
Keesokan harinya, Airin yang baru saja sampai di rumah yang di belikan Gara untuknya begitu kaget melihat tiga satpam dan delapan pengawal yang menyambut kedatangannya. Ditambah lagi dengan dua asisten rumah tangga dan satu asisten pribadi yang bekerja untuk mengurus semua keperluan Airin sehari-hari selama dua puluh empat jam di saat Gara tidak berada di samping Airin.
***
"Si... Siapa mereka?" tanya Airin yang heran melihat banyaknya penjaga di rumahnya.
"Mereka semua sengaja saya tugaskan untuk menjaga mu selama saya bekerja di kantor. Yang ini dan ini asisten rumah tangga yang akan mengurus semua keperluan rumah ini. Dan yang ini asisten pribadimu yang akan menemani dan menjagamu selama dua puluh empat jam selama saya tidak ada di rumah. Dan yang delapan orang ini adalah pengawal khusus untuk mu. Mereka akan menemani kemanapun kamu pergi," ucap Gara memperkenalkan mereka semua.
"Kenapa harus sebanyak ini sih? Memang ada apa?" tanya Airin heran.
"Ya gak ada apa-apa. Dokter bilang kamu harus istirahat total. Aku hanya melakukan apa yang bisa ku lakukan. Salah satunya ya dengan seperti ini. Jika kamu masih kekurangan pengawal, silahkan beri tau kepadaku, nanti aku akan mencari tambahannya," ucap Gara membuat Airin geleng-geleng kepala.
"Kau tak perlu melakukan ini semua. Aku ini sudah sembuh. Lagian mana mungkin aku hanya tiduran di atas kasur. Bisa-bisa aku stres karena bosan," protes Airin kepada Gara.
"Airin, ini semua itu harus. Kamu itu harus banyak beristirahat dan tak boleh banyak gerak. Aku gak mau kamu dan si kembar kenapa-kenapa," balas Gara memegangi pundak Airin.
"Terserah," ucap Airin lalu meninggalkan Gara begitu saja.
"Airin kamu mau kemana?" teriak Gara bertanya.
"Mau tidur," jawab Airin yang di susul Gara dari belakang.
Airin kemudian memasuki kamarnya dan langsung merebahkan tubuhnya yang terlihat lebih gemuk itu di atas tempat tidur berukuran king size itu.
"Airin apa kau marah kepadaku?" tanya Gara mendekati Airin namun tak di jawab oleh wanita hamil itu.
"Airin maafkan aku. Ini semuda demi kebaikanmu," ucap Gara sekali lagi, namun Airin masih saja diam tak bergeming.
Karena Airin tak menanggapi Gara sama sekali, Gara pun berniat untuk keluar menemui orang-orang yang telah ia pekerjakan untuk menjaga Airin.
"Aku mau makan durian," ucap Airin tiba-tiba saja.
Sontak mendengar permintaan Airin yang rasanya sangat-sangat tidak memungkin kan bagi Gara, laki-laki tampan itu kembali mendekati Airin dan akan berusaha membujuk wanita itu agar tidak meminta hal-hal yang berbahaya bagi janinnya.
"Airin, kamu makan yang lain saja ya. Kamu kan tau kalau buah itu sangat tidak baik untuk wanita hamil sepertimu," ucap Gara mencoba membujuk Airin. Lagi pula, Gara sangat anti dengan buah berduri itu.
__ADS_1
"Pokoknya aku tidak mau tau. Aku ingin sekali memakan buah itu," jawab Airin bersikeras.
"Airin ayolah. Aku akan membelikan mu buah apa saja, selain buah yang satu itu," ucap Gara masih berusaha membujuk Airin.
"Ya sudah, kalau begitu tolong usir semua orang yang kau suruh bekerja untuk menjagaku semuanya," ancam Airin.
"Aargggghhhh baik.. Baik.. Aku akan membelikan mu. Tapi kamu harus berjanji kepadaku untuk tidak menghabiskan satu buah itu," ucap Gara akhirnya mengalah.
"Baik. Aku janji. Aku akan memakannya dua biji saja," jawab Airin senang menghampiri Gara.
"Jangan lari-lari seperti itu. Nanti kamu jatuh," ucap Gara yang merasa ngilu melihat Airin berlari ke arahnya dengan perut yang sudah sangat besar seperti itu.
"Iya maaf," jawab Airin tersenyum dan menaikkan dua jari tangannya.
