
"Baiklah Abah. Lalu dengan siapa Abah di sini?" tanya Ustadz Gibran mengkhawatirkan Abah nya itu.
"Tak usah pikirkan Abah. Masih banyak Santri yang tidak ikut pulang pada akhir pekan. Mereka bisa menemani Abah disini," ucap Kiyai Sodikin membuat Ustadz Gibran lega.
***
Malam telah semakin larut, Ustadz Gibran dan istrinya Kamelia pun ikut dengan Ibu Yuni pulang ke rumahnya yang masih berada di kota B.
Setelah menempuh perjalanan kira-kira hampir dua jam, Ibu Yuni beserta Kamelia dan juga suaminya Ustadz Gibran akhirnya tiba di rumah yang belum lama di beli oleh Ibu Yuni.
"Ayo silahkan masuk. Kalian istirahatlah. Besok Ibu akan membuat laporan kepada RT dan juga RW," ucap Ibu Yuni menyuruh putri dan juga menantunya itu beristirahah di kamar Kamelia.
Setibanya di kamar, setelah meletakkan koper-koper mereka, baik Kamelia dan juga Ustadz Gibran sama-sama canggung satu sama lain.
"Hmmmm, Kamelia, saya mau mandi dulu. Tolong siapkan pakaian saya ya," ucap Ustadz Gibran sengaja meminta Kamelia untuk menyiapkan pakaiannya agar ia terbiasa dengan tugasnya sebagai istri.
"Ba.. Baik Ustadz," jawab Kamelia gugup.
"Kamelia, aku ini adalah suami mu, jika kita tidak berada dalam lingkungan pondok, kamu gak usah memanggilku dengan sebutan Ustadz," ucap Ustadz Gibran mengusap kepapa istrinya yang masih di tutupi hijab.
"La.. Lalu saya harus memanggil apa?" tanya Kamelia gugup.
"Panggil saja Aby, dan aku akan memanggilmu Kamelia. Tolong biasakan mulai dari sekarang," ucap Ustadz Gibran lalu langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
"Huhhhh, kenapa bisa jadi begini?" gumam Kamelia memegangi dadanya.
Lima belas menit kemudian, Ustadz Gibran pun keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk yang di lilitkan di pinggang Ustadz Gibran.
Sementara itu, Kamelia hanya duduk di tepi ranjang dengan menundukkan kepalanya.
"Kamelia," panggil Ustadz Gibran.
"Ya," jawab Kamelia tanpa melihat ke wajah suaminya itu.
"Mana bajuku?" tanya Ustadz Gibran tak melihat ada baju gang disiapkan Kamelia untuknya.
__ADS_1
"Ma.. Maaf Ustadz, eh Aby, bajunya sudah saya taruh di ruang ganti sana," jawab Kamelia gugup.
"Baiklah, terima kasih kalau begitu. Sekarang kamu mandilah dan ganti pakaianmu," perintah Ustadz Gibran lalu berjalan menuju ruang ganti sambil mengulum senyumannya.
Lima belas menit kemudian, Kamelia pun keluar dari kamar mandi menggunakan baju lengkap dengan hijabnya.
Ustadz Gibran yang sengaja menunggu istrinya itu langsung kaget dan juga heran dengan pakaian yang digunakan Kamelia.
"Kamelia, bagaimana kamu bisa tidur dengan pakaian seperti itu? Apa di pondok kamu juga tidur menggunakan pakaian lengkap?" tanya Ustadz Gibran yang duduk di tepi ranjang sembari memegang ponselnya.
"Hmmmm, ti.. Tidak Aby. Di pondok saya tidur menggunakan baju tidur," jawab Kamelia gugup.
"Ya sudah, sekarang ganti pakaian mu dengan baju tidur. Kita ini sudah mahram, jadi kamu tidak usah menggunakan hijab," jawan Ustadz Gibran sekaligus menyuruh Kamelia mengganti pakaiannya.
Lima menit kemudian, Kamelia pun kembali dari ruang ganti. Saat ini ia sudah mengganti pakaiannya menggunakan baju tidur yang biasa ia kenakan sewaktu masih gadis dulu.
Baju tidur lengan pendek dengan warna hitam dan juga celana pendek di atas lutut berwarna senada. Kamelia terlihat seperti gadis remaja imut seusianya, dengan rambut coklat susu yang digulung dan diikat asal menggunakan ikat rambut karet, menambah kecantikan alami Kamelia.
Kulit Kamelia yang putih menambah kecantikan wanita yang baru saja menginjak usia tujuh belas tahun itu.
