
"Baik, kalau begitu besok Ibu akan mendaftarkan kamu di pesantren. Semoga betah ya nak," ucap Yuni memeluk putrinya lagi.
***
Keesokan paginya, Leon tengah bersiap-siap untuk berangkat ke kantornya. Meskipun agak sedikit malas, tapi ia tidak bisa lari dari pekerjaannya.
Begitu juga Gara, Ayah tiga orang anak kembar itu juga sedang bersiap-siap untuk berangkat ke kantornya.
"Kamu akan bekerja hari ini?" tanya Airin kepada suaminya itu.
"Iya. Semenjak ada kamu, aku jadi malas untuk ke kantor, bawaannya ingin nempel mulu," ucap Gara mencium sekelas kening istrinya.
"Ih, Ya gak boleh gitu lah mas. Sekarang udah, ayo sarapan," ucap Airin menarik tangan Gara keluar dari kamarnya.
Sedangkan di apartemen, Leon juga akan bersiap-siap untuk berangkat ke kantornya.
"Sayang, aku berangkat dulu ya. Kamu hati-hati di rumah. Ingat, jangan lelah-lelah," pamit Leon mencium kening istrinya.
"Iya, hati-hati ya. Jangan lupa makan siang," jawab Gauri mencium tangan suaminya.
"Ok. Sayang, Daddy berangkat kerja dulu ya nak. Jagain Mommy mu ya. Jangan nakal-nakal. Selin, kakak berangkat dulu," ucap Leon berpamitan kepada putri semata wayangnya dan juga adik iparnya Selin.
"Baik, hati-hati di jalan ya kak," jawab Selin yang sedang menggendong Clara.
"Sungguh bahagianya diriku saat ini. Aku tak menyangka jika saat ini, aku telah memiliki seorang putri kecil yang sangat lucu yang lahir dari rahim wanita tercintaku Gauri. Semoga saja istriku di beri umur yang panjang, hingga kami bisa melihat Clara tumbuh besar nanti," ucap Leon di saat perjalanan menuju kantornya.
Tak lama kemudian, mobil Leon pun tiba di kantornya, diiringi dengan mobil Gara yang juga baru saja tiba.
"Leon, lama tak bertemu. Bagaimana kabarmu?" tanya Gara saat dia baru saja turun dari mobilnya.
"Ah, Gara, lama juga tak bertemu, aku merindukanmu. Kabarku baik. Kamu sendiri bagaimana?" jawab Leon spontan memeluk Gara.
"Aku juga merindukanmu. Aku baik. Sudah lama kita tidak menghabiskan waktu berdua. Kamu sibuk dengan keluarga barumu, begitu juga aku. Leon kamu tau, ternyata berumah tangga dan memiliki anak itu sungguh mengasyikkan. Kalau saja aku rasanya seperti ini, sudah semenjak jaman SD aku menikah dan memiliki anak," ucap Gara sembari melepas pelukannya dan berjalan masuk ke kantornya.
__ADS_1
"Haha.. Aku juga berpikiran seperti itu. Jika saja berkeluarga rasanya seperti ini, sudah semenjak TK aku menikah dan memiliki anak," jawab Leon membalas candaan Gara.
"Haha.. TK kamu bilang? Burung mu saja baru bisa tegak berdiri saat kamu sudah kelas dua SMA, berbeda dengan aku. Dari SD, juniorku memang sudah hebat," ejek Gara tertawa terpingkal-pingkal.
Seketika itu juga, wajah Leon langsung memerah karena malu, karena saat ini mereka tengah berada di dalam lift, dan yang ada di dalamnya bukan hanya mereka berdua, melainkan para staf lainnya juga.
Mendengar candaan Gara yang memang benar adanya, para staf tersebut hanya bisa diam menutup mulutnya dan berusaha menahan tawanya.
"Apaan, gak lucu.. Huhh," jawab Leon ngambek dan mengalihkan wajahnya dari wajah Gara dengan mata rolls eyes.
"Haha.. Si Leon ngambek," ledek Gara semakin senang.
'Sialan Gara, pake acara buka-buka aib orang lagi. Kan malu jika nanti mereka mengira Leon yang tampan tiada tara ini juniornya baru bisa berdiri kelas dua SMA,' batin Leon kesal.
"Hai Leon, kamu mau kemana? Kenapa buru-buru sekali?" tanya Gara saat melihat Leon bergegas keluar dari lift duluan.
