
"Haha.. Tua? Kau tau, makin tua makin enak. Kau mau coba?" jawab Leon balik bertanya dengan menatap Gara dengan tatapan genit dan menggigit bibir bawahnya.
"Iiiiiihhhh, kau jangan seperti itu, aku geli," jawab Gara bergidik ngeri melihat kelakuan Leon.
"Ahhh yang bener ni?" jawab Leon mencolek pinggang Gara dengan tatapan genitnya.
***
"Leon, kau jangan membuat harga diriku jatuh di hadapan Airin," ucap Gara melirik tajam Leon. Sedari tadi Gara berusaha menjaga harga dirinya di hadapan Airin. Biasanya jika tidak ada Airin, Gara dan Leon sudah biasa bercanda seperti itu.
"Haha.. Gara.. Gara.. Sok-sokan jaga harga diri. Biasanya kau senang jika aku rayu seperti itu," jawab Leon membuka aib Gara di hadapan Airin.
"Sudah.. Sudah.. Kenapa kalian jadi ribut seperti ini. Kalian tidak lihat, Clara sudah haus. Begini saja. Biar aku yang menemanimu pergi untuk membeli kebutuhan Clara," ucap Airin yang menawarkan diri untuk menemani Leon berbelanja kebutuhan Clara.
"Apa? Kau mau menemani Leon? Tidak bisa. Kau lupa, jika kau harus beristirahat di rumah. Biar aku dan Leon saja yang pergi. Nanti kau bisa kirimi aku daftar keperluan Clara melalui pesan," ucap Gara melarang Airin pergi.
"Baik, kalau begitu pergilah. Dan jangan lupa, nanti setelah kau pulang, kau harus berpakaian seperti wanita selama dua puluh empat jam full. Jika tidak, aku tidak akan mau menikah denganmu," ucap Airin melihat tajam ke arah Gara.
"Iya.. Iya.. Nanti aku akan berubah seperti yang kau mau," jawab Gara sembari merogoh ponsel yang ada di sakunya.
"Kau ke kamar Nona Airin sekarang juga, dan suruh empat pengawal untuk ikut denganmu, dan empatnya lagi berjaga di depan pintu," ucap Gara memerintah dalam panggilan telepon itu.
Tak lama kemudian, datanglah asisten pribadi Airin yang sudah Gara pilih melewati seleksi yang sangat ketat.
Sementara empat pengawal di perintahkan Gara untuk berdiri dan berjaga di depan pintu kamar Airin.
"Airin, ini Luna, dia akan bertugas menjagamu selama dua puluh empat jam penuh," ucap Gara membuat Airin geleng-geleng kepala.
"Lalu empat pengawal tadi buat apa?" tanya Airin menatap Gara.
"Empat pengawal itu aku tugaskan untuk berjaga di depan kamarmu," jawab Gara enteng.
"Kau ini benar-benar lebay sekali," ucap Airin rolls eyes.
"Lebay? Lebay kenapa? Kau itu ibaratkan ratu dalam hidupku, jadi aku akan memperlakukanmu selayaknya ratu di rumah ini dan dimana pun kau berada," ucap Gara membuat pipi Airin merah merona.
__ADS_1
"Uluu..Ulu... Too Tweet," ucap Leon dengan wajah sok imutnya.
"Diam kau," ucap Gara menatap tajam Leon.
Sudah buruan, kasihan Clara," ucap Airin seketika membuat Gara dan Leon langsung pergi meninggalkan Airin di kamarnya.
Sedangkan Luna, asisten pribadi Airin masih setia berdiri memperhatikan setiap gerak gerik Airin. Saat Airin akan mengambil minumnya di atas meja samping tepat tidur, dengan cepat Luna segera mengambil gelas itu dan memberikannya kepada Airin.
Awalnya Airin sama sekali tidak risih, namun makin lama Airin merasa semakin merasa jika ruang geraknya semakin terbatas.
"Kamu mau ngapain?" tanya Airin yang masih saja diikuti masuk ke dalam toilet oleh Luna.
"Saya mau menemani Nona kedalam toilet. Ini sudah menjadi tugas saya sebagai asisten pribadi Nona," jawab Luna dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Tapi sayakan hanya mau ke toilet. Saya bisa jadi risih jika kamu juga mengikuti saya sampai ke toilet," protes Airin dengan kesal.
"Maaf Nona. Saya hanya menjalankan tugas," ucap Luna datar.
Airin pun mendengus kesal. Wanita hamil itupun kemudian tidak jadi masuk ke dalam toilet kamarnya itu.
"Gimana?, Sudah dapat?" tanya Gara kepada Leon.
