Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara

Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara
Bab 143


__ADS_3

Saat Sinta menelpon anak buahnya itu, polisi yang telah menyita ponsel mereka tersebut langsung menemui maling tersebut untuk menjawab pertanyaan Sinta. Mereka sengaja menjadikan maling itu sebagai umpan agar Sinta mengatakan rencana apa yang akan di ambil Sinta saat itu.


***


Beberapa saat kemudian, saat Sinta telah menginfokan tempat mereka akan bertemu, beberapa polisi pun mengatur beberapa siasat untuk melakukan penangkapan.


Sementara itu, Leon baru saja di rumah sakit tempat sahabatnya itu tengah di rawat pasca penusukan yang baru saja ia alami.


"Gara, kamu kenapa? Aku dengar kamu di tusuk oleh maling yang akan menculik si kembar," tanya Leon tang tiba-tiba saja datang dengan membawa satu keranjang buah dan berlari ke arah Gara.


"Iya, tapi kamu tenang saja, mereka semua telah mendekam di penjara. Leon kamu tau siapa dalang dari semua ini?" jawab Gara mengajukan sebuah pertanyaan.


"Tidak, aku tidak tau. Siapa dia?" jawab Leon balik bertanya.


"Hhhhhh, dia adalah Sinta, teman sekolah kita sewaktu SMA dulu," jawab Gara membuat Leon ternganga.


"Apa? Sinta? Tapi untuk apa? Kenapa ia tiba-tiba datang kedalam kehidupan mu dan melakukan ini semua? Apa kamu mempunyai masalah dengannya?" tanya Leon dengan banyak pertanyaan.


"Aku tidak punya masalah dengannya. Hanya saja aku mengira, dia sakit hati dengan kebahagiaan ku saat ini. Kamu ingat, dia dulu pernah menyatakan cinta, namun aku tolak karena aku sedang berpacaran dengan Liona," jawab Gara mencoba mengira-ngira.


"Aku rasa juga begitu. Untung saja kamu masih bisa di selamatkan. Kalau tidak, aku pasti akan berduka lagi untuk waktu yang cukup lama," jawab Leon seenaknya.


"Ya, untunglah. Ternyata jadi laki-laki idaman sepanjang masa itu resikonya memanglah berat. Untung saja iman ku kuat," ucap Gara membuat Leon jengkel.


"Hhhhh, bukan iman mu yang kuat, tetapi, Airin yang pintar mendidik laki-laki cassanova seperti mu. Oh ya, ngomong-ngomong Airin kemana?" tanya Leon yang mulai menyadari Airin tidak ada di ruangan tersebut.

__ADS_1


"Airin pulang sebentar untuk mengantarkan asi nya untuk si kembar. Sebentar lagi juga datang. Selin bagaimana. Apa dia sudah hamil anak mu?" jawab Gara kembali bertanya.


Meski bertemu setiap hari di kantor, sudah lama mereka tidak berbincang hangat seperti ini. Biasanya dulu Gara dan Leon sering menghabiskan waktu hanya untuk membicarakan seputar masalah pribadi yang mungkin tidak begitu penting-penting amat.


"Belum. Mungkin sebentar lagi. Gara kamu tau, sepertinya aku sudah mulai mencintainya tanpa mengurangi rasa cintaku kepada Gauri," curhat Leon kepada sahabatnya itu.


"Syukurlah. Semoga saja kalian berjodoh sampai maut memisahkan. Oh ya, dulu kan, setau ku Gauri itu termasuk wanita yang nakal dan sering menghabiskan malamnya di luaran sana. Ia sangat berbeda sekali dengan almarhumah kakaknya. Apa sewaktu kamu pertama kali menyentuhnya, dia sudah tidak suci lagi?" tanya Gara yang memang selalu terang-terangan kepada sahabatnya itu.


"Masih. Dia masih suci waktu pertama kali aku menyentuhnya. Awalnya aku juga berpikir seperti itu, namun saat kami melakukannya, ia merasa sangat kesakitan dan miliknya mengeluarkan darah di malam itu. Ahhh, mengingatnya, rasanya aku ingin pulang ke rumah secepatnya," ucap Leon teringat pada Selin.


