
Airin hanya diam tak menjawab apapun yang di katakan Gara. Ia masih kesal dengan kelakuan suaminya itu.
Karena ia sudah telat, Gara akhirnya berangkat. Ia akan memikirkan cara bagaimana untuk membujuk istrinya itu agar tidak marah lagi padanya.
***
Setibanya di kantor, Gara langsung mencari Leon untuk meminta bantuannya.
Di saat Airin tengah merajuk ini, Gara selalu mengandalkan sahabatnya itu.
Leon selalu punya-punya ide cantik untuk membuat Airin kembali baik.
"Leon kamu di mana? Kenapa kamu tidak ada di kantor?" tanya Gara tak melihat keberadaan Leon.
"Kamu yang kemana saja. Aku sedang ada di luar untuk meninjau proyek yang harusnya kamu tinjau pagi ini," ucap Leon kesal kepada sahabatnya itu.
"Astaga, maafkan aku Leon. Aku benar-benar tidak sengaja melupakannya. Ada sedikit masalah antara aku dan Airin tadi pagi. Maka dari itu aku mencari mu untuk meminta bantuan mu,* jawab Gara benar-benar lupa dengan jadwalnya hari ini.
"Bantu apa? Bantu kasih solusi lagi? Aku tidak mau," jawab Leon ketus.
"Kenapa kamu tidak mau. Biasanya kamu selalu mau membantuku," balas Gara merasa heran dengan sikap sahabatnya hari ini.
"Itukan biasanya. Kali ini berbeda. Aku Leon hanya bertugas sebagai bawahan mu saat di kantor saja dan hanya mengurusi urusan kantor. Jika hal lain, itu bukan urusanku," jelas Leon kemudian mematikan panggilan teleponnya.
"Halo.. Halo.. Leon," panggil Gara. Namun sayang saat di cek ternyata panggilan itu sudah mati.
"Leon kenapa? Kenapa hari ini semua orang bersikap dingin padaku," gumam Gara berjalan ke ruangannya.
"Gimana ya cara membuat Airin tak marah lagi," ucap Gara memikirkan sesuatu.
"Aku punya ide, sebaiknya aku ke toko Ibunya Zaki saja, aku akan pesankan bunga yang banyak untuk Airin. Aku yakin Airin pasti senang," ucap Gara sesaat kemudian lalu langsung pergi ke toko bunga tempat Ibu Zaki.
"Gara, tumben kesini? Ada apa nak?" tanya Ibu Zaki ramah.
"Bu, tolong bikinin bunga yang spesial dong buat Airin," jawab Gara kepada wanita paruh baya tersebut.
"Bunga? Baiklah. Kamu mau bunga yang mana?" tanya Ibu Zaki tampak senang karena kedatangan Gara.
"Bunga apa saja. Yang penting Airin tidak ngambek kan lagi," jawab Gara menyerahkan semuanya kepada Ibu Zaki.
"Baiklah, kalau begitu Ibu akan siapkan. Kamu tunggu saja di sini," jawab Ibu Zaki lalu pergi mencarikan dan merangkai bunga untuk Airin.
__ADS_1
"Ini nak bunganya," ucap pada Gara sembari memberikan saru buket bunga mawar putih.
"Terima kasih Bu, kalau begitu aku tinggal mengirimnya saja ke alamat rumah. Semoga saja Airin tak akan marah lagi," ucap Gara penuh harap.
Setelah memesan bunga di tempat Ibu Zaki, Gara kemudian kembali ke kantornya.
Sedangkan beberapa saat kemudian, bunga yang di pesan oleh Gara pun di antar oleh kurir ke rumah Airin.
"Selamat siang, saya mau mengantar bunga untuk Ibu Airin," ucap kurir tersebut dengan ramah.
"Baik, saya Airin. Terima kasih," jawab Airin lalu mengambil bunga tersebut dari tangan kurir.
Setelah kurir tersebut pergi, Airin melihat kartu ucapan yang ada di dalam bunga tersebut.
"Mas Gara," ucap Airin tersenyum.
"Ternyata dia mengira jika aku masih marah padanya," ucap Airin lagi tersenyum manis.
Ia kemudian meletakkan bunga tersebut, lalu melanjutkan pekerjaannya di dapur.
Sementara itu, di kantor, Gara mencoba menghubungi Airin. Ia berharap jika Airin tak marah lagi padanya.
"Halo sayang, apa kamu sudah mendapat kiriman bunganya?" tanya Gara to the point.
