
"Jika kalian katakan, maka masing-masing kalian akan saya kasih uang sebanyak seratus juta, dan saya akan mencabut laporan polisi ini. Kalian bisa hidup seperti biasa. Tapi ingat, jika kalian berbohong, maka saya jamin kalian akan membusuk di penjara," ucap Emanuel menatap ketiga maling yang telah berusaha menculik cucunya serta mencelakai putranya itu.
***
Para penjahat itu kemudian saling pandang satu sama lainnya. Mereka seolah mendiskusikan tawaran yang diberikan Emanuel kepada dirinya.
"Bagaimana menurut kalian berdua?" tanya salah satu dari maling tersebut.
"Andai saja tari kamu menerima tawaran uang milyaran itu, kita akan lebih untung dari ini. Kita terima saja yang ini, daripada tidak dapat apa-apa," ucap maling satunya lagi.
"Ya, mana aku tau jika kita akan berakhir seperti ini," balas maling tersebut kepada temannya.
"Bagaimana, Kalian akan memberi tahukan siapa dalangnya atau tidak? Jika tidak, saya juga tidak akan memaksanya, saya hanya bisa memastikan jika kalian akan membusuk di penjara atas kasus penganiayaan, dan juga penculikan.
"Baiklah, kami akan memberi tahukannya, tapi bagaimana kami bisa mempercayaimu?" tanya salah satu maling tesebut.
"Ini kartu namaku, kalian bisa mencari ku di alamat tersebut setelah bebas nanti. Sekarang katakan, siapa yang menyuruh kalian?" jawab Emanuel kembali bertanya.
Sebelum para maling itu memberi tahukan otak di balik semua ini, Emanuel lebih dulu memanggil polisi untuk mencatat dan merekam semua pengakuan dari ketiga maling tersebut.
"Sudah, sekarang katakan, siapa yang menyuruh kalian?" tanya Emanuel lagi.
"Baiklah, yang menyuruh kami adalah seorang dokter cantik, kami sama sekali tidak tau apa tujuannya, yang jelas kami diberikan tugas untuk menculik bayi-bayi kembar itu lalu memberikannya kepada dokter cantik tersebut.
"Dokter cantik? Siapa namanya? Dan di rumah sakit mana dia bertugas?" tanya Emanuel mengerutkan keningnya.
"Namanya dokter Sinta, dia bekerja di rumah sakit XX, selain itu, dia juga merupakan anak dari rumah sakit tersebut," jawab salah satu dari maling tersebut.
"Apa? Bukannya itu rumah sakit terbaik di negara ini?" tanya Emanuel kaget.
__ADS_1
"Ya, anda benar. Maaf hanya itu saja yang kami ketahui. Sekarang, tolong cabut laporan anda," jawab maling tersebut.
"Baiklah, saya akan mencabut laporannya setelah polisi berhasil menangkap wanita itu. Bagaimana pun juga, dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya itu," jawab Emanuel dengan tatapan dinginnya.
"Baiklah, kami akan menunggunya. Kami harap anda tidak mengingkari janji," ucap maling tersebut.
"Tenang saja. Saya ini laki-laki. Pantang bagi saya untuk ingkar janji pada siapapun," jawab Emanuel lalu pergi meninggalkan kantor polisi tersebut
Sekembalinya dari kantor polisi, Emanuel langsung pergi menemui putranya yang tengah di rawat di rumah sakit yang berbeda.
Ia akan menanyakan identitas wanita yang memiliki niat untuk menculik cucu-cuvu kesayangannya itu.
Beberapa saat kemudian.............
"Gara," panggil Emanuel saat sudah berada di ruangan inap anaknya itu.
"Papa. Mama mana?" tanya Gara tak melihat keberadaan sang mama.
"Airin sedang ke apotik pa. Ada apa? Sepertinya ada hal yang penting," tanya Gara sudah dapat menebak raut wajah papanya itu.
"Kamu benar nak. Ada yang mau papa tanyakan sama kamu. Ini mengenai penculikan si kembar," jawab Emanuel duduk di sebelah putranya.
"Penculikan si kembar? Apa papa sudah berhasil menemukan siapa dalangnya?" tanya Gara berusaha duduk.
