Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara

Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara
Bab 152


__ADS_3

'Rumahnya bagus juga. Tidak mewah tapi asri dan terasa nyaman sekali. Tapi, kenapa ya, aku tidak melihat foto suaminya? Apa karena beliau telah lama meninggal, makanya fotonya tidak di pajang?' batin Liona yang hanya melihat foto Kamelia dan juga Ustadz Gibran


***


"Ayo mba, silahkan di makan, anggap saja rumah sendiri," ucap wanita berhijab tesebut.


"Baik mba terima kasih. Oh ya, tidak usah panggil mba, panggil saja Aluna. Dan oh ya, dari tadi saya belum tau nama mba nya karena keasyikan ngobrol," jawab Liona yang merubah namanya menjadi Aluna.


"Oh iya saya lupa. Kenalkan nama saya Yuni. Umur mu berapa Lun?" ucap wanita tersebut ternyata adalah Yuni.


"Umurku dua puluh empat tahun mba. Umur mba nya berapa?" jawab Aluna kembali bertanya.


"Umur saya sudah jalan tiga puluh delapan tahun Lun. Berarti kamu adalah adik saya. Kamu boleh manggil saya kakak atau mba, terserah kamu saja," jawab Yuni memberikan piring berisi nasi kepada Aluna.


"Terima kasih mba. Enaknya panggil mba aja, biar lebih sopan gimana gitu," ucap Aluna menyalin lauk ke piringnya.


"Baiklah. Oh ya, Lun, kamu kan tadi bilang sudah menikah, lalu, apakah kamu sudah memiliki anak?" tanya Yuni sembari menyuap nasi ke dalam mulutnya.


"Belum mba, meskipun sudah empat tahun menikah, tapi kami belum di karuniai keturunan," jawab Aluna apa adanya.


"Lalu, apa langkah kamu selanjutnya?" tanya Yuni lagi.


"Entahlah mba. Sepertinya saya mau memperdalam ilmu agama saya dulu. Saya mau menjadi manusia yang lebih baik lagi. Tapi saya bingung mba, harus memulainya dari mana," jawab Aluna begitu saja. Aluna sendiri tidak menyangka jika dia akan mengatakan hal yang mustahil bagi nya itu. Tujuannya kabur dari penjara adalah untuk merebut kembali harta Paman Sam dan menghancurkan Airin hingga merebut Gara kembali.


"Oh ya? Kalau begitu kebetulan sekali, kamu bisa ikut program mondok di tempat anak dan menantu saya. Siapa tau kamu bisa menjemput hidayah mu di sana. Jika kamu bersedia, besok saya akan menemani mu bertemu dengan Kiyai Sodikin," ucap Yuni menyambut perubahan yang akan di lakukan Liona dengan senang hati.

__ADS_1


"Hmmmmm boleh. Tapi apa orang seperti saya di izinkan untuk mondok di sana?" tanya Liona yang sadar akan masa lalunya yang buruk.


"Ya boleh dong Lun. Siapa bilang tidak boleh. Kalau kamu mau, kita akan ke sana besok," jawab Yuni menyemangati Aluna.


"Boleh, kalau begitu kita berangkat besok," jawab Aluna menyuap nasi ke dalam mulutnya.


"Bagaimana ini mas? Aku takut sekali jika Liona akan berbuat jahat kepada keluarga kita," tanya Airin yang masih merasakan cemas yang berlebih.


"Sudah, kamu tenang saja. Tidak usah cemas seperti itu. Malam ini biar si kembar tidur bersama di kamar kita," jawab Gara Gara sembari mengusap kepala Airin.


"Ya, kamu benar mas. Untuk malam ini dan seterusnya, biar si kembar tidur bersama dengan kita," Airin yang setuju dengan ide suaminya itu.


"Tapi......," ucap Gara terputus.


"Tapi kenapa mas?" tanya Airin mengkerut kan keningnya.


"Kamu ya mas, udah tau keadaannya seperti ini, masih saja memikirkan urusan ranjang," protes Airin mencubit perut Gara yang mulai membuncit semenjak menikah dengan Airin.