"Ka.. Kamelia, kamu.. Kamu cantik sekali," puji Ustadz Gibran membuat pipi Kamelia merah merona.
"Te.. Terima kasih Ustadz," jawab Kamelia tak sengaja memanggil suaminya itu dengan sebutan Ustadz.
"Sudahku katakan, jangan panggil Ustadz lagi," protes Ustadz Gibran kepada istrinya itu.
"Ma.. Maaf Aby," jawab Kamelia menunduk.
"Ya sudah, ayo naik, kita tidur sekarang, kamu pasti lelah kan," ucap Ustadz Gibran menepuk ranjang yang kosong di sebelahnya.
"Ba.. Baik Aby," jawab Kamelia gugup, dan merebahkan tubuhnya di sebelah Ustadz Gibran.
"Kamelia, kamu kenapa tidurnya terlalu ke ujung? Nanti jatuh lo. Ayo geser lagi sini," ucap Ustadz Gibran yang sedari tadi mengulum senyumannya.
Ia tidak tahan dengan tingkah laku Kamelia yang malu-maku seperti itu.
__ADS_1
Ustadz Gibran janji, dia akan membuat Kamelia lupa dengan masa lalunya yang kelam itu.
'Andai saja aku dan kamu tidak kelelahan hari ini, aku pasti sudah melakukan tugasku sebagai suami,' batin Ustadz Gibran memeluk istrinya itu dari belakang, karena Kamelia tidur membelakangi Ustadz Gibran.
Meskipun saat ini jantung Ustadz Gibran berdetak sangat kencang, namun ia mencoba untuk tetap tenang dan tidak terlihat canggung karena ini merupakan pengalaman pertama untuk Ustadz Gibran.
'Bagaimana aku bisa tidur kalau Ustadz Gibran memeluknya erat seperti ini? Dan.. Rasanya.. Kenapa berbeda ya dengan pelukan yang dulu sering aku rasakan dari..,' batin Kamelia menghentikan ucapannya.
'Tidak.. Aku tidak boleh mengingatnya lagi. Ingat Kamelia, kamu itu sekarang sudah menjadi istri dari Ustadz Gibran. Lupakan.. Lupakan dia Kamelia,' batin Kamelia yang selalu mengingat Paman Sam di setiap malamnya.
Hampir satu jam kemudian, Kamelia akhirnya tertidur. Berbeda dengan Ustadz Gibran yang tidak bisa tidur sama sekali. Ia benar-benar gugup dan gelisah.
Kegugupannya bertambah setelah Kamelia yang tertidur itu tiba-tiba saja memutar tubuhnya menghadap Ustadz Gibran dan tangannya memeluk pinggang Ustadz Gibran.
"Astaghfirullah al'azim. Kuatkan hamba ya Allah," gumam Ustadz Gibran dengan nafas yang mulai tak beraturan.
Meskipun ia seorang Ustadz, namun Ustadz Gibran tetaplah seorang laki-laki dan manusia biasa. Ia juga memiliki hasrat dan nafsu terhadap wanita.
Kamelia yang tidur dengan nyenyak, mulai menghantam selimut yang ia kenakan. Alhasil, hampir sebagian tubuh Kamelia terlihat karena bajunya yang terangkat naik.
Berkali-kali Ustadz Gibran mengucap dan mengusap dadanya. Ia kemudian bangkit, merapikan baju Kamelia dan kembali menyelimutkan istrinya itu.
Saat Ustadz Gibran kembali merebahkan tubuhnya, Kamelia kembali memeluk Ustadz Gibran dengan nyaman. Alhasil, sampai subuh tiba, Ustadz Gibran tidak tidur sama sekali.
"Kamelia.. Kamelia bangun," panggil Ustadz Gibran saat suara azan subuh mulai berkumandang.
"Hmmmm," ucap Kamelia masih saja dengan mata tertutup.
"Kamelia, ini sudah subuh, ayo kita solat dulu. Habis ini jika kamu ingin melanjutkan tidurmu, silahkan. Yang penting sekarang ayo bangun dulu," ucap Ustadz Gibran terus membangunkan istrinya itu.
Beberapa saat kemudian, Kamelia akhirnya bangun dan langsung mengambil wudu untuk melaksanakan solat subuh berjamaah.
Karena masih ngantuk dan juga lelah, setelah solat, Kamelia memutuskan untuk kembali tidur ke ranjangnya.
Sedangkan Ustadz Gibran memilih untuk membaca Alqur'an terlebih dahulu seperti kebiasaannya.
__ADS_1