
"Ya sudah, tinggal bikin apa susahnya sih? Kamu gak kasihan apa sama Kenzie. Itu artinya, putra mu itu kesepian. Apa kamu mau, mama nikahkan Kanaya dengan laki-laki lain agar Kenzie bisa cepat memiliki seorang adik," ucap Talita membuat wajah Kanaya memerah.
"Apaan sih ma, main nikah-nikahin istri orang gitu aja," protes Zilgwin yang merasa kesal.
***
"Lah biarin. Lagi pula, Kanaya itu punya suami tapi seperti tidak punya suami. Mending mama nikahkan saja Kanaya dengan laki-laki lain di luaran sana. Mama yakin, pasti banyak kok yang antri untuk dapatin Kanaya. Kalau Kanaya nikah lagi, kan bagus, bisa kasih mama cucu yang banyak. Dari pada mama harapin kamu, yang ada mama malah keburu tua," celetuk Talita semakin membuat Zilgwin kesal.
"Mama udah, kasihan Zilgwin. Kalo mama nikahin Kanaya sama laki-laki lain, yang ada anak kesayangan mama bakal jadi duda. Mama kan tau sendiri, selain Kanaya, mana ada perempuan yang betah dengan sikap dinginnya," tambah Sanjaya semakin membuat Zilgwin kesal.
"Pa, Ma, udah. Jangan bicarakan itu di depan Kenzie, kasihan," lerai Kanaya yang sedari tadi pipinya sudah merona merah karena Zilgwin masih mengakuinya sebagai istri.
"Kenzie sayang, sekarang kan sudah malam. Kenzie lanjut makan dulu ya. Mommy janji, besok Mommy akan beliin Kenzie es krim yang banyak," ucap Kanaya mencoba mengalihkan perhatian anak sambungnya itu.
"Gak mau. Inji gak mau es krim. Inji mau adek bayi," jawab bocah kecil itu masih bersikeras menginginkan seorang adik.
"Ya sudah. Ya sudah, kalau begitu, besok kita beli adik bayinya di supermaket ya. Sekarang anak kesayangan Mommy makan dulu ok," jawab Kanaya lagi masih membujuk Kenzie.
'Hhhhhhh, ya kali adik bisa di beli. Kalo mau ya harus dibikin dulu lah. Dasar Kanaya ada-ada saja,' batin Zilgwin menyuap makanan ke dalam mulutnya.
"Mommy janji?" tanya bocah kecil itu memberikan jari kelingkingnya kepada Kanaya.
"Iya sayang, Mommy janji," jawab Kanaya menautkan jari kelingkingnya dengan bocah kecil itu.
Untuk beberapa saat, keadaan di ruang makan tersebut tampak canggung antara Kanaya dan juga Zilgwin hingga Talita kembali membuka mulutnya.
"Zilgwin, habis makan, kamu ke kamar mama. Ada yang mau mama bicarakan sama kamu," ucap Talita lalu meninggalkan ruang makan tersebut.
"Ada apa lagi sih ma?" tanya Zilgwin tampak tidak senang.
__ADS_1
"Kamu dengar gak sih ada yang mau mama bicarakan," balas Talita berhenti sejenak.
"Zilgwin sudah, ikuti saja kata mama mu itu. Apapun yang dia katakan, pasti untuk kebaikan kamu dan juga kebaikan bersama. Kamu seharusnya sebagai anak menurut saja. Jangan selalu ngebantah seperti ini. Kasihan mama mu lo nak," ucap Sanjaya mengajari putranya itu.
"Iya pa.. Iya," balas Zilgwin kesal.
Setelah Zilgwin makan, dan Kanaya pun telah pergi ke kamarnya untuk menidurkan Kenzie, Zilgwin pun langsung ke kamar untuk menemui mamanya.
Tok
Tok
Tok
"Masuk," jawab Talita dari dalam kamarnya. Ia yakin jika yang mengetuk pintu nya itu adalah Zilgwin.
"Ma, ada apa?" tanya Zilgwin masih penasaran dengan apa yang akan di bicarakan oleh mamanya.
"Makasih ma. Ma ada apa sih? Ini sudah malam. Aku mau tidur ma," tanya Zilgwin to the point.
"Zilgwin kamu tau kan jika Kenzie meminta adik untuknya. Apa kamu tega jika tidak mengabulkan permintaan putra semata wayang mu itu?" tanya Talita membuat Zilgwin terdiam untuk beberapa saat.