"Sialan kamu. Harusnya kamu tidak menceritakannya secara detail seperti itu. Kamu tidak lihat, aku sedang terluka dan tidak bisa melakukannya dengan Airin dalam beberapa hari ini," umpat Gara menatap kesal sahabatnya itu.


"Lah? Bukannya kamu sendiri yang menanyakan hal itu kepadaku? Dasar bocah aneh," jawab Leon rolls eyes.


"Bodo amat. Kamu baik-baiklah di sini. Aku mau pulang dulu. Selin ku sudah menunggu di rumah dengan semua kenikmatannya," ucap Leon meninggalkan sahabatnya begitu saja.


"Cih, dasar otak mesum. Pulang sana. Aku tidak peduli," jawab Gara mendecih.


"Baik. Selamat tinggal," jawab Leon lalu menutup pintu ruangan Gara.


"Sialan si Leon, dia itu memang sahabat gak ada akhlak. Bisa-bisanya dia meninggalkan ku sendirian di rumah sakit ini. Awas saja nanti, aku akan ganggu waktumu dengan istrimu," gumam Gara berpikiran licik.


Sementara itu, Sinta yang telah berada di rumahnya tengah menunggu kedatangan anak buahnya dan juga si kembar. Ia sangat senang sekali, terlihat jelas dari senyumannya yang tak pernah hilang dari wajah cantiknya itu.


"Aku yakin, Gara dan juga Airin saat ini tengah menangisi anak-anak kembar mereka. Nanti malam aku akan menelponnya dan memberi tahukan jika si kembar ada bersamaku. Aku akan meminta syarat pernikahan dengannya. Dengan begitu, Gara benar-benar menjadi milikku selamanya," gumam Sinta yang sedari tadi mondar-mandir di dalam rumahnya.

__ADS_1


Tak lama kemudian, bel rumah Sinta tiba-tiba saja berbunyi. Sinta yang berada di dapur pun dengan cepat berlari dan membukakan pintu untuk tamu istimewa itu


"Akhirnya kalian datang juga. Mana anak-anak kembar itu?" tanya Sinta tak melihat ketiga anak buahnya itu menggendong si kembar.


"Dia.. Dia.....," ucap salah satu maling tersebut terputus.


"Jangan bergerak, dan angkat tangan anda ke atas," ucap polisi yang tiba-tiba saja muncul di belakang penjahat tersebut.


Sinta pun langsung kaget, ia tak menyadari jika tangan anak buahnya itu telah di borgol sedari tadi ke belakang.


"Apa-apaan ini?" tanya Sinta kaget.


"Ibu Sinta, kami datang ke sini untuk melakukan penangkapan terhadap anda atas kasus penculikan dan juga penganiayaan terhadap tiga bayi kembar dan juga penyerangan kepada saudara Gara Emanuel atas perintah anda sebagai dalangnya.


"Tidak, bapak tidak bisa menangkap saya. Bapak tidak kenal siapa saya ha?" ucap Sinta mencoba melawan aparat kepolisian.


"Kami tau siapa anda, tapi sayang, hukum kami tidak mengenal siapa anda dan apa status anda. Bagi kami, yang bersalah akan tetap mendapat hukuman sesuai kesalahan yang ia perbuat," jawab polisi tersebut sembari membawa Sinta menuju mobil dinas polisi.


"Tidak. Saya tidak mau di tangkap. Pak tolong lepaskan saya, saya janji akan memberikan bapak uang dalam jumlah yang sangat banyak," ucap Sinta meronta-ronta.


"Maaf Bu, kami ini polisi. Berapapun Ibu menyuap kami, itu tidak akan bisa sama sekali," jawab polisi tersebut.


"Sialan kalian. Kalian bertiga juga, kenapa kalian harus membawa polisi untuk menemui ku ha? Kalian ini memang bodoh, tak bisa di andalkan," teriak Selin kepada ketiga orang suruhannya itu.


"Maaf Bu, kami terpaksa melakukannya, karena kami sudah tertangkap lebih dulu. Mau tak mau, kami harus memberi tahukannya karena Ibu tiba-tiba menelpon ke nomor saya," jawab salah satu dari dari ketiga maling itu.

__ADS_1


__ADS_2