
"Sebentar kak, sepertinya ada sesuatu yang baru saja keluar dari V ku. Aku ke kamar mandi dulu ya kak," jawab Selin dengan terengah-engah.
"Maksud kamu apa? Sini biar aku yang melihatnya," ucap Leon mengintip dari balik CD Selin.
"Astaga.. Kenapa harus sekarang," ucap Leon frustasi.
"Maaf ya kak, aku juga tidak tau jika hari ini adalah harinya," jawab Selin merasa bersalah.
"Huhh, ya sudah, gak papa kok. Kamu tidur aja, aku mau ke toilet dulu," jawab Leon berdiri dengan lemas.
"Hmmmm, sebentar kak, aku mau pasang pembalut dulu. Gak papa kan kak jika aku yang ke toiletnya duluan," ucap Selin dibalas dengan anggukan kepala oleh Leon.
"Ada aja yang mengganggu. Huh. Terpaksa main sendiri pakai sabun nih kayaknya," gumam Leon sembari menunggu Selin di toilet.
Beberapa saat kemudian, Selin pun akhirnya keluar dari kamar mandi.
"Kakak gak jadi ke kamar mandinya?" tanya Selin kepada suaminya itu.
"Jadi, kamu sudah selesai?" tanya Leon yang merasa pundaknya sudah sangat berat.
"Sudah kak," jawab Selin sembari menyelimuti Clara.
Dengan langkah gontai, Leon pun masuk ke kamar mandi. Ia kemudian menutup pintu dan menyelesaikan hasratnya menggunakan sabun.
Entah apa yang di lakukan Leon, sudah hampir tiga puluh menit, tapi ia tak kunjung keluar juga.
"Kak Leon di dalam ngapain ya? Kenapa lama sekali?" tanya Selin merasa heran.
Selin berniat untuk memanggil Leon, namun sebelum ia tiba di depan pintu kamar mandi, Leon lebih dulu keluar dengan wajah yang tidak enak di pandang.
"Kakak ngapain di dalam? Kenapa lama sekali?" tanya Selin penasaran.
"Enggak ngapa-ngapain kok sayang. Hmmmm, Selin, aku tidurnya sama Clara aja ya. Bukannya apa, kepalaku benar-benar sakit karena hasrat ku yang tidak tuntas. Gak papa kan sayang?" ucap Leon dengan lemas.
__ADS_1
"Iya gak papa kok kak. Aku ngerti. Maafkan aku ya kak," jawab Selin tersenyum.
"Makasih, kalau gitu, aku tidur duluan ya," pamit Leon mencium kening istrinya itu, lalu berjalan ke kasur tempat Clara tengah tertidur lelap.
'Kasihan sekali kamu kak,' batin Selin menatap punggung suaminya itu.
'Sial banget aku. Udah istri lagi halangan, main pakai tangan pun gak berhasil. Bukannya lega, malah tambah sakit nih kepala,' batin Leon yang menutup harinya dengan kekecewaan.
Keesokan harinya, Yuni telah berangkat pagi-pagi sekali menuju pondok pesantren tempat Kamelia menempuh pendidikan.
Ia bermaksud untuk mengajak Kamelia untuk menemui Paman Sam yang tengah sekarat.
Bagaimana pun juga, Kamelia adalah anak kandung dari laki-laki bejat tersebut.
Tapi jika Kamelia menolak, ia tak akan memaksa putrinya itu untuk menemui laki-laki yang berstatus sebagai ayah kandungnya itu.
"Ada apa Bu?" tanya Kamelia di saat jam istirahatnya.
"Ada sesuatu yang ingin Ibu sampaikan padamu Kamelia," ucap Ibu Yuni menggenggam tangan putri semata wayangnya itu
"Apa Bu? Katakan saja," jawab Kamelia penasaran.
"Hhhhhhhh, begini sayang, besok Ibu akan pergi ke Jakarta untuk menemui Ayah kandung mu," ucap Ibu Yuni membuat Kamelia sangat terkejut.
"Untuk apa Bu?" tanya Kamelia menautkan kedua alisnya.
"kemaren kakaknya Samuel datang menemui Ibu. Dia mengatakan jika adiknya itu tengah sakit dan di rawat di rumah sakit saat ini. Ia mau, kita menemuinya untuk yang terakhir kalinya. Bagaimana menurutmu sayang? Apa kamu akan ikut bersama dengan Ibu untuk menemuinya?" jelas Ibu Yuni kepada putrinya itu.