"Ma, Kenzie itu masih kecil. Apa yang ia bicarakan itu hanya asal-asalan saja. Mama jangan aneh-aneh gitu deh," jawab Zilgwin yang sudah tau kemana arah dan tujuan pembicaraan mamanya itu.
"Tapi Zilgwin, apa kamu tidak kasihan, Kenzie itu kesepian. Ia tidak memiliki teman. Anak mu itu hanya memiliki Kanaya. Bagaimana jika suatu saat nanti Kanaya sudah kehilangan sabarnya dan ia pergi meninggalkan mu dan Kenzie begitu saja. Kanaya itu hanya manusia biasa nak. Dia juga memiliki hati dan perasaan. Apa kamu pernah berpikir ke arah sana ha?" ucap Talita ada benarnya juga.
'Apa yang di katakan mama benar juga. Jika sifat ku masih seperti ini, cepat atau lambat, Kanaya pasti akan bosan dan ia pasti akan meninggalkan ku dan juga Kenzie. Aku akan mengikat Kanaya dengan memberikannya seorang anak dari darah daging ku. Dengan begitu, Kanaya tidak akan bisa pergi dariku dan juga Kenzie. Lagi pula, apa susahnya sih untuk membuat Kanaya hamil,' batin Zilgwin membenarkan apa yang dikatakan oleh mamanya itu.
"Hhhhhh, baiklah ma. Aku akan mencoba membuka hati untuk Kanaya," jawab Zilgwin menghela nafas kasar.
__ADS_1
"Benarkah? Kalau begitu, mama tunggu kabar baik dari kamu dan juga Kanaya," jawab Talita tampak senang.
Selama Talita meminta Zilgwin untuk membuka hatinya untuk Kanaya, baru kali ini Zilgwin mengatakan hal yang seperti baru saja ia ucapkan.
Talita selalu yakin jika Zilgwin dan Kanaya akan hidup bahagia suatu hari nanti.
"Ok ma. Ya sudah, kalau gitu aku mau ke kamar dulu ya ma. Selamat malam ma," pamit Zilgwin lalu meninggalkan kamar mamanya itu.
Sementara itu, di kamar Kanaya dan juga Zilgwin......
"Ayah, Ibu, Kanaya kangen kalian berdua. Kapan Ayah sama Ibu akan membawa Kanaya ikut bersama kalian? Kanaya sudah tidak sanggup lagi, Kanaya lelah dengan semua ini," gumam Kanaya yang menangis pilu di balkon kamarnya sembari menatap bintang yang jauh di atas sana.
Namun tanpa Kanaya sadari, ternyata apa yang ia ucapkan di dengar oleh Zilgwin yang sudah berdiri di belakangnya sedari tadi.
"Kanaya," panggil Zilgwin seketika membuat Kanaya terkejut dan segera menghapus air matanya.
"I.. Iya kak, ada apa?" tanya Kanaya gelagapan.
"Kanaya, aku punya satu pertanyaan untuk mu, dan aku mau kamu menjawab pertanyaan ku dengan jujur," jawab Zilgwin menatap Kanaya dengan tatapan dinginnya seperti sebelum-sebelumnya.
"Pertanyaan apa kak? Aku janji akan menjawabnya dengan jujur," jawab Kanaya duduk di kursi yang ada di balkon kamarnya itu.
"Kanaya, jika suatu hari nanti sifat ku masih seperti ini, apa kamu masih akan tetap bertahan sebagai istriku?" tanya Zilgwin membuat Kanaya terdiam untuk sesaat.
Kanya heran, kenapa Zilgwin menanyakan hal seperti itu padanya.
"Kenapa kakak bertanya seperti itu?" jawab Kanaya balik bertanya.
"Kamu tidak perlu balik bertanya Kanaya, tugasmu hanya menjawab pertanyaan dariku. Itu saja," jawab Zilgwin masih dengan sifatnya yang dingin.
__ADS_1
"Hhhhh, entahlah kak. Aku tidak tau apakah aku akan bertahan atau menyerah. Aku ini hanya manusia biasa. Aku punya batas kesabaran dan juga lelah kak. Maafkan aku kak. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan kakak barusan," ucap Kanaya lalu meninggalkan Zilgwin yang masing mematung di setelah mendengar jawaban dari istrinya itu.