"Aawww, Ya, aku kan hanya bertanya sayang. Kenapa kamu malah marah gitu sih?" tanya Gara mengusap perutnya yang di cubit oleh Airin.


"Gimana gak marah, kamu nya aja ganjen seperti itu, udah tau orang lagi mikirin keamanan si kembar, malah mikirin jatah," balas Airin kemudian pergi meninggalkan suaminya itu.


Di sisi lain, Kamelia tengah bersantai dengan suaminya, Ustadz Gibran. Karena sudah libur sekolah, Kamelia dan Ustadz Gibran memiliki banyak waktu untuk berduaan. Sedangkan Kiyai Sodikin lebih menyibukkan dirinya untuk pergi menghadiri pengajian ke sana ke mari.


"Aby," panggil Kamelia kepada suaminya itu.

__ADS_1


"Ya, kenapa sayang?" jawab Kiyai Sodikin mengusap perut Kamelia yang masih rata.


"Aby, apa Aby menikahi ku karena kasihan?" tanya Kamelia membuat Ustadz Gibran beringsut dari tempat duduknya.


"Sayang, maafkan Aby, awalnya niat Aby menikahi mu memang karena Aby kasihan melihat mu yang setiap hari selalu melamun. Selain itu, Aby juga kasihan mendengar kisah masa lalu mu yang begitu pilu. Namun seiring berjalannya waktu, Aby sadar jika rasa itu bukan rasa iba atau rasa kasihan. Kamu tau, ternyata rasa itu adalah rasa sayang dan rasa cinta.


Aby jatuh cinta pada pandangan pertama sama kamu Kamelia. Tak peduli seperti apa masa lalu mu," jawab Ustadz Gibran membuat Kamelia menitikkan air matanya.


"Aby, aku jadi sedih mendengarnya," jawab Kamelia merengek manja.


"Loh, kenapa sedih sih? Harusnya kamu senang dong sayang," ucap Ustadz Gibran membelai wajah istrinya itu.


"Lalu, apa Aby tidak ingin tau bagaimana perasaan ku sama Aby?" tanya Kamelia membuat Ustadz Gibran tersenyum.


"Tidak. Aby hanya ingin tau jika waktunya benar-benar sudah tiba. Mungkin Aby egois kali ini. Tapi Aby tidak ingin kecewa saat mendengar jawaban dari kamu. Maka dari itu, Aby tidak pernah menanyakan bagaimana perasaan kamu sama Aby," jawab Ustadz Gibran membuat Kamelia merasa bersalah kepada suaminya itu. Bukan karena apa, masalahnya, jauh dari lubuk hati Kamelia yang paling dalam, ia masih menyimpan rasa kepada Almarhum Paman Sam. Laki-laki yang pernah menjadi suaminya.


Tak bisa di pungkiri, Ustadz Gibran pun sebenarnya tau jika Kamelia masih menyimpan rada kepada Ayah kandungnya itu.


Mendengar jawaban dari Ustadz Gibran, Kamelia pun menjadi diam membatu. Di satu sisi, ia ingin sekali mencintai Ustadz Gibran sebagai suaminya, tapi di sisi lain, nama Samuel masih terpahat rapi di hatinya, meskipun ia tau jika itu sangat salah besar.


'Maafka aku Aby. Aku tau ini salah. Tapi semuanya berjalan begitu saja. Aku sudah mencoba untuk mencintai mu, tapi aku belum bisa,' batin Kamelia menghela nafas kasar.


'Aby tau jika kamu masih mencintai Ayah kandung mu itu Kamelia. Meskipun sakit, tapi Aby akan menerimanya. Aby yakin suatu saat nanti kamu akan mencintai Aby. Aby hanya perlu berusaha lebih keras lagi untuk mencintai mu hingga kamu bisa memberikan tempat untuk Aby di hati mu,' batin Ustadz Gibran mengusap kepala istrinya itu.


"Sayang? Kamu lelah gak?" tanya Ustadz Gibran mulai bermanja kepada Kamelia.

__ADS_1


"Tidak, memang kenapa By? Aby mau pijitin aku?" tanya Kamelia menggeser posisi nya.


"Bukan. Aby mau meminta hak Aby," jawab Ustadz Gibran mengedipkan sebelah matanya.


__ADS_2