternyata Kanaya cantik juga. Dia memang wanita dan istri yang sempurna, hanya saja, kehadirannya tidak bisa menggoyahkan posisi Laura di hatiku,' batin Zilgwin terus mencumbui tubuh Kanaya.
Puas bermain dengan tubuh indah Kanaya, kini Zilgwin yang sudah bernafsu tersebut mulai melakukan penyatuan, namun setelah berusaha cukup keras, miliknya tidak berhasil menembus pertahanan milik Kanaya.
Sementara Kanaya sedari tadi sudah meringis kesakitan, namun, Zilgwin tidak menyadarinya karena terlalu fokus pada obsesinya untuk menjebol pertahanan Kanaya.
"Kanaya, punya mu sempit sekali. Apa kamu kesakitan?" tanya Zilgwin masih belum menyadari jika sedari tadi Kanaya sudah merasakan sakit dan air matanya sudah bercucuran.
"Nay? Kamu menangis? Oh tidak. Kanaya maafkan aku," ujar Zilgwin dengan suara serak dan baru menyadari jika Kanaya tengah menangis menahan perih.
"Tidak apa-apa kak. Aku baik-baik saja," jawab Kanaya menghapus air matanya.
"Apa kamu masih sanggup? Jika tidak, kita hentikan aja. Kita akan melakukannya lain kali saja," ucap Zilgwin merasa kasihan dengan Kanaya.
"Masih, aku masih sanggup, tapi tolong pelan sedikit kak," jawab Kanaya yang tidak enak untuk menghentikan permainannya, meskipun Kanaya tidak ingin melanjutkannya.
"Baiklah, aku akan melakukannya dengan sangat pelan. Aku janji," balas Zilgwin lalu kembali mencium bibir Kanaya sebentar dan barulah ia kembali berusaha untuk menjebol pertahanan Kanaya.
"Awww kak sakit," keluh Kanaya sembari mendesah.
"Maafkan aku. aku janji akan pelan. Kamu tahan sedikit ya, ini sudah hampir masuk semuanya," jawab Zilgwin lalu menghentakkan kepunyaannya ke dalam V milik Kanaya dengan cukup kuat sehingga Kanaya merintih kesakitan.
"Maafkan aku Kanaya, jika aku tidak melakukannya, maka ini tidak akan selesai-selesai," ucap Zilgwin menatap Kanaya dengan tatapan sayu nya.
Zilgwin pun menghentikan permainannya sejenak, ia mau memberi waktu untuk Kanaya sesaat.
Beberapa saat kemudian, setelah merasa Kanaya tenang, dengan perlahan lun Zilgwin mulai menggoyangkan pinggulnya, sehingga ******* Kanaya pun keluar begitu saja dari bibir manisnya.
__ADS_1
"Oh, Nay," desah Zilgwin merasakan kenikmatan yang sudah lama ia tak dapatkan. Zilgwin adalah tipe suami yang setia. Meskipun lama di tinggal Laura, namun ia tidak pernah berbuat macam-macam di luaran sana.