Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara

Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara
Bab 128


__ADS_3

"Pasti nak. Bunda pasti jagain Lyra," jawab Ibu Aisyah memandangi menantunya yang mulai sadarkan diri itu.


"Lyra, kamu sadar nak?" ucap Ibu Aisyah berjalan ke arah menantunya itu dengan mata yang berkaca-kaca.


***


"Bun.. Bunda, aku kenapa? Kenapa Bunda menangis?" tanya Lyra saat ia baru saja sadar dari pingsannya.


Tanpa menjawab pertanyaan Lyra, Bunda Aisyah langsung memeluk menantunya itu dan mengucapkan selamat, sehingga Lyra merasa heran dengan apa yang sebenarnya terjadi.


"Ada apa mas? Kenapa matamu juga ikut berkacq-kaca?" tanya Lyra pada suaminya itu.


"Tidak apa-apa sayang. Hanya saja, sebentar lagi, Lio akan memiliki seorang adik," jawab Dimas membuat Lyra mengerutkan kedua alisnya.


"Mak.. Maksud kamu apa? Tunggu.. Apa.. Apa aku hamil mas?" ucap Lyra terbata-bata.


"Iya sayang, kamu hamil. Selamat ya," jawab Dimas memberikan selamat kepada istrinya itu.


"Bunda ini benar? Apa.. Apa aku beneran hamil?" tanya Lyra kepada mertuanya itu.


"Iya sayang, kamu hamil. Sekali lagi selamat ya. Jaga kesehatanmu dan juga calon cucu Bunda," jawab Bunda Aisyah mengusap kepala menantunya itu.


Bunda Aisyah benar-benar menyayangi menantunya itu. Ia sudah menganggap Lyra sebagai putrinya sendiri.


"Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah. Terima kasih," ucap Lyra benar-benar mengucap syukur.


Sementara di tengah kebahagiaan yang kini tengah di rasakan oleh Lyra, Liona mencoba merayu sipir agar ia bisa keluar dan kabur dari penjara tersebut.


Ia benar-benar sudah tidak tahan lagi jika harus berada lebih lama di dalam penjara ini.

__ADS_1


"Pak, bisa kesini sebentar? Ada yang mau saya bicarakan," ucap Liona dengan genitnya.


"Ada apa?" tanya sipir tersebut tegas sembari berjalan ke sel tahanan Liona.


"Jangan galak-galak dong pak. Pak saya mau kasih bapak penawaran, bapak mau gak?" ucap Liona membelai wajah sipir yang sudah cukup berumur tersebut.


"Pe.. Penawaran apa? Cepat katakan," jawab sipir tersebut merasa risih.


"Jadi begini, hmmmmm, bapak bisa nikmatin tubuh saya sepuasnya jika bapak membantu saya untuk keluar dari tahanan ini. Saya janji, saya gak akan kasih tau kepada siapa-siapapun. Kapan pun bapak butuh, saya akan selalu siap melayani bapak dia puluh empat jam, asalkan bapak menuruti permintaan saya," jawab Liona dengan nada manjanya mencoba merayu sipir tersebut.


"Kamu mau mencoba merayu saya? Kami pikir saya laki-laki apaan? Saya tidak mau," tolak sipir tersebut membelalakkan matanya ke arah Liona.


"Ayolah pak. Saya jamin, bapak gak akan bosan dengan pelayanan saya. Kita bisa melakukannya kapanpun bapak inginkan. Boleh ya pak," ucap Liona pantang menyerah.


"Enggak bisa. Saya sama sekali tidak tertarik. Asal kamu tau ya, istri saya di rumah jauh lebih cantik dan lebih muda dari kamu. Bodinya juga tak kalah dari bodi mu itu. Jadi kamu jangan pernah coba-coba untuk merayu saya lagi, atau saya akan mengadukan ini semua pada atasan saya," ucap sipir tersebut membuat wajah Liona berubah seketika.


"Tapi saya mohon lepaskan saya pak. Saya gak betah lama-lama di tahanan ini," ucap Liona merengek.


"Arggghhhh gagal lagi, gagal lagi. Gimana caranya agar aku bisa keluar dari sini? Aku udah gak betah lagi lama-lama disini," ucap Liona kesal.


Sementara itu, keadaan Paman Sam semakin lama semakin memburuk. Meskipun sudah mendapatkan penanganan medis, namun kesehatannya tak kunjung membaik.


Entah kenapa, ia ingin sekali bertemu dengan anaknya Kamelia dan juga Lio. Niatnya itu langsung disampaikannya kepada Emanuel yang saat ini masih berjaga di rumah sakit.