Beberapa jam kemudian, akhirnya buah yang di tunggu-tunggu Airin akhirnya datang juga.
Tapi seketika Airin tercengang melihat Gara yang datang dengan menggunakan masker berlampis-lampis dan tak lupa juga dengan menenteng satu buah durian dengan ukuran sangat kecil.
"Ini apa? Kenapa kecil sekali?" tanya Airin kesal.
"Ini durian, kamu tidak lihat durinya?" jawab Gara kembali bertanya.
"Ya.. Ya mana ku tau. Sudah, lebih baik kamu makan saja. Kasihan si kembar ileran nanti," jawab Gara pura-pura bodoh.
Akhirnya dengan kesal Airin mengambil buah itu dari tangan Gara. Ia kemudian membawa buah yang berukuran kecil itu ke dapur lalu berniat akan membukanya dengan pisau.
"Hai kau mau apa?" tanya Gara melihat Airin mengambil pisau berukuran sedang.
"Ya mau membuka buah ini lah. Memang mau apa lagi?" jawab Airin sewot.
"Tunggu. Aku akan panggilkan pengawal untuk membukanya," ucap Gara meninggalkan Airin sebentar.
Tak lama setelah itu, Gara pun kembali dengan membawa satu pengawal dan satu asisten pribadi yang ia rekrut untuk menjaga Airin. Ia tak lupa juga membawa dua asisten rumah tangga untuk memasak makanan untuk Airin.
"Cepat kau bukakan durian itu untuk Airin," perintah Gara kepada pengawal tersebut.
__ADS_1
Pengawal pun mengambil alih pisau dari tangan Airin. Terlihat jelas bahwa pengawal itu berusaha menahan tawanya saat melihat ukuran buah durian yang di beli oleh Gara.
Setelah pengawal tersebut membukakan durian mungil itu untuk Airin, si pengawal itu benar-benar tidak bisa lagi menahan tawanya saat melihat durian mungil itu masih sangat keras fan muda.
"Ppfffttthhhh.. Pfffttthhh, Haha," tawa pengawal itu membuat Gara menatap tajam kepada si pengawal.
"Ada apa? Kenapa kau tertawa?" tanya Gara berkacak pinggang menatap pengawal itu dengan tatapan tajam.
"Ma.. Maaf Bos. Duriannya ternyata masih muda," jawab pengawal itu memperlihatkan durian muda itu ke hadapan Gara.
Sontak Gara langsung mendapatkan tatapan tajam dari Airin. Sadar akan kesalahannya, Gara pun hanya cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.
"Kau sengaja kan membelikan aku durian muda ini?" tuduh Airin sangat kesal.
"Enggak Airin, sumpah. Aku nggak tau kalau buah itu masih muda," jawab Gara membela diri.
"Lalu kenapa jadi seperti ini?" tanya Airin mendengus kesal.
"Aku sengaja membelikan buah yang kecil itu supaya kamu makannya gak banyak-banyak. Kalau aku beli yang besar, meskipun kamu memakan dua biji doang, tapi ukurannya kan besar," jawab Gara membuat Airin sangat-sangat kesal kepada calon suaminya itu.
Sedangkan pengawal dan yang lainnya berusaha menahan tawanya melihat sikap Bosnya yang posesif itu.
"Kau..... Igggghhhh," ucap Airin kesal.
"Maaf," balas Gara dengan wajah sok imutnya.
"Sekarang kau habiskan semua isinya. Jika tidak, aku tak akan memaafkan mu," ucap Airin sangat menunjuk buah durian yang masih muda tersebut.
"Ta.. Tapi Airin.. Jangankan buah durian yang masih muda itu, yang sudah masak saja aku tidak berani memakannya," ucap Gara yang menolak permintaan Airin.
"Bodo amat. Jika kau tak menghabiskan buah itu, jangan pernah bicara lagi denganku," balas Airin rolls eyes.
Akhirnya dengan sangat terpaksa Gara pun menuruti permintaan Airin.
Ia mulai membuka maskernya dan memakan buah muda itu dengan sangat-sangat terpaksa.
__ADS_1
Para pengawal dan asisten rumah tangga itu hanya bisa berbisik satu sama lainnya melihat Gara yang menurut mereka sangat mencintai dan bucin terhadap Airin.
**MAAF JIKA DALAM PENULISANNYA BANYAK TYPO NYA YA SAY.. AUTHOR LAGI SIBUK SOALNYA, JADI NGETIKNYA TERBURU-BURU🙏🙏**