Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara

Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara
Bab 42


__ADS_3

"A.. Apa? Jadi kau menjual kesucianmu untuk biaya operasi Ayahmu? Lalu kenapa kau bisa di usir dari kampung halamanmu?" tanya Gara membuat Airin kaget.


"Kau tau dari mana aku di usir dari kampung halamanku?" tanya Airin penasaran.


"Aku tau, karena waktu itu aku mencarimu ke kampung halamanmu dihari kau di usir oleh warga sana," jawab Gara membuat Airin tak percaya.


***


"Jadi.. Jadi waktu itu kau mencari ku? Tapi buat apa?" tanya Airin benar-benar terkejut.


"Gak tau. Entah kenapa aku harus mencari dan menemukan mu. Karena saat itu aku kehilangan jejak mu, dan fi tambah lagi dengan pekerjaanku yang banyak, akhirnya aku berhenti dan menyerah menemukan mu. Namun kau harus tau, setiap hari aku selalu memikirkan mu," jawab Gara sembari mengusap-usap pipi gembul Clara.


"Lalu siapa yang memberi tahukan mu jika aku bekerja di toko bunga itu?" tanya Airin masih penasaran.


"Itulah Tuhan.. Di saat aku mempercayakan semuanya kepada-Nya, eh ternyata kau berada tak jauh dari kantorku. Kau tau Gara's Group, itu adalah kantor milikku," jawab Gara menatap Airin sekilas.


"Ohh begitu," jawab Airin singkat.


"Kau tak kaget lagi?" tanya Gara menaikkan satu alisnya.


"Tidak. Hanya saja aku teringat kepada seseorang yang selama ini membantuku. Dia sudah seperti Ibu yang selalu sayang kepadaku. Tapi sekarang aku tidak bisa lagi ke toko bunga. Aku yakin Ibu itu pasti bertanya kemana aku," jawab Airin sendu.


"Apa nama Ibu itu Lena?" tanya Gara tersenyum menatap Airin.


"Kau.. Kau tau darimana?" jawab Airin kembali bertanya.


"Aku tau. Ibu-Ibu yang kau maksud itu tak tinggal tak jauh dari sini. Nanti aku akan membawanya kemari agar kau tak sedih lagi," jawab Gara mengusap kepala Airin.


"Kau serius? Apa Ibu itu benar-benar tinggal di dekat sini?" tanya Airin memastikannya sekali lagi.


"Yaps, kau benar," jawab Gara mengedipkan satu matanya.


"Kalau begitu kapan kau akan membawa Ibu itu kesini? Atau biar lebih baik dan sopan, bagaiman kalau kita saja yang mengunjunginya," jawab Airin antusias.


"Haha.. Kay tak usah repot-repot. Biar Ibu itu yang kesini. Aku janji akan membawanya padamu," ucap Gara mengusap-mgusap rambut Airin.

__ADS_1


"Baiklah. Oh ya, waktu itu aku ingat kau pernah datang ke tokoku menyamar menjadi seorang wanita. Aku mau dong kau menyamar sekali lagi saja untukku," pinta Airin tiba-tiba, sehingga Gara pun langsung menatap Airin dengan nafas sesak dan dada kembang kempisnya.


"Kenapa?" tanya Airin heran.


"Ah.. Tidak. Hanya saja aku merasa sedikit bengek ya," ucap Gara dengan pura-pura sesak nafas.


"Ah, kau jangan bercanda. Ayolah.. Sekali ini saja. Anggap saja ini sebagai hadiah pernikahan untukku," jawab Airin membuat Gara tak habis pikir.


"Jangan minta yang itu dong Airin. Kau boleh meminta apapun yang kau mau, tapi jangan yang satu itu. Aku malu," jawab Gara miris.


"Lah, kenapa kau malu. Kau bahkan sangat cantik waktu itu," jawab Airin masih menginginkan Gara menjadi wanita di depannya.


"Gak.. Aku gak mau," jawab Gara menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tuan.. Ayolah," pinta Airin setengah merengek


"Gak. Sekali gak.. Tetap nggak," jawab Gara kekeh pada pendiriannya.


"Yah tuaaaannn pliss, aku mohon," pinta Airin dengan mata yang berkaca-kaca.


"Yess.. Makasih Tuan," jawab Airin senang.