"Maaf Bu, Ibu pergi saja. Kamelia tidak akan ikut dengan Ibu. Maafin Kamelia ya Bu," jawab Kamelia kepada sang Ibu tercinta.
"Tidak apa-apa sayang, Ibu maklumi kamu kok. Ya sudah, kalau begitu belajarlah yang rajin. Ibu pulang dulu ya nak. Salam untuk suami mu," ucap Ibu Yuni setengah berbisik kepada putrinya itu.
Sekembalinya Ibu Yuni dari pondok pesantren, ia kemudian kembali ke rumahnya. Rencananya Yuni akan berangkat besok pagi-pagi sekali ke Jakarta untuk menemui Paman Sam. Namun di tengah perjalanan, ia mendapatkan kabar dari Lyra jika laki-laki yang telah memberinya anak satu itu dalam keadaan sangat buruk. Ia terus saja memanggil nama Kamelia dan juga nama dirinya.
__ADS_1
Karena kasihan dan tidak enak dengan Lyra, Yuni langsung memutuskan untuk berangkat hari itu juga. Beberapa jam kemudian, Yuni yang sudah tiba di Jakarta itu pun langsung pergi ke rumah sakit tempat Paman Sam di rawat.
"Permisi," ucap Yuni masuk ke dalam ruangan Paman Sam bersama dengan Lyra yang ada tepat di belakangnya.
Semua anggota keluarga yang sudah berada di dalam ruangan tersebut melihat ke arah Lyra dan juga Yuni.
"Silahkan masuk Lyra, Yuni," ucap Emanuel yang telah mengenal Yuni.
Mendengar Emanuel menyebut nama Yuni, seketika Paman Sam membuka matanya. Ia pun terus menatap Yuni dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Yu.. Yuni, mana Kamelia?" tanya Paman Sam sembari berusaha duduk, namun ia tak mampu dan akhirnya Emanuel hanya meninggikan bantal yang ada di kepalanya.
"Maaf Sam, Kamelia tidak mau ikut denganku untuk menemui mu. Lagi pula, saat ini Kamelia juga sedang mondok di sebuah pondok pesantren," jawab Yuni yang sangat prihatin melihat keadaan Samuel.
"Ba.. Baiklah, Ti.. Tidak apa-apa. Oh ya Yuni, aku sengaja memanggilmu kesini karena aku ingin meminta maaf atas semua kesalahan ku padamu dan juga Kamelia. Jika aku dulunya bersifat sebagai laki-laki sejati dan tidak meninggalkan mu, maka kita akan hidup bahagia bersama Kamelia," ucap Paman Sam yang juga mengatakan hal yang sama pada Lyra sebelumnya.
"Sudah, jangan dipikirkan, itu semua telah terjadi. Aku dan Kamelia sudah memaafkan mu," jawab Yuni kepada laki-laki yang pernah singgah di hatinya itu.
"Terima kasih Yuni, Lyra. Kalian memanglah wanita baik, hanya saja karena sifat buruk ku membuat aku kehilangan semuanya," ucap Paman Sam dengan mata yang berkaca-kaca.
Apa yang di katakan Paman Sam itu sangatlah benar. Ia selalu di kelilingi wanita yang tulus menyayangi dan juga mencintainya. Hanya saja, karena sifat pengecut dan sifat buruk lainnya lah yang membuat Paman Sam kehilangan semuanya.
'Untung saja aku bertobat setelah mendapatkan Airin. Jika tidak, bisa di pastikan nasibku akan seperti Paman di hati tua nanti,' batin Gara merasa bersyukur karena ia sudah pensiun dini.
Di saat mereka tengah berbincang satu sama lainnya, tiba-tiba Paman Sam mengalami sesak nafas yabg teramat sangat. Mendadak semua orang yang ada di ruangan itu menjadi panik dan juga kaget. Saat Emanuel akan memanggil dokter, tangannya langsung di cegat oleh Paman Sam dan ia mengisyaratkan untuk tidak pergi kemana-mana.
Paman Sam terus memanggil nama Kamelia di mulutnya. Ia selalu melontarkan kata maaf kepada putri sulungnya itu.
"Yuni yang merasa kasihan pun akhirnya memutuskan untuk menelpon menantunya Ustadz Gibran dan memanggilkan Kamelia lewat panggilan video.
Beberapa saat kemudian, di saat Paman Sam masih dalam sakratul maut nya........
"Samuel lihat lah, ini Kamelia putri mu.," ucap Yuni memperlihatkan wajah Kamelia yang sudah ada di dalam layar ponsel milik Yuni.
__ADS_1