"Aku gak kemana-mana. Hanya saja wajahku terasa sedikit panas," jawab Leon judes lalu pergi meninggalkan Gara masuk ke dalam ruangannya.
.
.
Dilain tempat, Yuni dan juga Kamelia tengah bersiap-siap untuk pergi menuju sebuah pondok pesantren yang ada kota B tersebut.
Kira-kira dua jam kemudian, Yuni dan juga Kamelia tiba di pondok pesantren yang letaknya jauh dari perkotaan tersebut.
"Huh.. Bismillah ya nak. Semoga kamu betah berada di pondok ini," ucap Yuni sambil melangkah masuk ke dalam pondok dan bertemu dengan pemiliknya.
"Assalamualaikum selamat siang Kiyai," sapa Yuni yang diikuti oleh Kamelia putrinya.
"Waalaikum Salam. Silahkan masuk Ibu Yuni," jawab Kiyai Sodikin dengan ramah.
"Kiyai, jadi ini anak saya yang saya ceritakan lewat telpon tadi pagi. Namanya Kamelia. Semoga saja dengan mondok nya dia disini, dia bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi, dan bertambah dekat dengan penciptanya," ucap Yuni yang sudah duduk di hadapan Kiyai Sodikin.
__ADS_1
"Aminn.. Amin.. Semoga apa yang kita harapkan dapat terkabulkan," jawab Kiyai Sodikin.
"Iya Kiyai. Oh ya, kalau begitu saya mau langsung pulang saja Kiyai. Saya titipkan dan saya percayakan putri semata wayang saya kepada Kiyai," ucap Yuni lalu pergi meninggalkan Kamelia.
"Sayang. Ibu pulang dulu ya. Kamu baik-baik disini, dan ingat jaga kesehatanmu ya," pamit Yuni memeluk putri tercintanya.
"Iya Bu. Doain Kamelia ya," jawab Kamelia kepada Ibunya.
"Iya nak. Ibu pasti doain kamu. Ya sudah, kalau begitu Ibu pergi dulu ya nak. Jaga diri baik-baik," balas Yuni lalu pergi meninggalkan anaknya yang masih berada di ruangan Kiyai Sodikin tersebut.
"Ya sudah, Kamelia, mari ikut saya ke kamarmu," ucap Kiyai Sodikin berjalan mendahului Kamelia.
Saat Kiyai Sodikin membuka pintu, kebetulan ada seorang laki-laki yang bertugas sebagai guru di pondok pesantren tesebut.
Wajahnya begitu teduh dan tampan.
"Assalamualikum Kiyai," sapa guru tersebut ramah.
"Walaikum salam Ustad Gibran. Ada apa?" jawab Kiyai Sodikin balik bertanya.
Sebelum menyampaikan maksudnya, Ustad Gibran melihat ke arah Kamelia sekilas lalu kembali fokus kepada Kiyai Sodikin dan menyampaikan maksud dan tujuannya untuk menemui Kiyai Sodikin.
"Hmmmm, begini Kiyai. Saya bermaksud untuk mengambil cuti selama tiga hari ini. Rencananya saya akan pulang ke kampung halaman untuk melihat kedua orang tua saya. Kira-kira apa saya bisa mendapatkan cuti saya ini Kiyai," tanya Ustad Gibran sembari mencuri-curi pandang ke arah Kamelia.
"Bisa Ustad, asalkan ada yang bersedia menggantikan tugas Ustad sebagai pengajar untuk sementara waktu. Ustad bisa mencari penggantinya dulu, lalu mengajukan surat cutinya kepada saya," jawab Kiyai Sodikin.
"Baiklah Kiyai. Kalau gitu saya akan mencari gantinya. Saya permisi dulu Kiyai, Assalamualaikum," jawab Ustad Gibran lalu pergi. Sebelum pergi, Ustad Gibran menyempatkan untuk melihat dan tersenyum ke arah Kamelia sesaat.
"Huhhh, kenapa jantungku berdetak begitu cepat ya saat melihat gadis yang ada di dekat Kiyai Sodikin tadi? Dia siapa? Kenapa aku baru melihatnya?" ucap Ustad Gibran memegangi dadanya.
Hal itu juga di rasakan oleh Kamelia. Setibanya di kamarnya, Kamelia terus saja terpikirkan Ustad yang tadi bertemu dengannya di depan ruangan Kiyai Sodikin.
'Huhhh, perasaan apa ini?' tanya Kamelia dalam hatinya.
__ADS_1