"Kamu tidur saja, tidak usah di paksakan. Papa sudah mendapatkan petunjuknya dari ketiga pelaku tersebut. Mereka mengatakan jika dalangnya adalah seorang dokter cantik bernama Sinta. Selain itu, dia juga anak dari pemilik rumah sakit XX tersebut," jawab Emanuel menjelaskan.
"Apa? Jadi pelakunya adalah Sinta? Tapi untuk apa dia melakukan semua itu?" tanya Gara terkejut saat mendengar penjelasan dari papanya tersebut.
"Kamu mengenalnya? Jangan katakan dia adalah salah satu dari korban wanita mu Gara," tanya Emanuel menatap tajam putranya.
__ADS_1
"Tidak pa. Dia itu teman satu kelas aku waktu di SMA. Dia dulu memang pernah menyatakan perasaannya padaku, tapi aku tolak karena waktu itu aku berpacaran dengan Liona," jawab Gara membuat Emanuel mulai mengerti apa maksud dan tujuan Sinta menculik cucu-cucu nya itu.
"Tapi kamu tidak pernah menyentuhnya kan?" tanya Emanuel lagi.
"Tidak pa. Aku berani bersumpah pa," jawab Gara tidak berbohong.
"Baiklah, papa percaya. Lalu apa yang akan kita lakukan kepada dokter Sinta itu? Apa kita akan menjebloskannya ke penjara juga?" tanya Emanuel meminta pendapat putranya.
"Harus pa. Dia harus di beri efek jera. Aku tidak peduli dia itu anak siapa, dia telah membuat nyawaku dalam bahaya, dan dia juga hampir menculik si kembar dariku dan juga Airin," jawab Gara berapi-api.
"Baiklah, kalau gitu papa akan membuat laporan untuknya. Kamu istirahatlah. Papa akan pergi sebentar," ucap Emanuel meninggalkan putranya itu.
"Cih, dia bahkan lebih mencemaskan cucunya sendiri dari pada aku putra kandungnya. Jangankan perhatian, menanyakan keadaanku saja tidak terpikirkan oleh laki-laki tua itu," umpat Gara saat papa nya itu telah pergi meninggalkan ruang rawatnya.
Kadang Gara sering merasa cemburu di kala papanya itu lebih perhatian kepada si kembar ketimbang dirinya yang menjadi anak semata wayangnya.
Di rumah sakit XX, Sinta masih menunggu kabar dari anak buah yang ia perintahkan untuk menculik ke tiga bayi kembar Gara dan juga Airin.
Ia sudah tidak sabar untuk membawa Gara kedalam pelukannya. Namun sayang, Sinta sama sekali belum tau jika anak-anak buahnya itu sudah berada di kantor polisi dan menyebut namanya sebagai dalang dari semua itu.
"Kenapa mereka lama sekali memberi tau kabarnya kepadaku? Terakhir, mereka mengatakan jika sudah berada di depan rumah Gara. Apa jangan-jangan mereka ketahuan dan dibawa ke kantor polisi?" tanya Sinta pada dirinya sendiri.
"Tidak, ini tidak mungkin. Aku akan coba menghubunginya," tambah Sinta mulai khawatir.
"Halo, kalian dimana? Kenapa tidak memberi kabar padaku? Apa kalian telah berhasil untuk menculik bayi-bayi kembar itu?" tanya Sinta dengan tergesa-gesa.
"Ka.. Kami berhasil Bu menculik bayinya. Dimana kita akan bertemu? Saya lupa Bu," jawab maling tersebut itu gugup.
"Baiklah, kita akan bertemu di rumah saya, saya akan kirimkan alamat rumahnya padamu sebentar lagi," jawab Sinta tanpa rasa curiga sedikitpun.
__ADS_1
Saat Sinta menelpon anak buahnya itu, polisi yang telah menyita ponsel mereka tersebut langsung menemui maling tersebut untuk menjawab pertanyaan Sinta. Mereka sengaja menjadikan maling itu sebagai umpan agar Sinta mengatakan rencana apa yang akan di ambil Sinta sat itu.