
"Sudah, jangan menangis. Aku yakin Gauri pasti sudah bahagia di sana. Buktinya saja, dia tersenyum padamu kan," ucap Leon yang belum masih sadar jika saat ini ia memeluk Selin dengan sangat erat dan mereka sama-sama tertidur dalam posisi duduk sampai waktu pagi tiba.
***
Leon telah bangun terlebih dahulu dari pada Selin.
Saat Leon membuka matanya, ia mendapati Selin masih berada di dalam pelukannya.
'Astaga, aku dan Selin ketiduran di lantai. Selin memang wanita baik, hanya saja aku belum mencintainya. Maafkan aku Selin. Cintaku saat ini masih untuk Gauri, dan sampai kapanpun akan tetap untuk Gauri,' batin Leon memandangi wajah teduh Selin.
Saat Leon hendak menggendong Selin untuk memindahkannya ke ranjang, tiba-tiba saja Selin bangun dan membuka matanya.
Karena jarak wajah mereka yang begitu dekat, maka tatapan antara keduanya tak dapat lagi di hindarkan.
Cukup lama mereka larut dalam tatapan yang begitu dalam, hingga Clara bangun dan menyadarkan keduanya.
"Maafkan aku Selin, aku bukan bermaksud lain, hanya saja aku ingin memindahkan mu ke atas ranjang ini," ucap Leon gugup.
"Tidak apa-apa. Terima kasih kak," jawab Selin tak kalah gugupnya.
Leon masih saja menggendong Selin, dan ia tak menyadari itu.
"Hmmm kak, bisa tolong turunkan aku?" pinta Selin membuat Leon jadi malu.
"Ah, iya maafkan aku," ucap Leon lalu menurunkan Selin.
"Clara kamu sudah bangun sayang. Sini Tante mandiin yuk," ucap Selin menggendong Clara.
"Hmmm Selin," panggil Leon saat Selin hendak membawa Clara ke kamar mandi.
"Kamu sekarang sudah menjadi istriku, itu artinya, sekarang kamu adalah Mommy nya Clara. Jangan suruh Clara memanggil mu Tante lagi ya," ucap Leon yang keberatan jika Clara memanggil Selin dengan sebutan Tante.
"Ba.. Baik kak," jawab Selin lalu masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
"Gauri, aku merindukanmu. Akankah aku bisa memberikan cintaku untuk adikmu? Kenapa kamu memintaku untuk menikahinya? Apa kamu tidak mencintaiku?" gumam Leon bertanya-tanya.
.
.
"Mas,," panggil Airin pada suaminya yang sedang bermain dengan bayi kembar mereka.
"Kenapa sayang?" tanya Gara tanpa melihat ke arah Airin.
"Ini lihat, Paman Samuel di tahan atas kasus menikahi anak bawah umur hingga hamil, dan parahnya lagi anak itu adalah putri kandungnya sendiri. Kenapa kita tidak mengetahuinya mas? Memang Paman Sam sudah memiliki anak kah sebelum ini?" tanya Airin sembari memberikan ponselnya kepada Gara.
"Apa? Jangan becanda sayang. Paman Sam belum mempunyai anak sama sekali. Kamu pasti salah orang," jawab Gara tak percaya dengan apa yang istrinya katakan.
"Itu buktinya, coba baca deh mas," balas Airin.
Gara pun membaca artikel yang mulai ramai di perbincangkan itu. Ia sangat shock dan juga kaget saat membaca berita dari ponsel istrinya itu.
"Disini dikatakan sudah lebih satu Minggu yang lalu Paman Sam di tahan. Kenapa dia tidak memberi tahukan kepada kita?" tanya Gara penasaran.
"Siapa mas?" tanya Airi penasaran.
"Papa," jawab Gara lalu mengangkat ponselnya.
"Kenapa pa?" tanya Gara menjawab panggilan papanya.
"Gara kamu sudah membaca cerita hari ini. Paman kamu ternyata di tahan di kantor polisi. Papa akan menemuinya sekarang. Apa kamu ikut?" ucap Emanuel dalam panggilan tersebut.
"Iya, Gara ikut pa. Gara juga baru membaca artikelnya dari ponsel Airin. Kalau begitu, kita bertemu di kantor polisi saja ya pa. Gara berangkat sekarang," jawab Gara lalu mematikan panggilannya.