"Tapi kemana aku harus mencari putrimu itu Sam? Aku sama sekali tidak tau alamatnya," ucap Emanuel saat Paman Sam meminta kakaknya itu untuk membawakan Kamelia dan juga Yuni ke hadapannya.


"Supirku tau alamat rumahnya di kota B. Aku mohon kak, tolong temui aku dengan Kamelia dan juga Yuni untuk yang terakhir kalinya," ucap Paman Sam dengan penuh harap.


"Hhhhhhhhh, baiklah Sam. Aku akan menanyakannya kepada supir mu itu. Besok aku akan berangkat ke kota B sesuai keinginanmu," balas Emanuel akhirnya menuruti keinginan adiknya itu.

__ADS_1


"Terima kasih kak. Terima kasih," ucap Paman Sam senang.


Sepulangnya dari rumah sakit, Emanuel langsung menuju kantor Lyra yang dulunya merupakan kantor adiknya Paman Sam. Namun saat ia tiba di kantor tersebut, staf kantor tersebut mengatakan jika Lyra tidak masuk kantor hari ini. Emanuel kemudian memutuskan untuk mencari Lyra ke rumahnya.


"Kak Emanuel? Ada apa kak?" tanya Lyra dengan wajah pucat.


"Lyra, apa kamu sakit? Kenapa wajahmu pucat sekali?" tanya Emanuel kaget melihat perubahan pada mantan adik iparnya itu.


"Tidak kak. Aku lagi hamil muda saat ini, mungkin ini karena kehamilanku ini, aku jadi pucat dan pusing-pusing," jawab Lyra lemah.


"Kamu hamil? Selamat ya Lyra. Kakak senang mendengarkannya. Begini, kakak kesini mau menyampaikan pesan Samuel dan juga mau menanyakan alamat rumah Kamelia pada supir pribadi Samuel dulu," jelas Emanuel menyampaikan maksud dan tujuannya.


"Pesan apa kak?" tanya Lyra penasaran.


"Begini, Samuel ingin bertemu dengan kamu dan juga Lio untuk terakhir kalinya. Apa kamu bersedia? Saat ini, Samuel tengah di rawat di rumah sakit karena percobaan bunuh diri yang ia lakukan. Namun, setelah di obati, anehnya keadaan Samuel semakin memburuk. Dokter bilang ia seperti tak mempunyai semangat hidup sama sekali," jelas Emanuel kepada mantan adik iparnya itu.


"Apa? Samuel mencoba bunuh diri?" ucap Lyra kaget.


"Iya Lyra. Maka dari itu, kakak minta kamu untuk mempertemukannya dengan Lio terakhir kali saja. Dan jika kamu izinkan, besok kakak akan ke kota B dengan supir pribadi Samuel untuk menemui Kamelia dan juga Ibunya. Apa supirnya masih bekerja di sini?" tanya Emanuel.


"Iya kak. Dia masih bekerja di sini. Ya sudah, besok kakak boleh bawa dia ke kota B. Semoga saja, Kamelia dan Ibunya bersedia untuk bertemu dengan Samuel. Dan besok, aku juga akan menemui Samuel di rumah sakit," jawab Lyra membuat Emanuel lega.


"Terima kasih Lyra. Kalau begitu, kakak permisi dulu. Sekali lagi, selamat atas kehamilan mu. Semoga saja, kamu dan bayi mu sehat hingga persalinan nanti. Dan jangan lupa sampaikan salam kakak pada suami mu ya. Kakak pergi dulu," ucap Emanuel meninggalkan rumah mewah tersebut.


Setibanya di rumah sakit.........


"Samuel, kakak telah pergi menemui Lyra. Besok dia akan kesini menemui mu. Dan besok, kakak juga akan berangkat ke kota B untuk menemui Kamelia dan juga Ibunya. Semoga saja, mereka bersedia untuk menemui mu disini," ucap Emanuel membuat Paman Sam sedikit lega karena Lyra dan juga Lio bersedia menemuinya besok.


Ia hanya bisa berharap, jika Kamelia dan juga Ibunya bersedia untuk menemuinya untuk kali ini. Entah mengapa, feeling Paman Sam mengatakan jika ia tak akan hidup lebih lama lagi. Maka dari itu ia ingin bertemu dengan orang-orang yang telah ia sakiti untuk meminta maaf atas segala kesalahan yang pernah ia perbuat semasa dulunya.

__ADS_1


"Baiklah kak. Terima kasih kakak telah membantuku. Semoga saja mereka mau menemui ku," jawab Paman Sam penuh harap.


__ADS_2