"Sudah. Lalu apa kau sudah menemukan susu untuknya?" tanya Leon melihat Gara belum membawa satupun barang belanjaan yang di suruh Airin.
"Belum, aku bingung harus mencarinya kemana," ucap Gara menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ya sudah, kalau begitu kita tanyakan saja kepada petugasnya," usul Leon tanpa menunggu persetujuan dari Gara.
Leon dan Gara pun pergi menuju kasir dan langsung menanyakan susu yang di suruh Airin.
Sedangkan di sekitarnya, beberapa pengunjung supermaket tersebut terlihat memperhatikan Gara dan juga Leon. Tak sedikit di antara mereka yang berbisik satu sama lainnya.
"Lihat, apakah mereka itu pasangan kekasih atau para suami yang di tinggal istrinya lalu berubah menjadi duda keren?" bisik salah seorang pengunjung supermaket tersebut.
"Entahlah. Begitu menjijikan jika mereka merupakan pasangan kekasih. Tapi kalau mereka benar-benar di tinggalkan oleh istrinya, aku gak masalah tuh untuk menggantikan posisi istrinya," jawab pelanggan lainnya.
__ADS_1
"Sialan, kita di kira homo oleh mereka," protes Leon kepada Gara.
"Salah kau sendiri, siapa suruh kau selalu memegangi tanganku seperti ini," jawab Gara yang sedari tadi juga diam saat lengannya selalu di pegang oleh Leon.
"Maaf, kau tau, aku begitu canggung jika harus berbelanja seperti ini. Andai saja tadi Airin yang pergi menemaniku berbelanja, pasti semua orang itu mengatakan jika aku dan juga Airin adalah pasangan yang romantis. Airin jalan dengan perut buncitnya dan memilih-milih keperluan Clara, sedangkan aku mendorong troli yang di dalamnya ada Clara dan juga batang belanjaan kami. Membayangkannya saja aku sudah bahagia. Bagaimana kalau itu benar-benar terjadi," ujar Leon mengkhayal tanpa sadar apa yang baru saja ia ucapkan.
"Lalu apa kau akan berencana jadi pebinor? tanya Gara berusaha menahan kesalnya.
"Pebinor? Haha.. Sepertinya iya deh. Bagaimana menurutmu?" tanya Leon melihat ke arah Gara. Leon yang mulai sadar dengan apa yang ia ucapkan langsung menutup mulutnya. Tapi kini semua sudah terlambat. Gara yang tadinya masih ada senyum walaupun hanya sedikit, kini berubah menjadi monster dengan dua tanduk, dua mata merah yang berapi-api, dan dua taring yang tajam. Begitulah kira-kira bentuk Gara di dalam penglihatan Leon saat ini.
"Oo jadi begitu. Kalau menurutku lanjutkan saja rencana dan perjuanganmu itu," ucap Gara dengan tatapan dinginnya.
"Lalu kau bagaimana?" tanya Leon masih saja mempertelekan Gara.
"Aku gampang. Setelah kau mendapatkan Airin, aku akan membawamu ke dokter spesialis kelamin, lalu aku akan menyuruhnya untuk merubah junior mu menjadi hutan rimba khas perempuan. Setelah itu akan ku serahkan kau kepada Yuta untuk di jual kepada laki-laki hidung belang.
"Lalu jika aku kau serahkan kepada Yuta, apa kau akan membeliku atau menyewa jasaku sebagai wanita penghibur?" tanya Leon bodoh.
"Oh, tentu tidak. Buat apa? Aku sudah punya Airin," jawab Gara tersenyum licik.
"Baiklah, kalau begitu aku tidak jadi menjadi pebinor. Lebih baik aku seperti ini saja. Bagaimana menurutmu?" jawab Leon kembali bertanya.
"Terserah kau saja. Pilihan ada di tanganmu," jawab Gara yang terus saja meladeni kebodohan Leon.
"Aku seperti ini saja. Lebih baik aku menjadi Leon, daripada menjadi Leona," jawab Leon polos.
"Pilihan yang bagus," jawab Gara sembari melihat-lihat susu bayi.
Leon pun berhenti memegangi Gara dan beralih memegang kedua pipinya.
"Hey, apa-apaan kau. Malu tau dilihat banyak orang," protes Gara merasa risih.
"Gara maafkan aku. Aku janji gak akan menjadi pebinor di antara kamu dan Airin lagi," ucap Leon seperti bersungguh-sungguh.
"Baiklah, aku memaafkan mu. Tapi jangan pegamg-pegang aku seperti ini. Aku jadi malu," jawab Gara melihat orang di sekelilingnya pada memperhatikan mereka berdua.
__ADS_1