"Sayang aku akan ke kantor polisi sekarang. Apa kamu mau ikut?" tanya Gara menawarkan istrinya ikut serta.
"Boleh, kalau gitu aku panggil baby sitter anak-anak dulu," ucap Airin lalu meninggalkan Gara di kamar si kembar.
__ADS_1
Satu jam kemudian, Gara dan juga Airin telah sampai di kantor polisi. Beriringan dengan Emanuel dan juga Lena.
"Pa, Ma," sapa Airi dan Gara lalu menciumi tangan kedua orang tua itu.
"Ayo kedalam. Samuel harus menjelaskan ini semua kepada papa," ucap Emanuel yang sudah menahan emosinya sedari tadi.
"Sabar pa. Ingat jantungmu," ucap Lena menenangkan suaminya.
Lima menit kemudian, Gara dan yang lainnya diizinkan untuk menemui Emanuel.
Semua keluarga sangat terkejut melihat perubahan pada diri Samuel. Laki-laki yang dulu tampan dan berwibawa itu, kini terlihat sangat kurus dan berantakan dengan baju oranye khas tahanan polisi.
"Samuel, katakan, apa benar yang media katakan itu? Sejak kapan kamu memiliki anak kandung? Kenapa kamu menikahinya? Samuel kamu tau? Kamu telah mencoreng nama keluarga kita Sam," ucap Emanuel emosi.
"Pa, sabar, kita dengarkan dulu penjelasan Paman Samuel," ucap Gara menenangkan papanya itu.
"Gara benar pa. Papa sabar dulu dong. Jangan emosi-emosi. Ingat jantung papa," tambah Lena menenangkan suaminya itu.
"Maafkan aku kak. Aku tidak tau jika yang aku nikahi itu adalah putri kandungku sendiri. Kalau aku tau, aku tak akan mau menikahinya," Paman Sam akhirnya mengeluarkan suaranya.
"Kenapa kamu menikah lagi? Bukankah kamu telah memiliki istri?" tanya Emanuel yang mencoba meredam emosinya.
"Aku khilaf. Maafkan aku kak. Maafkan aku. Aku benar-benar menyesalinya," tangis Paman Sam pecah saat menjawab pertanyaan kakaknya itu.
"Lalu bagaimana sekarang? Apa kamu sudah menyewa pengacara?" tanya Emanuel lagi.
Ia kini sudah mengerti dengan kejadian yang sebenarnya.
"Tidak kak. Aku tidak punya uang lagi sekarang. Seluruh hartaku telah diambil alih oleh Lyra, mantan istriku dulu. Ini adalah karma untukku. Aku dulu menyia-nyiakannya. Aku sengaja membuatnya lumpuh dalam keadaan hamil agar aku dan Liona bisa menikah secara resmi. Tak hanya itu, aku bahkan mengurungnya di kamar selama ini. Aku sengaja menyembunyikannya di rumahku. Dan saat dia melahirkan, tak lama setelah itu Liona masuk penjara dan dia juga selingkuh di belakangku. Aku kemudian berinisiatif untuk menikahi Lyra kembali karena aku berpikir hanya dialah wanita yang pantas untukku dan juga anakku. Tapi ternyata Lyra membalaskan dendamnya kepadaku setelah ia bisa berjalan kembali. Ia mengambil semua aset ku dengan menyuruhku menanda tangani dokumen rumah sakit yang berisi surat pengalihan harta. Sekarang aku sudah tidak punya apa-apa lagi kak. Aku miskin," jelas Paman Sam menceritakan kisah hidupnya yang pilu.
Mendengar penjelasan Paman Sam, Gara merasa iba dan kasihan. Ia kemudian berinisiatif untuk membantu Pamannya itu menyewa pengacara untuk meringankan hukumannya.
"Sudah relakan saja hartamu itu. Anggap saja itu memang karma atas semua kelakuan bejatmu selama ini. Andai aku yang jadi Lyra, aku pasti akan melaporkanmu ke kantor polisi. Biarkan Lyra mengambil alih hartamu. Hitung-hitung untuk menebus semua rasa bersalah mu dan juga biaya untuk anakmu yang baru saja lahir. Mereka berhak atas semua itu Sam," ucap Emanuel bijak.
__ADS_1
"Iya kak. Aku juga sudah merelakannya untuk Lyra dan anakku. Mereka memang pantas mendapatkannya," balas Paman Sam menunduk.