"Bu.. Bukan begitu sayang. Maksudku bukan begitu. Aku sengaja mengirimkan bunga sebagai ucapan permintaan maaf ku padamu," jawab Gara gelagapan.
"Baiklah, kalau begitu. Aku sibuk, udah dulu ya mas," jawab Airin ketus.
Sebenarnya, Airin tidaklah benar-benar marah kepada Gara. Namun karena hari ini Gara tengah berulang tahun, ia pun sengaja membuat Gara bingung akan sikapnya saat ini. Begitu juga dengan Leon yang sebelumnya di beritahukan oleh Airin. Ia sengaja bekerja sama untuk memberikan kejutan kepada sahabatnya itu.
"Airin kenapa gitu ya? Minta maaf sudah, kirim bunga sudah, tapi kenapa dia masih saja jutek begitu ya?" gumam Gara bertanya-tanya.
Disaat lamunannya tersebut, Leon tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangannya.
Ia langsung menghempaskan tubuhnya di atas sofa yang ada di ruangan CEO tersebut.
"Leon kamu darimana saja. Aku pusing sekali hari ini," ucap Gara memijit pelipisnya.
"Kamu pikir, kamu saja yang merasa pusing? Aku lebih pusing lagi tau gak. Gara-gara kamu datang telat, aku harus handle semua tugas kamu hari ini. Aku tau kamu yang punya kantor ini, tapi setidaknya jangan begini juga dong. Aku merasa tersakiti kalau seperti ini," jawab Leon sengaja memancing emosi Gara.
"Kamu kenapa nyolot sih, bukannya selama ini kamu juga sering gantiin tugas aku seperti ini. Tapi kenapa sekarang kamu protes sih?" balas Gara kesal.
__ADS_1
"Memang kenapa kalau aku protes? Kamu tidak suka? Aku capek Gara.. Aku capek.. Hiks.. Hiks," ucap Leon mulai lebai.
"Leon maafkan aku. Aku buka bermaksud begitu. Leon aku hanya..." ucap Gara terputus.
"Sudahlah Leon, aku pulang sekarang," ucap Leon lalu pergi meninggalkan ruangan Gara.
"Leon tunggu, kamu mau kemana? Leon," teriak Gara kesal.
Dengan menahan tawa, Leon terpaksa meninggalkan Gara dan langsung pulang menjemput anak dan istrinya untuk menuju rumah sahabatnya itu.
"Aaarrggghhhhh, kenapa semua orang seperti membenciku hari ini?" ucap Gara frustasi sembari mengacak-acak rambutnya.
Dua jam kemudian, Gara memutuskan untuk pulang ke rumahnya.
"Sayang, aku pulang," ucap Gara membuka pintu rumahnya.
Namun tak ada satupun penghuni rumah yang ia lihat.
"Airin?" teriak Gara sembari celingak-celinguk mencari keberadaan istrinya.
"Apa di kamar si kembar ya," ucap Gara menaiki tangga rumahnya.
Namun saat Gara sudah hampir tiba di lantai dua, si Mbok berteriak memanggilnya dari arah dapur.
"Tuan.. Tuan cari siapa?" tanya si Mbok dengan napas tang terengah-engah.
"Saya mencari istri saya. Apa Mbok tau dia berada di mana?" jawab Gara kembali bertanya.
"Maaf tuan, tadi nyonya Airin dan bayinya pergi. Beliau hanya meninggalkan surat ini kepada Mbok," jawab si Mbok pura-pura panik.
"Apa? Pergi? Pergi kemana?" tanya Gara kaget berlari ke arah si Mbok.
"Mbok tidak tau. Ini silahkan di baca tuan," jawab si Mbok memberikan suratnya.
Dengan cepat, Gara mengambil dan membaca isi surat tersebut.
"Jika kamu masih ingin bersama ku dan juga si kembar, silahkan pergi ke roof top rumah kita ini. Jika dalam lima menit kamu gak datang, maka kamu gak akan pernah lagi bertemu denganku dan juga si kembar," isi surat Airin membuat Gara pucat seketika.
Ia pun segera berlari dengan tergesa-gesa menuju roof top rumah mereka dan saat ia membuka pintu....
"Happy Birth Day," ucap Airin dan keluarga lainnya memberikan ucapan selamat ulang tahun kepada mantan cassanova tersebut.
__ADS_1
Seketika, Gara terdiam tak dapat berkata apa-apa. Selama hidupnya, baru kali ini Gara mendapatkan kejutan ulang tahun oleh semua anggota keluarganya.
Biasanya, di setiap Gara berulang tahun, ia selalu merayakannya dengan wanita-wanita cantik di bar milik Yuta.