Tak lama kemudian, Leon pun datang dengan membawa banyak popok berbagai macam ukuran dan merek. Anehnya tak ada satupun ukuran popok untuk putrinya Clara.


"Leon, banyak sekali kau membelinya," tanya Gara yang melihat Leon menenteng banyak popok.


"Iya, ternyata popok ini pakai ukuran dan juga merek, dan aku tidak tau harus membeli ukuran dan merek apa, jadi aku beli saja semuanya," jawab Leon yang membawa banyak kantong besar.


"Oke baiklah, kalau begitu keluarkan saja satu popok uang berukuran M," pinta Airin menyuruh Leon.


"Yang M, oh baiklah, aku akan cari dulu," jawab Leon kemudian mengecek satu persatu ukuran popok yang baru saja ia beli.


"Kenapa? Ada apa nggak?" tanya Airin menaikkan satu alisnya.


"Gak ada," jawab Leon mengusap wajahnya frustasi.

__ADS_1


"Haha.. Kau beli popok sebegitu banyaknya namun tak ada yang berukuran M. Leon.. Leon," ucap Leon mengejek.


"Lalu bagaimana lagi ini? Masa aku harus kembali ke supermaket nya?" tanya Leon menghembuskan nafasnya kasar.


"Gak usah, ambil saja yang ukuran XL itu, nanti baru beli lagi yang ukuran M nya," ucap Airin membuat Leon lega.


Airin kemudian membawa Clara ke kamarnya diikuti Gara dan juga Leon dari belakang.


Airin begitu mahir dalam mengurus bayi gembul itu, sehingga mengundang decak kagum kedua laki-laki tampan tersebut.


"Tuan Leon, apakah kau sudah membeli susu formula untuk Clara?" tanya Airin sambil memasangkan celana Clara.


"Susu? Alu belum membelinya. Kalau gitu kasih susu kental manis yang ada di dapur saja. Nanti sekalian aku beli bersamaan dengan popok dan keperluan lainnya," jawab Leon enteng.


"Hahaha.. Leon..Leon.. Kau pikir anakmu ini adonan kue, seenaknya main kasih susu kental manis," ejek Gara geleng-geleng kepala.


"Memang apa salahnya ha? Yang pentingkan sama-sama susu. Lagian kau tau apa masalah beginian? Setau ku kau hanya tau urusan ************," celetuk Leon kesal, tanpa ia sadari ucapannya membuat Gara kembali mendapatkan tatapan tajam dari Airin.


"Upsss.. Kayaknya aku harus ke supermaket sekarang. Nanti biar ku cari google saja keperluan bayi umur satu tahun," ucap Leon berlalu meninggalkan Gara dan Airin yang sebentar lagi akan segera perang.


"Hai, aku ikut dong, biar ku temani kau berbelanja," ucap Gara mencoba menghindar dari amukan Airin.


"Kalau kau pergi, jangan pernah kembali lagi. Kau lupa jika tadi aku menyuruhmu untuk menjadi perempuan seperti waktu kau datang ke toko bungaku waktu itu," ucap Airin membuat langkah Gara seketika terhenti.


"Hahaha.. Jadi kau di suruh Airin jadi perempuan lagi? Haha.. Aku suka.. Aku suka," ledek Leon menirukan gaya salah satu tokoh pemain upin ipin.


"Kau mengejekku?" tanya Gara menatap tajam ke arah Leon.


"Tidak.. Tidak.. Aku tidak mengejek mu. Jujur aku benar-benar suka melihat kau berpakaian seperti wanita. Andai saja kau benar-benar seorang wanita, maka aku pasti akan menikahi mu," ucap Leon merasa tak bersalah.


"Kau bilang apa? Kalaupun aku ini seorang perempuan, aku tak akan sudi menikah dengan laki-laki tua sepertimu," balas Gara kesal.


"Haha.. Tua? Kau tau, makin tua makin enak. Kau mau coba?" jawab Leon balik bertanya dengan menatap Gara dengan tatapan genit dan menggigit bibir bawahnya.


"Iiiiiihhhh, kau jangan seperti itu, aku geli," jawab Gara bergidik ngeri melihat kelakuan Leon.

__ADS_1


"Ahhh yang bener ni?" jawab Leon mencolek pinggang Gara dengan tatapan genitnya.


__ADS_2